Hasil pencarian
Cari di situs ini
10072 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Badan Ekonomi “Sama Rata Sama Rasa”
JOENOES Nasution, tokoh komunis Sumatera Timur, bergerak cepat untuk mengisi revolusi di Sumatera. Pada 11 Desember 1945, dia mendirikan Badan Pusat Perekonomian Rakyat Sumatera (BAPPER). Tujuannya memegang kendali ekonomi di seluruh Sumatera. Kala itu, sumber utama perekonomian di Sumatera Timur adalah perkebunan dan pertambangan. Revolusi membuat berbagai pihak, tak terkecuali tentara, saling memperebutkannya. Dengan mengendalikan perkebunan, unit-unit militer memiliki kekuatan politik yang otonom. “Melalui pedagang-pedagang Tionghoa, komandan militer mulai mengekspor sejumlah besar produk perkebunan (terutama karet dan kelapa sawit) ke Penang dan Singapura,” tulis Audrey Kahin dalam Regional Dynamics of the Indonesian Revolution.
- Guru Olahraga Latih Timnas dan Menteri
MINGGU sore 14 September 1930, Yogyakarta menghelat pertandingan sepakbola antara tim HSH melawan AMS Yogyakarta. Antusiasme warga untuk menyaksikannya cukup tinggi di era sport mulai marak itu. Di babak awal, HSH unggul 1-0. Namun, perimbangan kekuatan kedua tim tak berubah di babak kedua. Bahkan, satu gol lagi berhasil disarangkan tim HSH. AMS kewalahan dalam bertahan di babak akhir. Guru olahraga mereka pun akhirnya harus turun tangan. Turunnya sang guru mengubah peta kekuatan kedua tim. Pemain sayap kiri yang murid sang guru, namanya Soeharso, lalu berhasil mengecoh bek lawan. Berkat umpan dari sang guru, Soeharso lalu bisa menyundul bola yang menghasilkan gol. Meski kalah, AMS bisa memperkecil skor menjadi 1-2. Begitulah De Locomotief tanggal 15 September 1930 memberitakan laga tersebut.
- Tergoda Mi Instan
SEPULANG dari kerja magang di Perusahaan Gas Negara, Lutfi merasa lapar. Dia pun mengajak Labib, temannya, untuk makan di sebuah warung tak jauh dari kontrakannya di bilangan Pondok Cina, Depok. Mereka memesan Indomie rebus plus telur ceplok. “Kalau sudah tanggal tua ya begini, andalanku ya mi instan. Biasa anak kos, uang saku tipis,” ujar Lutfi, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Unversitas Indonesia (UI). “Mestinya pencipta mi instan itu kita doakan masuk surga. Ini penemuan paling hebat di masa modern,” kata Labib (21), mahasiswa tingkat akhir Program Studi Filsafat UI, berseloroh. Mi adalah salah satu makanan tertua dalam sejarah peradaban manusia. Diperkirakan mi kali pertama dibuat bangsa Tiongkok sekira 4000 tahun lalu. Itu seturut laporan kantor berita BBC, 12 Oktober 2005, mengenai penemuan mi di situs arkeologi Lajia, Tiongkok. Dari Tiongkok, mi menyebar ke belahan dunia lain, termasuk Indonesia.
- Tentang Tiga Mi Instan
SETELAH kalah perang, Jepang kekurangan pangan. Penduduk mengantri di tempat-tempat pembagian makanan. Salah satunya di belakang Stasiun Kereta Osaka. Seorang pengusaha, Momofuku Ando (1911-2007), melihat banyak orang mengantri mi soba di sana. Ando pun berpikir bagaimana caranya mengatasi kekurangan pangan? Betapa praktisnya bila ada makanan yang mengenyangkan dan dapat disimpan lama. Sehingga, rakyat Jepang yang sedang kelaparan dapat memperoleh pangan secara mudah dan cepat. Jenis makanan tersebut juga mudah dibawa dan didistribusikan ke daerah yang memerlukan sebagai bantuan pangan darurat. “Pilihan jatuh pada mi. Ide tersebut tidak disangka kelak akan melahirkan industri raksasa yang dikenal dengan nama Nissin,” tulis F.G. Winarno dalam Mi Instan: Mitos, Fakta, dan Potensi. Setelah melalui percobaan selama beberapa bulan, akhirnya Ando memasarkan mi instan pertamanya pada 25 Agustus 1958.
