top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mula Finalissima, Adu Kuat Jawara Copa América dan Piala Eropa

    UCAPAN adalah doa. Begitu kata pepatah. Apa yang diucapkan pesepakbola muda Spanyol yang ikut mengantarkan negerinya menjuarai Piala Eropa, Lamine Yamal, untuk bersua idolanya, Lionel Messi, sangat mungkin terwujud di lapangan. Winger berusia 17 tahun yang meniti karier di klub FC Barcelona itu bakal adu kuat di ajang Finalissima setelah Messi cs. memastikan diri jadi kampiun Copa América. “Saya berharap Messi memenangkan Copa América dan saya memenangkan Euro agar saya bisa bermain melawannya di Finalissima,” tutur Yamal kepada RAC1, dilansir The Daily Star, Sabtu (13/7/2024) menjelang duel final Piala Eropa. Yamal tampil gemilang sepanjang Piala Eropa 2024. Ia turut menyumbang sebutir gol indah di semifinal kontra Prancis yang berkesudahan 2-1 untuk Spanyol pada 9 Juli 2024. Gol itu membuatnya, yang lahir di Esplugues de Llobregat pada 13 Juli 2007, mengukir rekor sebagai pencetak gol termuda di ajang Piala Eropa (16 tahun 362 hari), yang sebelumnya dipegang Johan Vonlanthen (18 tahun, 141 hari) saat mencetak gol penggembira untuk Swiss ketika kalah 1-3 dari Prancis pada 21 Juni 2004.

