top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10072 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Poorwo Soedarmo dan Gizi Anak Negeri

    EROPA Barat yang belum pulih dari kehancuran akibat Perang Dunia II ternyata menyisakan banyak harapan. Tak hanya soal ekonomi, tapi juga di bidang-bidang lain. Hal inilah yang ditemui Poorwo Soedarmo, dokter lulusan STOVIA, kala singgah di Belanda dalam tugasnya sebagai dokter di kapal SS Polydorus milik Blue Funnel Line dengan trayek Jakarta-Amsterdam pada 1949. Perang Dunia II yang menghancurkan ternyata juga mengkatalisasi bidang sains. Tak hanya dalam soal teknologi militer, tapi juga dalam bidang-bidang lain seperti kesehatan, medis, bahkan gizi. “Antara tahun-tahun 1940-1950 lah berkembang nutrition science di Eropa, karena data yang ditemukan di penjara-penjara massal,” kata Poorwo Soedarmo dalam otobiografinya, Gizi dan Saya.

  • Penemuan Nikel di Kolaka

    BEBERAPA hari terakhir, Kabupaten Kolaka dan sekitarnya digoyang gempa dengan magnitudo 5,1. Getarannya sampai ke Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara yang berjarak sekitar 167 km. Kolaka dikenal sebagai penghasil nikel, yang ditambang di Kecamatan Pomalaa. Sudah lebih dari seabad nikel ditemukan di sana. Kendati Penemuan nikel di Kolaka kalah tua dari penemuan nikel di Saroako, kisah nikel di Kolaka cukup menarik.

  • Kopral Cohen Dua Kali Dapat Bintang Penghargaan Militer

    LAJU tentara Jepang yang kian garang membuat eks sersan KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger) Miechiel Cohen geram. Dia lalu memutuskan untuk kembali menggunakan seragam yang telah lama ditanggalkannya alias kembali aktif berdinas meskipun mendapat tantangan dari Evelina van Leeuwen istrinya.

  • Nestapa Pekerja Migran Indonesia di Negeri Jiran

    KASUS aparat Malaysia yang menembak mati pekerja migran Indonesia (PMI) jadi “kado” kecut bagi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Negeri Jiran itu. Kendati begitu, kasus itu tak disebut dalam pertemuan Prabowo dengan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim dan Yang di-Pertuan Agong XVII Sultan Ibrahim.

  • Perselingkuhan Para Perwira

    SEBUAH kasus perselingkuhan menghebohkan Makassar pada akhir 2024 lalu. Sebab, pelakunya bukan semarang orang. Yang lelaki adalah Komandan Kodim 1408/Makassar Letnan Kolonel (Letkol) Lizardo Gumay, sedangkan yang perempuan drg. Irma Awalia binti Amin Syam.

  • Seputar Kanker yang Merongrong Sejak Dahulu Kala

    MEMPERINGATI Hari Kanker Sedunia yang jatuh hari ini, Selasa (4/2/2025), lembaga internasional Union for International Cancer Control (UICC) yang terafiliasi dengan WHO mendorong solidaritas bagi para pengidap kanker sekolong langit dengan tema “#UnitedByUnique”. UICC menggelorakan kampanye #UnitedByUnique untuk peringatan Hari Kanker Sedunia 2025-2027 dengan latar belakang dan pendekatan yang lebih personal. Kampanyenya mengeksplorasi dimensi-dimensi berbeda dan cara-cara baru demi membuat perbedaan di antara para pengidap kanker dan orang-orang di sekitarnya. “Kanker lebih dari sekadar diagnosa medis – kanker adalah masalah personal yang begitu dalam. Di balik setiap diagnosa terdapat masing-masing cerita manusia yang unik. Cerita tentang penderitaan, rasa sakit, penyembuhan, kegigihan, cinta, dan lebih banyak lagi. Dan semua itu membawa kita bersatu untuk menciptakan dunia yang bisa melihat lebih jauh di balik setiap penyakit dan melihat seseorang lebih dari sekadar pasien,” tulis laman resmi World Cancer Day.

  • Pramoedya Melancong ke Negeri Belanda

    PRAMOEDYA Ananta Toer suatu hari jalan-jalan menyusuri Taman Vondel di Kota Amsterdam. Di taman yang indah itu, Pram melihat banyak orang lalu-lalang menikmati udara hangat. Hari itu sedang musim panas. Pram sendiri sedang butuh tempat untuk merenung. Gara-gara mengidap sikap minder dalam dirinya, Pram susah bergaul dengan orang-orang Belanda. “Aku duduk seorang diri di atas bangku beton taman. Kemudian duduk seorang wanita muda. Ia mengajak bicara. Ia begitu ramah. Bahasanya bahasa sekolahan, bukan lidah Jordan yang aku tidak begitu paham,” tutur Pram kepada salah satu putrinya, Anggraini, dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Catatan-catatan dari Pulau Buru Jilid II. Pram mendapati bahwa gadis Belanda kenalannya itu seorang terpelajar. Minat mereka pada sastra pun nyambung. Si gadis bicara panjang tentang sastra Prancis. Pram hanya tahu Victor Hugo, Emile Zola, dan Honore de Balzac dari sejumlah sastrawan yang dibincangkan sang gadis. Meski percakapan mereka agak terkendala bahasa, menurut Pram gadis itu tidak menggurui. Dari perjumpaan pertama, Pram sudah terpikat pada kepribadian si gadis Belanda.

