Hasil pencarian
Search this site
9960 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Aksi-aksi Zionis Israel Menodai Masjid Al-Aqsa
SEKIRA 250 ribu jamaah yang menyesaki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina, mendirikan shalat tarawih berjamaah dengan khusyuk di malam Lailatul Qadar, Rabu (27/4/2022) waktu setempat. Pelaksanaan ritual itu berjalan lancar walau di luar kompleks masjid, di jalan-jalan Kota Tua Yerusalem, maupun di pos jaga Qalandia tetap diawasi pasukan Israel dengan ketat. Pun ketika selesai, 250 ribu jamaah itu keluar dari kompleks Al-Aqsa dengan tertib. Pengawalan pasukan itu merupakan realisasi dari pernyataan pemerintah Israel yang mengklaim akan tetap mempertahankan status quo kompleks Masjid Al-Aqsa yang steril dari non-muslim. Kompleks Masjid Al-Aqsa sendiri berlokasi di kawasan Har Bayit (Bukit Kuil, sebutan Yahudi) atau Al-Haram ash-Sarif (Tempat Suci, sebutan Arab) yang merupakan kawasan suci bagi tiga agama samawi: Islam, Yahudi, dan Kristen. Selain kompleks Al-Aqsa, di sana juga terdapat Tembok Ratapan yang jadi tempat suci Yahudi. Suasana tarawih Rabu itu berbeda dengan suasana dua pekan lalu, yang penuh teriakan dan jeritan muslim Palestina maupun letupan senjata pasukan Zionis Israel. Pada Jumat pagi, 15 April 2022, kompleks Al-Aqsa diserbu pasukan Israel. Dengan arogan pasukan Israel menggeruduk masjid, menahan 400 orang, dan melukai 150 lainnya dengan granat kejut dan peluru karet.
- Pengaruh Tionghoa pada Masjid Demak dan Masjid Angke
Masjid Demak Prototipe Masjid Nusantara SETELAH mengalahkan Majapahit pada abad ke-15, Raden Patah atau Panembahan Jinbun yang seorang Muslim ingin adanya sebuah masjid untuk memperindah ibukota Demak sekaligus melengkapi identitas sebagai kerajaan Islam. Pembangunan sudah dimulai tapi tak pernah selesai karena kesulitan mendirikan tiang penyangga (sokoguru) berupa empat tiang raksasa yang menjadi konstruksi utamanya. Salah satu tiang terbuat dari potongan-potongan kayu (sokotatal). Tukang-tukang setempat tak punya pengalaman. “Tiga tahun setelah penundukan Majapahit, kapten Cina Gan Si Cang di Semarang menyampaikan permohonan kepada bupati Kin San untuk ikutserta menyelesaikan pembangunan masjid agung Demak,” tulis Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara.
- Kisah Manis Gula Aren
JAUH sebelum mengenal gula tebu, masyarakat Nusantara, terutama Jawa, sudah memproduksi dan mengkonsumsi gula aren. Beragam makanan dan minuman khas Nusantara menggunakan gula aren, termasuk kecap manis, pelengkap dan penyedap makanan khas negeri ini. Tak diketahui pasti kapan kali pertama masyarakat Nusantara mengolah nira dari pohon aren untuk membuat gula aren. Namun, diyakini teknik pengolahan gula aren sudah dikenal lama dan bertahan secara turun-temurun. Catatan tertua yang tersedia mengenai sentra pembuatan gula aren tersua dalam prasasti Biluluk (1366-1395), yang dikeluarkan penguasa Jawa pada akhir abad ke-14. Prasasti ini berisi titah raja kepada keluarga kerajaan yang memerintah di Biluluk dan Tanggulunan, keduanya berada di wilayah otonom Lamongan yang sangat berarti bagi kerajaan Majapahit. Isinya antara lain memberi kebebasan kepada rakyat untuk bergiat di berbagai kegiatan, termasuk membuat gula aren, tanpa dipungut pajak.
- Hitam Manis Kecap Indonesia
KECAP merupakan pelengkap dan penyedap makanan khas dari negeri Timur. Sejak awal ditemukan, kecap terus berevolusi hingga kini. Kecap berkembang dan menjadi khas di masing-masing daerah, tergantung ketersediaan bahan dan selera masyarakat setempat. Sekira 2.500 SM, orang Tiongkok telah mengenal kecap. Kala itu kecap mulanya identik dengan kuah dari kaldu ikan. Menurut kitab Chau Lai, ritus seremonial Dinasti Chau yang ditulis sebelum tahun 1.000 SM, kaisar menggunakan 120 botol kecap untuk pelengkap dan penyedap makanan. Kwangtung dikenal sebagai penghasil kecap di sana, sehingga Canton sebagai ibukota secara alamiah menjadi pusat industri dan perdagangan kecap. Penggunaan kecap menyebar ke Jepang seiring penyebaran agama Buddha. Di sana, saus serupa disebut shoyu, yaitu hasil fermentasi kedelai yang ditambah air garam. Di Nusantara, masyarakat mengkonsumsi kecap khas yakni kecap manis. Ia terbuat dari kedelai dan gula merah atau gula aren, yang telah lama dikenal di Nusantara bahkan sebelum gula tebu.