  • Pendidikan Agama Diwajibkan hingga Pertempuran Laut Jawa

    Bahder Djohan. (Wikimedia Commons). 1 Februari 1950: Pendidikan Agama Diwajibkan Semua sekolah pemerintah tertanggal 1 Februari 1950 diwajibkan memberikan pendidikan agama untuk peserta didik tingkat dasar dan lanjutan. Hal ini ditetapkan berdasarkan peraturan bersama antara Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, Bahder Johan dengan Menteri Agama Wahid Hasyim pada 20 Januari 1951. Peraturan bersama tersebut menyatakan bahwa pendidikan agama diajarkan selama dua jam dalam satu minggu. Untuk tingkat sekolah dasar, pendidikan agama dimulai pada kelas 4. Segala biaya untuk penyelenggaraan pendidikan agama ditanggung oleh Kementerian Agama. Bahan pengajaran dan kurikulum ditetapkan oleh Kementerian Agama sesudah disetujui oleh Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan.* Letnan Gubernur Jenderal H.J. van Mook (Nationaal Archief/Wikimedia Commons). 8 Februari 1930: Gerakan De Stuw Sejumlah intelektual Belanda yang progresif di Hindia Belanda mendirikan gerakan politik dan budaya yang dikenal dengan De Stuw (Gerakan Maju). De Stuw diambil dari nama majalah yang mereka terbitkan. Nama resminya adalah “Perkumpulan untuk mendukung pembangunan sosial dan politik Hindia Belanda”. Anggotanya tidak banyak dan semuanya berbangsa Belanda. Menurut Bernard Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indoenesia, perkumpulan ini dibentuk sebagai oposisi terhadap Vanderlandsche Club (Perserikatan Patriot). Vanderlandsche Club adalah organisasi politik konservatif di Hindia Belanda yang menginginkan penguatan kekuasaan Belanda atas seluruh Hindia. De Stuw mendapat dukungan dari kalangan bumiputra bangsa Indonesia sementara orang-orang Belanda kebanyakan menolaknya. Namun, beberapa anggota dari kelompok De Stuw di kemudian hari malah menjadi lawan kaum Republiken Indonesia. Mereka adalah tokoh-tokoh penting Belanda pada masa revolusi: Hubertus van Mook (menjabat Letnan Gubernur Jenderal), Jan Anne Jonkmann, dan Johann Logemann (keduanya menjadi Menteri Urusan Negeri Jajahan).* Gempa bumi di Ambon, Maluku tahun 1898. (KITLV). 17 Februari 1674: Gempa Bumi di Maluku Terjadi gempa bumi dahsyat di pantai utara Maluku. Gempa jenis tektonik tersebut memicu gelombang tsunami di Laut Banda. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 80 meter. Dalam The Ecology of Nusa Tenggara and Maluku yang disunting Kathryn A. Monk, Yance de Fretes, dan Gayatri Reksodiharjo-Lilley disebutkan, gelombang pasang mengakibatkan tanah longsor di desa Hila, Maluku Tengah dan menenggelamkan sebuah situs pasar 180 meter ke bawah permukaan laut. Sementara di Hitu, Pulau Ambon, terjangan tsunami menyapu seluruh desa. Sekira 2300 orang menjadi korban, termasuk istri dan dua anak dari Rumphius (Georg Eberhard Rumpf). Rumphius (1628–1702) adalah seorang naturalis kebangsaan Jerman yang bekerja untuk VOC. Bencana alam ini menjadi gempa tektonik pertama dan tsunami tertua yang berhasil tercatat dalam sejarah Nusantara.* Georg Eberhard Rumpf atau Rumphius. (Wikimedia Commons). 20 Februari 1927: Jong Indonesia Berdiri Di Bandung, sekumpulan elite terdidik pribumi Indonesia membentuk organisasi pemuda nasionalis bernama Jong Indonesia. Para pendirinya antara lain: KRT Josodiningrat, Jusupadi, Suwadji, Mohammad Tamsil, Soebagio Reksodipuro, Assaat, Rusmali, Sunario, Sartono, Iskak, Budiarto, dan Wirjono. Mereka adalah pelajar Indonesia yang baru pulang dari luar negeri, kebanyakan dari Belanda. Para pemuda ini mendapat gagasan kebangsaan yang kuat setelah bergabung dalam Algemenee Studi Club, kelompok diskusi yang dipimpin Sukarno. “Dalam aktivitasnya, Jong Indonesia mendirikan organisasi kepanduan, menerbitkan majalah, memajukan olahraga, menyelenggarakan rapat bersama dengan organisasi pemuda lainnya. Meski nama organisasi memakai kata berbahasa Belanda (jong), namun mereka memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar,” tulis Ahmaddani G. Martha, Christanto Wibisono, dan Yozar Anwar dalam Pemuda Indonesia dalam Dimensi Sejarah Perjuangan Bangsa. Jong Indonesia menjadi salah satu organisasi pemuda pemrakarsa Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928.* Pesawat RI-001 Seulawah. (Istimewa). 25 Februari 1947: Pembentukan Gasida Di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), para saudagar dan kaum kaya Aceh berkumpul. Mereka adalah Republiken yang bersepakat untuk mendukung pemerintah Indonesia. Untuk mewadahinya dibentuklah Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida). Gasida diketuai oleh H.M. Djoened Joesoef dan Tengku Daud Beureuh sebagai penasihatnya. Di dalam Gasida dibentuk pula sebuah Badan Penyokong Perjuangan. Gasida berperan penting dalam membiayai perjuangan revolusi, terutama pada saat Belanda melancarkan blokade ekonomi dan agresi militer kedua. Kelak dari kocek kelompok Gasida ini pula Indonesia memperoleh pesawat terbang pertama jenis Dakota C-47 yang dikenal sebagai RI-001 “Seulawah”.* Letnan Komandan Kareel Doorman. (Ministerie van Defensie/Wikimedia Commons). 27 Februari 1942: Pertempuran Laut Jawa Angkatan Laut Sekutu yang tergabung dalam American-British-Dutch-Australian Command (ABDACOM) terlibat pertempuran dengan Armada Jepang di Laut Jawa. Pasukan gabungan Sekutu mengemban misi mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda di Pulau Jawa dari invasi Jepang. Panglima Angkatan Laut Belanda Laksamana Muda Kareel Doorman memimpin kesatuan pemukul Sekutu. Penghadangan terhadap konvoi kapal Jepang terjadi di sebelah selatan Pulau Bawean, perairan Jawa Timur. Dalam pertempuran yang berlangsung dari sore hari hingga tengah malam itu, Angkatan Laut Sekutu mengalami kekalahan telak. Tentara Jepang unggul karena daya jangkau torpedo yang lebih jauh dan dibantu pesawat-pesawat pengintai. Kerugian Sekutu meliputi lima kapal penjelajah, tujuh kapal perusak, dan satu kapal tanker. Laksamana Muda Kareel Doorman turut tenggelam bersama kapal yang dipimpinnya, Hr. Ms. De Ruyter. Sementara Jepang hanya kehilangan beberapa kapal pengangkut. Pasukan Jepang setelah pertempuran itu mulai memasuki Jawa.* Majalah Historia Nomor 28, Tahun III, 2016

