top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Alkisah Pesawat Hibrida Sakae-Bleinheim dari Maospati

    KESUKSESAN Pangkalan Udara Panasan (kini Lanud Adi Soemarmo), Solo mendapatkan bantuan pesawat dari Lanud Bugis (kini Lanud Abdulrahman Saleh) pada 5 Maret 1946 membuat beberapa teknisi Tentara Republik Indonesia Djawatan Udara (kini TNI AU) berharap hal serupa. Salah satunya Opsir Muda Udara II (OMU II, setara letnan dua) Hardjono dari Lanud Maospati (kini Lanud Iswahjudi). “Pada 5 Maret 1946 sebuah pesawat Cukiu (pesawat latih Tachikawa Ki-55, red.) diterbangkan dari Pangkalan Udara Bugis Malang ke Panasan Solo. Adapun pesawat yang diberikan sudah diberi nomor registrasi TK-007 dalam keadaan siap terbang,” tulis Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI. Timbulnya harapan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Lanud Bugis –saat itu masih di bawah Divisi Untung Surapati (TRI Darat)– memiliki lebih banyak pesawat bekas Jepang ketimbang beberapa lanud lain. Beberapa di antaranya mampu diperbaiki dan sudah diberi roundel Merah Putih oleh satuan teknisi pimpinan Lettu Hanandjoeddin sehingga siap terbang.

  • Menaklukkan Sang Ayam Jago

    NY. Soewarni Pringgodigdo, Ketua Istri Sedar, belum usai menyampaikan pidatonya saat terdengar suara kluruk ayam jago dari mulut beberapa pria di sudut ruangan kongres. “Kukuruyuk... kukuruyuk...” kata mereka mengejek Soewarni. Kontan dia naik pitam dan menyatakan keluar dari keanggotaan kongres perempuan. Insiden dalam Kongres Perempuan Indonesia kedua di Batavia, 20–24 Juli 1935 itu bermula dari Ratna Sari, wakil Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) dari Sumatra Barat, yang sebelumnya menyampaikan pidato tentang kedudukan perempuan dalam hukum perkawinan Islam. Maria menilai muatan pidato Ratna terlalu ortodoks. “(Pidato itu) menimbulkan kegoncangan, karena Ratna Sari dapat menerima dan membela poligami,” kata Maria Ullfah dalam ceramahnya di Gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta, 28 Februari 1981. Soewarni yang mendapat kesempatan untuk menyampaikan tanggapan, langsung menyatakan ketidaksetujuannya. “Saya tidak menerima itu!” kata Soewarni. “Laki-laki persis seperti ayam jago di mana-mana kerjanya mengumpulkan perempuan saja!” kata Soewarni menambahkan. Kalimat itu langsung ditingkahi suara ayam jantan berkokok dan ketawa cekikikan dari peserta pria. Kongres pun terancam bubar. Peserta terbagi ke dalam dua kelompok besar yang saling bertentangan.

  • Asal Usul Gelar Andi di Sulawesi Selatan

    PADA 1929, Andi Mattalatta –di kemudian hari menjabat Panglima Kodam XIV Hasanuddin (1957-1959)– melanjutkan pendidikannya di Openbare Schakelschool Makassar. Di depan namanya dibubuhkan kata Andi. Mattalatta mengetahui penjelasan mengenai nama Andi sebagai penanda untuk membedakan keturunan bangsawan dari orang biasa, dari Muhayang Daeng Mangawing, kepala sekolah di Gouvernament Inlandsche SchoolBarru. Penjelasan lain dari Ince Nurdin, tokoh bangsawan di Makassar dan mantan guru OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren). Menurutnya, awal muasal kata Andi dikenalkan oleh B.F. Matthes, seorang misionaris Belanda, pendiri sekolah OSVIA dan di kemudian hari dikenal sebagai pelopor penulisan epik I La Galigo bersama Colliq Pujie pada 1918.

  • Dari Uang Panas hingga Selebritas

    MASYARAKAT Indonesia pernah dibikin geger oleh sebuah video hubungan mesum pada 2006. Kalau pelakunya orang biasa barangkali tak terlalu heboh. Pasalnya “aktor” di video itu seorang anggota DPR RI, Yahya Zaini. Sementara artisnya adalah Maria Eva, seorang penyanyi dangdut. Keduanya bukan pasangan suami-istri yang sah. Geger hampir serupa kembali melanda. Ahmad Fathanah, yang dekat dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishak, diketahui punya beberapa istri dan berhubungan dengan banyak perempuan. Kepada mereka, Fathanah sungguh royal. Segala rupa harta diberikan: rumah, mobil, jam tangan mahal. Padahal itu semua asalnya dari duit negara yang diselewengkan. Selain Fathanah, beberapa perempuan itu pun jadi bahan pemberitaan bak selebritas. Celaka sungguh celaka. Presiden PKS, yang ditengarai menerima aliran duit dari Fathanah, juga ketahuan punya perempuan-perempuan simpanan. Entah fakta yang sebenarnya bagaimana, tapi seorang politisi –apalagi dari partai yang getol membawa nama Islam– kena isu tak sedap macam itu, habislah. Diseranglah ia dan partainya dari sana-sini. Isu macam begitu ibarat sekali tembak, kena, sasarannya bisa dibikin mati berkali-kali.

