top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Di Bawah Bidikan Intelijen Negara

    8 JULI 1952. Berlin Barat. Masih pukul 07.30 ketika pengacara Walter Linse berangkat kerja. Di dekat rumahnya, dua lelaki mendekat dan meminjam korek api. Tiba-tiba dia ditarik paksa dan diseret ke dalam mobil yang terparkir di Gerichts Strasse –kini Walter Linse Strasse untuk mengenang peristiwa tersebut. Mobil kemudian melaju kencang ke arah Berlin Timur. Linse mencoba melawan dan melarikan diri, namun penculik menembak kakinya. Apa yang terjadi di dalam mobil disaksikan orang-orang yang lewat. Seorang sopir truk jasa pengiriman, yang sedang parkir, mencoba mengejar. Salah satu penculik menebarkan paku dan melepaskan dua tembakan untuk menghentikan pengejaran. Berita penculikannya menyebar dengan cepat. Penculikan itu bukanlah yang pertama namun menyulut kemarahan. Demonstrasi dan protes digelar di depan balaikota di Berlin-Schöneberg. “Berlin dan dunia marah atas kasus penculikan ini yang terjadi di siang bolong,” demikian disiarkan Neue Deutsche Wochenschau, Juli 1952. Siapa di balik penculikan itu?

  • Tan Malaka Menyusun Kekuatan Melawan Sutan Sjahrir

    GEDUNG Societeit Purwokerto (kini area RRI Purwokerto) pernah menjadi saksi berkumpulnya para pejuang. Pertemuan besar berlangsung antara 4–5 Januari 1946 untuk merundingkan hasil perjuangan rakyat di seluruh penjuru negeri. Sebanyak 300 orang wakil dari partai, laskar, ormas, dan tentara datang ke Purwokerto. Pertemuan itu bertepatan dengan 100 hari pendudukan tentara Inggris (Sekutu) di Jawa. “Hasrat perjuangan rakyat Indonesia. Lebih baik diatom daripada merdeka kurang dari 100%. Tan Malaka di tengah Revolusi Rakyat,” demikian diwartakan Kedaulatan Rakjat, 6 Januari 1946. Pimpinan BKR (Badan Keamanan Rakyat) setempat Sastro Soewirjo dan tokoh pemuda Sukarni menjadi panitia penyelenggara pertemuan itu. Pada pertemuan hari pertama, beberapa perwakilan dari Jawa melaporkan perkembangan perjuangan di daerahnya. Ismail dari Jawa Timur, Sajuti Melok dari Jawa Tengah, Arimunanto dari Jawa Barat, dan Chairul Saleh dari Jakarta.

  • Perburuan di Layar Perak

    DUA film yang diadaptasi dari novel Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia (2019) dan Perburuan (2019) telah rilis pada 15 Agustus lalu. Berkat novel Bumi Manusia yang memang sudah terkenal sebelumnya, film adaptasinya pun menjadi perbincangan luas dan menuai pro kontra. Sedangkan film Perburuan garapan Richard Oh, berangkat dari novel Perburuan (1950) tidak setenar tetralogi Pulau Buru. Berbeda dengan novelnya, film Perburan tidak dimulai 16 Agustus 1945 ketika Hardo untuk pertama kalinya muncul di Desa Kaliwangan. Richard Oh memulai film ini dengan memperkenalkan suasana markas Daidan pada hari-hari sebelum pecah pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (Peta). Sekitar enam bulan sebelum Proklamasi. Tak lama, Richard kemudian menyusun adegan pemberontakan para tentara Peta. Hardo (Adipati Dolken), Dipo (Ernest Samudra) dan para shodan telah bersiap, namun shodanco Karmin (Khiva Ishak) tak kelihatan batang hidungnya. Karmin berkhianat. Rencana pemberontakan bocor, para pembangkang Jepang itu dicegat lalu diserang di jalanan tengah hutan. Dalam adu senjata singkat itu, beberapa shodan gugur. Sedangkan Hardo, Dipo dan mereka yang tersisa berhasil menyelamatkan diri ke dalam hutan. Sejak itu perburuan Hardo dimulai.