- IPKI: Ini Partai Kolonel Indonesia
SETELAH Peristiwa 17 Oktober 1952, waktu Istana Merdeka dikepung meriam oleh Angkatan Darat (AD), Kolonel Abdul Haris Nasution dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Waktu itu AD belum sebesar sekarang hingga harus dipimpin seorang jenderal. Nasution yang “nganggur” pun terjun ke dunia politik. Golongan yang hendak didekati dan dirangkul oleh Nasution adalah para bekas pejuang '45. Setidaknya dua kawan tentara Nasution, yakni Kolonel Gatot Subroto dan Kolonel Azis Saleh, sepemikiran dan ikut bergabung. Lalu dia juga merangkul Hasjim Ning, pengusaha sekaligus keponakan Bung Hatta yang di masa Revolusi 45 pernah jadi Polisi Tentara (kini Polisi Militer). Hasjim Ning dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang mengatakan, pada waktu itu partai-partai politik memerlukan banyak uang untuk dana pemibayaan kampanye pemilihan umum yang akan berlangsung tahun depannya. "Dan di kala itulah aku di-approach oleh A.H. Nasution yang telah diberhentikan dari jabatan ketentaraan. Alasannya sederhana saja dan mudah masuk akalku. Bahwa setelah selesai perang kemerdekaan banyak pejuang, baik yang TNI maupun tidak, telah ditelantarkan nasibnya setelah dipensiunkan atau dikeluarkan karena berlakunya rasionalisasi ke arah militer profesional," kata Hasjim Ning.
- Jalan Menyimpang Goenawan Mangoenkoesoemo
SEORANG anak muda, belum lagi berusia 17 tahun membuat gempar pembaca koran Java Bode yang kebanyakan datang dari kalangan priayi dan pejabat pemerintah Belanda. Artikel itu menyerang kebijakan pemerintah yang mengangkat bupati bukan karena kualifikasinya melainkan karena garis keturunan. Goenawan seorang priayi, namun sejak mula ia telah merasakan sesuatu yang tidak beres pada masyarakat jajahan: diskriminasi. Dia adalah adik dari dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, salah seorang pelopor gerakan nasionalisme di Indonesia. Nama Tjipto jauh lebih dikenal ketimbang adiknya. Tjipto dicatat sebagai pembangkang; sosok anak muda yang pada zamannya berani menentang otoritas kolonial di tengah cengkeraman alam pikiran masyarakat yang masih terbelenggu oleh feodalisme. Akan halnya Tjipto, Goenawan pun memiliki minat terhadap aktivitas politik dan sama-sama bernyali tinggi. Savitri Prastiti Scherer dalam bukunya, Keselerasan dan Kejanggalan: Pemikiran-Pemikiran Priayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX menulis tentang asal-usul keluarga Mangoenkoesomo. Mangoenkoesomo senior, ayah Tjipto dan Goenawan, bekerja sebagai guru bahasa Melayu di sekolah dasar pribumi di Ambarawa. Pada masa akhir kariernya, ia diangkat menjadi kepala sekolah dasar di Semarang.
- Pidato Sukarno Menuju Memori Dunia
SALAH satu momen bersejarah bagi Indonesia dalam kancah internasional terjadi pada 30 September 1960. Saat itu berlangsung Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-15. Presiden Sukarno menyampaikan pidato monumental berjudul “To Build The World Anew” (Membangun Dunia Kembali). Pidato itu disebut-sebut sebagai salah satu pidato terbaik yang pernah dikemukakan dalam forum tertinggi organisasi PBB dan layak diajukan menjadi warisan ingatan dunia (Memory of World). “Pidato Bung Karno di PBB adalah akumulasi dari pemikiran dan gagasan sejak sebelum Indonesia merdeka,” kata sejarawan Asvi Warman Adam dalam diskusi terpumpun “Arsip Sukarno: To Build The World Anew sebagai Memory of The World (MoW)” yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), 23 April 2020. Menurut Asvi, pidato Sukarno itu mempunyai keunggulan dibandingakan dengan pidato pemimpin dunia yang lain. Bukan hanya menggugat kolonialisme tapi Sukarno juga mengkritik PBB yang tidak mewakili secara global. Bung Karno mengangkat negara besar seperti Republik Rakyat Tiongkok yang belum tergabung sebagai anggota. Begitu pula konflik yang terjadi di Aljazair, Korea, dan Vietnam. Dia juga menyoal Irian Barat yang belum dikembalikan kolonialis Belanda.
- Di Balik Pidato Bung Karno di PBB
KENDATI pandangannya tetap seksama menengok lembar demi lembar pidato di hadapannya, suara Presiden Sukarno kian lama kian menebal saat berpidato di sesi ke-15 Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, 30 September 1960. Terlebih saat menyuarakan kebutuhan mendesak agar dunia mau ambil perhatian terhadap arus nasionalisme, kemanusiaan, dan perdamaian. “Kemanusiaan di seluruh dunia mendambakan perdamaian dan itu ada di dalam kekuatan kita sekalian. Jangan dihalangi karena akan menyebabkan organisasi (PBB) ini diskreditkan dan ditinggalkan. Tugas kita bukanlah mempertahankan dunia yang seperti ini tapi untuk build the world anew (membangun dunia kembali),” ujar Bung Karno dalam pidatonya di forum tersebut sebagaimana terekam video yang diunggah laman multimedia PBB. Sukarno lantas berhenti sejenak, mengambil napas. Satu lembaran pidato yang baru selesai dibaca lantas diopernya ke ajudannya, Letkol (CPM) Mohamad Sabur, yang berdiri di sampingnya.
