top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Van Mook, Tokoh Belanda Kontroversial dalam Memori Orang Indonesia

    JAJAK Pendapat “Persepsi Penjajahan Belanda di Indonesia” yang digulirkan Historia.ID bekerjasama dengan Volkskrant pada 17 Agustus–16 September 2021 mengungkapkan, mayoritas orang Indonesia menganggap alasan di balik sikap Belanda menentang kemerdekaan Indonesia pada 1945 adalah karena “Belanda hanya ingin memulihkan kekuasaan kolonialnya.” Pendapat tersebut disuarakan oleh 74,62% dari 1.604 responden. Jawaban “Belanda hanya ingin memulihkan kekuasaan kolonialnya” tak bisa dilepaskan dari nama Van Mook. Kendati bukan yang terbesar persentasenya, nama Van Mook juga muncul di jajak pendapat, tepatnya di jawaban dari pertanyaan “Tokoh-tokoh yang berperan dalam kolonialisme Belanda di Indonesia.” Upaya pemulihan kekuasaan Belanda pasca perang dan Van Mook merupakan dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena faktanya memang demikian.

  • Derap Musik Rap

    SAMBIL melompat-lompat dan hilir-mudik di atas panggung, pemuda berkemeja hitam motif polkadot itu membawakan lagu “Glow Like Dat” miliknya. Penonton bergemuruh dan ikut bernyanyi. Dengan dukungan personil 88 Rising, Rich Chigga, penyanyi rap itu, begitu enerjik. Di konser Djakarta Warehouse Project 2017 itu sang rapper tampil memukau. Rich merupakan fenomena baru dalam belantika musik rap. Pemuda 18 tahun kelahiran Jakarta itu menggegerkan dunia musik rap internasional setelah menjadi artis Asia pertama yang menduduki peringkat satu iTunes untuk musik hip-hop. Popularitasnya kian meroket setelah dia diundang ke “Late Late Show”-nya James Corden dan tampil mengesankan. Rapper yang kini mengganti nama panggung menjadi Rich Brian dan tinggal di Los Angeles itu melanjutkan tongkat estafet penyanyi rap tanah air. Meski tak sepopuler rock apalagi pop, rap telah lama bertumbuh-kembang di Indonesia.

  • Perang Uang Palsu Masa Revolusi

    UANG palsu kerap kali beredar dalam transaksi tunai di masyarakat. Peredarannya meningkat menjelang perayaan hari keagamaan, tahun baru, dan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Motif pelaku membuat uang palsu biasanya keuntungan ekonomi. Uang palsu sangat merugikan pedagang dan pembeli. Sementara bagi negara, uang palsu bisa memicu inflasi. Peredaran uang palsu pernah marak pada masa Indonesia mempertahankan kemerdekaan antara 1945–1950. Selama masa ini, peredaran uang palsu lebih bertujuan politis ketimbang keuntungan ekonomi. Ada tiga uang beredar pada masa mempertahankan kemerdekaan. Dua jenis uang Jepang dan uang De Javasche Bank. Peredaran tiga uang ini merugikan Indonesia karena mengerek angka inflasi. Keadaan bertambah berat bagi Indonesia dengan peredaran uang NICA atau “uang merah”.

  • Pangeran Adiningrat Dibuang Karena Uang Palsu

    KERAMAIAN terjadi di sekitar stasiun Jebres, Solo pada 29 Mei 1894. Keramaian itu mengalahkan keramaian pada sehari sebelumnya, saat mana hukuman mati dipertontonkan. Kali ini, keramaiannya bukan dari “pertunjukan” hukuman mati. Tapi rakyat yang datang untuk menontonnya di stasiun lebih banyak. Bukan hanya aparat keamanan kolonial yang dibuat repot, calon penumpang yang ingin naik keretaapi harus berusaha keras menembus massa untuk bisa mencapai peron. Sekitar pukul 11 siang, polisi membuka jalan. Sebuah kereta kuda yang ditarik empat ekor kuda kemudian muncul memasuki stasiun. Kereta kuda itu tak sendiri, ada 10 pengawal berkuda, yang disebut dragonder. De Niuwe Vorstenlanden, 30 Mei 1894, menyebut kereta itu datang dari Benteng Vastenberg. Sepanjang jalan rombongan kereta kuda itu menjadi tontonan. Begitu tiba di stasiun terlihat seorang pangeran duduk di dalamnya. Orang-orang pribumi yang melihatnya langsung berjongkok sebagai tanda hormat ala jelata kepada sang pangeran.