  • Rumah Para Pemimpin Jakarta

    GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan akan menempati rumah dinas gubernur yang terletak di Jl. Taman Suropati No. 7 Menteng Jakarta Pusat. Sebelumnya, Djarot Saiful Hidayat juga menempati rumah dinas ini. Sedangkan Basuki Tjahaya Purnama memilih tidak menempatinya. Berdiri di atas lahan seluas 1.100 m2, rumah ini terdiri atas gedung dua lantai di bagian belakang menyambung dengan bangunan satu lantai sebagai muka rumah. Di sekitarnya terdapat halaman luas yang rindang karena ditanami pohon palem, cemara, dan pohon lain dengan dahan besar. Jalan masuk antara gerbang dan bagian depan rumah dipagari dengan semak yang dipangkas rapi. Rumah ini memiliki atap yang menutupi sebagain teras. Sedangkan atapnya secara umum berbentuk perisai tinggi dan agak curam yang mengimbangi bentuk bangunan segi empat. Gedung induk dan sayap membentuk sudut lebar ke arah Taman Suropati.

  • Prahara di Pinggir Jakarta

    LETJEN Sir Philip Christison tak menyangka penugasannya sebagai panglima Komando Tentara Sekutu di Jawa usai Perang Dunia II bakal merepotkannya. Belum lagi Pertempuran Surabaya hilang dari ingatan, ulah para pemuda pejuang di Bekasi kembali membuatnya berang. Keberangannya kali ini berawal dari jatuhnya pesawat angkut Dakota milik Inggris yang berangkat dari Bandara Kemayoran pada 23 November 1945. “Dakota itu membawa 20 pasukan dari 2/19th Kumaon. Pesawat pengintai melaporkan kedua kru dan para penumpangnya selamat,” tulis Richard McMillan dalam The British Occupation of Indonesia: 1945-1946. Menurut AH Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Vol. 2, para awak dan penumpang Dakota yang jatuh di Rawa Gatel, Cakung itu kemudian ditahan laskar pimpinan H Maksum. Para laskar lalu menyerahkan mereka ke Klender, daerah kekuasaan Barisan Rakyat (BaRa) pimpinan Haji Darip. BaRa enggan menampung mereka. Entah atas prakarsa siapa, para penumpang Dakota itu lalu diangkut menuju markas komando TKR Batalyon V Resimen V Cikampek. Namun dalam perjalanan, mereka justru disembelih dan jasad-jasadnya dibuang ke Kali Bekasi.

  • Pertamina Digerogoti Korupsi Sejak Dirut Pertama

    MEMASUKI bulan Maret 2025 ini, publik digemparkan dengan berita pengoplosan bahan bakar minyak jenis Pertamax. Yang bikin geger, aksi culas itu justru dilakukan oleh Pertamina, badan usaha milik negara (BUMN) yang mengelola industri minyak bumi Indonesia. Temuan praktik korupsi ini diungkap oleh Kejaksaan Agung, yang menyebut Pertamina melakukan pengoplosan Pertamax (Ron 92) dengan jenis Pertalite (90) yang kadar oktannya lebih rendah. Harga Pertamax diketahui lebih mahal Rp.2.500/liter ketimbang Pertalite. “Penyidik menemukan bahwa ada RON 90 atau bahkan di bawahnya, yaitu RON 88, yang dicampur dengan RON 92. Jadi, ada praktik blending yang tidak sesuai standar,” jelas Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejagung Abdul Qohar dalam konferensi persnya 26 Februari 2025, dilansir dari tempo.co. Indikasi pengoplosan mulai merebak setelah banyak pengguna Pertamax mengeluhkan kendaraan mereka menjadi rusak dan boros konsumsi bahan bakar. Atas kelancungan Pertamina itu, menurut taksiran Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin, kerugian negara mencapai Rp193,7 triliun dalam kurun waktu setahun. Angka itu bisa lebih tinggi lagi jika praktik pengoplosan ternyata telah berlangsung bertahun-tahun.

  • Jalan-jalan Sejarah ke Hotel Sultan

    SUASANA di sekitar Hotel Sultan kini kosong melompong. Tak ada lagi tamu yang lalu lalang untuk menginap. Hanya mobil bongkar muat terlihat hilir mudik membantu proses pengosongan aset hotel. Di depan pelataran terpampang spanduk bertuliskan: “Tanah dan bangunan ini sedang dalam proses penyidikan oleh Penyidik Dittipidum Bareskrim Polri & Penyidikan Polda Metro Jaya”. Pengosongan Hotel Sultan menyusul putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar lahan hotel bintang lima tersebut dikembalikan pada negara. “Eksekusinya dari bulan lalu, Mas, tanggal 18 Juni kemarin. Ini sudah masuk tahap akhir,” kata petugas keamanan kepada Historia.ID. Di awal masa berdirinya, Hotel Sultan masih bernama Hotel Hilton Jakarta, serta masuk dalam jajaran hotel elite di Jakarta. Letaknya di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, dekat pusat bisnis dan jantung ibu kota. Ia tak sekadar akomodasi, tetapi penanda status sosial bagi kaum jetset. Penulis kisah konglomerat, William Win Yang, menyebut Hotel Hilton Jakarta menjadi hotel langganan sejumlah taipan Indonesia.

