Hasil pencarian
Cari di situs ini
10062 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Semut-semut di Ladang Tebu
PARA petani di Papar, Kediri, yang turun-temurun menjadi petani nanas, percaya 1991, tahun ganjil, adalah waktu terbaik menanam nanas. Namun muncul maklumat dari camat bahwa para petani kena giliran menanam tebu. Ia juga mengancam petani yang menolak kewajiban itu tak akan dilayani jika ada keperluan administrasi di kelurahan maupun kecamatan.
- Raja Kristen Bugis
ORANG Sulawesi Selatan sudah punya agama lokal sebelum agama-agama dari luar datang dan dianut hingga sekarang. Islam adalah agama yang kini paling banyak dianut penduduknya meski bukan agama luar yang datang pertama ke sana. Agama Kristen lebih dulu menarik minat beberapa bangsawan Makassar pada abad ke-16. Agama Kristen dan Islam sama-sama dikenal karena perdagangan internasional. Sulawesi Selatan dengan Pelabuhan Makassarnya menjadi salah satu titik di timur dalam perniagaan internasional itu. Dari pelabuhan tersebut, orang Portugis di Malaka mendapatkan beras, kelapa, mangga, pisang, dan sayur-sayuran. Di Makassar, orang Portugis –yang beragama Katolik– itu berurusan dengan bangsawan setempat, entah itu dari Gowa ataupun Tallo. Ketika Portugis punya pangkalan di Ternate, orang Makassar pun pernah datang berkunjung. Kala itu gubernur Portugis di Ternate adalah Antonio Galvao (1490-1557).
- Azab Raja Cabul di Tanah Bugis
PERZINAAN sulit termaafkan dalam masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Tak pandang bulu, entah rakyat atau raja, pelaku perzinaan bisa bernasib nahas. Masyarakat Bugis punya cerita soal hukuman perzinaan. Ada hukum adat bernama Malaweng di sana. Bisa dibilang, Malaweng adalah hukum adat kesusilaan di Sulawesi Selatan. “Malaweng berasal dengan kata lawa, yang berarti pemisah, pagar, penjaga,” catat Ahmad Ubbe dalam Hukum Adat Kesusilaan Malaweng Kesinambungan dan Perubahannya. Kata lawa kemudian mendapat awalan “ma” dan akhiran “ng” sehingga menjadi malaweng. Di Bone, yang berpusat di Watampone yang –dulunya merupakan kerajaan– kini merupakan sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, ada cerita tentang perzinaan. Dahulu kala tersebutlah seorang raja bernama La Inca (kadang disebut La Ica) yang bergelar Matinroe ri-addenenna di Bone. Ia berkuasa di Bone dari 1564-1565.
- A.A. Maramis Melindungi Evert Langkay
SEJAK bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI), pergerakan Mr. Alexander Andries Maramis tak pernah berhenti. Ketika dirinya berpraktek sebagai pengacara pada 1930-an, ikatan dengan pergerakan nasional tetap dijaganya. Setidaknya dengan seorang anggota Soerja Wirawan yang juga berasal dari Minahasa seperti dirinya. Soerja Wirawan merupakan organ kepanduan dari Partai Indonesia Raja (Parindra), yang berdiri sekitar tahun 1935. Pemuda kontak Maramis itu bernama Evert Langkay, yang 16 tahun lebih muda darinya. Evert pernah datang dalam sebuah pertemuan pada 1937 di Gang Kenari, Jakarta Pusat. Seingat Evert yang datang di sana ada Sutan Murad. Namun polisi lalu datang menggerebek pertemuan itu dan Sutan Murad ditangkap. Konon, Murad dibuang ke Tanah Merah, Boven Digoel. Evert sendiri lolos dari jeratan aparat hukum kolonial. “Dalam usia 17 tahun, saya sudah aktif dengan organisasi-organisasi pemuda, antara lain Soerja Wirawan. Karena aktivitas dalam pergerakan pemuda itulah saya sering ditangkap dan dimejahijaukan. Salah seorang di antara mereka yang selalu membela saya di pengadilan kolonial adalah Bapak Mr AA Maramis,” aku Evert Langkay di buku Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan III . Tak hanya di zaman Hindia Belanda, di zaman pendudukan Jepang pun Evert juga berurusan dengan hukum penguasa. Evert pernah dua kali ditangkap tentara Jepang dan mendapat penyiksaan di tahanan. Dalam penangkapannya yang kedua, Evert dituduh