top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Prahara Kharkiv

    NEGOSIASI pertama antara delegasi Ukraina dan Rusia di wilayah Gomel, Belarusia pada Senin (28/2/2022) waktu setempat belum menampakkan perdamaian konkret. Bahkan selama pembicaraan hingga berakhirnya negosiasi berdurasi lima jam itu, mesin-mesin perang Rusia tetap bergulir. Tak hanya mendekati ibukota Kyiv, mesin-mesin perang itu bahkan membombardir Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina. Kharkiv jadi kota terparah yang diserang roket-roket Rusia yang juga menghantam area-area pemukiman. Hal itu disesali Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. “(Serangan) ini jelas kejahatan perang. Karkhiv adalah kota yang damai dengan sejumlah area pemukiman yang damai pula, tidak ada fasilitas militer. Lusinan pernyataan saksi mata membuktikan ini bukan kekeliruan sasaran tapi kesengajaan untuk menghancurkan rakyat. Ini melanggar semua konvensi internasional. Sebuah persidangan internasional mesti dibentuk untuk menyelidiki kejahatan ini,” imbuhnya, dikutip Anadolu Agency , Rabu (1/3/2022). Baca juga: Serba-serbi Chernobyl yang Diserang Rusia Presiden Ukraina Volodymyr Oleksandrovych Zelenskyy (Twitter @PresidentofUkr) Serangan-serangan roket Rusia itu jadi salah satu cara untuk merebut Kharkiv yang masih dipertahankan mati-matian oleh pasukan Ukraina. Namun, serangan itu mengakibatkan sejumlah warga sipil jadi korban. Hingga tulisan ini diturunkan, tercatat setidaknya sembilan warga sipil tewas dan 37 lainnya terluka kala roket-roket BM-21 “Grad” Rusia menghancurkan gedung-gedung sekolah, kompleks pemerintahan, dan apartemen. “Hari ini kami mengalami hari yang sulit. (Serangan) ini menunjukkan bahwa ini bukanlah sekadar perang tapi pembantaian terhadap rakyat Ukraina. Roket-roket menghancurkan gedung-gedung pemukiman, menewaskan dan melukai warga sipil Kharkiv yang sudah sangat lama tak melihat kehancuran seperti ini,” ungkap Walikota Kharkiv Ihor Terekhov via Telegram, dikutip The Guardian , Rabu (1/3/2022). Baca juga: Perang dan Pandemi Salah satu area pemukiman di Kharkiv yang jadi sasaran roket Rusia ( city.kharkiv.ua ) Empat Pertempuran Sengit Kharkiv, kota berpenduduk 1,4 orang yang mayoritas berbahasa Rusia, sejak pecahnya Uni Soviet berinduk pada Kharkiv Oblast. Ia berkembang berkat pesatnya pertumbuhan industri keuangan, sains, perdagangan, dan teknologi informasi. Kota plural dengan sejumlah katedral Kristen Ortodoks, sinagoga tua, dan masjid yang dirawat baik pemerintah kotanya itu sayangnya sejak hari-hari terakhir Februari hingga permulaan Maret 2022 ini harus mengalami kehancuran. Kehancuran ini baru terjadi lagi sejak Perang Dunia II, di mana Kharkiv empat kali jadi medan pertempuran sengit tantara Tentara Merah dan Nazi Jerman. Noktah hitam pernah mewarnai sejarah Kharkiv pada masa Perang Dunia II. Sejumlah perwira Polandia yang ditawan kala itu dibantai April-Mei 1940. “Selama April dan Mei 1940 sekitar 3.900 tawanan Polandia dari Kamp Starobelsk dieksekusi di gedung NKVD Kharkiv, kemudian diam-diam dikubur di Hutan Pyatykhatky (bagian dari Hutan Katyn) di luar Kharkiv. Situs yang sama di mana para pekerja seni Ukraina ditahan dan ditembak selama pembersihan (Josef) Stalin 1937-1938,” ungkap Benjamin B. Fischer dalam jurnalnya “The Katyn Controversy: Stalin’s Killing Field” yang termaktub dalam Studies in Intelligence. Baca juga: Alarm Perang Dunia Ketiga Kharko, legenda pejuang Cossack (kiri) dan kota Kharkiv di abad ke-19 (Wikipedia/Library of Congress) Ketika Operasi Barbarossa dilancarkan Hitler pada 22 Juni-5 Desember 1941, Kharkiv direbut LV Armeekorps (Korps Angkatan Darat ke-55) pimpinan Jenderal Erwin Vierow lewat Pertempuran Kharkiv I, 20-24 Oktober 1941. Dalam pertempuran empat hari itu, pertahanan kota yang dikawal Divisi Senapan ke-216 Tentara Merah kocar-kacir. “Saat pendudukan, pada 14 Desember Stadtkommandant memerintahkan populasi Yahudi dikumpulkan