Hasil pencarian
Cari di situs ini
10061 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Anjing Penjaga Makkah
SEBAGAIMANA musim haji sebelum-sebelumnya, ribuan burung merpati meramaikan sisi selatan Masjidil Haram, Makkah musim haji 2025 ini. Mereka berkeliaran di belakang Zamzam Tower. Burung merpati di sini terlihat lebih ramping daripada burung merpati aduan di Indonesia. Di kompleks Masjidil Haram, merpati-merpati itu sering hinggap di bagian atas atau di atas lampu gantung area tawaf di lantai atas. Namun mereka jarang terlihat di pelataran Ka’bah apalagi di atasnya. Burung merpati adalah burung yang dilindungi di Makkah. “Ada ulama berpendapat bahwa denda burung merpati Mekah adalah kambing. Merpati luar Mekah dan burung Mekah selain merpati dendanya senilai harganya. Ulama yang berpendapat bahwa merpati Mekah dendanya kambing, bertujuan menghormati merpati tersebut,” catat Asmaji Muchtar dalam Fatwa-Fatwa Imam Asy-Syafi’i: Masalah Ibadah . Dulunya, merpati bukan hewan satu-satunya di Makkah. Di era 1950-an, menurut catatan Harun Aminurrashud dalam Naik Haji di Masa Silam, 1954-1964 , lalat pun banyak di Jeddah dan Makkah. Selain itu, anjing dan kucing juga mudah terlihat. Anjing dan kucing di Makkah bertubuh kurus. Kebanyakan anjing dan kucing tak menjadi binatang peliharaan. Keberadaan anjing di Makkah tentu agaklah aneh bagi kebanyakan orang Islam di Indonesia. “Di Mekah banyak anjing berkeliaran,” kata Kyai Haji Mas Mansyur dalam Kiai Haji Mas Mansur, 1896-1946: Perjuangan dan Pemikiran yang disusun Darul Aqsha. Pahlawan Nasional yang dikenal sebagai agamawan itu juga memelihara anjing ketika masih hidup. Anjing sendiri, seperti babi, dalam ajaran Islam merupakan hewan yang mengandung najis, yakni air liurnya. Butuh ritual khusus untuk mensucikan diri atau benda yang terkena liur anjing agar bersih dari najis anjing. Di Indonesia hari ini, tanpa disadari ada opini umum bahwa anjing adalah binatangnya orang Kristen dan kucing adalah binatangnya orang Islam. Padahal, banyak orang Islam di Indonesia yang memelihara anjing sejak dulu, terutama di daerah pertanian. Anjing, yang terkenal sebagai hewan setia, punya reputasi di banyak tempat sebagai hewan penjaga kebun atau pekarangan rumah. Di Makkah pun anjing punya kisah. “Anjing-anjing ini bastar (mahluk) liar dan terlihat di mana-mana, walaupun jinak sekali dan menurut warga sepuh Mekah, belum pernah diketahui menjadi anjing gila atau menggigit siapapun,” Abdul Majid bin Zaenudindari Malaya dalam buku Naik Haji di Masa Silam 1900-1950 . Harun Aminurrashud menyebut, “yang ganjilnya, anjing-anjing itu tidak mau merapati manusia.” Anjing-anjing di sekitar Masjdil Haram ramah terhadap manusia yang ada di sekitarnya. Bukan tanpa sebab hewan yang punya reputasi najis ini dibiarkan berkeliaran di sekitar Masjidil Haram yang jelas-jelas sangat disucikan umat Islam . “Alasan menoleransi binatang najis ini di tanah suci adalah karena mereka melindungi Ka’bah dari pencemaran orang kafir, dan mereka dianugerahi naluri Illahiah untuk mengendus orang kafir yang coba-coba memasuki tanah suci,” catat Abdul Majid bin Zaenudin. “Celakalah orang kafir yang ketahuan, karena konon anjing-anjing ini tidak akan berhenti menggigit mereka sampai mereka mati mengenaskan sebagai hukuman yang layak.” Meski punya reputasi yang mulia sebagai pelindung Ka’bah, sekarang khususnya di musim haji 2025 ini anjing sangat sulit ditemukan lagi di sekitar Masjidil Haram. Kondisinya berbeda dari apa yang terjadi pada abad-abad lalu. Perannya tergantikan polisi dan askar (militer) Kerajaan Saudi Arabia. Riwayat Anjing penjaga Ka’bah pun nyaris hilang dalam dunia Islam.*
- Teror Banzai di Saipan
PULAU SAIPAN, 7 Juli 1944. Matahari belum penuh menampakan diri ketika dua tentara Jepang keluar dari sebuah gua. Begitu sampai di tepi pantai, salah satu dari mereka kemudian bersimpuh di atas pasir laut, lalu sambil merobek perutnya dengan sebilah tanto (pedang pendek khas Jepang) dia berseru: “Tenno heika banzaaii! (Jayalah Kaisar!) Ikut aku! Maju dan cari musuh!” Untuk menuntaskan penderitaan lelaki yang tak lain adalah Letnan Jenderal Yoshitsugu Saito (Panglima Divisi ke-43 Angkatan Darat Jepang) itu, sang ajudan kemudian melepaskan peluru dari sepucuk pistol ke dahi sang jenderal. Berakhirlah hidup seorang samurai yang bertanggungjawab atas keamanan Pulau Saipan tersebut. Serangan Terakhir Sejak penyerangan tentara Amerika Serikat (AS) ke Saipan pada 15 Juni 1944, kondisi tentara Jepang yang berada di pulau tersebut semakin tak menentu. Alih-alih mengalami kemajuan, sejengkal demi sejengkal tanah Saipan dapat dikuasai oleh pasukan AS.
