Hasil pencarian
Cari di situs ini
10068 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Soekanto Menguji Rompi Sakti
RADEN Said Soekanto Tjokrodiatmodjo menjadi tokoh pejuang yang memperoleh gelar pahlawan nasional tahun ini. Dia adalah kepala kepolisian Republik Indonesia yang pertama dan paling lama (1945-1959). Di bawah kepemimpinannya, kepolisian Indonesia mengalami masa keemasan. Karena kiprahnya dalam membangun dunia kepolisian negeri itulah Soekanto dinilai patut masuk dalam album pahlawan nasional. Soekanto merintis karier kepolisiannya sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Berbagai kedinasan digeluti Soekanto. Dari bagian lalu lintas, dia dipindahkan ke bagian reserse, kemudian ke dinas intelijen polisi Hindia Belanda (Politiek Inlichtingen Diens/PID). Dari semua itu, Soekanto paling senang ketika bertugas sebagai Kepala Polisi Seksi IV bagian reserse, di Candi, Semarang. Periode itu berlangsung pada 1933-1934. Sekali waktu di tengah malam, Soekanto, mengadakan inspeksi. Berpakaian preman, Soekanto patroli di sekitar kantornya. Sekonyong-konyong dia menemukan komandan jaga, seorang inspektur berkebangsaan Belanda, sedang tidur terlelap. Soekanto memberinya pelajaran dengan merogoh saku sang inspektur dan mencolong pistolnya. Akibatnya, inspektur itu mendapatkan sanksi atas kelalaiannya dengan penurunan pangkat. Selama menjadi polisi, Soekanto memang dikenal disiplin tanpa ampun.
- Era Soekanto, Era Emas Kepolisian Indonesia
KEPALA Kepolisian Republik Indonesia pertama Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo merupakan seorang spiritualis. Ia aktif dalam beberapa organisasi kebatinan, teosofi, maupun vrijmetselarij atau freemason. Namun, kegiatannya dalam kebatinan ternyata tak mengganggu pekerjaan Soekanto sebagai Kapolri. Pada masa kepemimpinannya (1950-1959) Polri justru berada dalam masa keemasan. Soekanto pertama kali bergabung dengan vrijmetselarij ketika menjadi polisi Hindia Belanda di Semarang. Ia tercatat sebagai anggota Lodge La Contante et Fidele pada 15 November 1938. Namun, aktivitas vrijmetselarij harus berhenti pada masa pendudukan Jepang dan loji-loji ditutup. Peneliti Freemason Indonesia, Sam Ardi dalam Dialog Sejarah "Soekanto: Pahlawan Nasional, Bhayangkara, dan Freemason" di saluran Youtube dan Facebook Historia.ID, Selasa, 17 November 2020, menyebut bahwa loji-loji mulai bangkit pada 1950. Sementara itu, Soekanto dilantik sebagai murid di Loji Timur Agung yang kemudian menjadi Lodge Agung Indonesia. Dalam Loji Agung Indonesia, kemudian hari Soekanto menjabat posisi prestisius, yakni Penasehat Agung.
- Buick Bung Karno Masih Jalan
DIMULAI dari Gedung Joang ’45 di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, sedan hitam itu melaju menuju Jalan Imam Bonjol No. 1, tempat Museum Perumusan Naskah Proklamasi berada. Tidak lama di sana, ia kembali melanjutkan perjalanan ke Jalan Proklamasi, tempat Tugu Proklamasi. Begitulah aktivitas yang dilakukan sedan Buick 7 zits –nama resminya Buick Series 90 Limited– itu pada siang 16 Agustus 2023 ini. Lewat sebuah kirab, ia menyambangi tempat dulu Bung Karno dan kawan-kawan merumuskan naskah proklamasi hingga pembacaan proklamasi. Kendati sudah “sepuh”, sedan “bongsor” itu masih kuat menyusuri jalan-jalan ibukota. “Luar biasa,” kata Fitra Eri, pengulas otomotif tersohor yang hari ini mendapat kehormatan mengemudikan mobil bersejarah itu, kepada Historia.ID.
