top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10077 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Aksi Heroik Niek De Koning, Kawan Pendiri Kopassus

    NIKOLAAS Jakobus de Koning, yang disapa Niek, sedang berada di Argentina waktu Perang Dunia II meletus. Tanah airnya, Belanda, diduduki tentara Jerman akibat perang itu. Maka demi membela tanah airnya, Niek pun meninggalkan benua Amerika. Niek, sebagaimana disebut kawan seperjuangannya Rudy Albert Blatt dalam laporannya berjudul To Live You Fight: A War Diary, adalah “mantan guru sekolah di Belanda, yang telah menguasai pasar domba di Argentina.” Bisnis itu dijalaninya sebelum Perang Dunia II meletus. Maka Perang pun agak mengganggu bisnisnya. Hidup baru akibat perang terpaksa harus dijalani Niek. Algemeene Dagblad tanggal 22 Oktober 1955 memberitakan, Niek mencapai Inggris dari Argentina pada 1941 dan dia lalu menjadi prajurit bawahan di sana. Ketika memulai karier militernya, itu usianya sudah 34 tahun. Dia kelahiran di Krabbendijke, Zeeland, Belanda, 16 September 1907.

  • Ketika Presiden Soeharto Naik KRL

    PRESIDEN Joko Widodo naik Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta bersama sejumlah figur publik pada Sabtu, 20 April 2019. Dia melakukannya setelah menghadiri sebuah pertemuan di pusat perbelanjaan Grand Indonesia. Sebelumnya, dia telah beberapa kali menjajal MRT. Dia juga pernah menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) untuk pulang ke Bogor pada 6 Maret 2019. Saat itu jam sibuk sehingga dia harus berdesakan dengan penumpang lain. Selain Presiden Jokowi, presiden lain yang pernah menjajal transportasi publik berbasis rel di dalam kota adalah Soeharto. “Penggunaan KRL untuk pertama kali dilakukan Presiden Soeharto dalam rangka peninjauan dan peresmian rumah sederhana di Depok Baru pada 12 Agustus 1976,” tulis Tri Wahyuning M. Irsyam dalam Berkembang dalam Bayang-Bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950—1990-an. Perjalanan Presiden Soeharto ke Depok, Jawa Barat, menandai penghidupan kembali layanan KRL. Moda ini berhenti melayani warga sejak 1965. KRL hidup kembali lantaran penerapan konsep Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi).

  • Kunjungan Sukarno ke Bulgaria

    DALAM situs kemlu.go.id disebut bahwa Bulgaria merupakan salah satu negara yang memberikan dukungan dan pengakuan terhadap Republik Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Barangkali maksudnya Bulgaria termasuk negara yang cukup awal mengakui Republik Indonesia bersama negara-negara Uni Soviet lainnya. Pengakuan tersebut dikabarkan oleh Suripno, wakil mahasiswa Indonesia di International Union of Students (IUS), yang mengikuti Festival Pemuda Sedunia Pertama di Praha, Cekoslowakia, pada 1947. Selain membuka hubungan diplomatik dengan Uni Soviet yang tidak diakui pemerintah Indonesia, Suripno juga memberitahukan bahwa negara-negara blok Uni Soviet juga mengakui Republik Indonesia.

  • Kecelakaan Helikopter di Puncak

    LAKSAMANA Madya R.E. Martadinata menjabat Menteri/Panglima TNI AL (kini KSAL) dua periode selama tujuh tahun (Juli 1959–Februari 1966). Dia kemudian diperbantukan pada penggantinya, Laksamana Madya R. Moeljadi, selama beberapa bulan. Setelah itu, R.E. Martadinata ditunjuk menjadi Duta Besar Republik Indonesia Berkuasa Penuh untuk Republik Pakistan pada 1 September 1966. Dia berangkat ke Pakistan tanpa disertai keluarga karena baru akan menyerahkan surat kepercayaan sebagai duta besar kepada presiden Pakistan. R.E. Martadinata sudah dikenal oleh pemerintah Pakistan, khususnya Angkatan Laut Pakistan, karena sewaktu menjabat Menteri/Panglima TNI AL pada 1965 dia mengirimkan satuan TNI AL untuk latihan bersama AL Pakistan.