- Jimat Para Pemberontak
PADA 29 September 1887, para pemberontak berkumpul di rumah pemimpin mereka, Haji Wasid, untuk membahas pengumpulkan senjata. Namun, para kiai berpendapat sebaiknya tak usah mencari senjata api. Alasannya, mayoritas pemberontak belum bisa menggunakannya. Untuk mendatangkannya dari luar Banten juga sulit. Mereka bisa mengandalkan kelewang dan yakin akan memenangi perang suci melawan Belanda dan antek-anteknya. Selama tiga bulan terakhir tahun 1887 hingga pertengahan tahun 1888, para pemberontak mempersiapkan diri dengan kegiatan pencak silat, pengumpulan dan pembuatan senjata, dan propaganda ke luar Banten. “Kegiatan lain terus dilakukan, seperti membakar semangat dengan khotbah-khotbah tentang ramalan-ramalan dan ajaran tentang Perang Sabil dan mendorong mereka untuk memakai jimat dan ikut dalam pertemuan-pertemuan keagamaan,” tulis Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888. Dalam lampiran laporan Kontrolir Serang tanggal 19 Mei 1889 No. 16, Snouck Hurgronje menerjemahkan jimat Arab yang digunakan para pemberontak Banten itu. Menurut Hurgronje, sebagaimana dikutip E. Gobe dan C. Adriaansee dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, jimat itu bertuliskan: “Inilah penyelamat yang diberkahi. Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah, ya Yang Hidup, ya Yang Berdiri Sendiri, Engkaulah kujadikan kekuatanku. Maka lindungilah aku dengan perlindungan selengkap-lengkapnya penjagaan...”
- Distorsi Sejarah dan Kebencian pada Sukarno
DALAM sebuah acara persiapan pameran di Rijksmuseum Maret lalu saya bertemu dengan seorang anak veteran perang Belanda. Kalimat pertama yang meluncur deras dari mulutnya adalah kemarahan sekaligus kekecewaan terhadap gambaran kehadiran Belanda di Indonesia pada 1945-1949.
- Maulwi Saelan: Sukarno Tak Terlibat G30S
MAULWI Saelan masih ingat kejadian pada malam 30 September 1965. Saat itu dia sempat menegur Letkol Untung di Istora Senayan yang lalai menjaga salah satu pintu masuk Istora Senayan. Padahal Presiden Sukarno sedang berpidato di hadapan para insinyur di acara Munastek (Musyawarah Nasional Teknik). Maulwi pegang tanggungjawab pengamanan presiden karena Sabur, komandannya, sedang pergi ke Bandung. Selesai acara, ditemani Kolonel Bambang Widjanarko, Maulwi kembali ke Istana mengantar presiden. Sekira pukul 24.00 dia pulang ke rumahnya di Jalan Birah II, Kebayoran Baru. Telepon di rumahnya berdering sekitar pukul 05.10, selepas Maulwi sholat Subuh. Dari seberang, ajudan presiden Kombes Sumirat mengabarkan tentang terjadinya penembakan di rumah Waperdam Leimena dan Menko Hankam/KASAB Jenderal Nasution. Maulwi mengeceknya kemudian. Selang setengah jam kemudian, Sumirat kembali menelepon. Rumah Menpangau Laksamana Omar Dhani dan rumah Brigjen DI Panjaitan juga ditembaki, katanya. Namun, kabar itu segera dia ralat bahwa rumah Omar Dhani tak ditembaki, dan di sekitar Istana Merdeka ada banyak pasukan tak dikenal. Di rumah Maulwi, Kapten Suwarno (Dan Ki I Yon KK) sudah hadir pukul 6 kurang seperempat. “Bapak ada di mana?” tanyanya, yang langsung dijawab Maulwi, “Apakah Bapak tak ada di Istana?” “Tidak ada,” jawab Suwarno. Mereka berdua segera bergegas mencari keberadaan presiden. Rumah Haryati di Grogol menjadi tujuan mereka, sesuai kebiasaan presiden apabila tak di Istana berarti ada di Wisma Yaso atau di rumah Haryati. Namun presiden tak ada di Grogol. Maulwi buru-buru bergegas ke Wisma Yaso namun langkahnya terhenti ketika sebuah jip DKP yang dilengkapi radio transmittor & receiver Lorentz tiba. Dengan alat komunikasi itu Maulwi mencari keberadaan presiden. Akhirnya kontak tersambung dengan para pengawal presiden yang sedang bertugas. Mereka menjawab: iring-iringan presiden sedang menuju Istana Merdeka. Maulwi langsung meminta bicara dengan AKBP Mangil komandan DKP (Detasemen Kawal Pribadi). Keduanya mendapat laporan dari sumber masing-masing mengenai perkembangan situasi dan keberadaan pasukan tak dikenal di sekitar Lapangan Monas. Berbekal informasi itu, Maulwi langsung memerintahkan Mangil agar membawa rombongan presiden ke rumah Haryati di Grogol. Dia menunggu di sana. Namun rombongan presiden keburu sampai dekat air mancur Monas di Jalan Merdeka. Upaya pembelokan melalui Jalan Kebon Sirih sudah telat. Mangil langsung memerintahkan rombongan berbelok di Jalan Budi Kemuliaan, menuju Grogol untuk menghindari pasukan tak dikenal tadi. Rombongan tiba di rumah Haryati pukul 07.00. Laporan yang diterima dari Sumirat segera Maulwi sampaikan kepada presiden. Presiden terhenyak dan berubah air mukanya. “Wah, ik ben overrompeld (wah, saya terguncang , red ),” ujar presiden, kaget. Dia gelisah dan mengatakan kepada Maulwi bahwa mereka tak bisa berlama-lama di sana. Sambil terus mengusahakan kontak dengan panglima ketiga angkatan dan Kodam Jaya, Maulwi berunding dengan Mangil mengenai upaya penyelamatan presiden dan ke mana presiden mesti dibawa. Sementara informasi dari berbagai pihak terus berdatangan. Sempat ada upaya membawa presiden untuk sementara ke rumah Sie Bian Ho, seorang kenalan Mangil di Kebayoran Baru. Tapi presiden sendiri akhirnya yang meminta mereka membawanya ke Lanud Halim Perdanakusuma. “Sesuai prosedur standar operasi (SOP) Resimen Tjakrabirawa, pesawat Jetstar kepresidenan selalu stand by ,” ujar Maulwi sebagaimana dimuat dalam biografinya, Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno . Setelah persiapan singkat, rombongan berangkat ke Halim. Di ruang Komando Operasi, Menpangau Laksamana Omar Dhani sudah menunggu. Di sanalah mereka tinggal untuk beberapa saat sambil terus mengamati perkembangan yang ada. Keterangan Maulwi menggugurkan pendapat Kolonel Bambang Widjanarko, yang mengatakan dalam buku Sewindu Dekat Bung Karno , bahwa Bung Karno terlibat G 30 S. Menurut Bambang, saat di acara Munastek presiden sempat menerima sepucuk surat dari Letkol Untung yang dititipkan lewat Sogol dan Nitri, keduanya anggota Tjakrabirawa bagian hygiene . Presiden, lanjut Bambang, lalu pergi ke toilet ditemani dirinya, Maulwi, dan Mangil. Di teras Istora, presiden berhenti sesaat untuk membaca surat tadi. Isinya, pemberitahuan Untung mengenai akan dimulainya Gerakan 30 September, yang akan menindak sejumlah perwira tinggi AD yang tak disukai Sukarno. “Saya yang terus mendampingi Bung Karno, dan tidak pernah meninggalkannya walaupun sebentar, tidak melihat kedatangan pelayan Sogol yang menitipkan sepucuk surat yang katanya dari Untung untuk diserahkan kepada Bung Karno. Pada malam itu, Bung Karno juga tidak pernah meninggalkan tempat duduk untuk pergi ke toilet dan tidak benar berhenti sejenak di teras Istora yang terang lampunya untuk membaca surat,” bantah Maulwi. Bambang juga menganggap percakapan Kresna dan Arjuna yang dikutip Sukarno dalam pidatonya di Munastek sebagai sinyal kepada Letkol Untung dan komplotannya untuk bergerak. Padahal, Sukarno sendiri menyatakan cuplikan percapakan itu ditujukan untuk memompa semangat para insinyur agar sadar akan peran dan tanggungjawabnya dalam kehidupan berbangsa. “Maka aku sekarang berkata kepada para teknisi, kepada seluruh rakyat Indonesia, mari kita kerjakan kita punya tugas, tanpa menghitung-hitung apa yang nanti terjadi dengan kita,” ujar Sukarno dalam pidato itu, sebagaimana dimuat dalam buku Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaksara yang dieditori Budi Setiyono dan Bonnie Triyana. Menurut James Luhulima dalam Menyingkap Dua Hari Tergelap di Tahun 1965: Melihat Peristiwa G30S dari Perspektif Lain , keterangan Bambang hampir semua dibuat-buat untuk keamanan dirinya dan menjadikan Sukarno sebagai kambing hitam. Pernyataan Bambang itu disampaikannya di depan Kolonel CPM Soegiarjo dan AKBP Azwir Nawie dari Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu) pada 3 Oktober 1970. Hasil pemeriksaannya itu lalu muncul menjadi buku The Devious Dalang: Soekarno and So Called Untung Putsh, Eyewitness Report by Bambang S. Widjanarko yang ditulis Antonie Dake. Bambang kemudian juga membuat memoar. “Uniknya, di dalam bukunya yang berjudul Sewindu Dekat Bung Karno yang terbit pada tahun 1988, atau hampir 18 tahun sesudahnya, Kolonel KKO Bambang Widjanarko sama sekali tidak menyinggung tentang kesaksiannya yang memberatkan Presiden Soekarno yang diberikannya kepada Teperpu,” tulis Luhulima. Kecuali Bambang, Maulwi, Mangil, dan komandan mereka Brigjen Sabur semua dipenjara tanpa pengadilan ketika Sukarno sudah turun dari kursi presiden. Resimen Tjakrabirawa sendiri dibubarkan Soeharto pada 1966. Maulwi sempat menelepon Bambang untuk bertemu guna mendapatkan penjelasan dari informasinya. Bambang menyanggupi. “Tapi sampai dia meninggal, dia nggak pernah mau bertemu saya,” ujar Maulwi kepada Historia .
- Akhir Kabinet Sukarno dan Kemunculan Perdana Menteri
PENUNJUKKAN Sukarno sebagai presiden pertama Republik Indonesia pada 18 Agustus 1945 seakan meligitimasi peran sang proklamator sebagai pemimpin rakyat. Hal ini dipengaruhi oleh popularitasnya sebagai organisator yang menggerakan massa sejak zaman kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang. Ketika kemerdekaan Indonesia mendapat tantangan dengan kedatangan NICA yang membonceng Sekutu, Sukarno tidak hanya tampil sebagai kepala negara, tetapi juga pemimpin revolusi.