- D.I. Pandjaitan Dimarahi Bung Karno
SUASANA makan malam Presiden Sukarno mendadak terasa suram. Dia marah besar setelah mendapat kabar tentang Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman yang menentang gagasannya soal Manifesto Politik (Manipol) dan Kabinet Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis). Peristiwa itu terjadi di sela-sela perhelatan Konferensi Gerakan Non Blok (GNB) di Beograd, Yugoslavia, pada September 1961. “Istri atase militer Indonesia di Beograd, Letkol Samosir, yang mendengar itu saat menyiapkan hidangan, menelepon malam itu juga ke Jerman Barat kepada Kolonel D.I. Pandjaitan,” catat Midian Sirait dalam Revitalisasi Pancasila: Catatan-catatan tentang Bangsa yang Terus Menerus Menanti Perwujudan Keadilan Sosial. Kolonel Donald Isaac Pandjaitan, atase militer Indonesia di Jerman, disebut-sebut sebagai “sponsor” atas sikap PPI Jerman. Tudingan itu berasal dari Menteri Penerangan Achmadi ketika menghadiri Kongres ke-IV PPI se-Eropa di Praha, Cekoslovakia, Agustus 1961. Dari Praha, Achmadi kemudian bergabung dengan rombongan kepresidenan di Beograd dan melaporkan hasil kongres kepada Sukarno.
- Sesaat Setelah Bung Karno Wafat
LANGIT Jakarta terbuka cerah pada pagi tanggal 21 Juni 1970. Paling tidak, cukup cerah bagi Jenderal Maraden Panggabean untuk mengayunkan stik golfnya di lapangan Senayan. Ketika hendak memukul bola, Maraden tetiba mendapat pesan penting melalui walky talky-nya. Bung Karno, presiden RI pertama, telah wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Buru-buru Maraden meninggalkan lapangan golf untuk melayat. “Sewaktu saya tiba di RS Gatot Subroto, Pak Harto telah berada di sana, demikian pula Ibu Dewi Sukarno dan almarhum Brigadir Jenderal G. Dwipayana lengkap dengan kamera dan alat-alat perekamnya. Saya memegang dahi dan tangan Bung Karno, tubuhnya masih lemas, belum kaku,” kenang Maraden dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi. Bung Karno dikabarkan sudah mulai tak sadarkan diri sejak pukul 03.50. Menjelang nafasnya yang penghabisan, Bung Karno didampingi oleh anak-anaknya: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Turut pula kedua menantu, Ommy Marzuki dan Dedy Soeharto, serta seluruh tim dokter yang merawatnya. Sebelum meninggal, Bung Karno sempat bertemu Kartika, putrinya dari Ratnasari Dewi yang masih berusia tiga tahun.
- Ulah Letkol Sitompul Bikin Bung Karno Marah
SEMASA Perang Kemerdekaan, Pandapotan Sitompul dikenal sebagai komandan TKR di Tapanuli. Perwira jebolan Giyugun di zaman Jepang ini memimpin pasukan Divisi VI Sumatra yang bermarkas di Sibolga. Di luar urusan militer, Pandapotan cukup akrab dengan bawahannya. Kapten Donald Isaac Pandjaitan termasuk salah satunya. Komandan Batalion I Resimen IV TKR Riau itu ketemu jodohnya, Marieke Tambunan, berkat dicomblangi Pandapotan. “Sosok Marieke yang kebetulan sedang berkunjung ke Sibolga, terlihat dan tersidik oleh Komandan Divisi VI Sumatra, Letnan Kolonel Pandapotan Sitompul. Kemudian Letkol Pandapotan menceritakan itu ke Donald saat si Kapten melapor mau cuti pulang kampung sekaligus akan mencari jodoh,” tutur Herry Gendut Janarto dalam biografi Matiur Panggabean br. Tambunan Bunga Pansur dari Balige: Pengabdian dan Keteguhan Seorang Istri Prajurit. Matiur merupakan adik dari Marieke, maka adik ipar D.I. Pandjaitan. Matiur kemudian diperistri Maraden Panggabean yang pernah menjadi kepala staf Divisi VI pimpinan Pandapotan Sitompul. Jadi, Pandapotan Sitompul cukup dekat dengan D.I. Pandjaitan dan Maraden Panggabean.