  • Raja-raja Jawa dalam Lintasan Masa

    BELUM lama ini, ketua umum partai besar yang baru terpilih secara aklamasi sekaligus seorang menteri menyinggung perihal “raja Jawa”. Katanya, bisa celaka kalau main-main dengan raja Jawa. Tentu saja publik bertanya-tanya. Tak terkecuali Megawati Sukarnoputri, ketua umum PDIP. Sayangnya, publik justru diminta menafsirkan sendiri-sendiri oleh seorang staf yang mewakili rezim. “Jawa” yang dimaksudkannya kemungkinan besar mengacu pada etnis, yakni orang-orang-orang yang mendiami Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sebab, masyarakat di Jawa bagian barat beretnis Sunda.

  • Ketika Keraton Menjawab Panggilan Reformasi 1998

    DEMONSTRASI besar-besaran mahasiswa dan berbagai elemen masyakarakat sipil sejak 4 Mei 1998 berikut bentrokan dengan aparat yang berujung kerusuhan, menjalar ke kota-kota besar tanah air, termasuk Yogyakarta. Bedanya, di Yogyakarta tak menimbulkan ekses kekerasan anti-Tionghoa seperti yang juga terjadi di Jakarta, Makassar, Medan, atau Solo. Etnis Tionghoa seketika jadi sasaran amuk massa hanya karena kesenjangan kehidupan ekonomi dengan kalangan bumiputera di banyak kota. Ada yang lewat penganiayaan, rudapaksa, ataupun pembunuhan. Di Yogyakarta, hal itu tak terjadi kendati ada beleid diskriminatif terhadap mereka, yakni Instruksi Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) No. K898/I/A/1975 tentang Larangan Kepemilikan Hak atas Tanah bagi Warga Nonpribumi. Menurut Samsu Rizal Panggabean dalam Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia, etnis Tionghoa tak mengalami kekerasan karena mereka sudah cukup lama berbaur dengan kalangan bumiputera sehingga mereka bisa beradaptasi dan mempertahankan gaya hidup sederhana dan jauh dari kehidupan yang eksklusif.

  • Orang Jawa di Kaki Rajabasa 

    TATKALA Gunung Krakatau masih ada dan belum meletus, tersebutlah seorang pangeran bernama Singa Branta. Ia hidup di sekitar Gunung Rajabasa di Lampung Selatan yang –beribukota Kalianda– salah satu sisinya menghadap Selat Sunda tempat Gunung Krakatau. Java Bode, 23 Agustus 1856, menyebut Pangeran Singa Branta sebagai kepala marga di daerah Rajabasa. Daerah itu terkenal dengan gunung vulkaniknya, Gunung Rajabasa, yang punya kandungan belerang dan di kaki gunungnya dipenuhi rumah-rumah. Bersama Radin Inten II, yang disebut-sebut sumber Belanda sebagai kepala marga Negara Ratu, Pangeran Singa Branta dicap pihak Belanda sebagai “penghasut pemberontakan.” Sejak 1851, mereka sudah dianggap biang kerusuhan di Lampung. Sikap Singa Branta dan pengikutnya membuat daerah Rajabasa didatangi pasukan Batalyon Infanteri ke-1 tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Singa Branta dan pengikutnya bertahan di Benteng Bendulu yang terletak di lembah. Namun, Singa Branta akhirnya tertangkap lalu dibuang. Pembuangan orang sepertinya sangat umum di Hindia Belanda. Lebih dari 25 tahun setelah tertangkapnya Singa Branta, Gunung Krakatau meletus. Air lautnya mengancam daerah bawah Gunung Rajabasa.

