Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bulan Terbenam di Tanah Kusir
KABAR pengunduran diri Hamka sebagai ketua MUI tersebar luas. Rumah Hamka mendadak ramai. Rekan-rekan Hamka berkunjung memberi selamat. Para pewarta silih berganti datang menggali keterangan lebih dalam. Petugas keamanan tampak berjaga-jaga. Televisi, radio, dan koran membahas pengunduran diri Hamka: apa alasan Hamka keluar dan siapa bakal penggantinya. Hamka berupaya menjauh dari pers. “Kebetulan hari pernikahan Afif, putra Hamka kesembilan, telah tiba. Buya pergi ke Palembang pada 23 Mei 1981,” kata Irfan Hamka. Ternyata pers tetap mengekor Hamka. Mereka datang ke acara itu dan bertanya lagi soal pengunduran diri Hamka. “Ah, itu kan ulah koran saja yang menganggap soal ini soal besar,” kata Hamka tenang, dikutip Rusydi Hamka dalam Hamka di Mata Hati Umat. Hamka kembali ke Jakarta. Tidak lama. Sebab, Hamka harus terbang ke Irak pada 29 Mei. Hamka pergi menghadiri acara Departemen Wakaf Irak. “Hamka lalu meneruskan perjalanan ke Bangladesh,” tulis Yunan Nasution, sahabat Hamka, dalam Panjimas, 21 Agustus 1981. Dari Bangladesh, Hamka tak langsung menuju tanah air. Hamka mampir beberapa hari di Kuala Lumpur, Malaysia.
- Pangeran Panji Tolak Politik Uang
SEDARI dulu protes terhadap kenaikan pajak telah berlangsung di berbagai tempat di Nusantara. Salah satunya di daerah Pasir, Kalimantan Timur. Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial menaikkan pajak kepala bagi yang berumur di atas 20 tahun yang disebut belasting. Akibatnya, daerah pedalaman yang kini menjadi Kabupaten Paser itu bergolak. Salah seorang yang menolak adalah Demoeng, kepala di Pedalaman Pasir. Sikap Demoeng menghebohkan masyarakat setempat. Sikap Demoeng, tulis koran De Locomotief, 7 Juli 1908, sampai menarik Pangeran Panji Nata Kesuma untuk ikut menenangkan masyarakat. Panji merupakan pangeran dari Kesultanan Pasir Darul Aman yang berpusat di Tanah Grogot. Ia adalah cucu Sultan Adam dan anak dari Aji Timur Balam gelar Sultan Abdurrahman. Upaya Panji tetap tidak berhasil mengubah pendirian masyarakat. Demoeng dkk. tetap pada pendirian mereka menolak kebijakan pemerintah. Bahkan, pasukan bersenjata yang dikirim pemerintah mereka lawan. Demoeng dkk. lalu kabur setelah kalah melawan pasukan bersenjata.
- Melarikan Pesawat dari Malang ke Yogya
MALANG, Jawa Timur, 19 Maret 1946 siang. Ketika tengah sibuk memperbaiki beberapa pesawat di Hangar I Pangkalan Udara (Lanud) Bugis, Lettu Hanandjoeddin, akrab disapa Anan, dan anak buahnya kedatangan tamu dari Yogya. Tamu itu Letkol Umar Slamet, mantan Ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR) Yogya yang kemudian jadi salah satu pimpinan TRI Divisi IX Yogya merangkap anggota Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Yogya. Umar datang didampingi Imam Soepeno. Menurut Haril M. Andersen dalam Sang Elang: Serangkai Kisah Perjuangan H. AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI, agenda kunjungan Umar adalah mencari pesawat yang bisa terbang jarak jauh menuju Australia untuk keperluan pengiriman delegasi diplomasi RI ke Australia. Umar berharap bisa mendapatkan pesawat yang dapat mengangkut penumpang sampai tujuh orang. Namun, harapan Umar belum tentu dapat terwujud. Kendati Umar memiliki posisi penting dan kedatangannya untuk kepentingan perjuangan, kala itu Lanud Bugis masih di bawah kekuasaan Divisi VIII/Untung Suropati pimpinan Jenderal Mayor Imam Soedja’i dan berdiri independen alias terpisah dari pusat.
- Spirit Pangeran Diponegoro Lewat Dua Pesawat Bekas (Bagian I)
PERANG Jawa (1825-1830) yang dikobarkan Pangeran Diponegoro tidak hanya jadi salah satu tonggak perlawanan terhadap penjajahan Belanda tetapi semangat dan inspirasinya menjadi refleksi jati diri perjuangan bangsa. Begitulah Menteri Kebudayaan Fadli Zon menggambarkannya dalam pidatonya di pembukaan Pameran “200 Tahun Perang Jawa” di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Minggu (20/7/.2025) malam. “Refleksi terhadap Perang Jawa mengajarkan kita bahwa jati diri perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia tidak dibangun dalam sebuah kenyamanan tapi dalam perlawanan menentang penjajahan dan kolonialisme. Ia tumbuh dari semangat rela berkorban, cinta tanah air, keberanian, prinsip yang tak bisa dibeli atau ditundukkan, sebagaimana jati diri Pangeran Diponegoro,” tutur Fadli. Harapannya, ujar Fadli, generasi muda Indonesia sekarang dan mendatang tak melupakan spirit Pangeran Diponegoro, bukan semata mengingat namanya lewat nama jalan-jalan ataupun hal-hal lain di seluruh Indonesia yang menggunakan nama Pangeran Diponegoro.