menggalang gerakan anti-Jepang dan itu benar. Lagi-lagi Maramis membelanya. Evert pun lolos lagi. Maramis juga memberinya jalan agar tak dicurigai militer Jepang. “Untuk menghindarkan diri dari penangkapan kembali, Mr AA Maramis meminta agar saya bekerja, sebab kalau sampai saya tertangkap untuk ketiga kalinya, hukuman pancung akan pasti dijatuhkan padanya,” kenang Evert Langkay. Evert pun diatur Maramis untuk bekerja di markas Kaigun (Angkatan Laut) di Jalan Bungur Jakarta. Evert ditempatkan di bagian hubungan masyarakat. Di sana dia bertemu pemuda pergerakan macam Wikana dan orang pergerakan tua seperti Mr Achmad Subardjo, Sukarno, Hatta, Iwa Kusumasumantri dan juga Sam Ratulangie. Maramis, menurut Ventje Sumual dalam Ventje Sumual, Pemimpin yang Menatap Hanya ke Depan , sangat dekat dengan kalangan pemuda di Jakarta, terutama pemuda yang berasal dari Minahasa. Rumahnya di pojok jalan simpang Pejambon dan Gambir dijadikan tempat menginap para wakil Sulawesi dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tentu saja Sam Ratulangie kerap bertemu dan bergerak bersamanya. Keduanya berusaha mempersatukan pemuda Minahasa di Jakarta. “Mr Maramis dan Dr Ratulangi saat itu menjadi penasehat dan saya ditugaskan mengkordinir para bekas serdadu KNIL, orang-orang preman, pemuda-pemuda, baik yang berasal dari Sulawesi maupun yang berasal dari daerah sekitar Betawi,” terang Evert Langkay. Pemuda jaringan Evert kerap diajak berkumpul ketika Maramis sedang ikut sidang-sidang penting. Termasuk sidang-sidang BPUPKI tempat Maramis bergabung. Setelah Indonesia merdeka, para pemuda yang dekat dengan Evert itu menjadi bagian dari pasukan bernama Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS). Pemuda-pemuda KRIS itu terlibat dalam banyak pertempuran semasa revolusi mempertahankan kemerdekaan. Namun, Evert tak hanya berjuang bersama rekan-rekan seetnisnya. Berjejaring terus dilakukannya. Jaringannya yang luas itu membuat Evert sempat berjuang bersama Bung Tomo dalam Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) di Surabaya. Evert yang pernah diberi pangkat kolonel, menurut Ventje Sumual, pernah menjadi pucuk pimpinan KRIS. Namun, dia kemudian berselisih dengan Letnan Kolonel Jan Rapar, pemimpin KRIS yang lain. Evert lalu tak di KRIS lagi dan Rapar sempat memimpin laskar itu sebelum akhirnya banyak pemuda KRIS masuk TNI dalam Brigade ke-16.*
- Ketika Habibie Harus Menyelesaikan Kasus Soeharto
MASA baktinya memang singkat: 17 bulan. Namun jika dilihat pencapaiannya dalam memperbaiki negara, B.J. Habibie tentu saja tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada 21 Mei 1998 , dia resmi mengemban tugas sebagai kepala negara, menggantikan kepemimpinan Presiden Soeharto yang telah berjalan sedikitnya selama 32 tahun. Tugas berat pun segera membayangi Habibie. Satu yang menjadi sorotan adalah pemberantasan dugaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) mantan presiden Soeharto dan jajarannya selama memegang kuasa. Persoalan dugaan KKN pemerintahan Soeharto sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat. Banyak kebijakan pemerintah kala itu yang dianggap memuluskan jalan terjadinya KKN. Bahkan aktivitas keluarga Cendana (sebutan media untuk keluarga Soeharto yang tinggal di Jalan Cendana, Jakarta) pun mengarah ke sana. Puncaknya terjadi saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997. Setelah reformasi kasusnya pun mulai diselidiki.
- Sikap Belanda Terhadap Kabinet Sutan Sjahrir
PERDANA Menteri Sutan Sjahrir mengumumkan susunan kabinetnya pada 14 November 1945. Dalam kabinet tersebut, Sjahrir merangkap jabatan Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri. Wakilnya di Badan Pekerja KNIP, Amir Sjarifoeddin juga merangkap jabatan Menteri Penerangan dan Menteri Keamanan. Sebelumnya, Amir menjabat Menteri Penerangan dalam kabinet presidensial Sukarno.