  • Sudiro Kakeknya Tora

    DARI lima anak, Sudiro menjadi kakek untuk 20 cucu. Ketika masih aktif menjadi wali kota Jakarta, dia hampir tak punya waktu dengan anak-anaknya. Berbeda halnya setelah pensiun. Dia punya waktu lebih banyak untuk mencurahkan kasih sayang kepada para cucunya. “Kelihatannya dia lebih sayang sama cucu daripada sama anak,” kelakar Tanto Sudiro (79 tahun), anak bungsu Sudiro, kepada Historia.ID. Sekali waktu, Sudiro mengumpulkan semua cucu di rumahnya di Jalan Teuku Umar 37, Menteng, Jakarta Pusat. Dia menanyai satu persatu cucunya yang masih kecil itu apa cita-citanya. Ada yang bilang ingin menjadi pengusaha, direktur, hingga duta besar. Sudiro telah menebak, salah satu cucunya bakal memberikan jawaban mencengangkan. Dia sengaja menanyainya terakhir. “Saya mau jadi Om Gareng,” kata si cucu yang disambut gelak tawa cucu-cucu yang lain. Gareng adalah tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa. Dia digambarkan berperawakan tidak sempurna: mata juling, hidung bulat, tangan cacat, dan kaki pincang. Namun, Gareng memiliki sifat sederhana, rendah hati, dan jenaka.

  • Ketahanan Pangan Masyarakat Jawa Kuno

    PADA awal pandemi Covid-19, banyak orang panik dan memborong bahan makanan pokok di pusat perbelanjaan. Mereka khawatir pasokan bahan pangan terganggu akibat pandemi. Strategi ketahanan pangan pun diperlukan untuk menghadapi masa sulit. "Karena pada kondisi luar biasa seperti sekarang, yang biasanya normal jadi tidak normal, bagaimana strategi persiapan kita menghadapi kondisi ini? Apakah strategi itu sudah dilakukan oleh masyarakat Jawa Kuno?" kata Agni Sesaria Mochtar, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi daring berjudul "Ketahanan Pangan pada Masa Jawa Kuna" yang diadakan Balai Arkeologi Yogyakarta, Rabu (10/3/2021). Agni mengatakan, ancaman yang dihadapi masyarakat Jawa Kuno dapat diketahui dari catatan prasasti dan tinggalan arkeologi. Respons atau persiapan mereka dalam menghadapi ancaman salah satunya dengan teknologi pangan. Mereka diperkirakan sudah memiliki sistem ketahanan pangan.

  • Jimat Perang Tentara Sukarela

    GEDUNG bioskop di daerah Cilacap penuh sesak pada 14 Desember 1943. Para pengunjung bukan hendak menonton film tapi mendengarkan wejangan dari tokoh kebatinan Jawa, Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962). Dalam wejangannya, Suryomentaram menjelaskan perlunya terus mengobarkan perlawanan terhadap Sekutu sebagai balas budi kepada Dai Nippon atau Jepang serta demi mewujudkan kemakmuran Asia Timur Raya. Selang dua hari, Suryomentaram kembali berpidato di hadapan ribuan orang di gedung Asia Bersatu, Purwokerto. Kali ini, dia menjelaskan Jimat Perang. “Rasa berani mati dan berani hidup dalam masa perang dapat berakibat menangnya perang. Sedangkan pada masa damai rasa itu dapat melaksanakan kebudayaan yang luhur,” ujar Suryomentaram, dikutip koran Tjahaja, 18 Desember 1943.

  • Sudiro dan Warisan-warisannya

    SENIN (22/6/2026) kemarin, Jakarta memperingati hari lahirnya yang ke-499. Upacara peringatannya dihelat pemerintah provinsi di selatan Silang Monas. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan, upacara peringatan menjelang lima abad Jakarta itu bukan sekadar mengenang perjalanan sejarah kotanya, melainkan juga terus menempa diri dengan keterlibatan masyarakatnya yang majemuk sebagai kota global yang berpihak pada manusianya. Perayaan HUT Jakarta sendiri hadir pertamakali tujuh dekade silam, 22 Juni 1956, di masa kepemimpinan R. Sudiro Hardjodisastro (1953-1960). Walikota Jakarta Raya Sudiro mencetuskan gagasannya lalu meminta sejumlah cendekiawan, tokoh, dan sejarawan untuk menentukan dasar historis hari ulang tahun Jakarta dengan merujuk keberhasilan Fatahillah dari Kesultanan Demak merebut Sunda Kelapa –yang kemudian nama diubah jadi Jayakarta– dari Portugis pada 22 Juni 1527. “Jakarta di masa itu (1950-an) enggak ada hari ulang tahun. Dia (Sudiro) tanya siapa yang bisa bikin. Roeslan Abdulgani dan lain-lain ditanya. Tapi yang mendekati dan ilmiah (sejarahnya) ada dari namanya Prof. Soekanto. Dia berdasarkan jatuhnya Sunda Kelapa, 22 Juni,” ujar Tanto Sudiro, putra bungsu Sudiro, kepada Historia.ID.