- Spirit Pangeran Diponegoro lewat Dua Pesawat Bekas (Bagian II)
“ADAKAH Diponegoro mencapai kemerdekaan bagi kita? Tidak. Oleh karena itulah perjuangan mereka dinamakan gagal. Tetapi tidak sia-sia perjuangan mereka itu. Tidak sia-sia. Kalau sia-sia perjuangan Diponegoro, kita tidak ada duduk di Istana Negara ini. Ambillah pengajaran yang setepat-tepatnya daripada gagalnya Diponegoro, Suropati, Imam Bonjol, Teuku Umar. Mereka tidak sia-sia berjuang. Perjuangan mereka akan memberi inspirasi kepada kita,” kata Presiden Sukarno dalam peringatan 100 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro, disitat Menteri Penerangan Ferdinand Lumbang Tobing dalam Pangeran Diponegoro. Semangat Diponegoro terus menembus zaman. Bangsa Indonesia generasi-generasi berikutnya masih meneladani dan mengingatnya. Seperti pameran “200 Tahun Perang Jawa” yang dihelat di Perpustakaan Nasional RI pada 20 Juli-20 Agustus 2025. “Satu hal yang perlu kita terus ingat bahwa perjuangan Pangeran Diponegoro tidak berakhir di ruang penjara. Semangat perjuangannya menembus zaman. Keberanian dan keteguhannya dalam melawan penindasan kolonial menjadi inspirasi abadi bagi generasi-generasi berikutnya. Dalam pengorbanannya kita menemukan makna tentang harga diri, prinsip tekad yang tak tergoyahkan,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam pembukaan pameran, Minggu (20/7/2025) malam.
- Hari-hari Pangeran Paribatra di Jawa
SEBUAH kudeta tak berdarah terjadi pada 24 Juni 1932 di Siam (kini, Thailand). Menteri Dalam Negeri Kerajaan Siam Pangeran Paribatra Sukhumbandhu (1881-1944) termasuk pejabat yang ditangkap dalam kudeta tersebut. Meski tak berdarah, kudeta itu berhasil mengakhiri absolutisme Dinasti Chakri yang berkuasa di Siam. Raja Siam Prajadhipok lalu menandatangani konstitusi baru. Setelah kudeta, raja dan keluarganya diperbolehkan tinggal ke istana. Kudeta itu membuat hidup Pangeran Paribatra berubah. Bangsawan yang ketika kudeta terjadi sedang menjabat sebagai menteri dalam negeri –sebelumnya pernah menjadi kepala staf militer, panglima angkatan laut, menteri angkatan laut, menteri angkatan darat, menteri pertahanan– dan anggota Dewan Penasihat Raja ini harus terusir dari Kerajaan Siam. “Pangeran Paribatra menjadi Menteri Dalam Negeri di bawah Rama VII, Raja Prajadhipok. Pangeran Paribatra adalah salah satu orang terkuat di kerajaan sebelum Revolusi Siam tahun 1932. Akibatnya, pengaruh Pangeran Paribatra dianggap sebagai ancaman potensial oleh Khana Ratsadon (Partai Rakyat) yang mengorganisir kudeta tahun 1932 yang mengakhiri monarki absolut di Siam,” tulis Charnvit Kastsiridalam Thailand: A Struggle for the Nation.
- Karya-karya Soenarto Pr., Sang Perupa Sederhana
DUA pengamen menjalankan aksidi atas sebuah bus kota. Seorang memainkan gitar, rekannya menengadahkan topi untuk wadah uang “sumbangan”. Beberapa penumpang tampak menyiapkan recehan untuk diberikan, sementara yang lain cuek. Gambaran kehidupan di metropolitan yang umum itu hadir dalam sebuah lukisan di pameran bertajuk “Lini Transisi” di Galeri Nasional, Jakarta. Lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 99 x 99 cm itu karya Soenarto Pr. Judulnya “Pengamen”, dibuat pada 1988. Lukisan milik Museum Seni Rupa dan Keramik itu jadi salah satu dari 50 karya lukis, patung, dan seni instalasi yang di-display dalam pameran yang digelar kurun 1-31 Agustus 2019. Karya Soenarto itu ditampilkan di antara sejumlah karya pelukis tenar lain seperti S. Sudjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, hingga Hendra Gunawan. Menurut kurator pameran dan Galeri Nasional Suwarno Wisetrotomo, lukisan “Pengamen” turut menggambarkan salah satu sisi kehidupan kelas bawah di masa perubahan dan peralihan pasca-kemerdekaan dalam dekade 1950-an sampai 1980-an.
- Lukisan Kehidupan Soenarto Pr.