- Jejak Eropa dalam Kuliner Nusantara
SELEPAS Malaka jatuh ke tangan Belanda, orang-orang Cristang (sebutan untuk penduduk Malaka yang masuk Kristen) didera kesulitan ekonomi. Untuk menghemat makanan, mereka memikirkan teknik memasak sayuran dan daging agar bisa tahan lama. Untuk mengolah daging, mereka menggoreng sambil mengaduknya hingga bertekstur hitam dan mengeras dalam kuali tertutup rapat dengan sedikit air.
- Waktu Indonesia Masih Kekurangan Pesawat
PEMERINTAH Indonesia sedang “jor-joran” dalam pengadaan alutsista, terutama pesawat jet tempur. Setelah memborong Rafale dari Prancis, Indonesia dikabarkan membeli puluhan unit pesawat tempur generasi ke-5 KAAN dari Turki. Pengumuman pembelian itu diumumkan Presiden Turki Recep Teyip Erdogan baru-baru ini. “Dalam kerangka kerja sama yang telah kami tandatangani dengan negara sahabat dan saudara, Indonesia, sebanyak 48 unit KAAN akan diproduksi di Turki dan diekspor ke Indonesia,” kata Erdogan di laman X-nya, dikutip cnnindonesia.com, 12 Juni 2025. Terlepas dari pro-kontra yang mengelilinginya, kondisi tersebut jelas berbeda dibanding kondisi ketika Indonesia baru lahir. Kala itu, pesawat masih merupakan barang mewah buat bangsa Indonesia kendati penting. Segelintir pesawat yang dimiliki Indonesia kebanyakan warisan Jepang. Penggalangan dana-penggalangan dana sampai diadakan di beberapa tempat untuk membantu pemerintah membeli pesawat.
- Kudeta Diam-diam Sutan Sjahrir
DI awal kemerdekaan Indonesia, Sutan Sjahrir menjadi tokoh utama yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap kabinet presidensial yang dibentuk Presiden Sukarno. Kritik diarahkan pada usia dan pengalaman para tokoh nasionalis yang menjabat menteri di kabinet tersebut. Pengalaman yang dimaksud Sjahrir adalah peran tokoh-tokoh itu di masa pendudukan Jepang, yang sebagian besar bekerja di lembaga-lembaga bentukan Jepang.
- Membedah Kolonialisme Belanda Lewat Sejarah Kesehatan dan Kedokteran Indonesia
ADA beragam cara yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda untuk melanggengkan kekuasaannya di Hindia Belanda. Relasi kuasa itu tak hanya terlihat di bidang sosial, politik, dan ekonomi, tetapi juga dalam dunia kesehatan. Pandangan dan kebijakan pemerintah kolonial Belanda di bidang pengembangan ilmu kesehatan serta pendidikan dokter di wilayah jajahan inilah yang dikupas oleh sejarawan Hans Pol.
- Mendedah Terminologi Prasejarah
TULISAN atau aksara menjadi indikator pembeda terminologi sejarah dan prasejarah. Prasejarah adalah masa ketika manusia belum mengenal tulisan. Sementara itu, peradaban sejarah ditentukan setelah manusia mengenal tulisan. Dalam rumpun ilmu pengetahuan, sejarah masuk cakupan ilmu sejarah sedangkan prasejarah dalam arkeologi.
- Sikap Fadli Zon Soal Kekerasan Seksual dalam Kerusuhan Mei 1998
PERNYATAAN kontroversial Menteri Kebudayaan Fadli Zon terkait kekerasan seksual terhadap perempuan di tengah kerusuhan Mei 1998 masih terus menjadi sorotan. Kritik dan kecaman masih bermunculan dari berbagai kalangan, meski dia telah mengklarifikasi dalam keterangan tertulis di akun X-nya pada 16 Juni 2025. Ucapan Fadli Zon yang menyebut perkosaan massal dalam kerusuhan Mei 1998 sebagai rumor disampaikan ketika membahas proyek penulisan ulang sejarah Indonesia bersama jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi IDN Times, Uni Zulfiani Lubis, di kanal youtube IDN Times pada Rabu, 10 Juni 2025. “Betul enggak ada perkosaan massal? Kata siapa itu? Enggak ada buktinya. Itu adalah cerita. Kalau ada tunjukkan. Ada enggak di dalam buku sejarah itu? Kan tidak pernah ada. Rumor-rumor seperti itu, menurut saya, tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata Fadli Zon.





