  • Perwira Prancis Beli Lada dapat Prank Raja

    ZAMAN Iskandar Muda bertakhta di Aceh, kerajaan itu menjadi kaya. Pajak dan perdagangan lada jadi sumber penghasilannya. Dengan letak strategis di pintu masuk Selat Malaka dari barat dan kekayaan alam melimpah, Aceh yang kuat menjadikan diri sebagai negeri-pelabuhan. Aceh memang terbuka untuk pedagang asing, namun perdagangan tetap dimonopoli oleh raja. Monopoli lada membuat raja Aceh dan pejabatnya menjadi kaya raya. Lada tentu membuat Aceh punya posisi tawar di utara Selat Malaka. Dengan demikian, raja menjadi orang yang paling ingin didekati pedagang-pedagang asing, termasuk dari Eropa. Menurut A.B. Lapian dalam Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan ke-17, Pelabuhan Aceh adalah salah yang sulit dijangkau. Namun suatu kali datanglah orang-orang Perancis menghadap Sultan Iskandar Muda. Dia adalah Augustin de Beaulieu (1589-1637), seorang perwira Perancis yang berkedudukan tinggi dalam pelayaran ke Asia. Dia tahu Iskandar Muda suka hadiah.

  • Topi Merah Simbol Perlawanan Rakyat Prancis

    SELAMA Revolusi Prancis (1789–1799), warna merah yang sejak akhir abad ke-18 menjadi simbol politik, tak hanya terlihat pada bendera-bendera yang dikibarkan setiap kali rakyat turun ke jalan. Warna merah sebagai simbol perlawanan terhadap tiranijuga menghiasi pakaian dan aksesoris yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya topi. Menurut sejarawan mode Amerika, Valerie Steele dalam Paris Fashion: A Cultural History, popularitas bonnet rouge atau topi merah di kalangan rakyat Prancis menjadi tanda bahwa mode tidak menghilang selama revolusi tetapi menjadi semakin dipolitisasi, terutama setelah kejatuhan monarki pada 1792. “Bonnet rouge atau topi merah memainkan peran penting dalam ikonografi Revolusi Prancis. Menyerupai topi Phrygia yang dikenakan oleh para budak dan narapidana yang dibebaskan, topi merah dimaksudkan untuk mengingatkan para pemakainya dan seluruh masyarakat akan kebebasan yang baru saja didapatkan oleh rakyat,” tulis Steele.

  • Napoléon Sang Pahlawan Revolusi Prancis

    PULAU Corsica sejak awal Juni 1793 sudah membara. Revolusi Prancis yang digadang kaum Republik untuk menumbangkan monarki sedang memasuki tahun keempatnya. Gejolaknya yang dibuat pelik “Rezim Teror” menjalar ke berbagai wilayah hingga ke Ajaccio dan kota-kota lain di Corsica yang jadi pulau kelahiran seorang perwira artileri muda bernama Napoleone di Buonaparte. Sang perwira muda itu sejak awal memilih keberpihakannya pada kaum revolusioner Prancis, seperti Antoine Christophe Saliceti –yang juga kelahiran Corsica– dan Augustin Robespierre, adik pemimpin revolusi Maximilien Robespierre. Akibatnya, Napoleone terpaksa bermusuhan dengan mentor politiknya, Pasquale Paoli, yang menghendaki Corsica berpihak pada Inggris demi bisa merdeka dari Republik Prancis. Imbasnya, tulis Robert Harvey dalam The War of Wars: The Epic Struggle Between Britain and France, 1789-1815, Napoleone sempat ditangkap pengikut Paoli di kota Corsacci. Beruntung ia ditolong beberapa temannya sehingga bisa melarikan diri ke Ajaccio dan kemudian ke Bastia untuk minta bantuan Saliceti.

  • Kisah Pembalap Prancis di Garis Finis

    BENDERA triwarna (biru-putih-merah) mendominasi pengerekan tiga bendera di atas podium Grand Prix Doha, Minggu, 4 April 2021 malam waktu setempat (Senin, 5 April WIB). Pemenang kelas MotoGP Fabio Quartararo berbagi kebanggaan dengan runner-up Johann Zarco. Keduanya menyunggingkan senyum lebar dan bersukacita kala lagu kebangsaan Prancis “La Marsellaise” berkumandang. MotoGP seri kedua di Sirkuit Losail, Doha, Qatar akhir pekan lalu menghadirkan dua torehan sejarah. Pertama, di seri itulah terjadi persaingan paling ketat sepanjang sejarah MotoGP dalam satu balapan penuh. Terdapat 15 pembalap yang adu nyali dan strategi plus kekuatan motor pada barisan terdepan dari start hingga finish di bawah selisih waktu sembilan detik antara pembalap terdepan hingga pembalap ke-15. Kedua, kemunculan pertama dua pembalap Prancis di tangga podium sejak 1954, di mana kala itu Prancis diwakili Pierre Monneret dan Jacques Collot. Quartararo, yang diusung tim Monster Energy Yamaha, mengerahkan semua kemampuannya untuk menang meski start di urutan kelima. Sementara Zarco, joki tim Pramac Ducati, puas finis di urutan kedua. Selain bangga bisa ikut mengulang sejarah, Zarco senang karena rekan setimnya asal Spanyol yang seorang debutan, Jorge Martín, merasakan podium pertamanya sebagai juara ketiga.