- Perang Sepakbola
PARA pemain kesebelasan El Salvador tiba di Tegucigalpa, ibukota Honduras, pada 7 Juni 1969. Mereka akan berlaga melawan tim tuan rumah dalam kualifikasi CONCACAF untuk Piala Dunia. Namun malam harinya, mereka tak bisa tidur. Di depan hotel, para pendukung kesebalasan Honduras mengintimidasi. Keesokan harinya, di lapangan hijau, konsentrasi mereka buyar. Gol Roberto Cardona, striker tuan rumah, di menit-menit akhir menutup peluang mereka mencuri poin. Di El Savador, Amelia Bolanios, gadis berusia 18 tahun, yang menonton siaran langsung dari layar televisi, bunuh diri dengan menembakkan pistol ke dadanya. “Gadis belia itu tak tahan melihat tanahairnya dibuat bertekuk lutut,” tulis harian El Nacional (9/6), dikutip Ryszard Kapuscinski dalam The Soccer War . Presiden El Savador, yang menghadiri prosesi pemakaman Amelia, menggunakan momentum ini untuk membangkitkan nasionalisme rakyatnya. Darah orang-orang El Salvador mendidih. Di pertandingan kedua sepekan kemudian, di kandang El Savador, gantian para pemain Honduras diintimidasi. Pertandingan berakhir dengan skor 3-0 untuk kemenangan El Savador. Hasil itu membuat kedua negara harus memainkan pertandingan penentuan di tempat netral, yakni Mexico City, pada 26 Juni. Di Stadion, pendukung kedua kesebelasan ditempatkan terpisah, sementara di tengahnya 5.000 polisi Meksiko berjaga-jaga. Tensi pertandingan begitu tinggi. Di luar stadion, “Perkelahian, pemerkosaan, dan pembunuhan membuat kota itu menjadi medan pertempuran,” tulis Jan Stradling dalam More Than a Game: When Sport and History Collide . El Salvador menang 3-2 lewat perpanjangan waktu. Pada hari yang sama, El Salvador memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Honduras. Dalihnya, pemerintah Honduras membiarkan terjadinya kekerasan dan pembunuhan terhadap para imigran El Salvador. Ketegangan antara El Salvador dan Honduras sudah dimulai pada 1968. Ini bermula dari ketidakpuasan dan protes rakyat Honduras terhadap pemerintahan Kolonel Osvaldo Lopez Arellano, yang dianggap gagal memperbaiki perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Di tengah kebingungan, pemerintahan Arellano meng-kambinghitam-kan imigran gelap El Salvador, yang berjumlah sekira 300 orang. El Savador adalah negara terkecil dengan jumlah penduduk terpadat di Amerika Tengah. Sebagian besar penduduknya tak bertanah; tanah sebagian besar tanah dikuasai empatbelas keluarga tuan tanah. Penduduk El Savador pun memilih beremigrasi ke Honduras dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Pada Januari 1969, Honduras tak mau memperbarui perjanjian imigrasi 1967 yang ditandatangani bersama El Salvador. Hampir bersamaan dengan itu, Honduras menerapkan UU land reform . “Tapi karena ini adalah pemerintahan oligarki, tergantung pada Amerika Serikat, kebijakan tersebut tidak mengena tanah milik oligarki maupun perkebunan pisang besar milik United Fruit Company,” tulis Kapuscinski. Pemerintah ingin mendistribusikan kembali tanah-tanah milik imigran El Salvador. Tiga bulan kemudian, Honduras mengumumkan bakal mengusir imigran yang memperoleh properti tanpa melalui persyaratan hukum. Kebijakan itu memicu aksi intimidasi, penganiayaan, dan pembunuhan terhadap para imigran El Salvador. Pemerintah Honduras tak turun tangan. Eksodus besar-besaran imigran El Salvador pun terjadi. Pemerintah El Salvador marah dan membawa masalah ini ke Organization of American States (OAS) tapi tak membuahkan hasil. Setelah memutuskan hubungan diplomatik dengan Honduras, El Salvador memilih jalan perang. Pada 14 Juli 1969, El Salvador melancarkan serangan terhadap Honduras. Bombardir udara terhadap kota Tegucigalpa menjadi pembuka perang yang dikenal sebagai Perang Sepakbola atau Perang 100 Jam. “Tujuan El Salvador adalah untuk merebut wilayah Honduras dengan cepat dan menggunakannya sebagai alat negosiasi,” tulis William J. Long dan Peter Brecke dalam War and Reconciliation: Reason and Emotion in Conflict Resolution . Honduras mati-matian mempertahankan wilayahnya. Pesawat-pesawat Angkatan Udara Honduras bahkan terbang ke wilayah El Salvador untuk melakukan serangan balasan. Pertempuran berlangsung selama empat hari sampai OSA memerintahkan gencatan senjata. Meski singkat, pertempuran itu mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, sipil dan militer, dari kedua pihak. Pada 18 Juli, El Salvador akhirnya mau menerima gencatan senjata. Selain karena desakan OSA, di medan perang pasukan mereka kehabisan amunisi dan logistik. Mereka juga sadar dampak buruk lainnya: nasib penduduk yang kembali dari Honduras serta terganggunya perekonomian. Pada akhir Agustus El Salvador menarik pasukannya dari Honduras. Pada Oktober 1969, dalam babak penentuan setelah dua pertandingan sebelumnya saling mengalahkan, kesebelasan El Savador menyingkirkan Haiti dan melaju ke putaran final Piala Dunia 1970 di Meksiko sebagai wakil CONCACAF. Mereka tersingkir di babak penyisihan. Pada 30 Oktober 1980, kedua negara menandatangani perjanjian damai.*
- Momentum Ho Chi Minh