- Kiai Tunggul Wulung Menangkal Wabah Penyakit
RAJA Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan pidato sapa aruh untuk warga Yogyakarta dalam menghadapi pandemi virus corona (Covid-19) pada 23 Maret 2020. “Berbeda dengan bencana gempa tahun 2006 yang kasat-mata,” kata Sultan. “Sekarang ini, virus corona itu jika memasuki badan, tidak bisa kita rasakan, dan menyerangnya pun tak terduga-duga. Menghadapi hal itu, kita selayaknya bisa menjaga kesehatan, laku prihatin, dan juga wajib menjalankan aturan baku dari sumber resmi yang terpercaya.” Strategi mitigasi yang diambil Sultan dalam menghadapi bencana non-alam ini, bukan lock-down melainkan calm-down untuk menenangkan batin dan menguatkan kepercayaan diri, agar eling lan waspada.
- Seabad Flu Spanyol
TEPAT satu abad silam, Flu Spanyol mengguncang dunia. Tidak ada negara yang luput dari serangannya. Pandemi influenza itu membunuh jutaan orang. Flu Spanyol membunuh sekitar dua sampai 20 persen penderita yang terinfeksi. Persentase tersebut jauh lebih besar dibandingkan influenza biasa yang hanya mampu membunuh 0,1 persen dari total penderita. Dahsyatnya serangan wabah ini membuat virologis Amerika Serikat Jeffery Taubenberger menyebut Flu Spanyol sebagai "The Mother of All Pandemics." Asal-muasal virus ini masih menjadi perdebatan. Menurut Frank Macfarlane Burnet, virologis Australia yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari influenza, pandemi 1918 bermula di Camp Funston dan Haskell County (Kansas) Amerika Serikat. Sementara menurut North China Daily News, seperti dikutip harian Pewarta Soerabaia, pandemi bermula di Swedia atau Rusia lalu menyebar ke Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara. Beberapa epidemiologis Amerika menyimpulkan, virus flu dibawa oleh buruh Tiongkok dan Vietnam yang dipekerjakan militer Inggris dan Perancis selama Perang Dunia I (PD I). Alasan utamanya, mereka terbiasa hidup berdekatan dengan burung dan babi. Namun argumen tersebut dibantah Dr. Edwin Jordan, editor dari Journal of Infectious Disease, dengan menyebut bahwa wabah flu di Tiongkok tidak menyebar dan berbahaya. Jordan juga tidak sepakat dengan teori yang menyebutkan India atau Perancis sebagai asal dari virus mengingat virus flu di kedua negara tersebut hanya bersifat endemik.
- Kala Kewarganegaraan Seorang Anggota Parlemen Dipertanyakan
EMILE Francois (E.F.) Wens tentu senang. Sebagai satu dari sedikit kalangan minoritas, dirinya diundang menghadiri acara penting di Istana Negara, Jakarta pada awal 1956. Wens dan lebih dari 250 orang lain, yang berhasil meraup suara dalam Pemilu 1955, dipercaya menjadi anggota Parlemen. Mereka akan dilantik di Istana Negara. “Pelantikan anggota DPR dilakukan oleh Presiden Sukarno tanggal 25 Maret 1956 di Istana Negara –Jakarta. Sedangkan pelantikan anggota-anggota Konstituante tanggal 10 November 1956 di Gedung Merdeka (kemudian terkenal sebagai Gedung Konstituante – Bandung,” tulis Idham Chalid, politikus NU, dalam Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah. Dari jumlah anggota DPR yang kurang dari 300 itu, tak semua mewakili partai politik. Mereka terdiri dari beberapa kriteria. “Ketika dilantik tanggal 26 Maret 1956 di Istana Negara, Jakarta, jumlah anggota DPR adalah 272, yang terdiri atas 257 hasil Pemilu 1955, 3 orang wakil Irian Barat diangkat, dan 12 wakil dari golongan minoritas keturunan asing/Tionghoa,” kata perempuan-politikus Aisyah Amini dalam Pasang-Surut Peran DPR-MPR, 1945-2004.
