Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lima Aktor Berjubah Superman
LEKUK-lekuk otot bak ukiran itu begitu mencolok dari balik bodysuit biru berlogo “S” di dada. Jubah merah yang menjuntai ke belakang ditambah paras maskulin rupawan melengkapi penggambaran sosok “alien” berkekuatan dahsyat: Superman. Karakter asal Planet Krypton beridentitas asli Kal-El tapi beralter-ego jurnalis bernama Clark Kent itu direncanakan comeback di semesta DC Cinematic Universe (DCEU). Seperti halnya Batman, jagoan serba bisa yang merupakan “anak rohani” penulis Jerry Siegel dan seniman Joe Shuster itu jadi pujaan jutaan penggemarnya sejak muncul di Action Comics edisi perdana, 18 April 1938. Selain di wahana komik, animasi, dan video game, figur Superman acap dinanti di layar kaca maupun layar perak. Terakhir, karakter Superman yang diperankan aktor tampan Henry Cavill menunjukkan batang hidungnya di pengujung film Black Adam (2022). Sang superhero muncul sebagai cameo di bagian mid-credit scene.
- PRD dalam Pemilu 1999
GELIAT politik di tanah air kian seru seiring makin dekatnya pemilihan umum (pemilu) 2024. Terbaru, kegaduhan terjadi di tubah partai penguasa, PDIP, lantaran manuver salah satu kadernya. Alih-alih mendukung Ganjar Pranowo yang diusung partainya menjadi bakal calon presiden, Budiman Sudjatmiko, sang kader itu, malah mendukung Prabowo Subianto yang diusung Gerindra. Akibatnya, pimpinan PDI-P mengambil tindakan. Hari ini, Senin (21/8/2023), Dewan Pimpinan Pusat PDIP akan mengumumkan status keanggotaan Budiman. “Opsinya mengundurkan diri atau menerima sanksi pemecatan,” kata Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto, sebagaimana diberitakan kompas.com, 21 Agustus 2023. Sikap Budiman tentu mengundang pertanyaan, tak kurang cibiran, banyak pihak. Pasalnya, ia mendukung calon yang di masa Orde Baru (Orba) berkuasa merupakan militer aktif, lawan politik Budiman dan aktivis-aktivis lain yang mengusung demokrasi sekaligus menentang kediktatoran Soeharto. Militer pula yang menangkapi para aktivis pro-demokrasi macam Budiman.
- Adam Malik Sohibnya Bram Tambunan
ADAM Malik bergaul karib dengan Ibrahim “Bram” Tambunan, anak juragan tekstil terkemuka di Batavia Haji Mochamad Jasin Tambunan. Setelah sang ayah wafat pada 1956, Bram meneruskan perusahaan keluarganya. Dari perusahaan keluarga, Bram membesarkan bisnisnya hingga membuka kantor perwakilan di luar negeri. Persahabatannya dengan Adam Malik tetap terjalin walaupun Bram telah menjadi pedagang sukses nan tajir melintir. Pada dekade 1960-an, Bram kesohor sebagai pengusaha nasional yang rapat dengan Presiden Sukarno. Bram merambah bisnis ekspor-impor dengan mendirikan PT. Sinar Pagi. Dia dijuluki “Si Raja Ban” karena memegang lisensi istimewa untuk mengimpor ban dari Jepang. Sementara itu, Adam Malik menjajal peruntungan di panggung politik hingga menjabat sebagai menteri perdagangan. Meski menggeluti dunia berbeda, Adam dan Bram setidaknya punya selera seni yang sama. Kolektor seni Ez Halim dalam bukunya Amrus Natalsya: Mutiara dari Bumi Tarung mengulas Adam dan Bram sebagai peminat karya Amrus Natalsya, seniman Lekra yang terkenal dengan ukiran patung kayunya.