1890 Pada 19 Mei lahirlah Nguyen Sinh Cung, yang kelak lebih dikenal dengan nama Ho Chi Minh. 1907 Ho Chi Minh masuk pendidikan dasar di sekolah setempat, melanjutkan ke akademi bergensi Franco-Vietnam di kota Hue. Tiga tahun kemudian, Ho keluar sebelum lulus dan bekerja sebentar sebagai guru di kota Phan Thiet. 1911 Ho Chi Minh pergi ke Saigon dan bekerja sebagai juru masak di atas kapal laut uap Prancis yang berlayar menuju kota Marseille dan akhirnya menetap di London. 1917 Ho Chi Minh pindah ke Paris selama puncak Perang Dunia I. Mengadopsi nama Nguyen Ai Quoc (Nguyen Sang Patriot) dan terlibat dalam aktivisme kiri dan antikolonial. 1919 Ho Chi Minh bekerja untuk Asosiasi Annamite Patriots, organisasi warga Vietnam di Prancis yang menentang pendudukan kolonial Prancis di Vietnam. Menulis sebuah petisi menuntut diakhirinya kolonialisme Prancis di Vietnam kepada para pemimpin dunia dalam Konferensi Perdamaian Versailles setelah Perang Dunia I. Petisinya tak mendapat tanggapan, tetapi usahanya dikenal baik di Vietnam. 1920 Ho Chi Minh menjadi anggota pendiri Partai Komunis Prancis yang baru dibentuk. 1922 Ho Chi Minh mendirikan jurnal Le Paria (Paria), sebagai sarana antikolonialisme untuk mengekspresikan dan menyebarkan pandangan tentang rezim kolonial Prancis. 1923 Ho Chi Minh melawat Rusia untuk kali pertama. Berkenalan dengan para pemimpin Rusia seperti Nikolai Bukharin, Leon Trotsky, dan Joseph Stalin pada kunjungan berikutnya, dilatih sebagai agen Komintern dan mempelajari pemikiran Marx dan Lenin serta teknik organisasi dan revolusioner. 1925 Ho Chi Minh melakukan perjalanan ke China, menyulut revolusi sosialis bersama Mikhail Borodin, rekannya di Komintern. Kemudian membentuk Thanh Nien Cach Menh Dong Chi Hoi (Liga Pemuda Revolusioner), yang lebih dikenal sebagai Thanh Nien (Pemuda). Organisasi orang buangan Vietnam yang tinggal di China ini mulai membangun hubungan dengan kelompok-kelompok nasionalis dan revolusioner di Vietnam serta menerbitkan jurnal revolusioner Than Nien , yang didistribusikan secara diam-diam ke seluruh Asia Tenggara. 1927 Ho Chi Minh melarikan diri ke Rusia setelah Chiang Kai-shek, pemimpin Partai Nasionalis (Guomindang), mengambil tindakan keras terhadap sayap kiri radikal, memenjarakan dan mengeksekusi ratusan komunis dan aktivis buruh. Dia menghabiskan beberapa tahun di Rusia, tapi sering mengunjungi China untuk merekrut anggota untuk Thanh Nien. 1930 Ho Chi Minh mendirikan Partai Komunis Vietnam (VCP) di Hong Kong, kemudian berganti nama menjadi Partai Komunis Indochina (ICP). 1931 Ho Chi Minh ditangkap oleh pemerintah Inggris karena keterlibatannya dalam kegiatan revolusioner dan dipenjara selama dua tahun. Setelah bebas, dia kembali ke Moskow dan tinggal di sana sampai 1938. 1938 Ho Chi Minh melawat ke China untuk bertugas sebagai penasihat militer Partai Komunis China setelah invasi Jepang ke China pada 1937. Partai Komunis China dan Guomindang, yang sebelumnya terlibat perang saudara, sepakat gencatan senjata hingga Jepang kalah. 1940 Pasukan Jerman menyerbu Prancis. Pasukan Jepang bergerak ke Vietnam. Pemerintah kolonial Prancis setuju untuk mengizinkan pendudukan Jepang dengan ketentuan bahwa pemerintahan kolonial Prancis tak diambil alih. 1941 Ho Chi Minh kembali ke Vietnam untuk pertama kalinya sejak dia meninggalkan negara itu pada 1911. Dia mendirikan Viet Nam Doc Lap Dong Minh (Liga Kemerdekaan Vietnam), kemudian dikenal sebagai Viet Minh, sebuah organisasi kelompok nasionalis dan komunis Vietnam yang berkomitmen untuk kemerdekaan Vietnam. Selama pendudukan Jepang di Vietnam, Viet Minh berperang melawan penguasa kolonial Prancis maupun pasukan Jepang yang menduduki Vietnam. 1942 Ho Chi Minh ditangkap pemerintah Partai Nasionalis (Guomindang) di China dan dipenjara. Ho mulai menggunakan nama samaran Ho Chi Minh (Dia yang Menerangi). 1945 Pada akhir Perang Dunia II, Ho Chi Minh mengatur Viet Minh untuk memicu pemberontakan berskala besar di Vietnam. Viet Minh menguasai kota-kota besar di Vietnam dan mendeklarasikan Vietnam sebagai sebuah negara merdeka. Vietnam dikenal sebagai Republik Demokratik Vietnam, dan Ho Chi Minh menjadi presiden pertama. Namun, pada Juli dan Agustus, Blok Sekutu bertemu di Berlin dalam Konferensi Potsdam dan setuju membagi Vietnam menjadi Utara dan Selatan. 1946 Ho Chi Minh menandatangani perjanjian dengan Prancis bahwa Vietnam diakui sebagai negara independen, dengan ketentuan menjadi anggota Uni Prancis dan mengizinkan kehadiran militer Prancis dalam jumlah kecil. Perjanjian ini terbukti lemah ketika ketegangan meningkat antara Prancis dan Vietnam, yang akhirnya memicu perang skala penuh. 1951 Partai Pekerja Vietnam (Lao Dong), penerus Partai Komunis Indocina (ICP), didirikan. 1954 Vietnam mengalahkan pasukan Prancis di Dien Bien Phu, menandai runtuhnya kekuasaan Prancis di Vietnam. Pada Konferensi Jenewa diputuskan bahwa Vietnam tetap terbagi menjadi wilayah Utara di bawah kontrol Viet Minh, dan wilayah Selatan di bawah kekuasaan Prancis sampai pemerintah Vietnam Selatan yang baru bisa didirikan. Dengan dukungan Amerika Serikat, Ngo Dinh Diem diangkat sebagai perdana menteri Vietnam Selatan. 1955 Amerika Serikat mulai memberikan bantuan militer kepada rezim Diem. Didorong kebijakan represif Diem, orang-orang komunis yang tinggal di Vietnam Selatan diorganisasi kelompok-kelompok bawah tanah dan mulai melakukan perang gerilya melawan rezim Diem. Pemberontak ini kemudian dikenal sebagai Viet Nam Cong San (Vietnam Komunis) atau Viet Cong. 1960 Gerilyawan komunis di Vietnam Selatan membentuk Front Nasional untuk Pembebasan Vietnam Selatan, juga dikenal sebagai Front Pembebasan Nasional (NLF). Vietnam Utara setuju memberi bantuan militer dan dana bagi NLF. Sementara Ho Chi Minh tetap menjadi presiden Vietnam Utara, dia mengundurkan diri sebagai pengambilan keputusan aktif karena faktor kesehatan. 