top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10072 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Atas Nama Tanah dan Rakyat Hindia

    PERANG Dunia I berkecamuk. Belanda khawatir gelombang perang sampai ke Hindia Belanda dan tanah jajahannya akan lepas. Maka, banyak pihak mengusulkan penguatan militer, termasuk menggunakan tenaga bumiputra. Isu ini menjadi pembicaraan hangat. Boedi Oetomo cepat merespons isu tersebut. Salah satu alasannya karena mereka memiliki cabang militer, meski cabang ini akhirnya mati karena “isolasi intelektual dari pola berpikir kalangan sipil, dan isolasi geografis dari pulau tumpah-darah mereka,” tulis Akira Nagazumi dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908–1918. Contohnya, seperti tercatat dalam laporan Verbaal 2 Juni 1914, No. 53, Mailrapporten No. 545x/14, cabang militer Kutaraja, Aceh, memiliki 575 anggota Boedi Oetomo dan Banjarmasin sejumlah 514 anggota. Pada 13 September 1914, sebuah rapat akbar organisasi se-Jawa diadakan dengan Boedi Oetomo sebagai pelindung. Milisi bumiputra jadi bahasan utama. Boedi Oetomo mendukung, dan ini ditegaskan Dwidjosewojo, tokohnya yang terkemuka. Menurutnya, rakyat Jawa punya tanggungjawab mempertahankan tanah airnya apabila ada musuh menyerbu. Hal itu hanya dapat dilakukan melalui jalinan kerjasama dengan pemerintah kolonial.

  • Sejalan Mencari Kebenaran

    PETANG hari, 16 Januari 1909, sebagian anggota Boedi Oetomo seolah mendapat pencerahan. Dalam pertemuan Boedi Oetomo di Gambir yang dihadiri sekitar 300 anggota, Dirk van Hinloopen Labberton, sekretaris jenderal Himpunan Teosofi Hindia Belanda, menjabarkan soal masalah agama dan bagaimana cara menempatkannya sebagai dasar moral pergerakan bangsa Jawa. Labberton berulang kali mengatakan, sudah kehendak Allah bahwa Indonesia kini dikuasai Belanda. Dia berbicara tentang persaudaraan kemanusiaan, teori-teori ras yang kabur, dan harapannya bahwa Tuhan dapat meningkatkan pengetahuan dan moralitas masyarakat Hindia. Labberton juga menekankan pentingnya swawinaya (kedisiplinan diri) sebagai sarana rekonstruksi mental orang-orang Jawa. Caranya dengan meninggalkan tujuh kejahatan yang semuanya berawalan aksara ma: main (berjudi), madon (melacur), minum (mabuk), madat (mencandu), maling (mencuri), mada (menyumpahi), dan mangani (rakus).

  • Menjajal Jalan Radikal

    PARA pegawai pegadaian bumiputra gelisah. Sudah diturunkan gajinya, mereka juga harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar para kuli. Berdasarkan surat edaran yang dikeluarkan Dinas Pegadaian, pekerjaan para kuli yang dipecat dialihkan kepada para pegawai. Para pegawai tak terima dan menganggapnya sebagai penghinaan. Mereka pun kena skors. Keluhan para pegawai itu tak dihiraukan, malahan dijadikan dalih untuk memecat mereka. Alhasil, pada 12 Januari 1922, para pegawai pegadaian Ngupasan, Yogyakarta, melakukan aksi mogok. Aksi itu merembet ke kantor-kantor pegadaian di berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pemogokan tersebut melibatkan seribu dari lima ribu pegawai pegadaian di Jawa. Hampir semua organisasi dan partai politik mendukung aksi ini, termasuk Boedi Oetomo. “Sikap moderatnya yang lama untuk sementara membukakan jalan ke arah zaman radikalisme, dan memuncak pada dukungan partai terhadap pemogokan menentang sistem pegadaian tahun 1922,” tulis Akira Nagazumi dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908–1918.

  • Menentukan Arah Kemudi

    SEKIRA 300 orang memenuhi sekolah pendidikan guru di Yogyakarta. Mereka, sebagian besar priayi, berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Sejumlah bupati juga hadir; lainnya mengirim surat atau utusan. Hadir pula 15 atau 20 perempuan Jawa dan beberapa orang Eropa. Ini hajatan penting bagi Boedi Oetomo, organisasi yang baru sekira empat bulan terbentuk. Mereka akan menggelar kongres pertama pada 3–5 Oktober 1908. Wahidin Soedirohoesodo terpilih sebagai ketua kongres –sebelum digantikan Pandji Broto Atmodjo, penghubung dari Pakualaman, Yogyakarta– karena kesehatannya menurun. Mulanya Wahidin menggagas agar kongres hanya membahas soal beasiswa, tetapi para delegasi tak setuju. “Seandainya organisasi baru ini hanya dimaksudkan untuk menyelenggarakan beasiswa, kongres pasti tidak akan pernah menarik minat 300 orang utusan,” tulis Akira Nagazumi dalam Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908–1918.