di pabrik traktor. Dalam dua hari 20 ribu Yahudi terkumpul. (Pasukan SS/Schutzstaffel) Sonderkommando 4a, unit Einsatzgruppe C pimpinan Standartenführer Paul Blobel mulai menembaki mereka hingga pada Januari diganti metode gas di mobil van. Sementara sampai Januari 1942 sekitar 300 ribu populasi yang tersisa berada di ambang kematian karena kelaparan di musim dingin,” singkap Karel Margry dalam Kharkov, After the Battle. Baca juga: Saling Tuding Hitler-Stalin dalam Pembantaian Katyń Sejumlah arsitektur bersejarah pun ikut hancur akibat serangan tersebut. Lebih memprihatinkan, banyak benda bersejarah dijarah. Sastrawan Aleksey Tolstoy sampai menyetarakan Kharkiv dengan kehancuran Romawi pada abad kelima. “Saya melihat Kharkov…Roma mungkin terlihat seperti ini ketika bangsa Jerman barbar datang pada abad kelima. Kota yang menjadi satu kuburan besar. Ribuan orang tewas karena kelaparan pada musim dingin 1941-1942, mayoritas kaum intelektual,” sebut Tolstoy. Pasukan Jerman merebut kota dalam Pertempuran Kharkiv Pertama (Bundesarchiv) Stalin berinisiatif merebut kembali Kharkiv dari tangan Hitler. Dia lalu menggulirkan Pertempuran Kharkiv II (12-28 Mei 1942). Stalin berharap kegemilangan Tentara Merah di Pertempuran Moskow (2 Oktober 1941-7 Januari 1942) bisa menular ke Kharkiv. Tugas merebut itu jatuh ke pundak Marsekal Semyon Timoshenko. Veteran Perang Dunia I tersebut diberikan 765 ribu personil yang terbagi di unit AD ke-6, AD ke-21, AD ke-28, AD ke-38, ditambah Korps Tank ke-23, Korps Kavaleri ke-5, dan Divisi Senapan ke-270. Baca juga: Badai Tentara Merah Menyapu Pasukan Baja Jerman Kubu Jerman sudah mencium gelagat Kharkiv bakal diserang lagi. Oleh karenanya Grup AD Selatan mengonsolidasi diri dengan menunjuk Generaldfeldmarschall Fedor von Bock sebagai panglima anyar menggantikan Generaldfeldmarschall Walter von Reichenau sejak Januari 1942. Untuk menangkal serangan Tentara Merah, Von Bock merancang counteroffensive dengan Operasi Fredericus. Taktik ini hanya memanfaatkan sisa pasukan AD ke-6 yang kekuatannya hanya setengah pasukan Timoshenko. Pasukan Jerman mematahkan ofensif Soviet dalam Pertempuran Kharkiv Kedua (Bundesarchiv) Tembakan pertama Pertempuran Kharkiv II meletus pada pukul 6.30 pagi tanggal 12 Mei. Pasukan Jerman yang dijepit dari dua arah, Volchanks dan Barvenkovo, mampu bertahan berkat bantuan Korps ke-8 Luftwaffe (AU Jerman) pimpinan Generaldfeldmarschall Wolfram von Richtofen yang –masih sepupu ace legendaris Jerman berjuluk “Si Baron Merah” Manfred von Richthofen– berbasis di Krimea. Alutsista udara Jerman yang masih superior nyatanya krusial membalikkan posisi Tentara Merah dari pihak ofensif menjadi pihak defensif. Panser-panser Jerman dengan mudah menembus garis-garis pertahanan Tentara Merah pada 17-18 Mei, hingga kemudian memaksa Timoshenko memberi perintah mundur pada 22 Mei. Baca juga: Horor Warsawa dari Mata Lensa Pewarta Enam hari berselang, sejumlah kantong pertahanan Tentara Merah yang terkepung mulai menyerahkan diri. Mengutip Joel Hayward dalam Stopped at Stalingrad: The Luftwaffe and Hitler’s Defeat in the East , korban di pihak Soviet sekira 75 ribu dan 239 ribu lainnya tertawan. Adapun Jerman kehilangan sekitar 20 ribu prajuritnya. Lantaran Kharkiv tetap dalam cengkeraman Jerman hingga setahun berselang, Soviet kembali berhasrat untuk merebutnya. Tentara Merah lalu melancarkan Operasi Zvezda untuk –merebut Kharkiv dan Kursk– adu kekuatan lagi dengan Jerman dalam Pertempuran Kharkiv III (19 Februari-15 Maret 1943). Konsolidasi pasukan Jerman pada Pertempuran Kharkiv Ketiga (Bundesarchiv) Stalin mempercayakan tampuk kepemimpinan Operasi Zvezda pada Jenderal Max Reyter dan Filipp Golikov. Total kekuatan Front Sentral Tentara Merah mencapai 500 ribu personil. Jumlah itu terbagi dalam 15 unit AD baik tank maupun infantri, di mana 346 ribu di antaranya dikerahkan untuk merebut Kharkiv. Pertahanan Jerman di Kharkiv bergantung pada