Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Meluruskan Sejarah Bendera Pusaka
DI internet beredar luas informasi mengenai kain Bendera Pusaka Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Disebutkan bahwa bendera itu berasal dari kain seprai warna putih dan kain tenda warung soto warna merah. Benarkah? Fatmawati, istri Sukarno yang menjahit Bendera Pusaka Merah Putih, menceritakan dari mana dia mendapatkan kain untuk bendera Merah Putih dalam bukunya, Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Volume 1, yang terbit tahun 1978.
- Misi Pemeradaban, Akal Bulus Leopold II
SETELAH gagal mendapatkan daerah jajahan di Filipina, Raja Belgia Leopold II berusaha mencari daerah jajahan baru untuk meningkatkan prestis dan kekuatan Belgia. Dicarinya tempat yang tidak memakan banyak biaya atau mengerahkan kekuatan besar untuk ditundukkan. Ia lantas menemukan Congo di Afrika Tengah yang luasnya hampir 70 kali Belgia sebagai daerah jajahan yang tepat. Namun, Leopold II tahu bahwa ia harus berhati-hati menundukkan Congo dan berusaha mendapat pengakuan dari kekuatan Eropa lain sebelum penjajahan dilakukan. Ia kemudian melancarkan akal bulus, membungkus kolonialismenya dengan wajah kampanye filantropis dan upaya pembukaan pasar bebas di sana.
- Membesuk Sejarah Rumah Sakit Fatmawati
Ibu Fatwamati, istri Presiden Sukarno dalam tugasnya sebagai ibu negara sering blusukan ke tengah masyarakat. Biasanya, Bu Fat –sapaan akrab Fatmawati– mengunjungi permukiman kumuh di kawasan pinggiran Jakarta. Di beberapa kampung yang sanitasi udaranya buruk, Bu Fat menyaksikan betapa banyak anak-anak terserang penyakit paru. Ibu Fat prihatin. Dia pun teringat pada ayahnya, Hasan Din yang juga penderita asma. “Ibu lihat banyak anak terserang TBC. Saat itulah terpikir oleh Ibu, alangkah membantunya jika ada rumah sakit khusus untuk anak-anak penderita TBC,” ujar Satyagraha, Pemimpin Redaksi Berita Minggu kepada Kadjat Adra’i dalam Suka Duka Fatmawati Sukarno.
- Sukarno Cemas Bu Fat Hilang di Cipanas
MESKI kunjungannya ke Amerika Serikat pada 1956 secara umum menyenangkan, Presiden Sukarno menyimpan kegelisahan dalam kunjungan itu. Pasalnya, di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta saat itu Ibu Negara Fatmawati sedang terbaring tak berdaya. Pendarahan hebat membuat Fatmawati harus dioperasi. Beruntung, operasi yang dijalani ibu negara berjalan lancar. Fatmawati pun diizinkan pulang beberapa hari kemudian. Untuk memulihkan kondisinya, Bu Fat, sapaan akrab Fatmawati, berencana tinggal di tempat sejuk dan sepi.
- Bu Fat Wafat
FATMAWATI melahirkan anak terakhir pada 13 Januari 1953. Sukarno akan memberinya nama Taufan. Namun, Fatmawati tidak setuju, lebih suka dengan nama Guruh. Anak lelaki kedua setelah Guntur itu pun dinamai Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra. Fatmawati mengalami pendarahan ketika melahirkan Guruh. Oleh karena itu, dokter menyarankan sebaiknya Fatmawati tidak punya anak lagi karena berbahaya. “Sering saya kemudian ingat, betapa menderitanya Bu Fat. Beliau berhasil lolos dari risiko kematian akibat melahirkan, namun segera memasuki dunia penuh kepedihan dan kepahitan ketika rumah tangganya dirusak oleh sesama kaumnya,” kata Meutia Farida Hatta Swasono, putri Bung Hatta, dalam pengantar buku Suka Duka Fatmawati Sukarno karya Kadjat Adra’i.
- Fatmawati Suka Memasak
DI suatu siang, wangi harum makanan tercium ke seantero ruangan di kediaman Fatmawati di Cilandak V No. 10, Jakarta Selatan. Ibu negara pertama itu tampak sibuk menyiapkan berbagai makanan. Orang-orang terdekat mengenal Fatmawati suka memasak. Siapa yang telah mencicipi masakannya tak ragu untuk memuji kelezatannya. Fatmawati senang memasak sejak muda. Memasak menjadi pelajaran tambahan yang didapatnya di sekolah HIS Muhammadiyah di Bukit Kecil, Palembang. “Di sekolah itu pula untuk pertama kali aku mendapat pelajaran membuat kroket, sup, bistik, ketupat, dan hutspot,” kata Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno.
