top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kemenangan yang Ternoda di Papua

    MENTERI Luar Negeri Indonesia Soebandrio tersenyum sumringah. Para mediator, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) U Thant, dan diplomat Amerika Serikat Ellsworth Bunker pun menunjukkan raut wajah kelegaan. Sementara wakil Belanda, Duta Besar Herman van Rooijen dan CWA Schurmann, terlihat tanpa ekspresi. Hari itu, 15 Agustus 1962, di markas besar PBB di New York tercapai mufakat: Belanda menyerahkan Papua kepada Indonesia. Wilayah yang disengketakan sejak 1949 akhirnya dimenangkan Indonesia lewat Perjanjian New York (New York Agreement). Dalam Perjanjian New York, Indonesia akan menerima kedaulatan atas Papua pada 1 Mei 1963 setelah Otoritas Eksekutif Sementara PBB (UNTEA), pemerintahan peralihan bentukan PBB, menyelesaikan tugasnya. Selama masa transisi, sebanyak mungkin orang-orang Papua ditempatkan pada kedudukan-kedudukan administratif dan teknis. Sedangkan pejabat Belanda atau Indonesia, bila diperlukan, bisa diperbantukan atas seizin Sekjen PBB.

  • Perang Saudara Bersandi 17 Agustus

    PUKUL 04.00 pagi, 17 April 1958. KRI Gadjah Mada milik Angkatan Laut RI memulai salvo meriamnya. Hujan peluru dan bom kemudian mendarat di pantai Padang. Serangan itu menandai dimulainya operasi penumpasan Pemerintah Revolusiener Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Barat yang diberi sandi 17 Agustus. “Sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) saya percayakan sepenuhnya kepada Deputi II Kolonel A. Yani mengenai Operasi 17 Agustus,” tutur Abdul Haris Nasution dalam memoar Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua. Selain menjabat KSAD, Nasution merangkap sebagai ketua Gabungan Kepala Staf (GKS). Sementara itu, Yani baru saja pulang dari Amerika Serikat (AS) setelah mengikuti pendidikan General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas. Yani sendiri yang memberi nama “17 Agustus” untuk operasi militer yang akan dipimpinnya dan disetujui Nasution. Harapannya, PRRI akan tumpas sebelum 17 Agustus sehingga hari kemerdekaan dapat dirayakan dengan euforia kemenangan.

  • Pelarian Tan Kah Kee di Jawa

    KETIKA armada Jepang mengganas di Asia Tenggara dan mengancam kedudukan Inggris di Singapura, Tan Kah Kee tak mau tinggal diam. Dia memimpin sukarelawan Tionghoa untuk menghadapi Jepang. “Sebagai penghuni Kerajaan Inggris di koloni mahkota Inggris, kesempatan ini layak untuk semua upaya kami untuk memberikan dukungan, yang dapat kami berikan, untuk perang melawan agresi, dan dengan demikian untuk mengamankan tempat tinggal kami,” ujar Tan Kah Kee, seperti dikutip dari Soerabaijasch handelsblad tertanggal 4 September 1941. Tan Kah Kee (1874-1961) seorang pengusaha dan filantropis terkemuka di Singapura yang mendapat julukan “Henry Ford dari Malaya”. Kerajaan bisnisnya mencakup dari perkebunan hingga manufaktur. Sejak tanah kelahirannya, Tiongkok, diagresi Jepang pada 1920-an, ia bersikap anti-Jepang.

  • Seksualitas di Atas Geladak Kapal VOC

    LEENDERT Hasenbosch masih 14 tahun ketika ayahnya, Johannes Hasenbosch, berlayar ke Batavia bersama ketiga saudara perempuannya: Cornelia, Ursula, dan Maria Elizabeth, sekitar tahun 1708. Hasenbosch tua ingin memulai kehidupan baru setelah kematian istinya, Maria. Ketika menginjak usia 18 tahun, Hasenbosch menjadi serdadu Vereenidge Oost Indische Compagnie (VOC) dan naik kapal Korssloot menuju Batavia. Hasenbosch ditempatkan di Benteng Batavia. Kesehariannya membosankan: baris-berbaris, parade, dan patroli. Sesekali dia mengunjungi ayahnya atau saudara perempuannya. Karier Hasenbosch perlahan naik. Dia menjadi kopral, juru tulis militer (military clerk), hingga pemegang buku (bookkeeper). Pada 1724, dia berlayar dengan kapal Prattenburg, satu dari 16 kapal, yang dipimpin Komodor Ewout van Dishoeck. Kapal singgah di Cape Town lalu berangkat lagi. Pada 17 April 1724, Hasenbosch dituduh melakukan sodomi, aktivitas yang bisa mendapatkan hukuman berat.