  • Mimpi Pilkada Langsung

    TERLEPAS dari segala kekurangan selama pelaksanaannya, pilkada langsung adalah proses demokrasi yang penting bagi Indonesia. Jauh sebelum reformasi bergulir, gagasan pilkada langsung pernah dicanangkan. Ini terjadi ketika pemerintah menerbitkan Undang-Undang (UU) No. 1/1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. UU ini dirumuskan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hasil pemilu 1955 dan mengacu pada Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950 yang berlaku saat itu.

  • Masa Belia Sang Pujangga

    PANDANGANNYA yang dibantu kacamata terpaku pada lembar kertas yang terselip di sebuah mesin tik tua. Kedua tangannya “melayang” di atas tuts-tuts mesin ketik yang bergantian ditekan jari-jemarinya. Serius. Begitulah penampilan Pramoedya Ananta Toer saat bekerja menyelesaikan naskah-naskah yang seolah tak pernah berhenti keluar dari kepalanya. Tak ada banyak barang yang menemaninya selama proses berkarya. Selain peralatan tulis, hanya kacamata yang dikenakannya dan sebatang rokok di bibirnya yang menemaninya. Rokok itu terus mengeluarkan asap alias menyala. “Saya merasa sulit untuk menulis jika saya tidak merokok,” terang Pram, sapaan akrab Pramoedya, dalam kata pengantarnya di buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes karya Mark Hanusz.

  • Pramoedya dan Samin

    SETELAH menyelesaikan perjalanan panjang dengan sebuah mobil berisi 12 orang, mereka turun di parkiran Pendopo Bupati Blora. Pakaian mereka, baik yang laki-laki maupun perempuan, semua hitam. Tak hanya tampil sederhana, mereka juga berlalu dengan sangat sopan. Selama menuju pendopo, mereka menyalami orang-orang yang menyambut. Mereka adalah pengikut Samin Surosentiko (1859-1914). Mereka datang untuk menghadiri pembukaan “Festival Blora Seabad Pram” untuk memperingati 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) yang diadakan di Pendopo Bupati Blora. Pramoedya Ananta Toer yang disapa Pram itu merupakan sastrawan berpengaruh di Indonesia meski belum dikenal banyak orang, termasuk di Blora sendiri. “Lebih banyak yang tidak tahu daripada yang tahu,” kata Arif Jadmiko, salah satu warga Blora yang tinggal tidak jauh dari rumah keluarga Pram di Blora.

  • Pramoedya, Lekra, dan Lentera

    LEBIH dari dua tahun Pramoedya Ananta Toer dipenjara Belanda karena menyebarkan pamflet-pamflet dan majalah perlawanan di masa revolusi. Pram akhirnya keluar dari penjara Bukit Duri, Jakarta pada 3 Desember 1949. Usai menghirup udah bebas, sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu kembali menata hidupnya. Selain mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari –ia sempat bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka bagian Kesusasteraan Modern dengan gaji sebesar Rp204 lewat bantuan Menteri PPK dr. Abu Hanifah–, Pramoedya juga bergabung dalam Gelanggang Seniman Merdeka yang didirikan pada pertengahan 1946 atas prakarsa Chairil Anwar. Sastrawan dan seniman Angkatan 45 yang berhimpun dalam Gelanggang antara lain Asrul Sani, Baharuddin, Basuki Resobowo, Henk Ngantung, Sito Situmorang, Rivai Apin, Mochtar Apin, dan lain-lain. Perkumpulan ini mengklaim sebagai Generasi Gelanggang. Pada 19 November 1946, lahirlah preambul Gelanggang. Menurut Maman S. Mahayana, dosen sastra di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam Akar Melayu: Sistem Sastra dan Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia, dalam mukadimah Anggaran Dasar Generasi Gelanggang disebutkan sebagai generasi muda Indonesia, Generasi Gelanggang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pembentukan bangsa. Atas dasar ini, mereka hendak melepaskan diri dari tatanan lama yang dianggap tidak lagi sejalan dengan semangat revolusi yang mereka perjuangkan. Segala pandangan, sifat, dan anasir lama yang melemahkan revolusi sudah sepatutnya ditentang untuk menyalakan api kekuatan baru.

  • Tetralogi Buru, Roman Sejarah yang Lahir dari Balik Penjara Orba

    KERIUHAN terjadi di pusat kota kecil di Jawa Tengah, Blora, pada 6 Februari malam lalu. Orang-orang dari berbagai tempat “tumplek-blek” di Pendopo Bupati Blora. Bupati Arif Rohman juga hadir. Mereka semua hendak menonton bareng film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo yang diputar sebagai bagian dari Festival Blora Seabad Pramoedya. “Kita nonton sampai jam 10,” kata Bupati Arief Rochman. Kemasan populer yang diusung Hanung membuat film Bumi Manusia memikat banyak orang, termasuk kaum muda. Menjadikan Bumi Manusia ditonton banyak orang. Bumi Manusia diadaptasi dari novel dengan judul sama karya Pramoedya Ananta Toer. Novel tersebut merupakan satu dari empat novel tetralogi Pram yang dihasilkan dari perjuangan beratnya –dan juga ribuan tahalan politik (tapol) lain– di tempat pembuangannya di Pulau Buru. Pembuangan di Pulau Buru menjadi puncak dari penahanan-penahanan yang telah dialami Pram sebelumnya. Sejak muda, Pram sudah merasakan lembabnya ruangan di balik terali besi penjara Belanda. Menjelang paruh baya, begitu “gegeran” politik terjadi mengikuti Persitiwa G30S, Pram lagi-lagi harus merasakan dinginnya penjara. Sebagai orang yang dicap kiri, yang kalah dalam kontestasi politik nasional, Pram termasuk yang dihabisi haknya sebagai manusia meski tak sampai dihabisi hak hidupnya seperti ribuan orang kiri yang lain.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page