Generalfeldmarschall Erich von Manstein yang memegang kekuatan 70 ribu personil, meliputi unit lapis baja AD Panser ke-1, AD Panser ke-4, serta dua divisi luftflotte atau armada AU Jerman. Seiring jalannya pertempuran, pada akhir Februari 1943 kubu Jerman mendapat tambahan sekira 200 ribu personil. Baca juga: Neraka Hitler di Stalingrad Dalam pertempuran sengit selama hampir sebulan, Soviet kembali harus membayar mahal. Menurut sejarawan Bevin Alexander dalam How Hitler Could Have Won World War II: The Fatal Errors that Led to Nazi Defeat , selain gagal merebut Kharkiv, Stalin kehilangan 45 ribu serdadunya yang tewas maupun hilang. Sedangkan Hitler menderita kerugian 4.500 pasukan SS-nya tewas maupun hilang. “Tetapi (Pertempuran Kharkiv III) itu kemudian jadi kemenangan besar Hitler terakhir di front timur,” tulis Alexander. Skema Kampanye Operasi Polkovodets Rumyantsev dan Pertempuran Kharkiv Keempat (Wikipedia) Pada 1943, situasi perang mulai berbalik mengarah ke tanah Jerman. Kharkiv baru benar-benar bisa direbut Stalin lewat Pertempuran Kharkiv IV yang jadi bagian dari kampanye ofensif Belgorod-Kharkiv pada 3-23 Agustus 1943. Lewat Operasi Polkovodets Rumyantsev, pasukan Tentara Merah di bawah Marsekal Ivan Konev datang dengan kekuatan sekira 1,1 juta personil dan 2.418 tank. Kekuatan ini tentu bukan lawan bagi Von Manstein yang hanya punya 200 ribu prajurit dan sisa 237 tank. “Badai” Tentara Merah pun menghampiri pasukan-pasukan Jerman walau harus melalui pertempuran sengit. “Jenderal Werner Kempf, kolega Manstein sempat mengusulkan segenap pasukan Jerman mundur dari Kharkiv pada 12 Agustus. Manstein tidak keberatan tapi Hitler menampik dengan perintah agar kota (Kharkiv) dipertahankan dengan segala daya dan upaya. Setelah memprediksi Kharkiv akan bernasib seperti Stalingrad, Kempf malah dibebastugaskan untuk digantikan Jenderal Otto Wöhler,” ungkap Earl F. Ziemke dalam Stalingrad to Berlin: The German Defeat in the East. Baca juga: Bencana di Danau Ladoga Pada 22 Agustus, Manstein terpaksa mengabaikan perintah Hitler agar sisa-sisa pasukan AD ke-57 dan ke-69 bisa mundur dari kota Kharkiv. Tepat pada 23 Agustus 1943 pukul dua dini hari, pasukan Divisi Senapan ke-183 dan ke-89 Tentara Merah resmi merebut Kharkiv dan membentangkan bendera merah di Alun-Alun Dzerzhinsky. “Kerugian dari operasi ini sulit dipastikan karena besarnya angka perpindahan pasukan maupun status prajurit yang hilang. Korban pihak Soviet di kampanye Belgorod-Kharkov setidaknya mencapai 71.611 dan 183 ribu terluka. Personil Jerman kehilangan setidaknya 10 ribu jiwa tewas dan hilang, serta 20 ribu terluka,” tandas Jonathan Glantz dan David House dalam When Titans Clashed: How the Red Army Stopped Hitler. Marsekal   Ivan Stepanovich Konev (kiri) & Marsekal    Fritz Erich Georg Eduard von Manstein ( mil.ru/nac.gov.pl ) Jumlah itu belum termasuk catatan korban sipil. Michael S. Bryant dalam Nazi Crimes and Their Punishment: 1943-1950 menyebut korban sipil di Kharkiv yang tak sempat mengevakuasi diri ke arah timur mencapai 30 ribu. Mereka tewas akibat terjebak dalam baku tembak, dieksekusi, atau mati kelaparan. “Selama pendudukan sementara kota Kharkov dan provinsi Kharkov, para penyerbu fasis-Jerman telah menembak, menggantung, membakar hidup-hidup dan meracun dengan gas karbon monoksida sebanyak 30 ribu warga tak berdosa, termasuk perempuan, lansia, dan anak-anak,” tulis Bryant. Mayoritas yang dieksekusi adalah orang Yahudi. Mereka dibunuh dengan gas maupun dilempar ke jurang-jurang yang terdapat dekat kota Kharkiv. Laman Yad Vashem mencatat, pada 1930-an, populasi Yahudi di Kharkiv mencapai 130 ribu jiwa. Pada 1941, sebelum pendudukan Jerman, sekira 100 ribu Yahudi sudah mengungsi ke kota-kota di timur yang masih dikuasai Uni Soviet. Sekira 20 ribu yang tersisa bersama 10 ribu warga minoritas Ukraina lain jadi korban holocaust maupun tewas kelaparan. Baca juga: Lyudmila Pavlichenko Sang Bidadari Pencabut Nyawa

