top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • ITB Rayakan Seabad TH Bandung

    PERANG Dunia I menghalangi orang Hindia Belanda melanjutkan pendidikan tinggi ke Belanda, khususnya ke Technische Hogeschool (TH) Delft. Namun, perang juga telah mengubah pandangan orang Belanda, yang semula berpendapat bahwa Hindia Belanda belum siap memiliki perguruan tinggi. Bahkan, pada 30 Mei 1917 beberapa orang terkemuka dari kalangan perbankan, perdagangan, dan perusahaan, mengadakan pertemuan di gedung Nederlandse Handelsmaatschappij di Amsterdam, untuk mendirikan Koninklijk Instituut voor Hoger Onderwijs in Nederlands Indie (Institut Kerajaan untuk Pendidikan Tinggi di Hindia Belanda). Sebagai pelaksana program, dibentuk Raad van Beheer (Dewan Pengurus) yang diketuai oleh Dr. C.J.K. van Aalst, kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Dia memiliki pengalaman dalam perkeretaapian di Jawa dan Sumatra, serta pengetahuan yang luas tentang masyarakat Hindia Belanda, termasuk sejarah kuno Jawa dan Sumatra.

  • Chairul Saleh dan Laut Teritorial Indonesia

    OKTOBER 1957. Mochtar Kusumaatmadja, pegawai di Biro Devisa Perdagangan (BDP), didatangi Menteri Veteran Chairul Saleh. Dengan gaya blak-blakannya Chairul “menyemprot” Mochtar. “Mana ini, hasil panitia belum ada? Lambat betul kerjanya” kata Chairul, dikutip Mochtar dalam testimoni berjudul “Sekelumit Pengalaman Bersama Bung Chairul Saleh”, dimuat di Chairul Saleh Tokoh Kontroversial. Panitia yang dimaksud Chairul merupakan Panitia Rancangan UU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim yang dibentuk PM Ali Sastroamidjojo pada 1956. Panitia tersebut dibentuk dengan tujuan menciptakan UU Laut Teritorial baru untuk menggantikan Territorial Zee en Maritiem Ordonantie yang diterapkan sejak masa kolonial. Mochtar ikut menjadi anggota panitia itu atas perintah Chairul.

  • Yos Sudarso Sebelum Pertempuran di Laut Aru

    KOLONEL Moersjid bergegas menuju Indonesia kawasan timur. Dia yang menjabat Asisten II/Operasi KSAD ditugaskan untuk mempersiapkan infiltrasi sekompi pasukan ke Kaimana, Papua. Tingkat kerahasiaan operasi bersandi “Silent Raid” ini sangat tinggi. Tiada seorang pun anggota keluarga yang tahu kemana Moersjid akan pergi, termasuk sang istri Siti Rachmah yang sedang mengandung. “Yang sangat khawatir justru Ibu saya, karena dia enggak tahu ayah pergi ke mana, hanya mendengar berita setelah kejadian,” ujar Sidharta Moersjid, putra ke-4 Moersjid kepada Historia.ID. Sebelum berangkat Moersjid menghadap kepada atasannya Mayjen Ahmad Yani. Selain menjabat Deputi I/Operasi KSAD, Yani juga berkedudukan sebagai Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi Pembebasan Irian Barat(KOTI Pemirbar). Moersjid melaporkan bahwa Deputi I/Operasi KSAL Komodor Josaphat Soedarso (selanjutnya disebut Yos Sudarso) akan menyertai rombongan sukarelawan Angkatan Darat.

  • Pelaut yang Menaklukkan Hollywood

    HOLLYWOOD tengah berduka. Kawah candradimuka dunia hiburan di Amerika Serikat itu ditinggal aktor legendarisnya, Kirk Douglas. Bersama Gina Lollobrigida, Douglas merupakan aktor terakhir generasi emas Hollywood (1913-1969) yang tersisa di abad XXI. Douglas sepanjang kariernya bermain di lebih dari 90 film. Ia juga ayah dari aktor kawakan Michael Douglas, yang menyampaikan kabar duka itu usai ayahnya wafat di usia 103 tahun di kediamannya di Beverly Hills, California pada Rabu (5/2/2020). Douglas meninggal karena kondisi kesehatannya terus menurun sejak terserang stroke pada 1996. “Di mata dunia, ia seorang legenda, seorang aktor dari era emas perfilman…tapi bagi saya, adik saya Joel dan Peter, ia seorang ayah yang sederhana. Bagi Catherine (Zeta-Jones, aktris dan istri Michael Douglas, red.), ia seorang mertua yang luar biasa. Bagi istrinya Anne, ia seorang suami yang juga luar biasa,” ungkap Michael Douglas, dikutip Daily Mail, Rabu (5/2/2020).