- Seabad First Lady Fatmawati
SEABAD lalu, 5 Februari 1923, Fatmawati lahir dengan nama Fatimah dari pasangan Hasan Din dan Siti Chadijah. Walaupun ia seorang wanita biasa dari suatu desa di Bengkulu, tapi ia memiliki semangat yang tinggi. Dimulai sejak remaja, ia sudah terjun ke masyarakat. Ia berkumpul bersama kaum wanita; remaja, anak-anak muda, dan ibu-ibu dari organisasi wanita Aisyiyah, karena ayahnya adalah pendiri Muhammadiyah di Bengkulu. Fatmawati suka mambaca buku terutama buku-buku sejarah perjuangan wanita. Ia juga pernah menjadi guru pada masa pendudukan Jepang. Setelah hubungan penguasa Jepang dengan Muhammadiyah membaik, berkat usaha seorang Tionghoa muslim, Abdul Karim Oei Tjeng Hien, Fatmawati mengajar di sekolah Muallimat Muhammadiyah yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
- Demam Telenovela di Indonesia
ADA satu masa ketika lagu-lagu original soundtrack Amerika Latin begitu digandrungi di Indonesia. Anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah pun ikutan mendendangkan potongan liriknya. Generasi pada zaman itu tentu masih ingat dengan intro dan penggalan lagu ini. Marimar... (diikuti teriakan) Aww! Costenita soy. (Marimar... Aww! Aku gadis pesisir pantai). Atau, Ay, amor, ay, amor, aquí está tu Rosalinda/ Rosalinda ay amor... ay amor! (Oh sayang, oh sayang inilah Rosalinda-mu/ Rosalinda oh sayang... oh sayang!) Marimar dan Rosalinda adalah dua judul serial telenovela yang dibintangi artis dan penyanyi asal Meksiko Thalia Sodi Miranda. Kedua telenovela ini diproduksi oleh Televisa, rumah produksi telenovela Meksiko. Marimar tayang pada 1994 sedangkan Rosalinda pada 1999. Thalia lebih dulu membintangi serial Maria Mercedes, juga produksi Televisa, yang tayang pada 1992. Ketika Maria Mercedes, Marimar, dan Rosalinda tayang di Indonesia pada pertengahan 1990-an, pesona Thalia begitu memikat penonton Indonesia.
- Tentang Tiga Tokoh Pemberontakan Kapal De Zeven Provincien
MARTIN Marseha Paradja, salah satu tokoh pemberontakan kapal De Zeven Provincien, merupakan putra seorang pendeta di Timor yang berasal dari Pulau Sabu. Walaupun dia berasal dari keluarga terdidik, tapi tidak terlepas dari sejarah kampungnya di Messara, satu-satunya kampung yang berperang dengan Belanda pada 1905 di bawah pimpinan Mola Mone. “Agaknya sisa-sisa kebencian pada Belanda itu sudah tertanam sejak masa kecil, walau dia sendiri bekerja di Angkatan Laut Belanda,” kata Peter A. Rohi.
- De Zeven Provincien Kapal Hukuman
KAPAL perang De Zeven Provincien dibangun pada 1908 dan mulai digunakan dua tahun kemudian. Ia berbobot 6,530 ton, panjang 101,50 meter dan lebar 17,10 meter. Kapal tua ini telah naik dok untuk perbaikan besar-besaran pada 1919 dan 1920. Salah satu kapal terbesar di Hindia Belanda ini dilengkapi persenjataan berat, bahkan meriamnya yang terberat di seluruh Hindia Belanda. Namun, ketepatan tembakannya tak seberapa karena buruknya panel bidik, dan tak memiliki penangkis serangan udara. Kapal berkecepatan sedang ini digunakan sebagai kapal latih. Setelah menempuh pendidikanteori di Pendidikan Dasar Pelaut Pribumi (Kweekschool voor Inlandse Schepelingen atau KIS) di Makassar, para pelaut pribumi mendapatkan pendidikan praktik di kapal ini.
- Mereka yang Masih Mengenang
HENING di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata Jakarta Selatan pecah pagi itu. Sekira 50 orang dari Ikatan Keluarga Nusa Tenggara Timur yang ada di Jakarta berarak menuju petak E-15. Di sana, di tengah barisan nisan dari pahlawan tak dikenal, terdapat satu makam bersama. Pada kepala nisan tertulis: Pahlawan Kapal Tudjuh. Pada makam tersebut terdapat 21 kerangka jenasah korban yang gugur di atas kapal Zeven Provincien, 10 Februari 1933.
- Kisah Dua Kapal Inaco
BEBERAPA maskapai pelayaran nasional mengalami kesulitan keuangan pada 1950-an. Bahkan Indonesian Navigation Co (Inaco) bukan hanya dinyatakan pailit oleh pemerintah tapi juga harus dibubarkan. Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Mr. M. Besar atas nama Menteri Kehakiman dalam suratnya kepada Menteri Pelayaran Komodor ALRI Moh. Nasir tertanggal 30 November 1957. Dia menyebut penyelesaian untuk PT Inaco, yang betul-betul pailit, insolvent (tidak mampu bayar utang): “hanya ada satu kemungkinan, yakni bubar.” Isi surat Mr. M. Besar dipakai oleh Menteri Pelayaran untuk menjawab pertanyaan dari KH Muslich, anggota DPR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU), mengenai kondisi PT Djakarta Lloyd dan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Nasir menjawab surat KH Muslich pada 30 Oktober 1958 atau lebih dari setahun.





