  • Usaha SEATO Membegal KAA

    PRANCIS terdesak dalam perang Indocina pada Maret 1954. Pasukan Uni-Soviet dan Tiongkok bergabung dengan orang-orang Ho Chi Minh. Khawatir Prancis kalah dan komunisme menjalar dari Indocina ke Asia Tenggara, AS membantu Perancis. Demi membendung komunisme di Asia Tenggara, AS menggagas SEATO (South East Asia Treaty Organization) atau Pakta Pertahanan Asia Tenggara. Gagasan AS mendapat tentangan dari Burma, Pakistan, Srilanka, India, dan Indonesia. Perdana Menteri (PM) dari lima negara tersebut lalu menggelar pertemuan di Kolombo pada 28 April-2 Mei 1954 untuk mencari solusi Indocina. Mereka memandang gagasan AS lebih mengarah ke perang, ketimbang mewujudkan perdamaian. Mereka juga menegaskan tak ingin bergabung ke salahsatu blok, baik Barat maupun Timur. Menyadari campurtangan blok Barat dan Timur tak hanya terjadi di Indocina, Ali Sastroamidjojo, PM Indonesia, mengusulkan penyelenggaraan konferensi lebih besar dengan melibatkan lebih banyak negara di Asia-Afrika. Dia berusaha menghimpun negara di Asia-Afrika untuk bersama-sama meredakan ketegangan dunia.

