Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Mohammad Hatta Merayakan Natal di Jerman
JERMAN, Pekan Natal 1921. Seluruh daratan telah memutih. Jalanan dan atap-atap bangunan tampak ditutupi oleh lapisan salju. Asap pun mulai membumbung dari rumah-rumah. Di tengah udara menggigit itu Mohammad Hatta dan Dahlan Abdullah berjalan. Menyusuri jalan utama dengan pakaian musim dinginnya. Meski telah tiga bulan di Eropa, keduanya tetap belum terbiasa dengan udara di sana. Terlebih Natal tahun itu menjadi perayaan musim dingin pertama mereka di Benua Biru. Kedatangannya ke Jerman bukan sebagai warga koloni Hindia Belanda. Melainkan pelajar dari Belanda. Kala itu Hatta sedang menempuh pendidikan Ekonomi di Handels Hogeschool, Belanda. Pada Desember 1921, ia mendapat jatah libur tahunan, menyambut Natal dan Tahun Baru, selama lebih dari tiga minggu.
- Bunuh Diri Massal Penduduk Jerman di Demmin
WALTRAUD Reski masih berusia 11 tahun ketika kengerian melanda Demmin, kota kecil 220 kilometer di utara Berlin yang jadi tempat tinggalnya, pada 30 April 1945. Kendati belum paham apa yang sebenarnya sedang terjadi, batinnya diliputi ketakutan ketika mendengar derap langkah dan deru kendaraan tempur Tentara Merah memenuhi Demmin. “Suara ini –tank-tank bergerak masuk– suara yang menakutkan. Setiap kali saya melihatnya dalam sebuah film, sekarang ingatan ini kembali kepada saya,” ujarnya sebagaimana dikutip sejarawan Laurence Rees dalam bukunya yang berjudul Their Darkest Hour: People Tested to the Extreme in WW II. Sebagaimana warga Demmin umumnya, ketakutan Waltraud timbul akibat berbulan-bulan terus dicekoki berita propaganda oleh pemerintah Jerman-Nazi. Sejak Jerman kalah di Stalingrad, Menteri Propaganda Joseph Goebbels selalu mempropagandakan kengerian yang bakal diterima rakyat Jerman apabila tentara Soviet mencapai tempat tinggal mereka. Dalam pidatonya Goebbels menyatakan begitu “Gerombolan Bolshevik Mongol” –demikan julukan kaum fasis terhadap pasukan Soviet– tiba, mereka akan membumihanguskan kota-kota Jerman yang dilalui, membiarkan penduduk kelaparan, mengirim penduduk kerja paksa ke tundra, dan memerintahkan eksekusi massal. Para prajurit Soviet juga bakal menjarah apa saja yang mereka temui, menyiksa anak-anak sebelum membunuh mereka, dan memperkosa perempuan-perempuan yang ada.
- Akhir Tragis Penduduk Jerman di Fase Akhir Rezim Fasis
SETELAH lebih dari 10 tahun dari kunjungan pertamanya, fotografer-jurnalis Margaret Bourke-White kembali mendapat kesempatan meliput ke Jerman pada awal 1945. Pada kunjungan pertamanya, tahun 1932, Margaret yang masih bekerja untuk Majalah Fortune mendapati keadaan Jerman mengkhawatirkan. Jerman yang saat itu dilarang memiliki militer dalam jumlah besar oleh Perjanjian Versailles usai Perang Dunia I, justru getol melakukan pelatihan militer dan sedang diwabahi Naziisme. “Dia tinggal di Jerman cukup lama untuk memotret pasukan Jerman yang sedang berlatih dengan peralatan tiruan, seperti senapan kayu. Saat itu, Jerman dilarang memiliki tentara yang besar dan menimbun persenjataan,” tulis Emily Keller dalam biografi Margaret berjudul Margaret Bourke-White: A Photographer’s Life. Maka ketika mendapat kesempatan kedua mengunjungi Jerman, Margaret bersemangat. Dia berangkat pada Maret 1945, ketika negeri itu telah berada di jurang kekalahan dalam Perang Dunia II. Sebagai fotografer-koresponden AD Amerika Serikat, Margaret bertugas mendokumentasikan dan melaporkan keadaan di tempat-tempat yang disinggahinya mengikuti gerak-maju Tentara Ketiga AD AS pimpinan Jenderal George Patton.