- Mengecap Lezatnya Kecap
KEPULAN asap membias di langit-langit atap sebuah rumah tua di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Banten. Beberapa karyawan sibuk mengaduk adonan kental nan pekat. Peluh mengucur di sekujur tubuh. Di depan rumah, Setyadi alias Teng Tek Yan mengawasi anak buahnya. Sesekali dia ringan tangan membantu pekerjaan. “Ini usaha keluarga, jadi saya bukan pemiliknya. Saya hanya dipercaya oleh keluarga untuk mengurusi usaha ini,” kata Setyadi, pemilik pabrik kecap Teng Giok Seng. Pabriknya memproduksi kecap cap Burung dan Istana. Setyadi adalah generasi keempat dalam garis keturunan Teng Hay Soey, pengusaha yang membangun pabrik kecap ini pada 1882.
- Jalan Sunyi Kecap Zaman Revolusi
KABAR Proklamasi akhirnya sampai ke Bogor. Masyarakat menyambut gembira. Bendera merah putih berkibar. Pasar menjadi lebih ramai. Di tengah euforia kemerdekaan, Soedjono datang mengadu nasib ke Bogor, meninggalkan tanah kelahirannya di Juwana, Pati, Jawa Tengah. Modalnya cuma satu: keahlian membuat kecap manis. Soedjono (Cheng Tjong Tian) lahir dari keluarga pengusaha tahu dan kecap di daerah Juwana, Pati, Jawa Tengah, sekira tahun 1907. Dari orang tuanya, Soedjono mewarisi keahlian membuat kecap. “Dengan bakat membuat kecap dari engkong (kakek) dari Juwana, ayah saya membuka usaha di Bogor,” ujar Soenardi, 82 tahun, putra sulung Soedjono. Di Bogor, Soedjono tinggal di Purbasari, kawasan Gunung Batu –sekarang masuk wilayah administrasi kecamatan Bogor Barat. Di sana dia membeli rumah dengan lahan seluas sekira 1.500 meter persegi. Dibantu empat pekerja, mulailah dia membuat kecap manis, yang mendapat label kecap cap Badak. Awalnya dia hanya memenuhi kebutuhan kecap masyarakat setempat. Usahanya laris manis. Setelah usahanya mapan, Soedjono memboyong istri, anak, dan orang tuanya ke Bogor.
- Kecapnya Orang Tangerang
KEPULAN asap membias di langit-langit atap sebuah rumah tua di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang, Banten, berebut keluar dari cerobong. Beberapa karyawan sibuk mengaduk adonan yang kental dan pekat dengan gayung seng. Peluh mengucur di sekujur tubuh. Di depan pintu rumah, berkaca mata dan berkemeja kotak-kotak, Setyadi mengawasi kerja anak buahnya. Sesekali dia begitu ringan tangan membantu pekerjaan. “Ini usaha keluarga, jadi saya bukan pemiliknya. Saya hanya dipercaya oleh keluarga untuk mengurusi usaha ini,” kata Setyadi alias Teng Tek Yan. Setyadi adalah generasi keempat dalam garis keturunan Teng Hay Soey, pengusaha Tionghoa yang kemudian membangun usaha pembuatan kecap ini pada 1882. Setyadi dipercaya mengelola pabrik setelah ayahnya, Taufik atau Teng Tjiong Cwan, memutuskan pensiun.
- Pejuang Batak Ganti Nama di Tengah Perang
NAMA Washington Strouwsky tercatat sebagai tokoh pejuang kemerdekaan asal Sumatra Utara. Pada akhir 1948, Letnan Satu Strouwsky adalah komandan Kompi IV dari Batalion II di Tarutung yang tergabung dalam Sektor II. Kesatuan TNI Sektor II dipimpin oleh Mayor Liberty Malau dengan wilayah operasi meliputi Tapanuli Utara. Saat itu Belanda baru saja melancarkan agresi militer kedua. Informasi mengenai sosok Strouwsky terendus dalam pantauan intelijen Belanda. Nama Strouwsky menimbulkan tanda tanya bagi pihak Belanda. Kedengarannya seperti nama Rusia. Tentara Belanda sempat curiga apakah Rusia menempatkan perwiranya di ibukota Tapanuli Utara itu. Tapi, nama depannya justru Washington yang mengingatkan orang kepada presiden pertama Amerika Serikat sekaligus nama ibukota negara tersebut. Menurut Midian Sirait, eks tentara pelajar Tarutung, Strouwsky bermarga Sitorus. Karena dia seorang komandan kompi yang biasa diringkas “Ki”, maka dia sebut “Sitorus Ki”, artinya Sitorus yang komandan kompi. Penyingkatan panggilan marga sekaligus pangkatnya inilah yang kemudian menjelma menjadi nama “Strouwsky”.
