top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10065 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kekejaman Tentara Jepang di Sulawesi

    BARU saja berhasil mengamankan kekuasaan dari tangan Belanda, rakyat Sulawesi harus menerima kenyataan bahwa tanah airnya kembali dikuasai imperialisme asing. Kali ini upaya penjajahan datang dari negara Asia Timur yakni Jepang. Sebagai kekuatan militer baru, dengan daya tempur terbesar di Asia, Jepang menebar teror yang amat menakutkan kepada rakyat Sulawesi. Pasukan militer Jepang pertama kali menginjakkan kakinya di Sulawesi pada Januari 1942. Wilayah Minahasa, Sulawesi Utara, menjadi salah satu lokasi pendaratan paling awal tentara Jepang di pulau terbesar ke-4 di Indonesia tersebut. Mereka langsung menduduki tiga tempat utama, yakni pangkalan udara Kalawiran, pantai utara dan selatan Kota Manado, dan negeri Kema. Diceritakan A. Sigarlaki, dkk. dalam Sejarah Daerah Sulawesi Utara, perlawanan sempat dilakukan rakyat begitu Jepang tiba di Minahasa. Di bawah pimpinan A.B. Andu, J. E. Tatengkeng, dan tokoh lainnya, rakyat memberikan serangan-serangan ke kubu militer Jepang. Tetapi perlawanan itu dengan mudah ditumpas pasukan tempur Jepang yang persenjataannya lebih lengkap. Pusat kekuatan rakyat di Tomohon dan Tondano pun akhirnya dapat dikuasai.

  • Sudharto Sudiono, Tentara yang Bergiat dalam Tinju

    PERANG Dunia II membawa Sudharto Sudiono berkelana. Pada 1942, anak dari kepala bagian kementerian hukum kolonial di Batavia ini, terdampar di Australia bersama ribuan serdadu KNIL (Koninklijke Nederlands Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Kala itu, Hindia Belanda telah diduduki tentara Jepang. Sudharto Sudiono, menurut Hilderia Sitanggang dalam Sudharto Sudiono: Hasil Karya dan Pengabdiannya, kemudian berpangkat sersan dan pernah ditempatkan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Sementara itu, Harsya W. Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat menyebut Sudharto pernah menjadi perwira (rendahan) tentara New Zealand dalam Perang Dunia II.

  • Obrolan Ringan Noerdin Pandji dengan Tentara Belanda

    DI SEKITAR Lampung Utara, Noerdin Pandji harus repot pada akhir 1949 karena adanya gencatan senjata. Dia adalah komandan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Front Utara Lampung. Kala itu, Mayor Noerdin Pandji sudah turun pangkat menjadi kapten. Di sebuah kampung, Noerdin bertemu beberapa anggota Koninklijk Landmacht (KL). Tembak-menembak tak ada lagi. Anak-anak kecil bahkan berani bermain di bawah kolong jembatan yang dijaga serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) sambil duduk-duduk di sebuah kuris reyot. Noerdin kemudian bertemu seorang kopral. “Saya tidak pernah berpikir akan menjadi tentara,” kata Noerdin. "Aku juga tidak," aku kopral KL bule itu.

  • Partai Tentara Zaman Belanda

    BANYAK orang pribumi yang tidak lagi buta huruf setelah bekerja di tentara kolonial Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), dan Angkatan Laut Belanda Koninklijk Marine (KM). Setelah pensiun dari dinas militer, mereka hidup dari uang pensiun yang diberikan kerajaan. Pada 1930-an, para pensiunan militer pribumi, terutama yang dari KNIL, banyak yang menghimpun diri di dalam Bond van Inheemsch Gepensioneerde Militairen (perkumpulan pensiunan militer). Perkumpulan ini berharap pemerintah kolonial memperhatikan kehidupan mereka. Mereka punya majalah Trompet yang rajin membahas kepahlawanan anggotanya. Setelah Perang Dunia II pecah, Belanda tak bisa membayar uang pensiun mereka. Kehidupan menjadi sulit bagi mereka. Maka setelah Perang Dunia II selesai dan diikuti rusaknya perekonomian pasca-perang, para pensiunan itu berharap mendapat uang pensiun lagi. Mereka lebih memilih Belanda berkuasa lagi di nusantara meski Republik Indonesia (RI) sudah berdiri. Tentu karena Belanda lebih menjanjikan dalam hidup mereka daripada RI yang baru berdiri.