  • Kisah Penyair Besar Prancis Jadi Serdadu di Salatiga

    PLAKAT marmer itu terpasang kokoh pada salah satu dinding Rumah Dinas Walikota Salatiga. Warna abu-abunya mencolok di antara pilar-pilar putih rumah bergaya Indis yang pernah didiami oleh asisten residen Salatiga itu. Tulisannya berbunyi: Le poète français ARTHUR RIMBAUD (1854-1891) a séjourné à Salatiga du 2 au 15 août 1876. Memorabilia ini menandakan bahwa penyair besar Prancis, Arthur Rimbaud, pernah tinggal di Salatiga. Rimbaud menjalani hari-harinya di sini sebagai serdadu antara 2 hingga 15 Agustus 1876. Sebaris puisi Rimbaud juga disematkan dalam plakat itu. “Aux pays poivrés et détrempés (artinya “Ke negeri rempah-rempah pedas dan basah”),” demikian bunyinya.

  • Sejarah Laïcité, Dasar Falsafah Sekularisme Prancis

    SEJAK September lalu, setidaknya ada tiga insiden terkait terorisme di Prancis. Dua orang staf rumah produksi diserang di dekat kantor Majalah Charlie Hebdo pada akhir September. Pada 16 Oktober, seorang guru bernama Samuel Paty dipenggal setelah memperlihatkan kartun Nabi Muhammad di sekolah. Lalu pada 29 Oktober, tiga orang tewas dalam serangan di Nice. Situasi semakin memanas. Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait kebebasan berpendapat di negerinya dianggap sebagai sikap anti-Islam. Negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim mengecam Macron dan aksi boikot produk-produk Prancis dilakukan di berbagai tempat. Mengutip bbc.com, pada awal Oktober lalu, Presiden Macron mengatakan bahwa “sekularisme adalah dasar negara” dan “separatisme Islam harus ditangani”. Sekularisme yang hendak dipertahankan Prancis itu memang telah menjadi dasar falsafah Prancis selama lebih dari 100 tahun. Sekularisme atau yang dalam istilah Prancis disebut Laïcité, memiliki akar yang panjang dalam sejarah Prancis.

  • Kisah Tukang Daging yang Menipu Bangsawan Inggris

    TAK ada yang lebih menarik perhatian penduduk Inggris pada abad ke-19 selain sebuah skandal penipuan yang menyeret salah satu keluarga terpandang di negara itu. Besarnya perhatian terhadap kasus ini bahkan membuat opini publik terbelah dua. Skandal penipuan tersebut bermula pada 1854, ketika Bella, kapal yang tengah berlayar dari Rio de Janeiro menuju New York, dilaporkan hilang di laut. Salah satu penumpang kapal itu adalah Roger Tichborne, seorang pria muda yang merupakan putra tuan tanah di Inggris. Keluarga sang ayah dikenal sebagai pewaris baron Tichborne yang cukup berpengaruh. Sementara ibunya, Lady Henriette Tichborne, berkebangsaan Prancis. Llyod A. Wells menulis dalam “Imposture Syndromes: A Clinical View”, termuat di The Mythomanias, Roger menghabiskan tahun-tahun awal kelahirannya di Prancis. Bahasa pertamanya adalah bahasa Prancis. Setelah kematian sepupunya yang masih muda, Roger dipersiapkan untuk menjadi pewaris baron Tichborne. Meski begitu, Lady Tichborne menentang rencana kepindahan putranya ke Inggris, atau sekadar berkunjung ke negara tersebut, hingga ketika Roger berusia 16 tahun, pamannya yang merupakan baronet ke-8 meninggal dunia.

  • Cara William Thompson Menipu Orang Kaya

    DI SEPANJANG sejarah, selalu ada penipu dan pencuri yang mengambil uang orang lain dengan cara bicara sopan dan cerita muluk memikat. Salah satunya adalah William Thompson, penipu yang menggegerkan masyarakat New York City pada abad ke-19. Pada akhir tahun 1840-an, pantai timur Amerika Serikat dibanjiri orang kaya baru. Para pria kaya itu mengenakan topi tinggi saat beraktivitas di luar rumah. Tak hanya sebagai aksesoris tapi juga untuk menunjukkan status sosial sehingga dianggap orang penting. Pada masa yang dikenal sebagai era Victoria itu tata krama berlebihan umum dilakukan masyarakat. Menurut Steven Lazaroff dan Mark Rodger dalam History’s Greatest Deceptions and Confidence Scams ini juga merupakan masa di mana para pria marak menggunakan jam tangan saku yang menggantung pada rantai emas.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page