top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10073 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tuan Tanah Menteng Diadili

    MENTERI Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait alias Ara belum lama ini menjadi sorotan. Mantan politikus PDIP itu dikabarkan membelikan rumah seorang nenek bernama Hasna di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. Pembelian rumah milik tetangga Nenek Hasna itu dilakukan Ara untuk memperluas tempat tinggal sang nenek yang, tinggal bersama keluarganya berjumlah 13 orang, hanya berukuran 2 x 3 meter.

  • Radius Prawiro Mengampu Ekonomi Masyarakat Desa

    RADIUS Prawiro punya perumpaan yang menarik mengenai swasembada. Dia menyebut misi swasembada beras bagi Indonesia serupa dengan misi Apollo ke bulan bagi Amerika Serikat. Butuh proses panjang dan biaya yang besar. “Swasembada beras relatif mudah untuk direncanakan namun jauh lebih rumit dan sukar untuk dicapai,” catat Radius Prawiro dalam Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi. Swasembada beras sudah diupayakan sejak 1950-an. Beberapa program digulirkan tapi gagal mencapai sasaran. Pemerintah Orde Baru melanjutkan upaya swasembada beras dengan beragam alasan. “Hal yang terutama, beras adalah makanan pokok bagi orang Indonesia,” ujar Radius. “Pemerintah sering menganjurkan masyarakat untuk memakan bahan makanan lain seperti roti, jagung, sagu, singkong, dan bahkan beras imitasi yang terbuat dari tepung terigu. Namun, rakyat tidak menyukainya.”

  • Aksi Spionase Jepang Sebelum Menyerang Pearl Harbor

    AKSI spionase di masa Perang Dunia II selalu menarik untuk ditelusuri. Mata-mata dari berbagai negara seperti Jerman, Inggris, Amerika Serikat, hingga Jepang saling beradu strategi untuk mencuri informasi penting dan menggalang dukungan demi memenangkan perang. Oleh karena itu, meski aksi para spion seringkali tak mencolok karena mereka bekerja seperti bayangan, aktivitas spionase selama perang berkecamuk turut memainkan peran penting. Bahkan, dalam beberapa kasus, mata-mata dipandang sebagai senjata rahasia untuk menghancurkan musuh.

  • Warisan Budaya Terkini Diresmikan Menteri Kebudayaan

    PERTUNJUKAN seni tradisi dari berbagai penjuru Nusantara tampil silih berganti menghibur pengunjung di Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta. Sabtu malam itu, apresiasi Warisan Budaya Indonesia dihelat dengan meriah. Sebanyak 17 Cagar Budaya Nasional (CBN) dan 272 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ditetapkan pada tahun ini.

  • Pengungsi Basque yang Memetik Bintang di Negeri Tirai Besi

    SUATU hari pada November 1939 di Bashkiria, Uni Soviet, Agustín Gómez de Segura Pagóla masih sibuk mengikuti penataran di sekolah intelijen khusus. Ketika anak-anak pegungsi Basque lain yang ditampung di Eropa Barat sudah direpatriasi pasca-Perang Saudara Spanyol (1936-1939), Gómez jadi satu dari ribuan anak-anak eksil Basque yang tak bisa ikut dipulangkan karena kebijakan diktator Soviet Josef Stalin.

  • Jejak Radius Prawiro dalam Reformasi Pajak

    BELUM genap setahun menjabat menteri keuangan dalam Kabinet Pembangunan IV (1983-1988), Radius Prawiro menghadapi tantangan yang tak mudah. Penerimaan negara dari minyak bumi dan gas alam (migas) setelah anjloknya harga migas di pasaran dunia. Pemerintah pun harus menggali sumber pendapatan lain. Pilihan jatuh pada pajak. Menurut Bambang Subandrijo dalam Pernak-pernik Perjalanan Sejarah Radius Prawiro, ketika hendak memangku jabatan menteri keuangan, Radius Prawiro menyatakan kesediaannya kepada Presiden Soeharto untuk menjalankan dua tugas utama: reformasi perpajakan dan kepabeanan. “Ia segera menyelesaikan draft undang-undang perpajakan yang baru yang sudah dirintis beberapa tahun sebelumnya oleh Menteri Keuangan Ali Wardhana,” tulis Bambang.