- Lonceng Kematian Kapal Kebanggaan Jerman
BARU kemarin Oberbootsmannmaat (setara sersan kepala) Wilhelm Gödde merayakan Hari Natal bersama rekan-rekannya, hari berikutnya awak Scharnhorst –nama kapal tempur kebanggaan Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman)– itu terombang-ambing di perairan Nordkapp, Tanjung Utara, Norwegia. Di kegelapan malam dengan hawa dingin dari salju yang turun dan air laut yang membeku, Gödde hanya bisa menggantungkan nasibnya pada Yang Kuasa. Gödde satu dari sedikit penyintas Scharnhorst yang tenggelam pada malam 26 Desember 1943 usai dikeroyok kapal-kapal armada Inggris dalam Pertempuran Tanjung Utara. Pertempuran itu jadi ajang terakhir bentrok antarkapal permukaan murni tanpa keterlibatan kapal selam dan pesawat udara di front Eropa. Bersama sekitar selusin rekannya, Gödde mesti susah payah dan nyaris menyerah saat belum diselamatkan musuhnya, awak kapal perusak HMS Scorpion. Para awak Scorpion sudah mencoba menurunkan jaring dari lambung kapal namun Gödde dan rekan-rekannya sudah lebih dulu kehabisan tenaga untuk memanjatnya.
- Lika-liku Kisah Pelarian Tawanan Sekutu dari Kamp Jerman
UDARA dingin yang menusuk tulang tak memadamkan keinginan kuat Letda (penerbang) Bertram Arthur James untuk meraih kebebasannya. Menjelang tengah malam, 24 Maret 1944, James bersama puluhan rekan sesama tawanan perang di Kamp Stalag Luft III di Sagan, Silesia (kini Żagań, Polandia) merangkak di terowongan bawah tanah yang lebarnya hanya 60 centimeter (cm). “Musim dingin tahun itu sangat buruk. Itu bulan Maret terdingin selama 30 tahun dan orang-orang yang berjalan kaki akan sangat menemui kesulitan,” James berkisah. Tetapi bukan perkara mudah bagi James dkk. bisa keluar dengan selamat. Tebalnya salju di atas tanah berpasir di sekitar kamp membuat bagian ujung terowongan sepanjang 102 meter itu amblas. Butuh sekira satu jam bagi rekan-rekan James di bagian depan untuk memperbaiki terowongan itu, termasuk pintu terowongan yang membeku.
- Bekas Kampung Jerman di Sarangan
WAKTU tentara Jerman menduduki Belanda, banyak orang Jerman di Hindia Belanda ditangkapi dan diisolasi dalam sebuah kamp interniran, di antaranya di Sarangan, Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Mereka tidak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Selama dalam tahanan, mereka tetap mengadakan pendidikan untuk anak-anak mereka. “Orang-orang Jerman itu kemudian ditempatkan di hotel-hotel resort Sarangan yang sejuk itu. Sehingga Sarangan menjadi sebuah deutsche dorf (kampung Jerman) lengkap dengan sekolah SD sampai SMP-nya,” catat Daud Sinjal dkk. dalam Laporan kepada Bangsa: Militer Akademi Yogya. Orang-orang Jerman di Sarangan sempat jauh dari front pertempuran antara Belanda dan Jepang. Setelah ditahan sejak 1940, hidup mereka berubah pada awal 1942 karena Jepang mengalahkan Belanda.
- Pasukan Ekspedisi Brasil Datang, Jerman Lari Tunggang Langgang
SENIO, Italia Utara pada malam 6 April 1945. Satu dari dua kubu pertahanan terakhir Jerman di Italia itu dibombardir dengan dahsyat oleh Sekutu yang memulai Operasi Grapeshot atau Kampanye Musim Semi Italia 1945. Kampanye Sekutu berskala besar itu tujuannya untuk mengusir sisa-sisa kekuatan Jerman di Italia. Hingga awal April 1945 itu, kekuatan Jerman hanya merupakan sisa-sisa dari Grup Angkatan Darat (AD) C pimpinan Heinrich von Vietinghoff. Dari total 585 ribu personil di sepanjang kubu pertahanan di tepian Sungai Senio dan Santerno, 55 ribu di antaranya adalah Divisi Esercito Nazionale Repubblicano (ENR) atau pasukan nasionalis Italia yang masih setia pada diktator fasis Benito Mussolini. Pada malam bombardemen Sekutu, 6 April 1945, Senio sekadar dipertahankan pasukan Divisi Infantri ke-98 AD Jerman pimpinan Generalleutnant Alfred-Herman Reinhardt dan Falschirmkorps I (Korps Parasut ke-1) Angkatan Udara (AU) pimpinan Jenderal Richard Heidrich. Keduanya adalah unit tempur di bawah naungan Korps Panser ke-76 yang dikomandani Jenderal Traugott Herr.
- Repatriasi Bukan Sekadar Memulangkan Benda Bersejarah ke Tanah Air
MENTERI Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda Gunay Uslu serta Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI Hilmar Farid meneken peresmian penyerahan 472 benda bersejarah yang akan direpatriasi dari Belanda. Keduanya sama-sama menyadari pentingnya penelitian bersama agar repatriasinya tak sekadar memulangkan benda ke negeri asalnya. Menukil keterangan pers Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, peresmian itu dihelat di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda pada Senin (10/7/2023) pagi waktu setempat. Ke-472 artefak yang ditransfer itu meliputi sebuah Keris Klungkung, empat arca era Kerajaan Singhasari, 132 benda seni koleksi Pita Maha, dan 335 harta karun jarahan Ekspedisi Lombok 1894. “Ini menjadi langkah penting. Sebuah milestone dalam kerjasama kita dalam hal bagaimana menangani koleksi dari konteks kolonial. Saya mengharapkan harta nasional Indonesia itu akan pulang dengan selamat,” tutur Menteri Uslu dalam sambutannya.
