top of page

Hasil pencarian

Search this site

9957 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kasus Pencurian Uang yang Menggegerkan Hindia Belanda

    PADA September 1913, publik Hindia Belanda, khususnya Batavia, dihebohkan dengan kabar penangkapan A.M. Sonneveld di Hong Kong. Kepala kasir perusahaan Escompto Batavia ini membawa kabur uang kas perusahaan senilai ribuan gulden. Kabar penangkapan Sonneveld dan istri ramai diberitakan surat kabar di Hindia Belanda. Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 11 September 1913 memberitakan, manajemen Nederlandsch Indie Escompto Maatschappij menerima kabar Sonneveld ditangkap di Hong Kong. Abdul Hakim dalam Jakarta Tempo Doeloe menyebut kasus pencurian uang perusahaan yang menyeret Sonneveld menghebohkan masyarakat golongan elite di Hindia Belanda karena pria itu memiliki latar belakang yang mentereng. Sebelum menjabat kepala kasir Escompto Batavia, Sonneveld merupakan mantan anggota KNIL dengan pangkat terakhir sersan mayor. “Ia di-onslag (diberhentikan) kata orang dulu,” tulis Abdul Hakim.

  • Dibuang Gara-gara Menagih Utang

    PERSOALAN utang piutang kerap memicu perselisihan. Akibatnya bahkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kekerasan, pembunuhan hingga pembuangan, seperti dialami Kapitan Melayu Wandoellah. Ia dibuang ke Ceylon (kini Sri Lanka) karena berani menagih utang kepada Diederik Durven, yang kemudian menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda (berkuasa 1729–1732). Arsiparis-cum-sejarawan Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menyebut Wandoellah merupakan putra seorang Kapitan Melayu bernama Wan Abdul Bagus yang berperan dalam mendirikan Kampung Melayu di wilayah Meester Cornelis (kini Jatinegara). Wandoellah menggantikan posisi ayahnya menjadi Kapitan Melayu selama 16 tahun sejak 1716 hingga dipecat oleh Gubernur Jenderal Durven. Menurut ahli sejarah Jakarta, Adolf Heuken SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, di zaman kolonial Belanda, Kapitan Melayu merupakan tokoh yang berpengaruh di dalam masyarakat. Selain menjadi perantara bagi pihak pemerintah kolonial dengan penguasa pribumi, Kapitan Melayu juga bertindak sebagai ceremonie-meester atau kepala protokol.

  • Perjuangan Untung Membela RI

    SETELAH tentara Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II, Batalyon Sudigdo di Wonogiri, Jawa Tengah, menjadi sibuk. Terutama setelah Tentara Belanda memasuki Baturetno. Para komandan pasukan yang berada di bawah komando Mayor Sudigdo pun bersiap, termasuk Kusman alias Untung Sjamsoeri. Mereka berbagi tugas. Pasukan Djumali akan bergerak dari arah utara, pasukan Wisnu dari barat, pasukan Prayitno dari selatan, dan pasukan Kusman dan Samijo dari arah timur. Pada hari penyerbuan itu, pasukan Untung berada di daerah Batuwarna. Segala persiapan pertempuran sudah mereka lakukan. Dari pukul 10 pagi dia berjalan ke arah kota. Sekitar pukul 12 siang, pasukan Untung mendengar suara tembakan. Dengan segera pasukan Untung mengambil posisi untuk menghadang tentara Belanda yang sudah mengetahui rencana pasukan republik itu.

