top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bung Hatta di Jepang

    PENGUJUNG Februari 1933. Mak Etek Ayub Rais, pengusaha asal Bukittinggi (Sumatera Barat) melawat ke Jepang. Perusahaan yang dia kelola bersama Djohan-Djohor bersaudara (Firma Djohan-Djohor) hendak melihat perkembangan industri Jepang yang kala itu tengah berkembang pesat, sekaligus membangun jaringan dagang dengan saudagar-saudagar di sana. Pengusaha Minang tersebut berencana memperluas jaringan impor mereka di Negeri Sakura. Dalam melakukan perjalan bisnis ke Jepang tersebut, Ayub Rais tidak sendiri. Dia mengajak serta seorang penasihat dan seorang pemilik perusahaan asal Jepang di Hindia Belanda bernama Ando. Kawannya itu akan membantu Ayub Rais mengurusi berbagai masalah dagang selama berada di Jepang. Sementara penasihat yang mendampingi Ayub Rais adalah Mohammad Hatta. “Aku diajaknya ikut sebagai penasihat. Aku berpikir-pikir apa yang akan kuperbuat. Apabila aku pergi aku akan meninggalkan Indonesia barang dua bulan,” kata Hatta seperti diceritakan dalam otobiografinya Memoir.

  • Riwayat Ayah dan Anak van Roijen

    JAN Herman van Roijen sama sekali tak memperlihatkan raut wajah semringah usai menandatangani penyerahan Papua kepada Indonesia. Tak seperti Soebandrio, pemimpin delegasi Indonesia, yang mengumbar senyum di sana-sini. Muka kecut van Roijen menggambarkan kekecewaan bahwa Belanda telah kehilangan Papua. Pada 15 Agustus 1962, wilayah Irian Barat yang telah lama disengketakan Belanda dan Indonesia berakhir dalam New York Agreement atau Persetujuan New York. Para mediator seperti diplomat Amerika Ellsworth Buker dan Sekjen PBB U Thant terlihat lega. Konflik yang memicu perang ini akhirnya selesai di meja perundingan. Tak perlu dibahas bagaimana bungahnya pihak Indonesia. Nasib pahit justru dialami van Roijen. Setelah berusaha sekuat tenaga di meja perundingan, alih-alih diapresiasi, dia malah menjadi bulan-bulanan. Menteri Luar Negeri Belanda Joseph Luns bahkan melontarkan cemoohan soal latar belakang keluarga van Roijen.

  • Yang Terbuang Setelah Perang

    KEKALAHAN Jepang dalam Perang Dunia II menyisakan masalah baru dengan Indonesia, wilayah jajahan Belanda yang sempat diambil alih Jepang. Mahasiswa Indonesia yang studi di Jepang dalam program nantoku terlantar pasca kapitulasi. Mereka terpaksa tinggal di Jepang sampai kemerdekaan Indonesia diakui oleh dunia internasional. Di Indonesia, anak-anak yang lahir hasil kawin campur perempuan Indonesia dan laki-laki Jepang ikut jadi korban. Mereka tidak diperkenankan tinggal di Indonesia karena dianggap berkewarganegaraan Jepang. Korban perang dari arus bawah itulah yang diteliti sejarawan Jepang Aiko Kurawasawa dalam buku terbarunya Sisi Gelap Perang Asia. Buku ini merupakan cuplikan kisah-kisah human interest dari disertasi kedua Aiko di Universitas Tokyo berjudul “Sengo Nihon Indonesia kan Keishi” (Hubungan Indonesia-Jepang Pascaperang). Aiko mengatakan itu terjadi pada periode gelap hubungan Jepang dan Indonesia. “Antara 1945—1957 belum ada hubungan resmi antara Indonesia dan Jepang. Saya mengambil nasib orang-orang kecil; orang biasa yang hidup di dalam kedua negara tersebut dalam masa itu,” kata Aiko dalam peluncuran bukunya di ruang seminar Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah LIPI, Jakarta Jumat, 20 September 2019.