- Wapres Adam Malik Salah Alamat
ADAM Malik Batubara, wakil presiden Indonesia ketiga (1978-1983), dikenal cerdik dan banyak akal. Ditunjang posturnya yang ramping, banyak orang pun menjulukinya Bung Kancil. Panjang akal Adam Malik acap tersua manakala dia menghadapi pertanyaan menjebak dari wartawan. Kalau sudah begitu, Bung Kancil punya ajian sakti membungkam wartawan dengan ucapannya yang ciri khas, “Semua bisa diatur.” Kelincahan Adam Malik berkelit terbukti lagi bahkan ketika dirinya salah masuk tempat hajatan. Cerita bermula saat Adam Malik hendak menghadiri pesta pernikahan anak budayawan Ajip Rosidi, yang tak lain kawan Adam Malik. Dengan pengawalan resmi, Adam Malik meluncur ke kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di suatu tempat voorrijders berhenti, disusul kendaraan rombongan wapres yang lain. Tampak panjor menjulang tanda hajatan berlangsung. Bung Adam pun turun dari mobilnya. Baru melangkah beberapa tindak, seperti terkisah dalam Majalah Anda, Januari 1990, seorang anggota pengawal wapres buru-buru menyongsong Adam Malik. Dengan muka kecut, dia melapor telah terjadi kekeliruan lokasi tujuan.
- Malaysia Sengaja Curangi Indonesia di Tenis Meja
NADA suara Rossy Syechabubakar kian meninggi dan menggebu ketika menceritakan pengalaman bertanding final SEA Games 1989. Di pertandingan puncak tunggal putri melawan wakil tuan rumah Leong Mee Wan itu, Rossy terpaksa kehilangan emas. Yang menyesakkan, kekalahan Rossy terjadi bukan karena kalah tanding melawan wakil tuan rumah Leong Mee Wan. Rossy kalah karena dicurangi wasit yang juga asal Malaysia. Forehand drive pengembalian Rossy yang mengenai pinggir meja Wan dinyatakan out . Kecurangan terhadap Rossy bukan satu-satunya kecurangan yang dialami tim Indonesia. “Sebelumnya, tim beregu sudah dicurangi. Anton (Suseno, petenis meja putra) juga sudah dicurangi,” kata Rossy. “Final saya itu klimaksnya. Sudah dari awal dicurangi terus. Terakhir, saya main dan dicurangi lagi.”
- Tenis Meja Adalah Segalanya
SEJAK dikenalkan tenis meja oleh ayahnya, Ali Umar Syechabubakar, Rossy Pratiwi Syechabubakar langsung jatuh cinta. Antusiasmenya untuk menjadi atlet nasional terus tumbuh. Berbagai turnamen kampung diikutinya. Jalan Rossy terbuka lebar begitu bergabung dengan klub PTM (Persatuan Tenis Meja) Sanjaya Gudang Garam, Kediri. Meski harus berpisah dari kedua orangtuanya lantaran mesti tinggal di asrama, Rossy tetap bersemangat menggembleng diri. “Alhamdulillah, orangtua mendukung saya menekuni jadi atlet,” ujarnya kepada Historia. Dukungan orangtua menjadi modal berharga Rossy untuk membunuh kehidupan monoton selama di klub. “Kita tidak seperti anak-anak yang lain main atau gimana. Kita hanya latihan, belajar (sekolah), latihan,” sambungnya. Saban hari, Rossy hanya latihan pagi jam 5, lalu sekolah sampai jam 1 siang, dan lanjut latihan dari jam 3 sore sampai jam 7 malam.