  • Aneka Kuliner Favorit Diktator Korea Utara

    ADA yang berbeda dari penampakan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, saat memimpin rapat Partai Buruh di Pyongyang, 15 Juni 2021 lalu. Setelah lama tak muncul di muka publik, diktator berusia 37 tahun itu tampil dengan tubuh dan pipinya tak segembul satu atau dua tahun silam. Sejumlah pengamat politik dunia pun mengumbar spekulasi mengomentarinya. Ada yang mengatakan Kim Jong-un ingin bertenggang rasa terhadap rakyatnya yang sedang mengalami krisis pangan. Pendapat lain mengatakan, penampilan Jong-un disebabkan diet untuk tujuan kesehatan. Seperti ayahnya, Kim Jong-il, dan kakeknya, Kim Il-sung, Jong-un punya masalah obesitas karena selera makannya besar hingga memicu penyakit jantung sebagaimana dialami ayah dan kakeknya. Isu penyakit jantung yang dialaminya sudah merebak sejak tahun lalu ketika Jong-un tak hadir dalam milad kakeknya. Hong Min, analis senior Korea Institute for National Unification, meyakini bahwa setahun terakhir ini Jong-un menjalani diet ketat agar menghindari potensi serangan jantung akibat obesitas dan tak menampakkan gejala sakit di hadapan publik.

  • Akhir Tragis Pembelot Korea Utara (I)

    “APAKAH Tuan sudah tahu, tahanan baru yang menempati salah satu sel di blok Tuan berasal dari Korea Utara. Konon kabarnya ia memiliki hubungan dengan Kim Jong-il,” kata seorang penjaga Pusat Penahanan Seoul kepada Hwang Sok-yong, seorang aktivis dan veteran Perang Vietnam, yang pada 1993 dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara karena melakukan perjalanan pertukaran budaya tanpa izin ke Korea Utara. Kabar itu diketahui Hwang Sok-yong sekitar Juni 1994, ketika media Korea Selatan gencar melaporkan pembicaraan prospektif mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dengan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Il-sung terkait pengembangan senjata nuklir Korea Utara. Meski tak terlalu tertarik dengan informasi yang diberikan penjaga pusat penahanan, Hwang Sok-yong akhirnya bertanya pula tentang orang baru di blok tahanannya itu. “Saya bertanya apakah tahanan baru itu juga telah melanggar Undang-Undang Keamanan Nasional seperti dirinya, dan sang penjaga menjawab bahwa si wajah baru adalah seorang plate,” tulis Hwang Sok-yong dalam memoarnya, The Prisoner: A Memoir.

  • Kisah Cinta Diktator Korea Utara

    BAGI sebagian orang pembahasan mengenai Korea Utara selalu menarik untuk diikuti. Tak hanya seputar hubungannya dengan Korea Selatan yang “panas-dingin” atau kebijakan “tangan besi” sang pemimpin tertinggi yang membuatnya disebut diktator, tetapi juga kehidupan pribadi sang kepala negara, yakni keluarga Kim (Kim Il-sung, Kim Jong-il, dan Kim Jong-un). Andrei Nikolaevich Lankov dalam The Real North Korea: Life and Politics in the Failed Stalinist Utopia, menyebut kehidupan pribadi pemimpin tertinggi Korea Utara diwarnai drama tidak terduga, yang umumnya kesukaan para produser televisi yang senang dengan kisah-kisah dipenuhi berbagai intrik. Kisah percintaan Kim Jong-il dengan aktris layar lebar terkenal di Korea Utara misalnya, tak hanya dikritik dan ditentang sang ayah, Kim Il-sung, tetapi juga menjadi buah bibir di kalangan masyarakat –meski tak ada yang berani menggunjingkannya secara terang-terangan. Kisahnya berawal dari ketertarikan Kim Jong-il muda terhadap dunia perfilman. Beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Korea dan terbentuknya Korea Utara, Kim Jong-il yang lulus dari Universitas Kim Il-sung di Pyongyang pada 1964, diangkat menjadi kepala bagian di Komite Sentral Partai Buruh Korea yang dipimpin ayahnya, Kim Il-sung yang juga pemimpin tertinggi Korea Utara. “Jong-il memiliki tugas untuk mengawasi kegiatan Departemen Propaganda dan Agitasi,” tulis Johannes Schönherr dalam North Korean Cinema: A History.