  • Kisah Seorang Cucu Serdadu Desertir Jepang

    PRASETYO Nur Mujahid membuka koleksi album foto keluarganya. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari Satya –pangilan akrabnya– dengan orang-orang Indonesia kebanyakan. Namun, foto-foto sang kakek mengingatkan kembali Satya akan asal-usul dirinya. “Sejak kecil saya tahu, saya memiliki garis keturunan Jepang dari ayah. Kakek saya adalah bekas tentara Jepang yang kemudian beralih profesi menjadi seorang fotografer dan memiliki studio foto di Bengkulu,” kata Satya dalam dokumentaria Serdadu yang Tak Kembali: Kisah Sebuah Pilihan, kolaborasi antara Historia.ID dengan Yayasan Warga Persahabatan. Darah Jepang pada diri Satya berasal dari kakeknya, Masashi Hara. Sayangnya, Satya tidak tahu persis seperti apa kiprah sang kakek. Masashi Hara meninggal pada 1982, bahkan sebelum Supratman Hara dan Agustia Widiastuti –ayah dan ibu Satya– menikah. Jejak memori Satya dengan kakeknya makin terputus ketika Supratman Hara meninggal ketika Satya masih berusia sembilan tahun. Pengetahuan yang serba terbatas itulah yang menuntun Satya mencari tuturan sejarah tentang kakeknya.

  • Nasib Mahasiswa Indonesia di Jepang Pasca Perang

    PADA 19 Agustus 1945, kabar kemerdekaan Indonesia sampai juga di Jepang. Perasaan senang, sedih, bingung, bercampur di benak semua warga Indonesia di sana. Mereka cukup sulit merespon kabar tersebut. Salah-salah mereka akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari warga Jepang. Sebagian kecil orang memilih diam. Seolah tidak pernah mendengar kabar tersebut. Kelompok itu umumnya hidup nyaman, dan telah membangun keluarga di Jepang. Seoarang alumni sekolah di Jepang, Sudibjo Tjokronolo, dimuat Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang, menyebut banyak mahasiswa yang terlanjur senang hidup di negeri para Samurai tersebut. Jepang yang berhasil memukul mundur Rusia dianggap sejajar dengan bangsa Eropa. Semangat nasionalisme mereka disebut menjadi contoh yang baik. Sementara bagi kelompok lain, Jepang tidak bisa begitu saja menggantikan Indonesia. Mereka tetap berhasrat untuk kembali ke keluarga di tanah air. Kelompok ini bersedia memakai segala cara untuk pulang. Meski harus dengan cara tercepat nan berbahaya: meminta bantuan pihak Sekutu. Sejarawan Aiko Kurasawa mencatat keberadaan mereka lebih besar dibanding kelompok yang ingin menetap.

  • Musisi Kulit Hitam Amerika Menyanyi Lagu Indonesia Raya

    DUKUNGAN dari berbagai negara bermunculan tak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Simpati terhadap perjuangan rakyat semakin besar ketika Belanda berupaya untuk kembali menguasai Indonesia. Di Amerika Serikat, orang Indonesia bersama orang Amerika yang progresif, mengadakan aksi solidaritas mendukung Republik Indonesia dan menuntut Belanda mengakhiri agresi serta mengakui kedaulatan Indonesia. Aksi solidaritas itu menarik perhatian Paul Robeson, penyanyi dan aktor yang dikenal sebagai aktivis kulit hitam berpengaruh di Negeri Paman Sam. Dukungan Robeson kepada Indonesia berkaitan dengan perjuangannya dalam mewujudkan kesetaraan bagi warga kulit hitam di Amerika yang telah lama menjadi sasaran diskriminasi. Masa muda pria kelahiran Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, 9 April 1898 itu diwarnai rasisme. Ketika menjadi pemain football All-American sebagai pemain kulit hitam pertama di tim Rutgers University, tim lawan menolak bertanding melawan atlet kulit hitam. Penolakan itu mengakibatkan Robeson ditarik dari lapangan.

  • Sjahrir dan Sukarno dalam Peringatan HUT RI Pertama

    REPUBLIK Indonesia sudah menginjak usia 81 tahun. Upacara pengibaran bendera dan atraksi alutsista dalam rangka memperingati HUT RI di Istana Negara Jakarta, Senin (17/8/2026), juga berjalan sebagaimana mestinya. Suasananya jauh lebih bisa “dinikmati” ketimbang yang terjadi delapan dekade silam dalam peringatan HUT RI pertama, 17 Agustus 1946. Dalam perjalanannya menuju satu tahun kemerdekaan, Indonesia tak hanya direcoki Sekutu dan Belanda yang ingin kembali berkuasa namun juga pergolakan politik internal. Puncaknya terjadi dua peristiwa yang bikin republik begitu rentan: penculikan Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir pada 27 Juni 1946 dan Kudeta 3 Juli 1946 ketika Presiden Sukarno didesak mengganti Kabinet Sjahrir. Terlepas dari pro dan kontra yang mengiringinya, toh republik jalan terus. Para oposannya ditangkapi, mulai dari Tan Malaka, Mohammad Yamin hingga tokoh-tokoh muda yang setahun sebelumnya berperan dalam Proklamasi 17 Agustus 1945: Ahmad Subardjo, Sukarni, Adam Malik, dan Sayuti Melik.