- Atlet Tenis Meja Indonesia WO dari SEA Games Malaysia
TIM sepak takraw putri Indonesia memilih walk out (WO) di babak kedua kontra tuan rumah di SEA Games ke-29 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pertandingan babak round robin pada Minggu, 20 Agustus 2017 itu, wasit Muhammad Radi asal Singapura mengeluarkan keputusan yang merugikan tim Indonesia. Wasit beberapa kali membatalkan dan menilai foul servis tim Indonesia. Setelah protes tak digubris, tim Indonesia memutuskan WO padahal tengah memimpin 16-10 di babak kedua. Atlet takraw putri Indonesia pun berurai air mata karena kecewa. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang menyaksikan laga di Titiwangsa Indoor Stadium, Kuala Lumpur itu, berusaha menenangkan para pemain. Sejarah seolah mengulang kejadian pada SEA Games ke-15 di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 1989. Atlet tenis meja Indonesia dari nomor tunggal putri, Rossy Pratiwi Dipoyanti Syechabubakar, memilih WO di final melawan atlet Malaysia Leong Mee Wan pada 25 Agustus 1989. Padahal, Rossy sudah merebut set pertama dengan skor tipis 17-16. Tapi di set kedua, Rossy dirugikan oleh keputusan wasit Goh Kun Tee asal Malaysia.
- Masa Bersiap dan Ironi Belanda
SELAMA Oktober 1945, di seluruh Jawa dan sebagian kecil Sumatra, aksi-aksi berdarah dilakukan nyaris setiap hari oleh sebagian orang Indonesia. Dalam catatan Mary van Delden, sejarawan dari Universitas Radboud, Belanda, jumlah korban yang jatuh mencapai ribuan jiwa. “Andaikan tentara Indonesia tidak ikut campur menjaga sebagian kamp internir saat itu, saya yakin korban jiwa akan jauh lebih banyak,” tulis Marry dalam disertasinya “De republikeinse kampen in Nederlands-Indië, Oktober 1945-Mei 1947. Orde in de chaos?” (Kamp Republik di Hindia-Belanda, Oktober 1945-Mei 1947. Ketertiban di tengah kekacauan?). Menurut Robert B. Cribb, seluruh aksi brutal itu sejatinya ditujukan kepada orang-orang Belanda dan para pengikutnya yang memiliki gelagat ingin berkuasa kembali di negeri bekas jajahannya. Tidak ada satu pun sasasaran yang logis untuk dijadikan pelampiasan revolusiener selain orang-orang tersebut.
- Kenapa Kata “Bersiap” Memancing Amarah Besar?
BULAN depan dibuka pameran Revolusi! Indonesië onafhankelijk (Revolusi! Indonesia Merdeka). Sebelum itu sudah muncul ribut-ribut besar ketika Rijksmuseum mengumumkan menghindari istilah “bersiap”. Di Belanda, kata “bersiap”, menurut kurator Indonesia Bonnie Triyana, hanya dikait-kaitkan dengan kekerasan ekstrem yang dilakukan oleh kalangan muda revolusioner Indonesia dan bernuansa rasisitis. Pernyataan ini ditanggapi dengan amarah protes oleh wakil kalangan Indo (berdarah campur Indonesia Belanda) di Belanda. Mereka merasa dipojokkan sebagai kalangan rasis dan merasa bahwa penderitaan yang mereka alami telah digelapkan. Penggelapan ini tidak dilakukan oleh Rijksmuseum. Masalahnya, istilah “bersiap” membangkitkan kesan yang tidak tepat bahwa kekerasan pada awal revolusi Indonesia hanya diarahkan terhadap kalangan Indo dan Eropa. Secara ringkas rangkaian peristiwa waktu itu begini: pada bulan September 1945 terjadi vakum kekuasaan di Jawa. Pasukan pendudukan Jepang mundur, pasukan Inggris pertama mulai mendarat, dan Republik yang baru diproklamasikan nyaris tidak punya waktu untuk membentuk pemerintahan dan pasukan sendiri. Kalangan revolusioner muda memanfaatkan kesempatan ini untuk memulai revolusi mereka sendiri di Jawa dan Sumatra.