  • Jenderal Yoga Soegomo dan Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

    JARAK antara pesawat Garuda DC-9 “Woyla” dengan pusat pengendalian krisis sekira 2.5 km. Di pusat krisis itulah Jenderal Yoga Soegomo, kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) yang menjadi negosiator pemerintah menjalin kontak dengan para pembajak. Sejak kedatangannya ke Bangkok, perundingan alot terus berlangsung antara Yoga dengan para pembajak. Minggu malam, 30 Maret 1981 pukul 22.30, komunikasi antara Yoga dengan Mahrizal, pimpinan pembajak ditutup untuk sementara. Di luar Bandara Don Mueang, suasana cukup tegang. Ratusan wartawan dari berbagai negara memburu berita pesawat Garuda yang tengah dibajak kelompok itu. Mereka terpaut jarak kurang lebih 300 meter. Dari pinggir jalan raya Vibhavadhi Rangsit yang menghubungkan Bandara Don Mueang dengan kota Bangkok. Semuanya harap-harap cemas dengan bidikan kamera yang terpasang. Sebagian besar dari mereka sudah menebak malapetaka terjadi sebentar lagi: pembajak akan meledakkan pesawat. Keadaan di pusat krisis lebih dari tegang. Jenderal Yoga memilih bungkam. Dari Jakarta, Pukul 23.00, Pangkopkamtib Laksamana Soedomo mengontak Yoga. Soedomo melempar tanya, kapan jam D operasi militer dilancarkan. Yoga tidak menggubris. “Maaf”, katanya, “Situasi tidak memungkinkan.” Jawaban senada pula yang dikatakan Yoga ketika Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf meminta penjelasan serupa.

  • Sebait Puisi dari Pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

    PADA 1 April 1981, Suryohadi, wartawan harian sore Sinar Harapan mereportase keadaan pesawat Garuda DC-9 “Woyla” yang baru saja dibebaskan dari upaya pembajakan. Saat melongok ke dalam kabin, dia menemukan sehelai kertas bertuliskan puisi. Perasaan getir terungkap dari sajak berjudul “Oh Kapal” itu, yang kemudian diberitakan Sinar Harapan, 2 April 1981. Bila hari tiba dengan terang Tentu engkau akan padam pada dari derita Tetapi jika engkau waktu itu Sudah habis nasibmu yang baik Tentu ajalmu akan bersamaku Dan semua itu akan harus Berpisah dengan dunia ini Yang fana ini Selain bau amis darah yang mengering, sajak itu menjadi saksi bisu peristiwa teror dalam pesawat “Woyla” yang dibajak selama 65 jam. Penderitaan itu berakhir pada selasa dini hari, 31 Maret 1981 dalam operasi militer yang dilakukan pasukan elite Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Laporan resmi pemerintah menyebutkan semua pelaku pembajakan berhasil ditewaskan.

  • Kisah Nenek yang Dilepas Pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

    SETELAH berhasil dikuasai, para pembajak Pesawat Garuda DC-9 “Woyla” mulai beraksi. Dengan menodongkan pistol ke tubuh kapten pilot Herman Rante, para pembajak memerintahkan pesawat bergerak menuju Kolombo, Sri Lanka. Meski dalam tekanan, Herman Rante menolak karena bahan bakar pesawat yang terbatas. Lagi pula pesawat yang dikemudikannya tidak dilengkapi dengan peta penerbangan internasional. Akhirnya, pembajak setuju terbang ke Penang, Malaysia, sebagai tujuan sementara. Para penumpang, dikisahkan dalam majalah Senakatha No. 8, April 1990, awalnya bingung menghadapi keadaan tersebut. Hiromi Higa, penumpang kebangsaan Jepang tidak memahami apa yang terjadi. Kebanyakan penumpang semula menyangka bahwa aparatur keamanan sedang menangkap buronan. Ada pula yang mengira sedang ada pengambilan adegan film aksi dan menganggap aksi bersenjata itu sebagai guyonan belaka. Penumpang baru menyadari pesawat tengah dibajak setelah barang-barang milik mereka mereka ditadah oleh para teroris itu.

  • Soeharto di Tengah Perang Dingin

    BAGI seorang dengan ketertarikan studi terkait sejarah dan politik Asia Tenggara, sudah barang tentu mengetahui Soeharto. Sebagai presiden kedua Indonesia, ia masyhur karena sikap tangan besi dan laku korupsi, di samping label dirinya sebagai Bapak Pembangunan. Sebelum pecah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S), nama Soeharto belum banyak dikenal publik. Pasca kejadian tersebut, barulah ia mulai masuk dalam percaturan politik nasional. Hal ini tidak terlepas dari manuvernya di sekitar kejadian yang menewaskan enam jenderal dan satu perwira, di mana Soeharto memegang jabatan vital sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Tentu sosok Soeharto yang tiba-tiba muncul menggantikan Sukarno di tengah gejolak perpolitikan dan ekonomi, mengundang banyak akademisi menulis tentang dirinya. Teranyar, Mattias Fibiger, seorang peneliti hubungan internasional dan ekonomi-politik dari Harvard Business School, menjabarkan analisis mendalam bagaimana Soeharto memainkan peta politik internasional, guna meraih sekaligus mempertahankan kekuasaannya dalam buku berjudul Suharto’s Cold War: Indonesia, Southeast Asia, and the World.