  • Bumi Manusia Dilarang Kejaksaan, Dikagumi Ibu Tien Soeharto

    FILM Bumi Manusia yang ramai diperbincangkan sejak beberapa pekan terakhir, Kamis (15/8/19) ini mulai ditayangkan di bioskop. Film produksi Falcon Pictures itu diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer, sastrawan dan mantan pengasuh rubrik “Lentera” di harian Bintang Timoer, dengan judul sama. “Film ini bercerita tentang kata ‘modern’ pertama kali keluar di Hindia Belanda. Itu sangat relate dengan kaum milenial karena kata-kata ‘milenial’ sendiri baru keluar belakangan ini. Kegalauan Minke sama halnya dengan kegalauan anak-anak muda saat ini,” kata Hanung Bramantyo, sutradara film, kepada Historia di sela gala premier selebritas Bumi Manusia di Epicentrum, Kuningan, Jakarta, Senin (12/9/19) malam. Bumi Manusia merupakan satu dari empat novel tetralogi Buru milik Pram, sapaan akrab Pramoedya. Novel-novel itu ditulis Pram tak lama setelah ia dibebaskan dari Pulau Buru pada 1979.

  • Pram Menemukan Minke

    Bumi Manusia, roman pertama dari tetralogi Pulau Buru karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, akan difilmkan Falcon Pictures dengan sutradara Hanung Bramantyo. Yang bikin heboh, tokoh utama dalam novel itu, Minke, diperankan aktor muda Iqbaal Ramadhan. Banyak yang mengatakan, Iqbaal kurang pas memerankan tokoh Minke. Minke merupakan anak pribumi cerdas yang hidup pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dia adalah anak priyayi yang mendapat pendidikan Eropa di Hogere Burger School (HBS) Surabaya. Dia pandai menulis, dan karyanya kerap dipublikasikan di koran-koran zaman itu. Dalam Bumi Manusia, Minke dilukiskan sebagai pemuda revolusioner yang lantang melawan ketidakadilan terhadap bangsanya.

  • Bumi Manusia Rasa Milenial

    MODERNISASI dan cinta. Minke (diperankan Iqbaal Ramadhan) mengalami kegalauan akut terhadap hidup yang dipilihnya dan berkelindan dengan dua hal itu. Di satu sisi ia seorang anak bupati yang mengenyam pendidikan Eropa: bersekolah dengan anak-anak Belanda dan Indo (blasteran bumiputra dengan Eropa) pada zaman peralihan. Di sisi lain cintanya kandas karena aturan kolonial yang sangat rasialistis akhir abad ke-19. Setidaknya begitu gambaran yang disuguhkan sineas Hanung Bramantyo dalam Bumi Manusia. Film drama yang diangkat dari tetralogi pertama Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer bertajuk sama. Karya sastrawan yang disebutkan Hanung, sebagai karya yang acap dibaca secara sembunyi-sembunyi di masa Orde Baru. Memang Hanung tak menyertakan periode waktu. Namun soal era sangat nampak lantaran Minke salah satu pemuda HBS Hogere Burgerschool (setara SMP-SMA) Surabaya yang turut antusias melihat perayaan penobatan Wilhelmina menjadi Ratu Belanda, 6 September 1898.

  • Nyai Ontosoroh dan Kisah Pergundikan di Hindia Belanda

    DARI balik pintu muncul seorang perempuan pribumi mengenakan kebaya putih berenda, berkain jarik dengan selop beludru hitam berhias sulaman perak. Dialah Nyai Ontosoroh, gundik Tuan Mellema yang banyak dikagumi orang. Kehadirannya begitu mengesankan sebab selain penampilannya yang anggun dan rapi, bahasa Belandanya pun apik. Hal yang sulit ditemui pada diri seorang nyai. Kisah Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer menjadi gambaran umum kondisi pergundikan di era kolonial. Praktik ini sebenarnya sudah dilakukan sejak VOC bercokol di Hindia Timur. Ketika Terusan Suez dibuka pada November 1869 peluang kehadiran orang Eropa makin tinggi karena perjalanan lebih singkat. Antara 1870-1880 ada sekira sepuluh ribu orang Eropa yang datang ke koloni, kebanyakan lelaki. Perempuan Eropa masih amat langka, dengan perbandingan tiap 10 ribu lelaki terdapat 123 perempuan kulit putih. Angka ini belum termasuk golongan mestizo.