  • Desakralisasi Pejabat Publik

    SUATU hari saya pernah melihat Walikota Woerden, pejabat nomor satu dari sebuah kota kecil di Provinsi Utrecht, Belanda, sedang mencuci mobil di pekarangan rumahnya yang kecil (dibandingkan dengan kebanyakan ukuran rumah walikota di Indonesia). Di lain hari saya menyaksikan Winnie Sorgdrager, pensiunan menteri hukum Belanda periode 1994-1998 naik angkutan umum di Amsterdam. Winnie adalah cicit kemenakan Eduard Douwes Deker alias Multatuli yang namanya tenar sebagai penulis roman Max Havelaar. Tak ada juru kamera yang mengiringi mereka untuk dimuat media sosial. Tak ada tepuk riuh decak kagum karena semua itu biasa saja. Di Indonesia juga ada kisah keteladanan para pejabat publik. Johannes Leimena, menteri di era Bung Karno, menggunakan kemeja tambalan saat ikut rapat kabinet. Belum lagi kisah Haji Agus Salim yang hidup sederhana, bahkan Prof. Soenario, menteri luar negeri RI dan kakek buyut artis Dian Sastrowardoyo, bersaksi bahwa Haji Agus Salim hidup dalam kemiskinan. Saat menulis biografi Maulwi Saelan, wakil komandan Tjakrabirawa pengawal Bung Karno, saya mendengar kisah Presiden Sukarno meminjam uang pengawalnya untuk membeli sebungkus rokok. Kisah-kisah ini justru diketahui saat tokoh-tokoh tersebut sudah almarhum, ketika mereka tak bisa lagi mengambil untung pencitraan lewat jalan populisme yang kini marak. Kisah kesahajaan hidup di atas rupanya memang bukan dibikin-bikin. Di Belanda, sistem transportasi umum dirancang sebaik mungkin, yang dapat menghubungkan warga dari satu titik ke titik lain dalam tujuan perjalanannya. Menumpang angkutan umum adalah cara menempuh perjalanan yang ringkas dan tepat waktu. Selain bersepeda, sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh mantan Perdana Menteri Mark Rutte, menumpang angkutan umum perkara biasa saja untuk semua orang, tak terkecuali pejabatnya.

  • Pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat

    Dalam sejarah, Presiden Sukarno pernah membubarkan DPR, sementara Presiden Abdurrahman Wahid membekukan DPR dan MPR. Bagaimana dampaknya?

  • Pecah Kongsi Soeharto dan Menteri Mar'ie

    SETELAH satu periode mengabdikan diri sebagai menteri keuangan pada Kabinet Pembangunan VI, Mar'ie Muhammad akhirnya diganti. Ketika Kabinet Pembangunan VII diresmikan pada 16 Maret 1998, nama Mar'ie tak lagi ikut serta di dalamnya. Presiden Soeharto menunjuk Fuad Bawazier sebagai menteri keuangan pengganti Mar'ie.

  • Tujuh Percobaan Pembunuhan Sukarno

    Presiden Sukarno berkali-kali menjadi target tembak, granat, hingga mortir, tetapi selalu selamat.