  • Dalam Jangkauan Radar Bung Kecil

    GEDUNG bioskop di Hogewoerd, Leiden itu kini tak tampak lagi. Namun, ancar-ancar bekas lokasinya masih bisa dijangkau. Ia terletak di bagian kiri toko daging Bolle Jalan Hogewoerd Nomor 37, tepat di sudut perempatan Jalan Hogewoerd dengan Jalan Sint Jorissteeg. Pada lokasi toko daging itulah pernah berdiri gedung bioskop, di mana kaum sosialis kerap berkumpul, menyelenggarakan pertemuan. Sjahrir belum lama mengenal Maria ketika dia mengajaknya ke gedung bioskop itu untuk sebuah pertemuan kaum sosialis. Ajakan itu datang pada pertemuan kedua di Leiden. Pertemuan pertama terjadi di Amsterdam, di mana Sjahrir tinggal bersama keluarga dr. Djoehana. Nuning, kakak perempuan Sjahrir, istri Djoehana. “Waktu saya belajar di negeri Belanda saya mulai kenal Bung Sjahrir. Sjahrir belajar pada Fakultas Hukum di Amsterdam. Saya diundang oleh keluarga Djoehana ke Amsterdam di mana mereka tinggal. Istrinya adalah kakak kandung Sjahrir,” kata Maria. Kedatangan Maria ke Belanda hanya terpaut beberapa bulan saja dengan Sjahrir. Maria tiba bulan Maret 1929 sementara Sjahrir baru tiba pada akhir musim panas 1929. Namun, Sjahrir aktif lebih cepat. Tak lama setelah diterima kuliah di Fakultas Hukum Universiteit van Amsterdam, Sjahrir kirim surat kepada Salomon Tas, Ketua Amsterdam Sociaal Democratische Studenten Club, onderbouw SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij atau Partai Sosial Demokrat Belanda). Sejak itu, Sjahrir jadi anggota De Socialist, julukan perkumpulan mahasiswa sosdem itu.

  • Tarian Penanda Singgasana Sultan

    WAYANG Wong Menak diciptakan sebagai salah satu penanda pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dramatari istana Jawa ini memberikan identitas budaya pada masa dia menjadi sultan di Keraton Yogyakarta. Dosen seni tari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Bambang Pudjasworo mengatakan, ketika naik takhta pada 1941, Sri Sultan HB IX merasa perlu adanya sebuah pembeda. "Karena [tari] bedaya, serimpi setiap sultan pasti bikin," ujar Bambang dalam acara “Golek Menak dalam Belantara Modernitas, Sarasehan dan Pentas Tari Pastha Anglari Pasthi,” di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (19/10). Tidak sama halnya dengan penciptaan dramatari. Wayang Wong misalnya, diproses sangat lama, dari Sultan HB I sampai HB III. Mereka masih memanggil kelompok penari dari desa untuk menunjukkan gerakan tari Wayang Wong. Naskah cerita Wayang Wong ditulis dalam bentuk Serat Kandha pada pemerintahan HB V. Bentuk Wayang Wong diselesaikan pada masa Sultan HB VII. Namun, kostum dan karakternya masih belum berkembang dan disempurnakan pada masa Sultan HB VIII.

  • Empat Orang Pemberi Informasi Navigasi ke Nusantara

    AKHIR abad 16, tepatnya setelah tahun 1592, pasokan lada dari Asia ke Eropa yang terpusat di Lisbon, Portugis, menurun drastis dan harganya mahal. Penyebabnya armada dagang Portugis diganggu armada Inggris di wilayah selatan Atlantik. Hal itu justru jadi peluang pedagang Belanda untuk mengambil lada langsung dari sumbernya, Nusantara. Mereka pun mengumpulkan segala informasi dunia pelayaran ke timur dengan mengontak beberapa ahli kartografi dan pelaut berpengalaman. Petrus Plancius (1552-1622) Kartografer ini membuat peta dunia pada 1592, berjudul Nova et exacta Terrarum Tabula geographica et hydrographica. Dia mengembangkan metode baru untuk menentukan garis bujur serta memperkenalkan proyeksi Mercator untuk peta navigasi.