  • Perburuan dalam Sepekan

    ­Bunyi gamelan yang penghabisan telah lenyap di udara senja hari. Sepagi anak lurah Kaliwangan telah disunati. Tamu-tamu telah habis pulang. Senja rembang datang. Begitulah Pram memulai ceritanya, Perburuan. Sejak senja rembang 16 Agustus 1945 itulah Hardo untuk pertama kalinya menampakkan diri. Setelah setengah tahun bersembunyi dari buruan Nippon, ia muncul di depan rumah Ningsih, tunangannya. Hari itu adalahhari sunatan Ramli, adik Ningsih. Namun Den Hardo, bukan lagi pemuda yang orang-orang Kaliwangan kenal. Saat itu telah menjadi seorang kere. Kere dengan rambut gondrong dan lengket. Wajah kotor dan dipenuhi brewok. Tidak berbaju dan telanjang kaki.

  • Perpisahan Sutan Sjahrir dan Angku Tan Malaka

    PADA awal Oktober 1945, Sutan Sjahrir bersama para pemuda Menteng 31 menemui Tan Malaka di Bogor. Dalam pertemuan itu, Tan Malaka mengusulkan supaya dia menjadi presiden dan Sjahrir menjadi perdana menteri. Namun, Sjahrir menolak pikiran untuk menggantikan Sukarno dan Mohammad Hatta karena posisi mereka sangat penting bagi Republik. Melengserkan Sukarno yang mendapat dukungan rakyat yang besar tidak realistis. Sementara para pemuda setuju, Sjahrir malah menganjurkan supaya Tan Malaka, yang dihormatinya dengan sapaan “Angku”, untuk berkeliling Jawa. “Kalau Angku mendapat dukungan 10% saja dari Sukarno, kami akan mempertimbangkan Angku sebagai presiden.”

  • Saat Brigjen Djasmin Dikata Pengkhianat

    SUATU hari di Kariango, dekat kota Makassar, Kolonel Sintong Pandjaitan bertemu dengan Brigadir Jenderal Djasmin. Djasmin selaku Wakil Komandan Jenderal (Wadanjen) Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) sedang menginspeksi pasukan Grup 3 Para Komando Kopassandha, yang dikomandani Sintong. Ketika bertemu, Djasmin yang hampir pensiun itu mencurahkan kekesalannya. “Prabowo sudah lain sekarang, karena ia dekat dengan Soeharto,” kesah Djasmin kepada Sintong, seperti diceritakan Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando. Nama Djasmin memang tak populer lantaran tak banyak catatan tentangnya. Namun, ia ikut berjuang ketika Perang Kemerdekaan. Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat menyebut Djasmin lahir tahun 1928. Sejak 1980 dia menjadi Wadanjen Kopassandha.

  • Di Balik Pengkhianatan Pangeran Muda Ariffbillah

    KEMARAHAN rakyat Banjar kepada Pemerintah Hindia Belanda memuncak setelah politik dalam negeri mereka diusik. Mereka dianggap telah mencampuri urusan naik dan turunnya takhta di Kesultanan Banjar. Lebih dari itu, bahkan menempatkan seorang penguasa boneka di takhta tertinggi kesultanan itu. Selama perang berlangsung, muncul tokoh-tokoh terkemuka yang menjadi harapan rakyat Banjar di medan pertempuran. Mereka berusaha keras mengusir para penjajah dari tanah airnya. Sebut saja Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, Haji Bajasin, Tumenggung Antaluddin, dan sebagainya. Di antara banyaknya tokoh yang menjadi pahlawan dalam Perang Banjar, ada seorang penguasa yang dicap sebagai pengkhianat oleh rakyat. Dia adalah Pangeran Muda Ariffbillah. Dia dianggap sebagai kaki tangan Belanda yang berusaha menghabisi Pangeran Hidayatullah dan mengacaukan jalannya perang. Namun di balik tindakan pengkhianatannya terdapat sebuah kisah yang tidak banyak orang tahu.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page