KEKAGUMAN terhadap sesosok patung di Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani, Jakarta, membawa saya ke sebuah rumah di Kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Rumah sederhana itu rumah terakhir Soenarto Pr, seniman di balik berdirinya patung tadi. Sebuah lukisan potret Soenarto di dinding yang berimpitan dengan pintu depan rumah seolah mewakili sang tokoh menyambut kedatangan saya pada 28 Juli 2019 itu. Sudah lebih setahun, tepatnya 24 Juli 2018, Soenarto meninggal. Ia dimakamkan di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, sesuai wasiatnya. Sejatinya, kekaguman pada Soenarto sudah timbul dua-tiga tahun lalu lewat perkenalan dengan Aditya Rochim alias Boim, salah satu menantu Soenarto, di Museum Benteng Vredeburg. Kala itu Soenarto masih ada kendati sudah sakit-sakitan.
- 24 Juli 1977: Rivalitas Sadat-Qadafi Akibatkan Mesir-Libya Perang Empat Hari
HARI ini, 24 Juli 1977. Presiden Mesir Anwar Sadat mengeluarkan pengumuman tak diduga. Dia menyatakan gencatan senjata dalam Perang Empat Hari yang melibatkan Mesir dan tetangganya, Libya. Perang Empat Hari Libya-Mesir merupakan akumulasi dari konflik politik kedua negara bertetangga itu yang terus meningkat setelah Perang Yom Kippur (Oktober 1973). Pemimpin Libya Moammar Qadafi merasa “dikhianati” Sadat lantaran tanpa pemberitahuan Sadat menggandeng Suriah melancarkan serangan terhadap Israel, musuh bersama bangsa Arab. Perang Yom Kippur menempatkan Qadafi, yang amat mengagumi Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser dan aktif menggalang persatuan Arab sejak kematian Nasser pada 1970, pada posisi yang tidak dianggap. Akibatnya, Qadafi terus menyudutkan posisi politik Sadat. Ketidaksukaannya pada Sadat kemudian diwujudkan dengan menyokong gerakan-gerakan anti-pemerintah Sadat di Mesir.
- Kelana Opsir KNIL Mencari Manusia Purba
SATU set meja kayu retro yang jadi alas mesin ketik melengkapi sesosok patung pria berkumis mengenakan setelan kemeja dan celana putih yang sudah lusuh. Ia jadi bagian dari salah satu diorama di Ruang Pamer I Museum Purbakala Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Siang itu masih termasuk masa-masa libur Lebaran. Tak heran museum disesaki pengunjung. Pun begitu, sosok patung yang digambarkan sedang mengetik itu acap luput dari perhatian. Ia dianggap kurang menarik untuk dijadikan latar berfoto ria para pengunjung yang masih awam jika dibandingkan koleksi-koleksi lain yang dipamerkan semisal tempurung manusia purba atau fosil-fosil hewan purba. Banyak dari para pengunjung yang membanjiri Museum Sangiran itu pemudik yang mencari wahana rekreasi untuk mengisi libur mudik. Berbekal karcis masuk Rp8 ribu (turis mancanegara Rp15 ribu), kebanyakan dari mereka hanya membawa hasil foto di kamera mereka.
- Kehidupan di Tangsi KNIL yang Kumuh
SETELAH lulus sekolah pendidikan perwira cadangan, resmilah Abdul Haris Nasution menjadi tentara Hindia Belanda (KNIL). Nasution tergolong perwira rendahan. Pangkatnya masih pembantu letnan satu. Bersama Kartakusumah, rekannya sesama bumiputra, Nasution ditempatkan dalam Batalion X, Kompi Jawa di bilangan Senen, Batavia. “Kehidupan dalam tangsi ‘kompeni’ adalah merupakan pengalaman baru, terutama di mana terasa diskriminasi antara suku, Kompi I adalah Belanda, Manado, dan Kompi III adalah Jawa. Skala gaji dan menu makanan juga tidaklah sama,” kenang Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1: Kenangan Masa Muda. Nasution menuturkan kegiatan sehari-hari para serdadu adalah baris-berbaris di Lapangan Banteng, di depan kediaman Panglima Divisi I KNIL. Ada kalanya latihan luar lapangan atau latihan menembak di Sunter. Sesekali Nasution ikut komandan kompi meninjau persiapan perbentengan di Cilincing.
- Aksi Brutal KNIL di Enrekang
HARI-hari ini Ricky Lambogo merasa senang sekaligus getir. Terhadap keputusan Pengadilan Sipil Den Haag pada 30 September 2020 yang mewajibkan Pemerintah Kerajaan Belanda untuk minta maaf kepada ayahnya Malik Abubakar (78), dia merasa bersyukur. "Sebagai manusia tentunya kami akan memaafkan," ungkap salah satu cucu tokoh pejuang Sulawesi Selatan, Kapten Andi Abubakar Lambogo itu. Namun, pembayaran ganti rugi sebesar €874.80 (sekira Rp15.000.000) yang mengiringi permohonan maaf itu sungguh membuat Ricky merasa getir sekaligus bertanya-tanya. Pikirnya, bagaimana bisa kematian tragis sang kakek di tangan militer Belanda pada 1947 dihargai dengan uang sejumlah tersebut.





















