Hasil pencarian
Search this site
9978 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Spirit Merah Putih Ahmad Subardjo di Negeri Belanda
TEUKU Abdul Manaf. Itulah nama yang diberikan kepada Ahmad Subardjo saat menyapa dunia pada 23 Maret 1896 di Teluk Jambe, Karawang. Sejak namanya diganti, sosok keturunan Aceh itu hampir tak pernah menggunakan nama Abdul Manaf lagi, kecuali pada saat darurat di Belanda maupun Jerman. “Nama Teuku Abdul Manaf kadang-kadang dipakai untuk siasat saja ketika di Belanda. Jadi waktu pelarian di Berlin, dia pakai nama Teuku Abdul Manaf karena waktu itu kan Pak (Mohammad) Hatta dan teman-teman ditangkap di Belanda tapi Pak Subardjo, karena lagi ada di luar Belanda, enggak tertangkap. Dengan menggunakan Teuku Abdul Manaf sepertinya hilang dari jejaknya Belanda. Jadi strategislah. Teuku Abdul Manaf tetap dipakai sebagai kebanggaan dia sebagai orang Aceh,” demikian Hutomo Said Effendi, cucu Ahmad Subardjo, berkisah saat disambangi Historia.ID di Bintaro, Tangerang Selatan. Pelarian Subardjo terjadi medio 1927. Tak lama setelah Subardjo dan rekan-rekannya dari Perhimpunan Indonesia (PI) menghadiri Kongres Anti-Imperialisme dan Anti-Kolonialisme.
- Ahmad Subardjo Melawan Penjajahan dari Sarangnya
NUN jauh dari tanah kelahirannya, Ahmad Subardjo untuk kali pertama menginjakkan kaki di Belgia. Sejak merantau ke Eropa, dia bermukim di Leiden, Belanda. Namun, pada pekan kedua Februari 1927, dia berkunjung ke Brussel, ibu kota Belgia, untuk menghadiri Kongres Anti Imperialisme sedunia. “Mereka berkumpul di sana dan saling bersuara untuk melawan kolonialisme dan imperialisme,” kata Hutomo Said, cucu Ahmad Subardjo, kepada Historia.ID. Subardjo datang ke Belgia bersama rekan sesama mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia. Mereka antara lain Mohammad Hatta, Gatot Tarunamihardja, dan Muhammad Nazir Datuk Pamuntjak. Para pemuda Indonesia inilah yang menjadi delegasi dalam Kongres Anti Imperialisme.
- Ahmad Subardjo Menjadi Pengacara dan Merantau ke Jepang
SETELAH meraih gelar Meester in de Rechten atau sarjana hukum dari Universitas Leiden, Belanda, Ahmad Subardjo kembali ke Indonesia pada April 1934. Sejalan dengan sikapnya yang nonkooprasi atau tidak bekerja sama dengan Belanda, Subardjo memilih bekerja sebagai pengacara. Mula-mula Subardjo bekerja di kantor hukum Mr. Sastromulyono di Semarang. Setelah beberapa bulan dia pindah ke Surabaya dan bekerja sebagai ahli hukum junior di kantor hukum Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo. Sekembali dari studi di Belanda, Mr. Iskaq aktif dalam Bandung Studie Club yang dipimpin Sukarno. Kelompok ini kemudian menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Pemerintah kolonial menuduh PNI bermaksud menumbangkan pemerintah kolonial. Sukarno sebagai ketua partai bersama Gatot Mangkupradja, Maskun, dan Supriadinata dipenjara dan PNI menjadi perkumpulan terlarang.
- A History Teacher at Red Schools
ONE day in August 1934, a letter arrived from Batavia. The sender was Soegiarti, Maria’s friend from her college days in Leiden. The letter contained an offer: inviting Maria to become a teacher at a Muhammadiyah school in Batavia. The letter arrived just as Maria’s contract as a temporary employee in Cirebon Regency was coming to an end. “Soegiarti sent me a letter. She offered me a teaching position at a Muhammadiyah school. She already knew me and she was familiar with my character,” Maria told Dewi Fortuna Anwar, who interviewed her. Soegiarti had once shared a boarding house with Maria at Witte Single 25. She was studying to become a teacher in order to earn her hoofdacte diploma, a kind of certification to become a school principal. In Batavia, Soegiarti taught at a Muhammadiyah secondary school. Maria didn't turn down Soegiarti’s offer because the opportunity was a perfect fit for her. Mohammad Achmad, Maria’s father, who was the regent of Kuningan at the time, gave her permission to go to Batavia. “My father was quite progressive. So, he simply allowed me to do as I wished,” Maria said.