  • Tentara Jepang Bantai Pejuang Semarang di Rumah Sakit

    PERANG bisa saja tak mengenal tempat. Rumah sakit sejatinya adalah tempat untuk merawat orang sakit supaya sembuh. Namun, di zaman perang rumah sakit bisa berubah bak arena penjagalan manusia. Suasana seperti itu juga pernah terjadi di Indonesia. Tepatnya pada Pertempuran Lima Hari di Semarang yang berlangsung 14—19 Oktober 1945. Pada pagi buta 15 Oktober, pasukan Jepang bergerak dari markasnya di Jatingaleh menyerang pejuang Republik di beberapa titik Kota Semarang. Mereka adalah pasukan Kido Butai, pasukan cadangan militer setara batalion, yang dipimpin oleh komandan garnisun Semarang, Mayor Shinichiro Kido. Gerakan itu sebagai reaksi atas desakan kelompok pemuda yang ingin melucuti senjata Jepang disertai ancaman penangkapan terhadap orang-orang Jepang. Terlebih lagi Mayor Kido mendengar Mayjen Imamura, komandan pasukan Jepang di Jawa dan Madura, ditawan oleh pemuda pejuang di Magelang.

  • Aksi Tentara Semut di Zaman Revolusi

    SEKILAS tak ada yang mencurigakan dari gerak-gerik anak-anak yang tengah asyik bermain di siang hari itu. Namun, tanpa disadari oleh orang-orang di sekitarnya, anak-anak tersebut sesungguhnya tengah menggali informasi mengenai pergerakan tentara Sekutu dan NICA di Padang. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tak hanya dilakukan orang-orang dewasa. Anak-anak juga tergerak untuk ikut ambil bagian dalam mengusir pasukan Belanda. Di Sumatra Barat, anak-anak ini disebut tantara samuik atau tentara semut. Dalam Ensiklopedi Minangkabau dijelaskan, tantara samuik atau tentara semut adalah sebutan populer yang diberikan masyarakat untuk menyebut kelompok anak-anak remaja yang terpanggil untuk membantu perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan pada masa Aksi Militer Belanda I dan II tahun 1947–1948. Anak-anak ini diberi latihan dasar kemiliteran dan tugas-tugas bantuan seperti menjadi kurir, mata-mata, hingga petugas palang merah.

  • Rakyat Wehale Melawan Tentara Fasis Jepang

    KERAJAAN Wewiku-Wehale terletak selatan Belu, Nusa Tenggara Timur. Kerajaan itu tentu punya hubungan dengan dunia luar. Dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Timur, Widyatmika dkk. menyebut kerajaan itu sekitar tahun 1642 berhubungan dengan imperium Makassar di Sulawesi Selatan. Buku Indonesia Membangun Volume 4 menyebut Wehale merupakan kerajaan federasi yang punya raja-raja bawahan. Kerajaan tersebut adalah saingan Portugis. Kerajaan Wehale akhirnya memeluk Islam. Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "petite histoire" Indonesia Volume 1, menyebut Raja Wehale memeluk Islam ketika merasa terancam oleh orang Eropa di daerahnya. Sebagai pesaing, Portugis memerlukan persekutuan untuk melemahkan kerajaan tersebut. Lewat persekutuan dengan kerajaan-kerajaan bawahan Wehale, Portugi berhasil memperkuat posisi politiknya. Sebagian Wehale pun masuk Timor Portugal, sementara Wehale yang lain kemudian jadi bawahan Belanda.

  • Sniper Indonesia Tewaskan Ratusan Tentara Belanda

    KETERBATASAN senjata dan amunisi tentu membuat kombatan Republik Indonesia harus bisa berhemat dalam memakai peluru. Bertempur seperti penembak jitu (Inggris: sniper; Belanda: sluipschutter) tentu menjadi cara terbaik bagi kombatan Indonesia di Perang Kemerdekaan. Satu nyawa musuh cukup dengan satu peluru saja. Tapi, hanya sedikit pejuang Indonesia yang pernah mendengar istilah sniper atau sluipschutter, apalagi paham konsep kerja mutakhirnya. Terlebih era-era sebelumnya. Termasuk orang yang menembak Jenderal Mayor Johan Harmen Rudolf Köhler (1818-1873) ketika sedang memantau pertempuran di bawah pohon depan Masjid Raya Aceh, sebagaimana disebut Daoed Joesoef dalam Dia dan Aku dan Anton Stolwijk dalam Aceh: Kisah Datang dan Terusirnya Belanda dan Jejak Yang Ditinggalkan. Kohler tentu bukan satu-satunya militer Belanda yang jadi korban sniper di Indonesia. Terlebih dalam Perang Kemerdekaan, korban sniper Indonesia jauh lebih banyak.