- Di Balik Repatriasi Benda Bersejarah Indonesia dari Belanda
REPATRIASI atau pengembalian ratusan benda bersejarah asal Indonesia yang dijarah Belanda pada zaman kolonial menarik perhatian publik. Penandatanganan serah terima telah dilakukan pada 10 Juli 2023 di Leiden, Belanda. Ini momen bersejarah karena upaya repatriasi telah dilakukan sejak lama. Ketua Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia I Gusti Agung Wesaka Puja mengatakan pembicaraan mengenai pemulangan artefak-artefak Indonesia sudah berlangsung sejak masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. “Saat Konferensi Meja Bundar berlangsung tahun 1949, pembahasan mengenai transfer benda-benda budaya telah dilakukan, tetapi tidak terealisasi karena hubungan Indonesia dan Belanda kala itu buruk sekali,” kata Pujadalam dialog sejarah bertajuk “Ada yang Mau Pulang” yang diselenggarakan Historia.ID.
- Adu Gengsi dengan Hak Tinggi
SEPATU hak tinggi bukan sekadar alas kaki. Sejarah kemunculannya berkaitan dengan obsesi kaum elite untuk memamerkan kekayaan dan status sosial. Sejak awal abad pertengahan, kaum elite di Eropa mengenakan sepatu berbeda dengan rakyat biasa. Perbedaan itu dapat dilihat dari warna, bahan, dan alas kaki. Para bangsawan mengenakan sepatu yang terbuat dari kain mewah, seperti sutra, beludru, brokat, dan kulit lembut. Guna memperindah tampilan, alas kaki dihiasi aneka sulaman, manik-manik, dan pewarna, yang menjadi penanda dari kalangan atas karena hanya mereka yang mampu membeli bahan-bahan mahal tersebut. Berbeda dengan kaum elite, para petani dan rakyat biasa mengenakan sepatu yang terbuat dari kulit dengan alas kaki sederhana dari balok kayu yang diukir seperti clogs. Pada akhir abad pertengahan dan masa pencerahan, kaum elite memiliki lebih banyak pilihan model. Sementara rakyat biasa tetap mengenakan sepatu dengan desain dan bahan sederhana. Di masa inilah, chopines, alas kaki dengan sol setinggi puluhan inci, menarik perhatian para wanita kelas atas yang tergila-gila memamerkan kekayaan dan status sosial di hadapan umum.
- Darah 14 Suku di Tubuh Mira Lesmana
MIRA Lesmana teringat peristiwa bullying yang dialaminya saat bersekolah di Australia dulu. Kakak kandung musisi Indra Lesamana ini mengaku sempat mendapat diskriminasi dari orang-orang sekitarnya. Terutama jika berada di luar lingkungan rumah dan sekolah. Mira berkulit gelap. Wajahnya tidak western seperti orang-orang Australia. Hampir setiap orang yang ditemui memberi pandangan aneh kepadanya. Sering kali di dalam bis saat hendak berangkat sekolah, Mira tidak diperbolehkan untuk duduk. “Dan mereka (anak-anak kecil) kebanyakan suka teriak-teriak: 'Keep Australia white',” tuturnya kepada Historia. Di Indonesia sendiri, Mira biasa dipanggil Si Ambon oleh kawan-kawannya. Padahal menurut cerita ayahnya, ia tidak mempunyai kerabat atau leluhur yang berasal dari Ambon, Maluku. Namun mengenai sebutannya itu, produser Ada Apa Dengan Cinta (AADC) ini mengaku tidak keberatan.
- Ragam Cerita dari Tes DNA
HISTORIA bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) di Museum Nasional 15 Oktober–10 November 2019. Pameran ini menampilkan peta penyebaran manusia di dunia dan Indonesia serta sejarah manusia ditinjau dari segi arkeologis dan antropologis. Pameran ASOI juga memaparkan sejarah DNA (Asam Deoksiribonukleat) dan bagaimana tes DNA bisa melacak asal-usul moyang seseorang. Untuk itu, Historia mengadakan serangkaian tes DNA terhadap sejumlah tokoh publik dari beragam panggung, dari politik sampai seni. Antara lain Ariel Noah, Grace Natalie, Najwa Shihab, Mira Lesmana, Riri Riza, Budiman Sudjatmiko, Ayu Utami, dan Hasto Kristiyanto. Hasil tes DNA tokoh publik tersebut ditampilkan secara gamblang dalam pameran ini. Juga tanggapan mereka tentang tes DNA dan hasilnya. Berikut ini sepenggal tanggapan mereka.





