- Polemik “Bersiap” dan Meremehkan Sudut Pandang Indonesia
DEBAT yang kini tengah berkecamuk di Belanda tentang istilah “bersiap” beralih menjadi diskusi politik budaya tentang jati diri Belanda. Sudah waktunya menunjuk konteks sejarah kekerasan itu. Apa yang masih bisa ditambah lagi setelah ribut-ribut soal istilah “bersiap”? Keributan ini diawali dengan terbitnya artikel dalam harian NRC Handelsbald yang ditulis oleh salah satu penggagas pameran Revolusi! di Rijksmuseum, sejarawan Indonesia Bonnie Triyana. Dalam artikel itu dia menjelaskan bahwa istilah “bersiap” tidak begitu tepat. Kemudian muncul diskusi tentang sensor, rasisme, dan wokeness. Dalam minggu-minggu belakangan ini, istilah “bersiap” tidak pernah begitu sering bergema. Istilah “bersiap” muncul cukup lama setelah peristiwanya dan beredar di kalangan kolonial Belanda untuk menjuluki fase pertama revolusi Indonesia. Pada bulan-bulan itu banyak orang Belanda/Indo (berdarah campuran Indonesia Belanda) yang diancam dan dibunuh oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia. Saksi mata menuturkan pelbagai kisah mengerikan tentang mutilasi dan pembunuhan. Dalam beberapa tahun belakangan beredar jumlah korban yang mencapai puluhan ribu orang, tapi tanpa ada bukti. Secara keseluruhan diperkirakan lima sampai enam ribu orang tewas, mungkin lebih, mungkin kurang.
- Sketsa Kehidupan Henk Ngantung
SKETSA lelaki paruh baya terpajang di ruang pameran Museum Naskah Proklamasi (Munasprok) di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat. Informasi pada sketsa menerangkan sosok pria tersebut: Hendrik “Henk” Hermanus Joel Ngantung atau lebih dikenal dengan Henk Ngantung. Yang menarik, sketsa itu dilukis oleh Henk sendiri. Edukator Munasprok, Paskasius Fajar Sunandar menyebut sketsa diri itu merupakan potret Henk saat berusia 55 tahun. Henk mengerjakan sketsanya dengan cara bercermin sambil menggambar secara langsung. Pada sketsa ini tampak goresan garis ekspresif yang membentuk wajah Henk Ngantung mengenakan kacamata hitam. Bila Henk kelahiran 1921, maka sketsa tersebut bertitimangsa 1976. Sketsa potret Henk Ngantung menjadi salah satu koleksi yang disimpan oleh keluarga. Sebagian telah dijual atau dihibahkan ke Museum Seni Rupa Keramik. Selain dikenal sebagai seniman, Henk Ngantung adalah gubernur Jakarta periode 1964–1965, sekaligus gubernur Jakarta satu-satunya yang berlatar belakang seniman. Dia termasuk seniman yang dekat dengan Presiden Sukarno, sehingga hidupnya memprihatinkan setelah peristiwa G30S 1965.
- Ujung Sketsa Hidup Henk Ngantung
BAHKAN di masa tuanya, Henk Ngantung masih mengalami perundungan dan tak lepas dari stigma. Geni Ngantung, anak kedua Henk, masih ingat kejadian memilukan itu, menjelang wafatnya sang ayah. Pada akhir November 1991, Henk berkesempatan memamerkan lukisan-lukisannya di Galeri Jaya Ancol, Jakarta Utara. “Sebelum tanggal 29 November [1991] sebenarnya sudah mau pameran. Intel bilang dianggap berbahaya. Katanya, Henk mau reuni sama orang PKI dan Lekra,” tutur Geniati Heneve Ngantung, yang akrab dipanggil Geni, kepada Historia.ID. Itu adalah pameran terakhir Henk Ngantung. Tidak banyak yang tahu, Henk yang sudah sepuh itu mengalami tekanan sepanjang pameran berlangsung. Aparat intelijen militer dari Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) disusupkan untuk mengawasi jalannya pameran. Henk yang sehari-harinya berpembawaan tenang, memendam amarah dan sakit hati. Keluarganya pun tak habis pikir mengapa Henk sampai diperlakukan sebegitu rupa.





