  • Menelusuri Gagasan LRT di Indonesia

    KERETA Lintas Rel Terpadu atau Light Rail Transit (LRT) mulai beroperasi secara terbatas di Jakarta sejak Selasa, 11 Juni 2019. Warga boleh naik moda transportasi publik baru berbasis rel ini selama program uji coba gratis. Seluruh rutenya melayang, melintang sejauh 5,8 kilometer dari Kelapa Gading (Utara)—Velodrome Rawamangun (Timur). Satu rangkaian LRT Jakarta terdiri atas dua kereta. Tiap kereta hanya mampu mengangkut 135 penumpang sekali jalan. Lebih kecil dari kapasitas angkut kereta Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT) yang mencapai 350 orang per kereta. Sebab bobot LRT lebih ringan ketimbang kereta MRT. Kesamaan keduanya terletak pada kecepatan, ketepatan waktu, kenyamanan, dan teknologi kiwari. Pembangunan fisik LRT Jakarta mewujud pada Juni 2016. Tetapi gagasan seputar LRT di Jakarta telah mengemuka sejak 1987. Masa inilah gagasan LRT di Indonesia mulai bertumbuh.

  • Dapur Umum Lasmidjah Hardi

    LASMIDJAH Hardi dan rekan-rekan perempuan pejuang yang mengurus dapur umum bingung. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan masih berjalan, Jakarta kehabisan cadangan beras. Mereka segera berkumpul untuk memecahkan masalah. Berbagai kenalan pun dihubungi untuk dimintai bantuan. Upaya mereka membuahkan hasil. Seorang jago pro-republik datang untuk menyumbangkan berasnya untuk keperluan dapur umum. Haji Darip namanya, tinggal di Klender, Jakarta Timur. Namun, beras Haji Darip tidak di Jakarta, melainkan ada di gudang Tambun, Bekasi. Lasmidjah pun langsung mengajak Sujatin Kartowijono dan Erna Djajadiningrat dari dapur umum Wani (Wanita Negara Indonesia) menyusun rencana bersama. Keputusannya, Lasmidjah yang ditugaskan mengambil beras itu.

  • Lasmidjah Hardi, Perempuan Pejuang yang Menggemari Sejarah

    BERSAMA rekan-rekannya sesama perempuan pejuang di masa revolusi, Lasmidjah Hardi mendirikan Yayasan Wanita Pejuang pada 24 Februari 1977. Selain Lasmidjah, anggotanya antara lain SK Trimurti, Sujatin Kartowidjono, Siti Djauhari Sudiro, Soekanti Soerjotjondro, Utami Soerjadharma, dan Amini Sutari Abdulgani. Yayasan ini mereka maksudkan sebagai wadah untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus. Langkah tersebut diwujudkan lewat upaya penghimpunan dan pembukuan kisah-kisah perjuangan para para wanita. Yayasan ini megeluarkan lima jilid buku berjudul Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi. Diungkapkan dalam prawicara Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi I, ide pembuatan bukunya bermula dari obrolan dalam reuni Wanita Pejuang pada Mei 1981. Akhirnya dibuatlah lima jilid buku yang memuat 54 cerita para perempuan pejuang. Tokoh yang mengisahkan perjuangannya di buku tersebut diambil dari beragam latar belakang, daerah, budaya, agama, dan organisasi agar mencerminkan kebhinekaan Indonesia. “Sejak bangkitnya pergerakan nasional, wanita merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan untuk kemerdekaan tanah air,” kata Lasmidjah dalam prawicara Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi IV. Ia juga mengajak para perempuan untuk menyadari hak-haknya yang sudah diperjuangkan di masa sebelumnya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page