- Menilik Koleksi Lukisan Adam Malik
SELAIN sebagai tokoh pejuang Angkatan ‘45, Adam Malik juga dikenal sebagai tokoh pers, diplomat, dan wakil presiden periode 1978–1983. Tetapi, tak banyak yang tahu bahwa Adam Malik merupakan kolektor seni yang loyal. Ketika Museum Seni Rupa dan Keramik berdiri setengah abad silam, fondasi awalnya berasal dari koleksi Adam Malik. “Beliau menghibahkan koleksi lukisan dan koleksi keramik kepada Museum Seni Rupa dan Keramik. Ada lebih dari 50 lukisan dan lebih dari 50 keramik yang dihibahkan Bapak Adam Malik kepada Museum Seni Rupa dan Keramik,” kata Sri Kusumawati, kepala Unit Pengelola Museum Seni Jakarta, dalam seminar kuratorial “The Adam Malik Collection: 50 Tahun Museum Seni Rupa dan Keramik” di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, 20 Agustus 2026. Sebelum menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik, museum ini bernama Balai Seni Rupa Jakarta, yang merupakan tonggak penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Ia menjadi galeri seni rupa pertama untuk publik dengan koleksi berstandar nasional, jauh sebelum hadirnya Galeri Nasional. Balai Seni Rupa Jakarta dibuka pada 20 Agustus 1976 dengan 50 koleksi lukisan langka yang dikenal sebagai Koleksi Adam Malik.
- Partai Murba Seperti Tan Malaka
PEMBAHASAN mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di media sosial. Pendeknya, Tan Malaka kini menjadi buah bibir banyak orang setelah berpuluh tahun dilupakan. Kisah petualangan politiknya serupa cerita detektif yang selalu menarik untuk dibicarakan. Namun demikian sedikit saja pembahasan tentang partainya, Murba. Partai yang didirikan pada 7 November 1948 itu tak pernah sempat dia ketuai. Tan Malaka hanya mendirikannya dan lantas menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada kader-kadernya. Dia memilih untuk berkeliling, menempuh jalan gerilya walaupun kemudian mati di ujung senapan saudara sebangsa. Partai Murba sempat hidup lama. Paling tidak melintasi masa kemerdekaan sampai kemudian peralihan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, hingga tiba masa fusi pada 1973 yang menghilangkan eksistensi partai era revolusi ini dari atas panggung politik nasional. Tapi peran dari tokoh-tokohnya masih lumayan terlacak. Sebut saja semisal Adam Malik. Adam Malik, si kancil cerdik, bisa selamat melampaui zaman pancaroba kekuasaan. Dia berjaya di masa Sukarno, dan tak tergusur di era Soeharto. Sedangkan sederet tokoh Partai Murba lain eksis sebagai politikus yang mengkader anak-anak muda penerus ideologi Murba, salah satunya Wasid Suwarto. Tapi Partai Murba seperti Tan Malaka. Ia bergelap-gelap dalam terang dan berterang-terang dalam gelap. Partai ini sempat hidup kembali setelah Soeharto jatuh, menjadi peserta Pemilu 1999. Namun, lagi-lagi sebagaimana yang pernah dialami pada Pemilu 1955, Partai Murba gagal meraih kursi di dalam parlemen. Historia merekam perjalanan Partai Murba, mulai berdiri hingga mati suri dan lantas berdiri lagi di masa Reformasi untuk kemudian tenggelam lagi. Partai yang punya akar sejarah ke masa lalu seorang tokoh legendaris dalam sejarah di Indonesia itu ternyata tak membantu eksistensinya. Tapi paling tidak partai era revolusi itu pernah mewarnai sejarah Indonesia. Berikut ini laporan khusus Partai Murba: Partai Pamungkas Tan Malaka Riwayat Laskar Rakyat Jalan Murba Menuju Pertempuran Media Massa Murba Murba Berseteru dengan PKI Dalih Pembubaran Murba SOBRI Bukan SOBSI PRRI Kecil Hingga Pulau Terpencil Perwamu dari Politik Hingga Sosial Perta Membendung Pengaruh BTI Mahasiswa Murba Berburu Tikus Okra Menjalin Kerjasama Budaya Murba Hidup Lalu Redup Senjakala Partai Murba Misi Murba dalam PDI Murba Bangkit Lagi Gagal Lagi
- Membuka Bab Sejarah Jilbab
SUATU hari, aktris senior Ida Royani merasakan keganjilan ketika berbelanja di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan. Orang-orang menatapnya dengan pandangan aneh. Tapi, pasangan duet Benyamin Sueb itu tak peduli. Dia menikmati shopping time-nya. Ida mafhum orang-orang kaget terhadap penampilannya. Hal itu membuatnya tetap enjoy ketika merasakan pengalaman serupa di sebuah acara pernikahan yang dia datangi. "Tahun 1978 itu aku pergi ke pesta kawin. Nggak ada satu pun orang pakai jilbab, cuma aku sendiri. Orang ya pada aneh ngelihatin," ujarnya kepada Historia.ID ketika ditemui di rumahnya, Cinere, Jakarta Selatan.