  • Perang Tiga Abad tanpa Pertumpahan Darah

    PULAU St. Mary’s dikelilingi garis pantai yang memukau dengan hamparan luas pantai berpasir putih dan teluk-teluk kecil berbatu yang dramatis. Ke pulau indah itulah duta besar (dubes) Belanda untuk Inggris, Jonkheer Rein Huydecoper, mampir pada 17 April 38 tahun silam. Bukan untuk pelesiran, melainkan menyelesaikan urusan serius: mengakhiri perang. Pulau St. Mary’s jadi pulau terbesar di Kepulauan Scilly di perbatasan paling selatan wilayah Inggris Raya, 28 mil (45 km) barat daya Semenanjung Lizard. Pulau ini sudah resmi jadi bagian Kerajaan Inggris Raya sejak pertengahan abad ke-16 tapi mendapat otonomi khusus untuk mengatur pemerintahan daerahnya sendiri yang terpisah dari county Cornwall sejak 1888. Jonkheer Huydecoper datang ke Pulau St. Mary’s dari London pada 17 April 1986 atas undangan Roy Duncan, sejarawan cum ketua Dewan Kepulauan Scilly. Duncan mengundangnya untuk duduk bersama dan menyelesaikan salah satu perang terlama dalam sejarah antara Kepulauan Scilly dan Belanda. Undangannya tentu disambut baik sang dubes.

  • Alasan PM Belanda Menolak Istilah Kejahatan Perang

    HASIL penelitian dekolonisasi yang disusun tiga lembaga pemerintah Belanda menimbulkan pro dan kontra di ranah publik hingga Parlemen Belanda sendiri. Tetapi Perdana Menteri (PM) Mark Rutte menyambut baik karena penelitian itu jadi upaya mencari kebenaran, mengingat ia menyebutkan perang di Indonesia periode 1945-1950 adalah sejarah yang belum selesai. Rutte menyampaikannya di sela sesi debat di Tweede Kamer (Parlemen Belanda) terkait penelitian “Onafhankelijkheid, Dekolonisatie, Geweld en Oorlog in Indonesië, 1945-1950” (Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Indonesia, 1945-1950) pada Rabu (14/6/2023). Penelitian yang hasilnya dirilis pada 14 Februari 2022 itu menimbulkan polemik, utamanya terkait temuan kekerasan ekstrem militer Belanda yang terstruktur terhadap penduduk sipil dan kekerasan “Masa Bersiap”. “Baru beberapa dekade ini Belanda melihat sejarah ke belakang dengan lebih kritis dan terbuka. Kolonialisasi, perbudakan, dan dekolonisasi menghasilkan trauma kolektif dan kita tidak bicara tentang dekolonisasinya saja tapi juga dampaknya yang masih terasa sampai sekarang. Atas nama pemerintah, saya mengucapkan permintaan maaf atas apa yang terjadi di masa itu,” kata Rutte di parlemen sebagaimana diterjemahkan Arjan Onderdenwijngaard daria live streaming laman Tweede Kamer.

  • Mula Istilah Kuda Gigit Besi

    Zaman kuda gigit besi biasa disebutkan saat seseorang bicara mengenai kondisi kehidupan di masa lalu. Namun, tahukah Anda dari mana istilah ini bermula? Istilah kuda gigit besi berkaitan dengan perkembangan alat transportasi di Hindia Belanda. Pada masa itu, kendaraan yang digunakan masyarakat mengandalkan kuda, seperti dokar dan dos a dos atau sado. Dukut Imam Widodo dalam Sidoardjo Tempo Doeloemenyebut dokar yang memiliki nama asli dogcart merupakan kendaraan impor. Salah satu pengimpor dokar ke Hindia Belanda adalah Firma Bosch & Co. di Surabaya. Seiring berjalannya waktu, kendaraan ini mulai diproduksi di dalam negeri hingga muncul wagenmakerij atau pembuat dokar.

  • Istilah “Bersiap” yang Problematik

    KETIKA Jepang kalah perang pada 15 Agustus 1945 dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Sukarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945, Elien Utrecht, seorang gadis Belanda kelahiran Hindia Belanda tahun 1921, berjalan keluar dari kamp di Semarang bersama ibunya. Beberapa orang Indonesia menyapa secara ramah, namun Elien merasa bingung dengan banyaknya orang Indonesia yang meneriakkan sebuah kata yang tak bisa dia pahami apa artinya. “Mereka memekkikkan kata ‘Merdeka’. Aku tak mengenal kata itu, dan aku pun tidak segera mengerti artinya,” ujar Elien dalam memoarnya Melintasi Dua Jaman. Elien satu dari sekian banyak orang Belanda yang ditahan ketika Jepang menduduki Indonesia. Deskripsinya mengenai situasi di luar kamp tahanan menunjukkan kesan betapa berjaraknya orang Belanda dengan gerakan politik kebangsaan Indonesia yang telah tumbuh sejak era 1920-an. Butuh waktu lama baginya untuk memahami apa kata “merdeka” yang sejatinya telah tumbuh menguat di dalam dada setiap orang Indonesia dua dekade sebelum Perang Dunia kedua meletus. Dalam memoarnya, Elien juga mengenang peristiwa kekerasan yang menimpa orang-orang Belanda yang baru saja bebas dari kamp tahanan Jepang. Mereka menjadi sasaran kemarahan orang-orang Indonesia yang dibakar semangat kemerdekaan. Orang Belanda yang mengalami masa-masa tersebut di Indonesia menyebutnya sebagai periode “bersiap”. Sebuah zaman saat orang Indonesia menjadi kalap dan akan menyerang warga kulit putih, Indo, Tionghoa, Ambon atau siapa pun yang mereka nilai sebagai kolaborator kolonial. Benarkah demikian?