  • Iwan Fals Dituduh Menghina Ibu Negara

    POLISI menciduk Dodik Ikhwanto, pembuat meme yang menghina Ibu Negara Iriana Joko Widodo, di Palembang, Sumatra Selatan, Senin (11/9/2017). Pelaku memposting meme penghinaan itu lewat akun Instagramnya @warga_biasa tangal 7 September 2017. Dia mengakui motivasinya melakukan itu karena tidak suka dengan pemerintahan Joko Widodo. Kasus serupa pernah menimpa musisi Iwan Fals ketika konser di Gedung Olahraga, Pekanbaru, Riau, April 1984, dalam rangka membantu anak-anak muda menggalang dana. Dia membawakan lagu Demokrasi Nasi dan Mbak Tini. Lagu Demokrasi Nasi diciptakan Iwan ketika masih duduk di SMP di Bandung tahun 1975. Sebuah lagu yang berkisah tentang anak seorang menteri yang membuat onar, menembak sampai mati tapi tidak disanksi. “Sungguh tak sesuai dengan hukum di negeri ini, yang katanya demokrasi,” kata Iwan lewat lirik lagunya. Iwan sering menyanyikan lagu Demokrasi Nasi, namun tak ada reaksi. Tapi bagi aparat keamanan cukup menggelisahkan.

  • Ketabahan Seorang Istri Pengawal Sukarno

    SITI Prihatin bin Djajamisastra hanya bisa berbaring di tempat tidur. Sesekali nafasnya sesak. Diagnosa dokter mengatakan dia terkena pembengkakan jantung. Selain itu, “karena ibu sudah sepuh, dokter bilang tenggorokannya mengecil,” kata Tuti, putri kedua Prihatin, kepada Historia, 19 Septemer lalu. "Jadi makannya kalo nggak bubur ya nasi halus." Prihatin, 88 tahun, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. “Kalo malem melek, minta ditemani terus cerita,” kata Sarah, putri Prihatin yang lain. Selain menanyakan kabar orang-orang terdekatnya, Prihatin masih suka bercanda ketika terbangun. “Coba ditulis, Ibu Mangil sekarang sudah tua,” katanya sambil tertawa.

  • Surat Ho Chi Minh yang Diabaikan Indonesia

    HAROLD Robert Isaacs, koresponden perang Majalah Newsweek, tiba di Jakarta pada akhir November 1945. Ia datang dari Indochina membawa sepucuk surat yang kemudian diberikannya kepada Mohammad Hatta. Surat itu ternyata dari Ho Chi Minh, pemimpin Vietnam. Isinya, Ho Chi Minh mengajak agar revolusi Indonesia dan Vietnam bisa berjalan bersama. Seperti ditulis Hanna Papanek dalam Note on Soedjatmoko's Recollections of A Historical Moment: Sjahrir's Reaction to Ho Chi Minh's 1945 Call for A Free Peoples Federation, Isaacs menyebut bahwa kala itu Vietnam membutuhkan bantuan dari luar, namun mereka tidak bisa mengandalkan Tiongkok.

  • Tjaak Pattiwael Sang Penyerang

    MUSA Louhanapessy ingin sekali teekensoldij alias jadi serdadu dalam tentara kolonial Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL), seperti banyak pemuda Ambon lain di zaman itu. Sayangnya, orangtuanya tak memberi restu. Musa tak hilang akal demi cita-citanya. “Kemudian dia membeli marga (mungkin begitu) ke keluarga Pattiwael,” terang John Pattiwael. Seperti marga ibunya, Dolfina Pattiwael, jadilah Musa Pattiwael bisa mendaftar masuk KNIL. Sangat banyak anggota KNIL dari marga Pattiwael. Musa diterima teekensoldij hingga rela meninggalkan Ambon. Musa sering berpindah-pindah tugas sebagai serdadu KNIL. Dia kemudian menikah dengan Martha Tomasoa. Mereka punya banyak anak. Salah satunya Isaak Pattiwael, yang biasa disapa Tjaak, lahir di Meulaboh, Aceh, pada 14 April 1915. Seperti anak serdadu KNIL lain, yang kadang dicap Anak Kolong, Tjaak ikut ayahnya berpindah-pindah tugas. Sehingga, dia sering berpindah sekolah. Setelah lewat masa sekolah dasar, Tjaak merantau untuk menemukan jalan hidupnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page