  • Cerita Korban Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

    TEPAT 40 tahun silam terjadi peristiwa paling mencekam dalam sejarah penerbangan Indonesia: Tragedi Woyla. Pada 28 Maret 1981, pesawat Garuda DC-9 “Woyla” dengan nomor penerbangan 206 mengalami pembajakan oleh sekelompok teroris. Dari rute semula Jakarta–Palembang–Medan, pembajak berencana membawa pesawat berikut penumpangnya menuju Libya via transit di Colombo, Sri Lanka. “Mereka bersenjata api ketika memaksa pilot 25 mil menjelang Pekanbaru. Dari Penang para pembajak memerintahkan pilot terbang ke Bangkok setelah menurunkan Ny. Panjaitan (76 tahun) di Penang,” demikian diberitakan harian Angkatan Bersenjata, 31 Maret 1981 Pembajak terdiri dari lima orang. Mereka masing-masing bernama Mahrizal, Zulfikar, Abdullah Mulyono, Sofyan Effendy alias Abu Sofyan dan yang paling muda Wendy. Selama melakukan aksinya, mereka mengintimidasi, menganiaya, hingga melakukan pelecehan terhadap penumpang perempuan.

  • Sebelum Pembajakan Pesawat Garuda Garuda DC-9 “Woyla”

    PADA 26 Maret 1981 Presiden Soeharto berkunjung ke Bangkok, Thailand. Ada pembicaraan penting yang hendak dibicarakan dengan Perdana Menteri Prem Tinsulanonda. Waktu itu Kamboja sedang bergolak. “Dalam pembicaraan tersebut telah disepakati bahwa kedua negara secara bersama-sama berkeinginan menyelesaikan masalah Kamboja melalui jalan politik dan diplomasi,” demikian keterangan dalam Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978–11 Maret 1983. Urusan diplomatik itu beres. Selain perkara Kamboja, tidak diketahui lagi apa yang dibicarakan Soeharto dengan Prem. Soeharto pun kembali ke Jakarta.

  • Tentara Thailand Gebuki Sandera Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

    TIGA teroris ditembak mati. Dalam waktu tiga menit, pasukan antiteror Kopassandha pimpinan Letkol Sintong Panjaitan menyerbu pesawat Garuda DC-9 "Woyla" yang dibajak. Sementara itu, dua pembajak lainnya mencoba kabur di tengah kerumunan penumpang. Bandara Don Mueang pada dini hari 31 Maret 1981 itu dilanda suasana mencekam. Jurnalis Hendro Subroto dalam biografi Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando menyebut pembajak bernama Abu Sofyan menyelinap di antara penumpang. Ia berupaya membaur bersama penumpang yang meninggalkan kabin. Tetapi malang baginya, tiga orang mantan sandera menudingnya sebagai pembajak. Abu Sofyan berlari menjauh dari pesawat untuk menyelamatkan diri. Salah seorang anggota Kopassandha melepaskan tembakan dengan senapan serbu M16A1. Abu Sofyan langsung tersungkur di apron. Ia tewas seketika.

  • CIA dalam Pembajakan Pesawat Garuda DC-9 “Woyla”

    PESAWAT Garuda DC-9 “Woyla” rute penerbangan Jakarta-Palembang-Medan dibajak pada Sabtu, 28 Maret 1981, sekira pukul 10.00. Pesawat itu diterbangkan oleh kapten pilot Herman Rante dengan lima awak pesawat, 48 penumpang, lima orang di antaranya warga negara asing. Diperkirakan pembajak akan membawa pesawat itu ke Timur Tengah, dengan rute Penang, Malaysia–Bangkok,Thailand–Colombo, Srilanka–Libya. Saat pesawat mendarat di bendara Penang, Malaysia, pejabat militer Indonesia meminta kepada pemerintah Malaysia agar menahan pesawat itu, tidak di-refuel, dan tidak diberi bantuan lainnya. Karena hubungan yang baik, mereka menganggap permohonannya akan dipenuhi. “Tetapi apa yang terjadi? Kami tidak punya teman di Malaysia. Kami kecewa dan beberapa kawan bahkan berkata, ‘persahabatan kita dikhianati oleh teman lama kita’. Ada juga yang mengira ada keterlibatan kelompok tertentu di negara tetangga,” kata Laksdya TNI (Purn.) Soedibyo Rahardjo dalam The Admiral.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page