- Jilbab Terlarang di Era Orde Baru
HARI-hari Rani di bulan Januari tahun lalu berlangsung penuh gairah. Hampir setiap waktu, perempuan muda berparas cantik itu membuka situs-situs internet yang mengajarkan pemakaian jilbab sesuai mode yang sedang trendi. Tujuannya: supaya ia bisa tampil menarik dan terpilih sebagai salah satu pemenang kontes jilbab nasional yang disponsori oleh sebuah perusahaan pencuci rambut terkemuka di Indonesia. "Kalau udah menang kan jadinya aku dikenal banyak orang dan bisa bikin bangga keluarga," kata mahasiswi semester awal di sebuah perguruan tinggi negeri itu. Apa yang tengah dilakukan Rani mustahil terjadi sekitar 30 tahun lalu. Alih-alih mengadakan kontes, sekadar memakai jilbab pun adalah sesuatu yang terlarang bagi para siswi dan sebagian mahasiswi kala itu.
- Roommates at Witte Singel 25
The HOUSE at 25 Witte Singel Street in Leiden is no longer there. On that same site now stands the campus of the Faculty of Humanities at Leiden University, one of the oldest universities in Europe. Not far from that building stands the KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, or the Royal Institute for Language, History, and Anthropology), which is complemented by a library housing a wealth of historical information on former Dutch colonies, from Indonesia to Suriname. Witte Singel, and later Morsweg as well, are part of Leiden’s old town, and both served as hubs for Indonesian student housing during different eras. Both are close to the center of academic life, the Academy Building (Academie Gebouw) on Rapenburg, whose waiting room walls still bear the names of prominent figures such as Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka. Understandably, Leiden is a small city and the second-oldest university town. Its city center also served as a venue for political activities, such as Hogewoerd street, which once housed the Anti-Imperialist League. Meanwhile, Witte Singel itself is the longest and most beautiful canal in a Dutch city, winding like a snake and making it a favorite residential area for both the academic elite and students living in boarding houses. At that location, from 1929 to 1933, Maria Ullfah once shared a boarding house with Siti Soendari, the youngest sister of one of Boedi Oetomo founders Dr. Soetomo. Maria and Soendari didn't share a room, but they shared several other things. Maria received a monthly allowance of 150 gulden from her father. At that time, rent for a room without meals was 40 gulden, while rent for a room with meals was 75 gulden. To save money, she paid for a room without meals. Siti Soendari, who was less careful with her spending, shared the cost of daily groceries with Maria. Maria handled their household affairs.
- Awak Artileri dalam Pertempuran Surabaya Tak Diakui
SEBELUM 1940-an, Gumbreg bukanlah siapa-siapa. Kecuali kerabat, sanak-famili, dan kawan-kawannya, tak ada yang mengenal dia yang hanya seorang pelayan di sebuah kantor dagang di Surabaya. Yang dikenal dengan nama yang sama hanyalah Raden Mas Goembrek (1885-1968), seorang dokter di zaman Hindia Belanda yang ikut mendirikan Boedi Oetomo. Namun setelah revolusi kemerdekaan pecah, Gumbreg yang kerap ditulis Gumbrek atau Gumbreg itu mulai memainkan peran untuk negerinya. Pemuda tersebut ikut mengorganisir diri ke dalam Barisan Berani Mati. Kendati dibekali pelatihan militer yang di bawah standar tentara pada umumnya, Gumbreg tetap harus sesiap tentara reguler dalam menghadapi perang yang tak bisa dihindari. Ia diharuskan belajar cepat. Gumbreg berada dalam pasukan yang dipimpin oleh Adenan dan dengan pelatihnya Soebedjo. Menurut catatan Barlan Setiadijaya dalam 10 November 1945: Gelora Kepahlawanan Indonesia, selain Gumbreg terdapat pemuda seperti Goemoen, Panoet, Niti, Madekan Sipin, Gatot, Sarilan, Bambang, Arsad, dan Marali. Mereka merupakan tenaga inti. Pasukan Adenan dibagi dalam 3 pasukan yang lebih kecil lagi. Sebelum 10 November 1945, Pasukan Adenan sudah berusaha melengkapi diri dengan senjata.
- Jago Meriam Pertempuran 10 November Jadi Pangdam Udayana
HUBUNGAN Gereja Katolik dengan Kodam Udayanya, yang membawahi wilayah Sunda Kecil, mendadak berubah dari harmonis menjadi tegang. Pembubaran sebuah kampus oleh pihak Kodam ditengarai sebagai penyebabnya. Kala itu, Kodam Udayana dikomando oleh Letnan Kolonel (Letkol) Minggu. Pria asal Jawa ini merupakan veteran Pertempuran 10 November di Surabaya. Sebelum Indonesia merdeka, Minggu adalah sersan di tentara kolonial Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Dia berdinas sebagai artileris. Saat Indonesia merdeka, Minggu masuk tentara Indonesia. Dia bisa dianggap sebagai perwira perintis artileri di TNI. Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya menyebut, sekitar 10 November 1945 sudah memimpin batalyon artileri dengan kekuatan 28 meriam penangkis udara di Surabaya. Meriam-meriam itu berjasa menghalangi gerak maju pesawat tentara Sekutu yang akan memasuki Surabaya.





