  • Penghormatan dari Para Pemetik Laut

    PULUHAN perahu nelayan beraneka motif dan warna mengarungi Laut Muncar. Di sebuah lokasi berair tenang di Plawangan, iring-iringan perahu berhenti. Dengan dipimpin sesepuh nelayan, githik (perahu kecil) berisikan berbagai sesaji dan hasil bumi dilarung ke tengah laut. Para nelayan sontak menceburkan diri ke laut, berebut mendapatkan sesaji. Ada juga yang menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. Mereka percaya air ini menjadi pembersih malapetaka sekaligus limpahan berkah ketika melaut nanti. Dari Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Tanjung Sembulungan yang terletak di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Di tempat ini nelayan kembali melarung sesaji untuk penunggu Tanjung Sembulungan. Setelah itu ritual dilanjutkan ziarah ke makam Sayid Yusuf, orang pertama yang diyakini membuka lokasi Tanjung Sembulungan.

  • Petik Laut Pancer Kian Moncer

    JALANAN dusun itu penuh umbul-umbul. Sisi kanan dan kirinya terpasang tali pembatas. Di ujung jalan yang mengarah ke laut, gapura mungil nan cantik berdiri. Spanduk membentang di bagian atap. Tulisannya “Lautku Kehidupanku”. Tak jauh dari gapura, ada tempat pelelangan ikan. Banyak orang berkumpul di sana. Tapi bukan untuk jual-beli ikan. Ada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, sesepuh dusun, warga dusun, anak-anak sekolah, peserta arak-arakan, nelayan dan wisatawan. Jumlahnya seribuan lebih. Hari itu, 9 September 2019, mereka berkumpul untuk merayakan hari “Petik Laut Pancer” ke-43. Petik laut adalah ritual khas tahunan masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur. Biasanya berlangsung dalam bulan Muharam (kalender Islam) atau Sura (tanggalan Jawa). Ada serangkaian acara yang digelar dalam ritual ini. Dari bersih dusun, doa bersama, khataman, pementasan wayang kulit dan hiburan rakyat, hingga melarung sesaji.

  • Duka Kuba di Laut Karibia

    PERASAAN senang menghinggapi para gadis anggota timnas anggar Kuba. Mereka baru saja menjuarai mayoritas nomor yang dikompetisikan dalam Kompetisi Anggar Regional Amerika Tengah-Karibia 1976 di Caracas, Venezuela. Saking senangnya, mereka tetap mengenakan medali emas ketika pesawat DC-8 Cubana de Aviacions nomor penerbangan 455 yang mereka tumpangi singgah di Bandara Seawell (kini Grantley Adams International Airport) di Bridgetown, Barbados pada 6 Oktober 1976. Mereka tak sabar ingin segera sampai di rumah dan berbagi kesenangan dengan sanak-famili. Hanya keceriaan yang terpampang di wajah mereka. Kesedihan apalagi ketakutan tak punya tempat di benak mereka. Padahal, beberapa waktu sebelum pesawat mereka mengudara dari Caracas, di sana Luis Posada Carriles telah menunggu hasil dari rencana pentingnya yang ditujukan pada Cubana 455. Posada merupakan eksil Kuba penentang pemerintahan Fidel Castro yang paling gigih mengupayakan pembunuhan Castro dan para pendukungnya.

  • Dinas Sejarah Angkatan Laut Dulu dan Kini

    BANGUNAN bertembok putih di Jalan Raden Saleh Raya Nomor 11, Jakarta Pusat itu bertopang pilar-pilar megah. Setelah melewati pintu besar model lawas, kita disuguhi beragam miniatur dan memorabilia kemiliteran maritim dari era Majapahit hingga masa modern. Galeri Museum Jalesveva Jayamahe itulah yang jadi etalase Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarhal) untuk mengenalkan historiografi TNI AL kepada publik. Di sebelah patung Laksamana Muda Mas Pardi, sebuah patung pria sedang menyandang pedang dan menyarungi keris tegap berdiri. “Ini [patung] Jaladhimantri Nala. Jaladhimantri itu seperti laksamana,” tutur Kepala Disjarhal Laksamana Pertama TNI Supardi kepada Historia.ID.