- Membangun Kembali Rumah Proklamasi
HARI Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 baru saja kita rayakan. Seperti biasa, upacaranya bertempat di Istana Merdeka. Sejak beberapa tahun belakangan, hajatan ini menyisipkan pertunjukan hiburan. Saat itulah kita melihat dengan takjub para pejabat tinggi negara turun ke halaman Istana Merdeka berjoget ria hanyut dalam suasana gebyar. Padahal, di luar tembok istana, masih banyak rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan. Untuk sekadar makan dan mendapatkan pekerjaan dengan upah layak saja mereka amat kesulitan. Terlebih bila menilik sejarahnya, perayaan hari kemerdekaan RI di Istana Merdeka sesungguhnya bertolak belakang dengan sejarah proklamasi kemerdekaan itu sendiri. “Peringatan proklamasi kemerdekaan itu sekarang kan di Istana (Merdeka), dan menurut kami kontra-produktif karena itu dulu istana gubernur jenderal. Jadi, gambaran tentang kemerdekaan Indonesia itu kurang pas karena membayangkan acara proklamasi itu megah, penuh dengan kemewahan. Padahal, pada kenyataannya itu diadakan di teras rumah dan itu di bulan puasa juga tanpa biaya,” kata sejarawan Bondan Kanumoyoso dalam bincang publik Yayasan Lembaga Kajian Heritage Indonesia bertajuk “Cerita Makanan Jajanan Rakyat Awal Kemerdekaan” di Jakarta (15/8).
- Pamer Kekayaan di Rumah Indische Woonhuis
BATAVIA mempunyai pusat kota baru pada awal abad ke-19. Wilayah itu berada di selatan pusat kota lama dan berjarak sekira 10 kilometer. Orang Eropa menyebut pusat kota baru sebagai Weltevreden atau wilayah yang memuaskan hati. Sekeliling Weltevreden masih berupa kebun-kebun asri. Di rimbunan kebun itulah mereka mendirikan bangunan secara lebih cermat dan sesuai dengan teknologi dan ketersediaan bahan setempat. Situasi pusat kota baru banyak berlainan dengan pusat kota lama. Udara di sini lebih bersih ketimbang di pusat kota lama. Bangunan pun lebih nyaman dihuni karena langgamnya telah mengadopsi iklim setempat. Adaptasi terhadap iklim setempat tampak pada luasnya beranda depan dan belakang. “Merupakan penyesuaian dengan iklim tropis lembab, yang menyukai adanya cross ventilation yang baik,” catat Handinoto dalam “Indische Empire Style: Gaya Arsitektur Tempo Doeloe yang Sekarang Sudah Mulai Punah,” termuat di Dimensi 20/Ars, Desember 1994.
- Segarnya Sejarah Es
SEKIRA akhir abad ke-19, Chailley Bert, seorang pelancong asal Prancis, mencatat bahwa terdapat es dari ujung ke ujung Pulau Jawa hingga gunung-gunung dan desa. Bert jelas berlebihan. Namun, penggunaan es sebagai teman minuman sudah menjadi umum di Hindia kala itu. Sekira 1895, musafir Prancis Delmas, yang mampir di Batavia, mencicipi “segelas besar sidre-syampanye, minuman lezat, yang dibuat dengan buah-buahan negeri itu, es dan soda.” Menurut Denys Lombard, es merupakan lambang “kenyamanan” yang sudah semestinya di negeri tropis dan pengawet bagi makanan yang mudah rusak. Pada pertengahan abad ke-19, kapal-kapal yang datang dari Amerika Utara membawa berbalok-balok es ke berbagai pelabuhan besar di Nusantara. Sekira 1869, keluarga-keluarga kaya di Batavia “hanya minum air yang berasal dari es yang mencair, yang didatangkan dari Boston.” “Prosedur pembuatan amoniak, temuan Eropa, diimpor ke Jawa sekitar akhir tahun 1880 dan suksesnya yang cepat segera memutarbalikkan kondisi penyimpanan bahan cadangan,” tulis Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2.
- Krakatau Semakin Memukau
KRITIKUS musik Indonesia mengatakan banyak musik bagus dari era 1980 dan 1990-an. Era ini ditandai oleh kehadiran beragam grup musik dengan karya berumur panjang. Salah satu grup musik itu Krakatau. Krakatau muncul dari prakarsa Pra Budi Dharma, Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono, dan Donny Suhendra. Semuanya kelahiran Jawa Barat. Karena itu, mereka menamai grup musiknya sebagai Krakatau. Sebuah gunung berapi di barat Jawa.





