  • Ke Jakarta Kami Kembali

    SIANG nyaris mencapai puncaknya, ketika lima truk berisi masing-masing 12 prajurit dari Batalyon Kala Hitam Divisi Siliwangi memasuki wilayah Jatinegara. Semula tak ada sambutan. Para prajurit Belanda yang tengah berjaga di pos masing-masing hanya bisa bengong. Sementara khalayak pun cuma berbisik-bisik dengan sesamanya. “Barulah setelah melihat bendera merah putih yang kami pasang di bagian belakang truk, mereka berteriak riuh: “merdeka” dan “hidup TNI” sembari berlari ke arah kami,” kenang Ido bin Tachmid (95), eks kopral TNI yang saat itu ikut rombongan tersebut. Kompi I pimpinan Letnan Satu Marzoeki Soelaiman memang ditugaskan untuk memasuki Jakarta. Mereka merupakan salah satu pasukan yang akan mengamankan proses penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Hindia Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) sekaligus mengawal Presiden Sukarno yang akan datang ke Jakarta pada 28 Desember 1949.

  • Enam Moda Angkutan di Jakarta yang Tinggal Kenangan

    Abang becak, abang becak di tengah jalan Cari muatan untuk mencari makan Putar-puter, putar-puter kaki mengayuh Pergi jauh keringat pun lalu jatuh... Sebait lirik lagu Abang Becak yang dipopulerkan Iin dan Bimbo di atas, mengingatkan kita kepada becak sebagai angkutan umum yang melintas zaman, tak hanya di ibukota tapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Belakangan, muncul wacana untuk menghidupkan lagi becak yang selama ini termarjinalkan, khususnya di Jakarta. Sebagaimana diketahui, kemunculan becak mulai marak sejak 1936. Namun, pada medio 1970, angkutan beroda tiga yang digerakkan dengan tenaga manusia ini mulai dilarang beroperasi ibukota oleh Gubernur Ali Sadikin. Bukan hanya becak yang sempat marak namun perlahan menghilang. Enam moda angkutan ini juga tinggal kenangan.

  • Perkara Parkir Kendaraan di Jakarta

    WARGANET ramai bergunjing seputar cekcok Ratna Sarumpaet dengan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Jakarta. Perkaranya mengenai pelanggaran parkir mobil. Menurut Dishub, Ratna parkir sembarangan sehingga Dishub harus menderek mobilnya. Tapi Ratna bilang tidak, seraya bertanya dasar hukum penindakan petugas. Di luar cekcok Ratna dan Dishub, perkara parkir kendaraan bermotor di ibukota punya sejarah sendiri. Kemunculan perkara di seputar parkir kendaraan bermotor berkaitan erat dengan pertumbuhan kendaraan bermotor. Jakarta, misalnya, memperoleh perkara parkir ketika kendaraan bermotor mulai jamak di jalanan pada 1970-an. Masa ini perekonomian tumbuh dan memunculkan kelas menengah baru kota. Mereka mampu membeli kendaraan bermotor, baik mobil ataupun motor. Seorang nenek tua dari kampung berkesempatan naik mobil ke Jalan Thamrin, Jakarta, pada September 1970. Dari sebalik jendela mobil, dia berkata, “Ya, Allah, mobil begini banyak pada mau kemana?” dikutip dari Ekspres, 5 September 1970.

  • Rumah Minimum ala Gubernur Pertama Jakarta

    “YANG paling menekan saya ialah soal perumahan.” Begitu curahan hati Soemarno Sosroatmodjo, gubernur Jakarta 1960-1964, kepada wartawan Star Weekly, Mei 1961. Dia baru setahun menjabat gubernur, sebutan baru untuk kepala daerah Jakarta. Dulu sebutan kepala daerah Jakarta ialah walikota. Sebutan boleh beda, tapi masalah utama Soemarno serupa kepala daerah sebelumnya: bagaimana menyediakan rumah murah. Beban Soemarno terus bertambah. Jakarta tengah bersiap menyongsong Asian Games 1962. Pemerintah pusat meminta Soemarno ikut membantu keberhasilan pembangunan gedung, fasilitas, dan jalan penunjang pesta olahraga terbesar Asia tersebut. Sebab, pembangunan itu mengharuskan pengorbanan penduduk Jakarta. Mereka harus angkat kaki dari atas tanah merah yang jadi tumpuan tempat tinggalnya. “Dalam hubungan itu jumlah rumah yang dibongkar dan dibangun kembali sebanyak 8.652 buah, milik 46.829 jiwa penduduk Tebet, Pejompongan, Slipi, Cikoko, dan Cileduk,” kata Soemarno dalam otobiografinya, Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page