  • Kisah Taruna Indonesia dalam Angkatan Laut Belanda

    MESKI terlambat, Kerajaan Belanda akhirnya membangun akademi Angkatan Laut bernama Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM) di Surabaya. Setelah pecah Perang Dunia II, pada 1940 lembaga ini menerima pemuda Indonesia sebagai Adelborst (taruna Angkatan Laut) untuk dilatih menjadi perwira Koninklijk Marine (KM) atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Syaratnya mereka harus lulus SMA, baik AMS maupun HBS lima tahun. “Di angkatan saya hanya ada empat orang Indonesia, termasuk saya sendiri,” kata Raden Mas Hadjiwibowo dalam Anak Orang Belajar Hidup Pendewasaan 1924–1942. Tak satu pun di antara taruna Indonesia itu yang ditempatkan di korps pelaut (perwira dek). Koran Soerabaijasch Handelsblad, 6 Agustus 1940, dan Bataviaasch Nieuwsblad, 27 Juli 1940, menyebut taruna Indonesia di bagian mesin adalah Mohamad Razak. Sementara taruna bagian administrasi adalah Raden Mas Hadjiwibowo, Raden Mohammad Sidik Moeljono, dan Raden Djajadiningrat. Nama terakhir adalah putra Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat yang pernah menjabat bupati Batavia.

  • Dari Angkatan Laut ke Pulau Buru

    DULU waktu Perang Dunia II, tingkat stres anggota militer Sekutu sangat tinggi. Dari golongan perwira sampai tamtama, ada yang rela melepas pangkat untuk antri di rumah bordil. Pekerja seks komersial (PSK) di sebuah rumah bordil di Sidney, Australia, pernah mendapat begitu banyak tamu bahkan ada kalanya nyaris tanpa jeda. “Saking capeknya, PSK-PSK itu dengan hanya memakai bikini saja bilang next (berikutnya) sambil menunjuk kamar mana yang harus dipakai,” kata Abdulrachman Atmosudirdjo, tahanan politik (tapol) Pulau Buru menceritakan pengalaman masa mudanya kepada kawan-kawan sesama tapol. Kisah itu diceritakan Tedjabayu, tapol Pulau Buru, dalam memoarnya, Mutiara dari Padang Ilalang. Siapakah Abdulrachman Atmosudirdjo?

  • KSAL Pertama yang Berasal dari Angkatan Laut

    BULAN-bulan pertama setelah Indonesia merdeka, Tentara Keamanan Rakyat Laut (TKR Laut) dipimpin oleh Mas Pardi. Ia memimpin sejak masa Badan Keamanan Rakyat Laut (BKR Laut). Setelah Mas Pardi, Mohamad Nazir lalu memimpin armada laut Republik Indonesia itu. Keduanya diakui sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) dengan pangkat Laksamana III. Rika Umar dalam Laksamana Mochamad Nazir: Karya dan Pengabdiannya menyebut M. Nazir pernah bekerja di perusahaan pelayaran swasta sebelum bekerja di jawatan pelayaran. Mas Pardi juga pernah bekerja di jawatan pelayaran. Di zaman pendudukan Jepang, mereka menjadi pelatih di sekolah pelayaran yang dibentuk militer Jepang. Setelah Kabinet Amir Sjarifuddin lengser, kepemimpinan di Angkatan Laut berubah. Di bawah Perdana Menteri Mohammad Hatta, Angkatan Laut dibenahi dengan dibentuk Komisi Reorganisasi Angkatan Laut (KRAL) pada 17 Maret 1948. Buku Sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut 1945–1950 menyebut KRAL membantu melakukan reorganisasi dan rasionalisasi di Angkatan Laut.

  • Perjalanan Kapten Pahlawan Laut

    SUATU hari di masa Perang Kemerdekaan sedang berkecamuk, di Pelabuhan Situbondo terdapat sebuah kapal yang sedang mengisi muatan dari Pulau Kalukalukuang. Perahu itu milik Hajah Siti Hawa. Letnan M Amier melihat perahu itu dan mendatangi pemiliknya. Setelah sebuah pembicaraan, kapal milik Siti Hawa itu kemudian digunakan oleh Republik Indonesia. “Perahu yang diserahkan oleh Haji Siti Hawa adalah jenis lete, dibuat pada tahun 1931 oleh Almarhum Haji Mochamad Thohir suami Haji Siti Hawa dengan nama asli Kapten Baru. Perahu yang mempunya daya muat 15-20 ton itu apabila untuk mengangkut orang bisa memuat 40-50 orang,” catat F Purwono dalam Perjalanan Kapten Pahlawan Laut.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page