- Balap Mobil dengan Chaerul Saleh, Guntur Ditegur Sukarno
GUNTUR Soekarnoputra pernah ditegur ayahnya, Presiden Sukarno, karena melakukan manuver di jalanan. Hobinya memacu mobil sport VW Karmann Ghia bahkan dilakoni bersama Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan Chaerul Saleh. Chaerul Saleh juga menunggangi Karmann Ghia warna merah. Aksi kebut-kebutan Guntur bersama salah satu menterinya itu membuat Bung Karno gusar. Seperti dikisahkan Guntur dalam memoarnya Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku, Bung Karnomendapat kabar Guntur dan Chaerul sering balapan di bilangan Kebayoran, persisnya di Jalan Sisingamangaraja dan Senopati. Tukang-tukang becak di sekitaran Cikini sampai menyingkir karena takut kena serempet Karmann Ghia milik mereka. Bung Karno juga menerima laporan dari kepolisian bahwa Guntur mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai menabrak adik dari artis Baby Huwae. Bung Karno mengancam, sekali lagi insiden itu terjadi lagi, maka mobil Guntur akan dibakar.
- Jejak Putra Sang Fajar di Surabaya
RUMAH pemimpin Sarekat Islam di Gang Peneleh VII No. 29–31 itu tampak suwung. Daun pintu yang bercat krem berpadu hijau tertutup rapat siang itu. Andai saja tak ada plang informasi yang berdiri di depan rumah, mungkin orang tak bakal mengira kalau rumah sederhana itu pernah jadi tempat tinggal bagi aktivis politik zaman pergerakan dari berbagai kalangan dan ideologi. Mulai Sukarno yang nasionalis sampai Musso yang komunis dan S.M. Kartosoewirjo yang mengusung gagasan negara Islam, pernah indekos di rumah itu. Rumah yang pernah menjadi kediaman keluarga H.O.S. Tjokroaminoto itu kini memang tak lagi serupa sediakala. Bangunan asli rumah berdiri memanjang ke belakang dengan dua tembok yang menyekat sayap kiri dan kanan rumah sehingga menyisakan koridor yang memanjang di tengah rumah. Bagian utama rumah dengan deret kamar kos di belakang, yang salah satunya pernah ditempati oleh Sukarno, dibatasi tembok dapur dengan satu pintu yang kini telah ditutup. Satu set kursi kayu kuno terpasang di ruang tamu seluas 2x4 meter persegi. Sebuah foto pengantin remaja Sukarno dan Oetari terpampang di tembok dekat pintu masuk. “Itu pemberian bapaknya Mbak Maia,” ujar Eko Hadiratno, ketua RT II Kampung Peneleh sekaligus kuncen rumah Tjokroaminoto. Bapaknya Mbak Maia yang disebut Eko adalah Ir. Harjono Sigit, ayah penyanyi Maia Estianty, mantan istri rocker Ahmad Dhani. Harjono adalah cucu Tjokroaminoto dan pernah jadi rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) periode 1982–1986.
- Jenderal Tempur Ryamizard Ryacudu
JENDERAL TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu meninggal dunia pada 31 Mei 2026. Ryamizard merupakan Menteri Pertahanan (Menhan) Kabinet Kerja (2014–2019) di periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo. Semasa menjabat Menhan, Ryamizard dikenal tegas, berani, dan suka bicara ceplas-ceplos. Misalnya, Ryamizard pernah menolak wacana rekonsiliasi terhadap korban tragedi 1965. Menurutnya, rekonsiliasi tidak diperlukan sebab yang terjadi adalah peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bagi Ryamizard, penumpasan kader dan simpatisan PKI yang memakan banyak korban warga sipil sama seperti perang. Oleh karena itu, rekonsiliasi tak diperlukan apalagi permintaan maaf dari negara. “Rekonsiliasi dengan siapa? Orang PKI? Sudah pada mati kok. Enggak usah lagi lah. Ini pemberontakan ditumpas, pantas-pantas saja mati,” kata Ryamizard dalam “Simposium Anti PKI” pada 2016 silam.





