1961 Amerika Serikat meningkatkan bantuan militer kepada Diem. Diem meningkatkan tindakan represif terhadap para pembangkang politik, tapi tetap tak dapat membasmi perlawanan Viet Cong. 1963 Diem terbunuh dalam kudeta militer. 1964 Kapal Amerika yang berpatroli di Teluk Tonkin diduga diserang kapal-kapal Vietnam Utara. Sekalipun serangan yang dikenal sebagai Peristiwa Teluk Tonkin ini tak pernah mendapat konfirmasi meyakinkan, AS menjadikannya alasan untuk perang penuh melawan pasukan komunis di Vietnam. 1965 Amerika Serikat memulai kampanye militer penuh terhadap Viet Cong di Vietnam Selatan. Keterlibatan langsung Amerika berlangsung hingga 1973. 1968 Dalam serangan militer besar-besaran, yang dikenal sebagai Serangan Tet, Viet Cong merebut kembali kota-kota di bawah pendudukan AS. Serangan ini mengubah opini publik di AS dan membuat AS mempertimbangkan penarikan pasukan mereka dari Vietnam. 1969 Ho Chi Minh meninggal dunia pada 2 September di usia 79 tahun. Majalah Historia No. 5 Tahun I 2012
- Dari Badjak Laoet ke Batalyon Abdullah
SETELAH 1946, pasukan Badjak Laoet yang dipimpin oleh Abdullah alias Dullah ikut bergeser makin ke selatan dari Sidoarjo dalam Pertempuran Surabaya. Di sana, Badjak Laoet bertambah kuat lantaran isinya ditambahkan unsur dari pasukan 0032 pimpinan Letnan Soeharto. Pasukan itu kemudian menjadi bagian dari Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan lebih dikenal dengan Batalyon Abdullah –di masa revolusi, ada tren nama pasukan berdasarkan nama komandannya. Situasi negeri yang kala itu sedang kacau membuat Batalyon Abdullah mesti ke mana-mana ikut tugas memanggil. Saat terjadi apa yang dinamakan “Kudeta 3 Juli 1946” di ibukota Yogyakarta oleh kelompok Tan Malaka yang gagal, pasukan yang dipimpin Abdullah juga ikut serta dalam penanggulangan kudeta tersebut. “Beberapa pasukan dari ALRI Pangkalan VII diperintahkan berangkat ke Jogjakarta untuk turut menenteramkan suasana di ibu kota revolusi yang genting itu. Di antara pasukan-pasukan yang diberangkatkan itu terdapat pula sedjumlah pasukan jang dipimpin oleh Kapten Abdullah,” catat Radik Djarwadi dkk dalam Pradjurit Mengabdi Gumpalan Perang Kemerdekaan Bataljon Y . Masalah Kudeta 3 Juli tidak berlarut-larut karena para pemimpinnya sudah ditangkapi. Jadi meski tak menghadapi tentara Belanda, pasukan Abdullah tetap sibuk. Pada bulan berikutnya, Agustus 1946, beberapa anggota pasukan Abdullah yang berasal dari pasukan 0032 ada yang dikirim ke Banyuwangi dan Bangil. Mereka yang dikirim ke Banjuwangi dipimpin Letnan Satu Soelaeman, sementara yang dikirim ke Bangil dipimpin Letnan Dua Soeparto. Pasukan Abdullah dikirim pula sampai ke Jawa Barat. Antara 22 Oktober 1946 hingga 16 November 1946, mereka ditugaskan ikut mengawal perundingan di Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat. “Menjelang akan diadakannya perundingan antara Indonesia-Belanda di Linggardjati, maka sebagian dari pasukan Kapten Abdullah dikirimkan ke Cirebon untuk melakukan tugas pengawalan. Pasukan ini dipimpin sendiri oleh Kapten Abdullah,” catat Radik Djarwadi. Ketika ALRI Pangkalan VII berada di Lawang, pasukan yang disebut Barisan Pelopor pimpinan Kapten Abdullah pernah berbasis di Punten, Batu dan Bululawang. Pasukan Abdullah yang mulanya batalyon dalam Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) itu kemudian terkena reorganisasi setelah pemerintahan Hatta mengeluarkan kebijakan itu pada awal 1948. Reorganisasi di Angkatan Laut pada 1948 telah membuat ALRI kehilangan Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) yang menjadi kekuatan tempurnya. TLRI itu dipindahkan ke Angkatan Darat. Bekas Barisan Pelopor pimpinan Abdullah kemudian menjadi Depot Batalyon, yang dalam perjalanannya pernah berada di Brigade 16 Divisi I TNI. Kala itu pangkat Abdullah tetap mayor sedangkan panglima Divisi I adalah Kolonel Sungkono. Depot Batalyon lalu berganti menjadi Batalyon XVII dengan Mayor Abdullah tetap komandannya. Ketika meletus Peristiwa Madiun 1948, batalyon XVII dikirimkan ke daerah Rembang dan Tuban. Mayor Abdullah berusaha mengurangi jumlah korban dalam konflik antara kelompok Musso-Amir dengan pemerintah pusat pimpinan Hatta tersebut. “Penjagaan TNI terutama terbatas di Tuban dan Rembang. Di tempat-tempat itu bertugas bagian-bagian dari batalyon XVII dari Mayor Abdullah yang baru saja diresmikan dalam Brigade 1 dari Letnan Kolonel Sudirman,” catat Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Volume 9. Pada akhir 1948 pasukan Abdullah dipecah. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan taktis. “Bataljon XVII dipecah mendjadi dua; dua kompi menuju Kabupaten Tuban, dua kompi lainnja menuju ke Tretes-Lawang dan meneruskan perang gerilya di masing-masing daerahnya,” terang Radik Djarwadi. Batalyon XVII ikut bergerilya melawan Belanda setelah militer Belanda kian agresif. Seperti apa perjuangan Batalyon Abdullah itu melawan Belanda, akan dikisahkan dalam tulisan berikutnya. (Bersambung).