  • Panglima Tentara Dipilih Lewat Rapat Koboy-Koboyan

    SEBULAN usai pengumuman maklumat pemerintah tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 oleh Presiden Sukarno, TKR belum memiliki pemimpin tertinggi. Kendati presiden sudah menetapkan Soeprijadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat, namun sampai batas yang ditentukan, pemimpin pemberontakan pasukan Peta (Pembela Tanah Air) di Blitar itu tak juga muncul. Soeprijadi diperkirakan dibunuh oleh balatentara Dai Nippon. Berdasarkan situasi tersebut, formatur Kepala Markas Besar Oemoem (MBO) TKR, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo berinsiatif mengadakan rapat antarperwira. Pertemuan itu diadakan di Yogyakarta pada 12 November 1945, dengan melibatkan para perwira yang paling rendah berpangkat letnan kolonel atau menjabat sebagai komandan resimen. Dalam film Jenderal Soedirman yang baru-baru ini diluncurkan, digambarkan suasana rapat sedikit hangat. Namun sejatinya, situasi rapat tersebut berlangsung kacau, tidak disiplin dan sangat panas. Menurut Mayor Jenderal Didi Kartasasmita, sejak awal pun sudah ada kesan rapat perwira itu tidak akan berjalan tertib. Laiknya para koboy, para peserta datang ke ruangan rapat dengan masing-masing menyandang pistol di pinggang.

  • Ketika Tentara Tanpa Panglima

    GEDUNG besar bergaya setengah art deco itu masih berdiri kokoh di tengah kota Yogyakarta. Catnya yang bercorak kombinasi hijau tua dan hijau muda menandakan bahwa bangunan tersebut ada di bawah pengawasan pihak TNI AD (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat). Semula, gedung yang dibangun pada 1904 itu merupakan rumah dinas pejabat administrator perkebunan Hindia Belanda di Jawa Tengah dan Yogyakarta, namun pada 1942-1945 dikuasai militer Jepang. “Pasca proklamasi kemerdekaan gedung ini kemudian beralih fungsi menjadi MBTKR (Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat),” ujar pemandu di Museum Pusat TNI Dharma Wiratama, nama gedung tersebut, kepada Historia. Sekitar 72 tahun yang lalu, di gedung MBTKR terjadi peristiwa sangat penting. Ceritanya, sebulan usai diumumkan Maklumat Pemerintah tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 oleh Presiden Sukarno, TKR sama sekali belum memiliki pemimpin tertinggi.

  • Ujeng Suwargana, Duta Tentara di Mancanegara

    KETIKA mengantar kepergian Ujeng Suwargana pada 7 Mei 1979, di depan khalayak Abdul Haris Nasution menyampaikan kesan dan kenangan terakhir bagi sahabat lamanya itu. “Dengan biaya sendiri Uyeng (Ujeng) membuat buku-buku kecil dalam bahasa Inggris yang menjelaskan perjuangan Irian Barat,” ujar Nasution sebagaimana dituturkannya dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan masa Orde Lama. Hingga akhir hayatnya, menurut Nasution, pemerintah belum pernah memberikan tanda penghargaan atas jasa-jasa Ujeng. Ujeng Suwargana alias Oey Eng Soe lahir di Bandung pada 12 November 1917. Perkenalan Ujeng dan Nasution bermula saat keduanya menempuh pendidikan militer untuk korps perwira cadangan Belanda di Bandung (CORO) tahun 1940. Di masa perang kemerdekaan, keduanya pun menjadi sejawat seperjuangan. Ketika Nasution menjabat Panglima Divisi Siliwangi tahun 1946, Ujeng adalah komandan logistiknya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page