- Bandit Medan Berjuang dalam Perang Kemerdekaan
JAUH sebelum begal berkeliaran seperti sekarang, Kota Medan pernah lebih mencekam dengan keberadaan gerombolan begundal. Sebermula ketika Belanda angkat kaki dan Jepang menguasai kota. Ada saja kelompok berandalan liar yang memanfaatkan masuknya serdadu Jepang untuk memperkaya diri lewat cara-cara kriminal. “Kelompok bandit ini melakukan penjarahan, perampokan dan mencuri harta benda, terutama milik Belanda si pecundang perang,” kenang Matiur Tambunan seperti ditulis Herry Gendut Janarto dalam biografi Matiur M. Panggabean, Bunga Pansur dari Balige: Pengabdian dan Keteguhan Iman Seorang Istri Prajurit. Matiur kelak lebih dikenal sebagai istri dari Jenderal Maraden Panggabean (Panglima ABRI 1973-1978). Di masa pendudukan Jepang, kehidupan sosial masyarakat sangat memprihatinkan. Disebutkan dalam Sejarah Daerah Sumatra Utara yang ditulis tim peneliti Depdikbud, masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sandang. Untuk itu, pemerintah pendudukan Jepang mengerahkan masyarakat untuk proyek kerja paksa (kinrohosi).
- Berburu Binatang Berhadiah Uang
GUBERNUR Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen membangun kota Batavia usai merebut wilayah itu dari Kesultanan Banten pada 1619.Sejumlah orang didatangkan untuk menjadi penghuni pertama kota tersebut. Selain serdadu VOC, Batavia juga dihuni warga Tionghoa yang didatangkan dari Banten dan tempat-tempat lain di sepanjang pantai utara Jawa. Arsiparis dan sejarawan Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia menyebut kelompok lain yang termasuk penghuni pertama adalah para budak dari koloni-koloni VOC di Asia dan Indonesia timur. “Ada yang karena menjadi tawanan perang, ada yang memilih menjadi serdadu dan lalu dianggap sebagai orang merdeka, karena itu disebut mardijkers,” sebut Mona. Keberadaan penduduk Batavia mendorong pihak VOC memikirkan cara mengatur dan memerintah kota. Tak hanya mengurus hal-hal terkait pemerintahan sipil dan pengadilan, VOC juga mengatur perburuan binatang buas yang mengancam penduduk Batavia.
- Mencari Ruang Narasi Peran Etnik Tionghoa dalam Sejarah Bangsa
DARI zaman ke zaman, masyarakat etnis Tionghoa senantiasa mengalami dilema. Dari zaman kolonial sampai era Reformasi, aneka stigma negatif masih mengikuti mereka. Oleh karenanya, menjadi penting untuk memulai mencari ruang yang setara untuk mengakui peran etnis Tionghoa dalam “Rumah Indonesia” lewat pendidikan. Menurut akademisi cum koordinator Program Studi S2 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr. Abrar, jika Indonesia ingin menyongsong masa depan sebagai bangsa yang modern, mestinya sudah bisa menempatkan setiap suku bangsa pada posisi yang sama tanpa perbedaan perlakuan. Utamanya dalam melihat konteks sejarah dengan narasi peran yang setara. “Kenyataannya masih tetap saja terjadi (ketidaksetaraan). Sudah menjadi tugas kita semua, terutama guru-guru yang menjadi ujung tombak, untuk meng-clear-kan persoalan (peran etnik) Tionghoa,” tutur Abrar saat membuka kuliah umum dan workshop bertajuk “Membangun Kesetaraan bagi Etnik Tionghoa melalui Pendidikan Sejarah”, di Gedung Pascasarjana UNJ, Jumat (13/10/2023).
- Hotel Hilton Jakarta dan Keluarga Ibnu Sutowo
NAMA Ibnu Sutowo mentereng sebagai “raja minyak” setelah menjabat direktur utama Pertamina pertama. Namun, dia juga seorang pebisnis ulung. Semasih menjadi bos Pertamina, dia merambah bisnis perhotelan. Lewat perusahaan pribadinya, PT. Indobuild.co., dia menggarap tanah milik negara di dalam kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Selatan. Lahan itu menjadi cikal bakal Hotel Hilton Jakarta, yang resmi beroperasi pada 1976. Hotel Hilton Jakarta merupakan hotel bintang lima bertaraf internasional kedua setelah Hotel Indonesia. Untuk meningkatkan reputasi hotelnya, Ibnu Sutowo menggandeng manajemen dari taipan raksasa perhotelan asal Amerika, Conrad Hilton. Pada awal berdiri, Hotel Hilton Jakarta terdiri dari satu bangunan 16 tingkat dengan kapasitas 400 kamar. Dengan fasilitas dan reputasi yang disandangnya, Hotel Hilton Jakarta menjadi simbol kemewahan dan masuk jajaran hotel elite Indonesia. Ia menjadi tempat orang-orang tajir menginap maupun beracara, perhelatan penting nasional, hingga pameran galeri seni dan busana.





