- Akhir Kisah Mayor Abdullah
KEMELUT di Makassar pada awal 1950-an akibat beberapa pemberontakan membuat pemerintah serius mengatasinya. TNI selaku alat pertahanan mengirimkan lebih banyak tentaranya ke Makassar. Batalyon XVII yang dipimpin Mayor Abdullah juga ikut didaratkan ke Sulawesi Selatan. Mulanya, Batalyon Abdullah termasuk ke dalam tiga batalyon dari Brigade Mataram yang akan didaratkan di Bantaeng. Namun kemudian dua batalyon lain langsung menuju ke Makassar. Menyisakan Batalyon Abdullah yang diperintahkan tetap mendarat di Bantaeng dengan diantar kapal motor Kaimana. “Pada tanggal 26 April 1950 jam 05.00 pagi setibanya di tempat yang dituju sekoci-sekoci diturunkan guna mengangkut pasukan-pasukan yang akan melakukan pendaratan pertama,” catat Radik Djarwadi dalam Pradjurit Mengabdi Gumpalan Perang Kemerdekaan Bataljon Y.
- Yang Tersisa dari Saksi Bisu Romusha di Bayah
PEDESTAL berbalut cat hitam itu masih bertahan. Tidak seperti bangunan persegi setinggi kira-kira dua meter di atasnya yang, sayang, sudah tumbang. Pecahan keramik putih yang menyelimutinya bertebaran di ilalang sekitarnya. Masyarakat sekitar menyebutnya Tugu/Monumen Romusha. Letaknya di tepian Jalan Raya Bayah-Malingping, tak jauh dari SMPN 1 Bayah, Banten. Disebut tugu peringatan karena dikatakan masyarakat setempat, situs itu merupakan bekas salah satu kuburan massal romusha. "Iya (itu) Tugu Romusha. Saya di sini sudah 33 tahun, tugunya sudah ada," ujar Cucu Sulastri, warga setempat, kepada Historia , Jumat (19/1/2024). Monumen itu masih berdiri tegak saat Historia menyambanginya, Kamis (18/1/2024) sore. Akan tetapi ketika kembali menengoknya sehari berselang, Jumat (19/1/2024), situs itu sudah roboh. Cucu yang memiliki toko pakan hewan di samping situs itu menduga badai hujan ekstrem sejak petang kemarin jadi penyebabnya. "(Tumbang) kira-kira jam 4 pagi. Mungkin karena hujan angin gitu. Soalnya kan tidak ada (terjadi) gempa," imbuhnya. Baca juga: Monumen Sukarno Resmi Berdiri di Aljazair Cucu Sulastri (kanan) yang buka warung/toko di sebelah tugu/monumen (Randy Wirayudha/Historia) Ironisnya kala mendatangi situs itu sebelum roboh, kondisinya memang sangat tidak terawat. Jangankan terawat, prasasti yang menerangkan identitas dan latar belakang sejarahnya pun sudah hilang. Belum lagi ilalang lebat yang menyelimuti sekelilingnya dan anak tangganya dan kondisi bendera merah-putih di pucuk bangunan itu sudah lusuh dan rusak di tepian kainnya. Padahal situs merupakan satu-satunya pengingat paling jelas soal sejarah kelam romusha atau pekerja paksa zaman pendudukan Jepang (1942-1943) di pesisir selatan Banten. Menurut rekan seprofesi yang kampung halamannya tak jauh dari Bayah, memorabilia lain sisa romusha sudah hilang seiring zaman, di antaranya jejak rel keretaapi Bayah-Saketi dan stasiun kecilnya sebagai sarana angkut eksploitasi batubara. Informasi lain juga menyebutkan terdapat sumur dan kuburan massal romusha serta gua bekas tambang batubara di Pantai Pulo Manuk yang berlokasi tujuh kilometer dari situs monumen itu. Sayangnya tidak ada tanda-tanda keberadaannya ketika Historia melacaknya ke pantai yang sudah jadi destinasi wisata itu. Hanya saung-saung yang bertebaran untuk pengunjung semata sepanjang mata memandang di segenap bibir pantai berkarang tersebut. Baca juga: Monumen yang Ternoda Tugu Romusha sebelum (kiri) dan sesudah roboh (kanan) (Randy Wirayudha/Historia) Bung Karno dan Tan Malaka di Antara Romusha Tanah di Bayah diketahui kaya akan batubara sudah sejak era kolonial. Sebuah perusahaan partikelir sudah mendapat izin untuk membuka tambangnya sejak 1903, kendati hingga Jepang menduduki Pulau Jawa pada April 1942, tambang itu tak kunjung dibuka. Kekayaan alam yang potensial untuk bahan bakar fosil itu pun jatuh ke tangan Jepang. "Bayah waktu itu merupakan pusat eksploitasi tambang batubara. Pasokan kebutuhan batubara untuk Pulau Jawa yang sebelumnya dipasok dari Sumatera, terhenti karena operasi militer pasukan Sekutu," tulis Yudi Latif dalam Mata Air Keteladanan : Pancasila dalam Perbuatan . Guna keperluan eksploitasi cadangan batubara yang kala itu diperkirakan hingga 20 juta ton itu, Jepang lebih dulu membuat