  • Perang Bubat Masih Pekat

    BHRE Prabu Hayam Wuruk yang menghendaki putri Sunda mengutus Patih Madhu, seorang mantri senior, untuk mengundang pihak Sunda. Tak keberatan jadi besan, datanglah Raja Sunda Prabu Maharaja ke Majapahit. Alih-alih diterima dengan pesta menyambutan, mereka menghadapi sikap keras Mahapatih Gajah Mada yang menghendaki putri Sunda sebagai persembahan. Pihak Sunda tak setuju dan bertekad perang. Gajah Mada memberi tahu perilaku orang Sunda. Bra Prameswara dari Wengker menyatakan siap bertempur. Maka, pasukan Majapahit mengepung orang-orang Sunda. Tak mau menyerah, orang-orang Sunda memilih mempertaruhkan nyawa. Pertempuran tak terelakkan. Sorak-sorai bergemuruh ditingkahi bunyi reyong. Raja Sunda, Prabu Maharaja, meregang nyawa paling awal. Bra Prameswara datang ke Bubat, tak tahu masih banyak orang Sunda yang belum gugur. Tak ayal pasukannya mendapat serangan dan porak-poranda. Namun, ia segera melakukan serangan balasan.

  • Simpanan Senjata Brigjen Frans Karangan

    SUATU hari di tahun 1981, mobil yang ditumpangi Menhankam?Panglima ABRI Jenderal M Jusuf melintasi perempatan Jalan Agus Salim dan Jalan Kebon Sirih, Jakarta. Mobil itu berhenti kena lampu merah. Dari dalam, Jenderal Jusuf melihat mobil lain yang juga sedang berhenti di sebelahnya. Pintu kanan belakang mobil itu terbuka sehingga Jenderal Jusuf mengetuk kaca mobil yang dilihatnya itu. Sopir mobil itu tahu siapa yang mengetuk pintu kaca mobil yang dikendarainya. Orang di dalam mobil yang diketuk panglima itu pun membuka pintunya. “Frans serahkan mi itu senjata-senjatamu ke Kodam,” kata Jenderal Jusuf dalam dialek Bugis.

  • Kaum Papa Tionghoa dari Benteng Tangerang

    KAPAL rombongan Tjen Tjie Lung, saudagar Tionghoa, hampir sampai di pelabuhan Jayakarta pada 1407. Sayangnya, kapal mereka rusak sehingga harus berlabuh di muara Sungai Cisadane (sekarang Teluk Naga). Tjen, ditemani sembilan gadis dalam rombongan, lantas menghadap penguasa setempat, Sanghyang Anggalarang, untuk meminta bantuan. Gadis-gadis itu menarik perhatian para pembesar kerajaan. Mereka pun menikahinya. Sebagai imbalan, rombongan Tjen diberi sebidang tanah di sebelah timur Sungai Cisadane. Ini menjadi gelombang awal pemukim Tionghoa di Tangerang. Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) menduduki wilayah itupada abad ke-16. Sebuah benteng –dinamakan Benteng Makassar– dibangun untuk melindungi wilayah itu dari serangan musuh. Karena tak suka dengan aturan VOC, beberapa orang Tionghoa keluar dari Benteng Makassar dan mendirikan permukiman.

  • Kakak dan Adik Beda Timnas di Sepakbola Dunia

    SEJURUS performa tim nasional Indonesia yang kian menyala di kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, PSSI kembali mendatangkan calon pemain naturalisasi diaspora asal Belanda. Adalah Mees Hilgers dan Eliano Reijnders Lekatompessy yang akan menjalani proses naturalisasi. Menariknya, Eliano punya kakak yang sudah berseragam timnas Belanda. Mees Hilgers beribu orang Manado, sedangkan Eliano Reijnders ibunya berasal dari Maluku. Keduanya sudah diperkenalkan Ketum PSSI Erick Thohir dan dalam waktu dekat akan menjalani proses naturalisasi sebelum bergabung ke skuad timnas senior besutan Shin Tae-yong. “Tadi sore banyak teman wartawan menanyakan kabar @meeshilgerss dan @eliano.r. Ini saya sudah makan malam bareng dan salaman,” ungkap Erick di akun Instagram-nya, @erickthohir, Jumat (6/9/2024).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page