  • Di Bawah Cengkeraman Kaum Feodal

    WAHIDIN Soedirohoesodo, seorang dokter Jawa dari priayi rendahan, sama sekali tak bermaksud singgah ke STOVIA (School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah untuk Pendidikan Dokter Bumiputra) di Batavia. Pada akhir 1907, dia hanya ingin rehat setelah melakukan perjalanan kampanye mencari beasiswa bagi anak-anak muda bumiputra yang pandai. Ditemani Pangeran Ario Notodirodjo, putra Pakualam V, dia mendatangi para priayi yang lebih tua dan tinggi untuk menyampaikan gagasannya itu. Wahidin tiba-tiba diundang Soetomo dan Soeradji, siswa STOVIA, untuk berceramah mengenai pentingnya pendidikan sebagai kunci kemajuan. Wahidin mengungkapkan gagasannya untuk mewujudkan sebuah lembaga beasiswa bagi pemuda bumiputra agar dapat melanjutkan studinya dengan baik.

  • Pilihan Pelik Politik Republik

    PERINGATAN 40 tahun Hari Kebangkitan Nasional kali pertama digelar pada 20 Mei 1948 di Istana Kepresidenan, Yogyakarta. Presiden Sukarno berpidato soal Kebangkitan Nasional. Informasi pidatonya tidak ada yang lengkap, hanya “Inti Pidato Bung Karno” yang disimpulkan para pendengar serta media massa yang hadir dalam peristiwa penting ini. Sukarno menyatakan bahwa meskipun kita sudah merdeka, tetapi bahaya tetap mengancam Republik dari segala penjuru. “Tetapi kita tidak perlu khawatir, akhirnya insya Allah kitalah yang menang, asal kita memenuhi beberapa syarat yang perlu untuk kemenangan itu… yaitu menyusun machtspolitik, yakni kekuatan massa untuk mendukung perjuangan politik; dan menggalang persatuan nasional,” kata Sukarno, sebagaimana dimuat dalam Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan: Kenang-kenangan Ki Hadjar Dewantara. Menurut sejarawan Hilmar Farid, penentuan Hari Kebangkitan Nasional terkait dengan politik historiografi atau politik penulisan sejarah dari pemerintah, bukan sejarah itu sendiri. Pemerintah memerlukan sebuah organisasi yang mewakili kepentingan nasional karena saat itu terjadi krisis politik internal yang sangat serius, ditambah lagi agresi militer Belanda. Selain itu, ada kebutuhan untuk memberi legitimasi historis pada perjuangan melawan kolonialisme dengan menelusuri asal-usul atau akar perjuangan tersebut.

  • Boedi Oetomo Tonggak Kebangkitan Bangsa

    HARI Kebangkitan Nasional selalu diperingati pada 20 Mei setiap tahunnya. Tapi tak banyak yang tahu bahwa momen penting (juga genting) dari Boedi Oetomo justru terjadi pada 3–5 Oktober 1908. Itulah saat di mana kongres pertama Boedi Oetomo dilangsungkan di Yogyakarta, sekaligus upaya pertama dari kaum konservatif mengambilalih kemudi organisasi dari tangan kaum muda. Berdirinya Boedi Oetomo ditetapkan sebagai tonggak awal kebangkitan bangsa. Mungkin benar, karena ide-ide progresif pada zaman itu, mencuat dari organisasi ini. Tjipto Mangoenkoesoemo, anak muda pengusung ide-ide progresif itu, justru tersingkir dari organisasi karena berbenturan dengan kaum kolot. Laporan khusus ini menurunkan kisah perjalanan Boedi Oetomo, mulai dari berdiri sampai menjadi organisasi berwatak nasional. Menyodorkan kembali wacana diskusi tentang tonggak kebangkitan nasional.* Pilihan Pelik Politik Republik Di Bawah Cengkeraman Kaum Feodal Menentukan Arah Kemudi Menjajal Jalan Radikal Sejalan Mencari Kebenaran Atas Nama Tanah dan Rakyat Hindia Corong Propaganda Boedi Oetomo Maju Menggandeng Kaum Perempuan