infrastrukturnya berupa jalur keretaapi Bayah-Saketi sepanjang 89 kilometer beserta stasiun kecilnya. Namu amat disayangkan, nyaris tidak ada sisa yang tertinggal. Untuk kebutuhan mendesak pembangunan jalur itu, Jepang mendatangkan puluhan ribu romusha dari Jawa Tengah dan Jawa Timur via ajakan tokoh nasionalis Sukarno alias Bung Karno yang mengetuai Poesat Tenaga Rakjat (Poetera). Pembangunannya dimulai medio 1943 dan selesai pada Maret 1944. "Setidaknya sekitar 30.000 pekerja (romusha) membangun jalan keretaapi ini. Banyak yang tewas karena malaria dan kekurangan makanan," imbuhnya. Baca juga: Awal Mula Tambang Batubara Bung Karno tidak hanya memandori proyek yang banyak memakan korban itu. Tetapi juga ikut menyisingkan lengan baju sebagai pekerja bernomor lengan "970". Belakangan ia menyesalinya. "Dalam kenyataannya, aku-Soekarno-yang mengirim mereka pergi bekerja. Ya, akulah orangnya. Aku menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Ya, ya, ya, ya akulah orangnya. Aku membuat pernyataan untuk menyokong pengerahan romusha," aku Bung Karno dalam otobiografinya yang dituliskan Cindy Adams, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia . Bung Karno saat berpidato di hadapan para romusha (Repro: Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia ) Saat jalur keretanya sudah rampung, eksploitasi batubaranya pun dimulai. Pemerintah militer Jepang memberi konsesinya kepada perusahaan swasta Bayah Kozan milik keluarga pebisnis Sumitomo. Namun di samping itu, kondisi para romusha di tambang batubara juga tidak lebih baik dari mereka yang menderita di proyek pembangunan keretanya. "Ribuan orang (romusha) tewas selama operasi penambangan di Bayah yang saat itu terkenal dengan wabah kudis, disentri, dan malaria," sambung Yudi. Sementara Jepang yang menikmati hasilnya. Diperkirakan Jepang mengeruk 300 ton batubara per harinya. Baca juga: Romusha di Seberang Lautan Penderitaan puluhan ribu romusha itu turut jadi perhatian aktivis kiri, Tan Malaka, yang kebetulan menjadi pekerja di pertambangan itu. Dengan nama samaran Iljas Hoessein, Tan berangkat dari Jakarta setelah melihat sebuah pengumuman lowongan kerja juru tulis yang dilihatnya usai ke perpustakaan. Tan lalu melamar dan diterima. Sebagai juru tulis di Bayah Kozan, Tan diam-diam menyusup dan berbaur dengan para romusha di pertambangan tersebut. Tan nyaris tak pernah berdiam di belakang meja. Ia lebih sering "blusukan" ke beberapa situs tambang di dekat Pantai Pulo Manuk untuk menilik lebih dalam kondisi para romusha. Beberapa kali pula ia mencatat data kematian, yang tertinggi mencapai 500 jiwa per bulannya. Pantai Pulo Manuk di Bayah, Banten (Randy Wirayudha/Historia) Acapkali ia juga menyebar nasihat di antara para romusha akan pentingnya menjaga kesehatan demi menekan angka kematian. Saking ibanya, kadang Tan Malaka juga merelakan upahnya untuk dibelikan makanan tambahan kepada mereka yang sering kekurangan makanan. Para romusha itu diupah dengan sangat memprihatinkan: 40 sen per hari dan 250 gram beras. Inisiatif lainnya, sebagaimana disingkap buku Cerita Pilu Korban Kerja Paksa Romusha Jepang , adalah dengan menggalang pemuda setempat untuk mendirikan beberapa dapur umum dan rumahsakit darurat. Itu ia lakoni karena usulannya kepada Jepang untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja berkali-kali menemui jalan buntu. "Kita dapat mempraktikkan rasa tanggung jawab terhadap golongan bangsa Indonesia yang menjadi korban militerisme Jepang," tukas Tan Malaka dalam memoarnya, Dari Penjara ke Penjara. Baca juga: Batik Romusa dari Banten Selatan
- Sang Pelukis Rakyat
SUKARNO ingin merayakan ulangtahun pertama kemerdekaan Indonesia dengan pesta seni lukis. Dia meminta pelukis Hendra Gunawan pameran tunggal. Perhelatan digelar di gedung Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Jl. Malioboro, Yogyakarta. Di luar protokoler, Hendra diam-diam mengumpulkan puluhan gelandangan dengan penampilan kere untuk menjadi tuan rumah pameran. Protokol presiden menolak gagasan itu. Hendra bergeming. Saat pameran dibuka, Sukarno disambut para gelandangan. Sukarno terkejut, tetapi dia mengangguk dan memeluk Hendra.





