  • Di Balik Istilah Orde Baru

    SAAT di penghujung waktu kekuasaannya, Presiden Sukarno pernah dikunjungi oleh sahabat lamanya Muriel Stuart Walker alias K'tut Tantri di Istana Bogor. Ktut yang datang bersama Dewi A. Rais Abin, disambut hangat oleh Bung Karno. Terjadilah perbincangan kecil yang sempat direkam oleh Dewi dalam bukunya, Hidajat: Father, Friend and A Gentleman. “K'tut, nowadays we have Old Order and New Order! (K'tut, sekarang ini kita memiliki dua masa: Orde Lama dan Orde Baru!)” ujar Bung Karno secara tiba-tiba. “I don’t mint Bung, wether there is Old Order or New Order as long as there is order (Mau Orde Lama atau Orde Baru, selama ada tata tertib dan ketenteraman, itu tidak masalah Bung),” jawab K'tut.

  • Asal-usul Istilah Orde Baru

    DALAM suatu kesempatan pidato di penghujung masa kekuasaannya, Presiden Sukarno pernah berujar jengkel. Dia gerah menyaksikan banyak orang dibuat bingung dengan perkatan “Orla” dan “Orba”. Orde Lama atau Orde Baru? Pertanyaan itu kerap ditimpakan kepadanya baik oleh kalangan terdekat maupun wartawan. “Saya akan menjawab, saya ini tidak tahu apa ini orde lama atau orde baru. Saya tidak tahu,” kata Sukarno di hadapan 120 seniman dan seniwati Sulawesi Utara di Istana Merdeka, Jakarta 14 Desember 1966. “Saya adalah, nah ini jawab saya, orde asli. Orde asli pokok tujuan sumber daripada revolusi. Dan aku menggolongkan diriku di situ.” Dalam buku Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Sukarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaksara suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana, Sukarno mengidentifikasi dirinya sebagai orde asli. Suatu tatanan yang terdiri dari Trikerangka Revolusi Indonesia. Ketiganya meliputi kedaulatan dari Sabang sampai Merauke; masyarakat adil dan makmur; dunia baru yang bebas dari penindasan manusia atas manusia.

  • Di Balik Warna Merah dan Istilah Kiri

    PADA 1918, pendiri Partai Komunis Uni Soviet yang juga penggerak Revolusi Bolshevik 1917, Vladimir Illyich Ulyanov atau dikenal dengan Vladimir Lenin, mengadakan kompetisidesainlambang negara yang dipimpinnya, yang berdiri tak lama setelah dinasti Romanovjatuh. Sebelum digulingkan, dinasti Romanov memiliki lambang elang berkepala dua, yang merepresentasikan kekuasaan kekaisaran atas wilayah timur dan barat. Namun, Revolusi 1917 menghancurkan simbol-simbol kekuasaan kekaisaran. Kompetisi digelar sebagai bagian dari perayaan May Day 1918. Seniman Rusia, Yevgeny Ivanovich Kamzolkin, keluar sebagai pemenang. Ia mendesain sebuah lambang yang pada bagian tengahnya terdiri dari palu dan arit disatukan dalam formasi X.

  • Asal-Usul Istilah Perang Dingin

    PADA 16 April 1947, istilah perang dingin (cold war) pertama kali digunakan untuk menyebut konflik geopolitik pasca Perang Dunia II antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan “perang dingin”: 1. perang tanpa mengangkat senjata, hanya saling menggertak 2. suasana internasional yang sangat tegang dan bermusuhan yang diakibatkan oleh konflik ideologi antara Blok Barat (liberal kapitalis) dan Blok Timur (sosial komunis) yang berkembang setelah Perang Dunia Kedua. Pada akhir Perang Dunia II, penulis Inggris George Orwell telah menggunakan “perang dingin” sebagai istilah umum dalam esainya “You and the Atomic Bomb” di surat kabar Inggris, Tribune, 19 Oktober 1945, tentang hidup dalam ancaman perang nuklir dan dunia yang terpolarisasi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page