  • Pembunuhan PM Jepang dalam Lintasan Sejarah

    DI atas kotak merah penyangga kaki, Shinzo Abe berapi-api saat berorasi dekat Stasiun Keretaapi Yamato-Saidaiji di barat kota Nara, Jepang, Jumat (8/7/2022) pagi waktu setempat. Abe sedang memberikan dukungan kepada koleganya di Jimintō (Partai Liberal Demokratik (LDP) jelang Pemilu Dewan Majelis Tinggi 10 Juli 2022 mendatang. Di tengah orasi Abe, warga yang berkerumun tiba-tiba dikejutkan suara tembakan. Dari beberapa rekaman kamera amatir, tampak eks perdana menteri Jepang terlama (2012-2020) itu sudah tumbang dengan bercak darah di kemeja putihnya. Abe yang terluka dalam kondisi kritis segera dibawa ke Rumahsakit Universitas Nara dengan helikopter. Namun nyawanya tak tertolong. Dia meninggal di usia 67 tahun.

  • Kisah Perancang Mode pada Zaman Jepang

    SEBELUM tentara Jepang memasuki Jawa, Hindia Belanda tentu saja bersiap. Bahkan Hindia Belanda dapat kiriman serdadu dari Australia. Peter Sie, seorang bocah keturunan Tionghoa mengamati serdadu yang baru datang itu. Pakaiannya berbeda dengan tentara kolonial KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger). Tentara Australia itu memakai topi yang lebar. Kala itu pelatihan bahaya udara kerap diadakan di beberapa kota. Tak terkecuali di Bogor. Dalam pelatihan bahaya udara, sirine kerap meraung-raung di dalam kota. Hingga muncul sebuah banyolan: Sinds de geboorte van Prinses Irene, kregen we door en door sirine artinya sejak lahirnya Putri Irene, kita terus menerus mendengar suara sirene. Putri Irene adalah anak kedua Ratu Belanda Juliana dan Pangeran Bernhard. “Aku paling senang latihan-latihan serangan udara kalau sirine berbunyi,” kata Peter Sie dalam memoarnya Mode adalah Hidupku. Dia memakai panci sebagai helm,mengenakan kalung dengan bandul perak bertuliskan namanya dan kalung berbandul penghapus karetuntuk digigit jika pengeboman udara terjadi di sekitarnya.

  • Melacak Jejak Jepang di Indonesia

    KEHADIRAN Jepang di Indonesia tak dimulai pada Maret 1942 saat Dai Nippon mengambil alih kekuasaan dari Belanda. Beberapa abad sebelumnya, VOC (Perusahaan Dagang Hindia Timur) berperan dalam menghubungkan orang-orang Jepang dengan Nusantara. Perdagangan VOC merambah wilayah Jepang. Mulanya pusat perdagangan VOC berada di wilayah Hirado. Pada 1641 penguasa Jepang memindahkannya ke Pulau Dejima, Nagasaki, yang dibangun sekitar tahun 1634 hingga 1636. Pulau Dejima menjadi pusat perniagaan VOC yang terbilang sukses di Asia Timur. Pusat dagang ini pula yang menjadi penghubung orang-orang Jepang dengan Nusantara pada abad ke-17. Pada 1621, VOC mempekerjakan samurai tak bertuan atau ronin sebagai tentara bayaran untuk memadamkan perlawanan rakyat Banda yang menolak monopoli perdagangan rempah. Para ronin itu kehilangan tuannya sejak perang Sekigahara berakhir. Diperkirakan sekitar 68 samurai terlibat dalam pembantaian warga Banda.

  • Slamet Rijadi Masa Pendudukan Jepang

    SETELAH lulus Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Ardjoeno, Slamet Rijadi belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Broederan di belakang Gereja Purbayan Solo. Dia tidak tamat sekolah menengah pertama itu karena tentara Jepang keburu mengalahkan dan menduduki Hindia Belanda. Jepang membuka sekolah pelaut di beberapa kota, salah satunya di Cilacap. Slamet Rijadi mendaftar ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) Cilacap. Dia diterima dan berkawan dengan Soejoto dan Wardiman yang belajar navigasi dek. Selain belajar tentang pelayaran, para siswa SPT dibekali pula dengan sedikit teknik militer. Setelah lulus SPT, Slamet Rijadi akan menjadi bintara kapal angkut Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Dia bersama para siswa SPT Cilacap, SPT Tegal, dan SPT Jakarta kemudian dilatih menggunakan senapan mesin Watermantel di Jakarta.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page