  • Lebih Dekat Mengenal Batik dari Kota Batik (Bagian I)

    TERIKNYA sinar matahari yang menaungi langit di atas Taman Jetayu, Kota Pekalongan siang itu membuat sejumlah orang yang keluar dari Masjid Al-Ikhlas mengerumuni penjaja es teh atau es dawet selepas shalat Jumat. Namun ada hal unik yang tampak bagi mata orang awam, yakni hampir semua pedagang kecil di sekitar taman mengenakan batik, entah berbentuk kemeja ataupun hijab. Maklum, Pekalongan punya imej sebagai “Kota Batik”.

  • Orang Indonesia Pertama di Kabinet Belanda

    ADA beberapa orang Indonesia jadi anggota Parlemen Belanda, seperti Roestam Effendi dan L.N. Palar. Namun, orang Indonesia yang pernah duduk dalam kabinet Belanda hanya seorang dan satu-satunya, yaitu Raden Adipati Ario Soejono. Anaknya, Irawan Soejono, tewas ditembak tentara Nazi-Jerman.

  • Radius Prawiro Hapuskan SIAP yang Menghambat Pembangunan

    KETIKA menjabat menteri keuangan, Radius Prawiro harus menghadapi masalah klasik dalam menyusun dan mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Apalagi kalau bukan rendahnya penyerapan anggaran. Memang sudah ada mekanisme untuk mengatur Sisa Anggaran Pembangunan atau disingkat SIAP. Masalahnya, setiap tahun SIAP selalu meningkat. Dalam rapat kerja dengan Komisi APBN Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 21-23 November 1983, Radius menjelaskan penyediaan dana dalam Daftar Isian Proyek (DIP) dikaitkan langsung dengan sasaran atau target yang ditetapkan dalam DIP yang bersangkutan. Namun, dapat terjadi sasaran yang ditetapkan telah tercapai dan masih menyisakan sejumlah dana. “Sisa dana inilah yang disebut SIAP mati,” ujarnya. “Dana-dana yang berasal dari SIAP mati berupa uang yang belum dipertanggungjawabkan itu pada akhir tahun anggaran akan masuk dalam penerimaan bukan pajak.”

  • Peran Radius Prawiro dalam Lobi-lobi Internasional

    SUATU hari Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, dan Pengawasan Pembangunan (Menko Ekuin) Radius Prawiro terlibat dalam jamuan makan malam bersama Ketua Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI) sekaligus Menteri Kerjasama dan Pembangunan Belanda Jan Pieter Pronk, Kwik Kian Gie, dan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post Sabam Siagian. Sambil makan, Sabam bercerita tentang kekejaman operasi militer di Timor Timur dalam apa yang dikenal dengan Pembantaian Santa Cruz. Para demonstran pro-kemerdekaan ditembaki di dekat Kompleks Permakaman Santa Cruz, Dili, Timor Timur pada 12 November 1991. Pronk yang juga politisi Partai Buruh di Belanda menyimak cerita tersebut dengan takzim. “Sepulang dari Indonesia, Pronk yang ex officio ketua IGGI menulis surat kepada pemerintah Indonesia, bahwa semua bantuan dan pinjaman ditangguhkan sampai dirinya diizinkan dan selesai melakukan inspeksi di Timor Timur,” tulis Kwik Kian Gie dalam memoarnya Menelusuri Zaman.

  • Cerita di Balik Keriuk Keripik Kentang

    KERIPIK kentang merupakan makanan ringan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dunia. Popularitas keripik kentang terlihat dari beragam varian rasa. Makanan ringan favorit banyak orang ini ternyata muncul karena suatu kesalahan. Pada musim panas tahun 1853, koki George Crum bekerja seperti biasa di Moon Lake Lodge. Menurut Sharon Hernes Silverman dalam Pennsylvania Snacks, beberapa catatan menggambarkan Crum sebagai Indian-Amerika, Afrika-Amerika, atau keduanya. Kendati catatan tersebut memuat keterangan berbeda terkait garis keturunan sang koki, satu yang pasti Crum digambarkan sebagai pria yang mudah marah.

  • Subak, Warisan Tradisi Austronesia

    CUACA mendung. Langit mulai kelabu. Hawa di Jatiluwih, Tabanan, semakin dingin. Namun, turis-turis tak peduli, justru asyik berfoto. Mau bagaimana lagi, tempat ini terkenal. Sawahnya yang bertingkat-tingkat begitu menarik perhatian. Kalau bukan karena itu, ada subak, sebuah sistem irigasi kuno yang masih langgeng digunakan dan sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page