  • Negara Belum Menopang Seni Rupa Indonesia

    INDONESIA memiliki berbagai museum seni rupa. Tersebar dari Sumatra hingga Papua. Namun, kebanyakan museum seni rupa di Indonesia terkonsentrasi di Jawa dan Bali. Ditilik dari statusnya, pada umumnya museum berada di bawah pengelolaan pemerintah. Namun, dewasa ini banyak juga museum milik kolektor maupun swasta. “Kalau saya boleh berbicara jujur, perkembangan seri rupa Indonesia sampai hari ini sebagian besar bukan karena sistem negara yang kuat, tetapi karena sektor swasta, terutama para kolektor. Dan kalau kita melihat realitas secara objektif, sebagian besar kolektor yang menopang seni rupa Indonesia selama beberapa dekade terakhir, datang dari saudara-saudara kita warga keturunan Tionghoa,” kata seniman Teguh Osentris dalam diskusi publik “Ekosistem Museum Seni Rupa Indonesia: Terhubung atau Terfragmentasi” di Galeri Nasional, Jakarta, 19 Mei 2026. Menurut Teguh, para kolektor swasta tak keberatan membeli karya seniman, membangun galeri, hingga mendukung pameran. Mereka juga menjaga seniman agar tetap bisa berkarya. Tanpa mereka, barangkali banyak seniman yang tenggelam. Sementara itu, negara sampai hari ini cara berpikirnya masih sangat kuat dalam administrasi dan material. Ini terlihat dari bagaimana museum-museum seni milik pemerintah dijalankan.

  • Ratu Elizabeth II Menyelamatkan Soebandrio

    RATU Inggris Elizabeth II meninggal dunia pada 8 September 2022 dalam usia 96 tahun. Dia pernah berjasa menyelamatkan Soebandrio dari hukuman mati. Orang nomor dua di Republik Indonesia ini didakwa terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) menjatuhkan vonis mati kepada Soebandrio pada Oktober 1966. Soebandrio seorang dokter bedah yang kemudian menjadi politikus. Pada awal kemerdekaan, dia menjadi anggota Partai Sosialis pimpinan Sutan Sjahrir. Untuk mencari pengakuan internasional kepada Republik Indonesia, Soebandrio ditugaskan ke Inggris. Dia mengaku mendapat tugas itu dari Presiden Sukarno. “Sebelum berangkat ke London, saya was-was. Tetapi setelah di Inggris, keberadaan saya ternyata diterima oleh pemerintah Inggris. Memang tidak ada penyambutan saat saya datang,” kata Soebandrio dalam Kesaksianku Tentang G30S.

  • Lukisan Saksi Bisu Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan

    JIKA mencermati foto atau video peristiwa pembacaan teks Proklamasi oleh Sukarno, 71 tahun lalu di Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, terdapat sebidang kotak simetris gelap, di belakang Sukarno. Jendela atau daun pintukah? Bukan. “Baru tahun 2009 saya tahu bahwa bidang kotak hitam itu adalah lukisan yang tergantung di dinding,” terang Mike Susanto, kurator pameran “17/71: Goresan Juang Kemerdekaan.” Mikke mengungkapkan visualisasi paling terang mengenai keberadaan lukisan yang tergantung di beranda rumah Sukarno terdapat dalam sebuah video rekaman seorang jurnalis asing yang meliput konferensi pers pertama tentang kemerdekaan Indonesia.

  • Daftar Pencarian Orang Bung Karno

    DARI Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia dipindahkan kembali ke Jakarta usai Perang Kemerdekaan. Presiden Sukarno ingin membenahi istana kepresidenan yang sekira empat tahun terbengkalai. Untuk itu, dia membutuhkan karya-karya lukisan dari pelukis ternama demi menghiasi dinding-dinding Istana. Salah satunya lukisan karya Ernest Dezentje, pelukis aliran mooi indie yang sudah terkenal sejak masa kolonial. Mangil Martowidjojo, ajudan presiden dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Kepolisian, ditugaskan Bung Karno untuk mencari sang pelukis. “Bung Karno memerintahkan kepada saya untuk mencari peluki kenamaan, Ernest Dezentje. Bung Karno berkata, 'Cari dia sampai ketemu dan suruh dia datang ke Istana ditunggu Bapak. Saya sendiri tidak tahu dimana dia sekarang, tetapi kamu, polisi tentu dapat menemukannya,'” tutur Mangil dalam memoar Kesaksian tentang Bung Karno 1945—1967.

  • “Darah Rakjat” di Perayaan Kemerdekaan

    PERAYAAN Hari Kemerdekaan Indonesia biasanya dipersiapkan jauh-jauh hari. Sebuah panitia dibentuk. Acara disusun. Namun, pada 1950-an, susunan acara perayaan Hari Kemerdekaan mendapat protes karena menyertakan lagu-lagu berbau kiri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Presiden Sukarno menetapkan susunan anggota Panitya Negara Urusan Perajaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Tugas Panitya Negara adalah mengatur dan memutuskan segala sesuatu yang bersangkutan dengan pekerjaan peringatan hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Melalui Keputusan Presiden No. 167 tahun 1957, yang dikeluarkan pada 29 Juli 1957, Presiden Sukarno mengangkat Menteri Penerangan Sudibjo sebagai ketua merangkap anggota, Menteri Pengerahan Tenaga Rakjat untuk Pembangunan A.M. Hanafi sebagai wakil ketua I merangkap anggota, serta Direktur Kabinet Presiden Mr. Tamzil sebagai wakil ketua II merangkap anggota.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page