Hasil pencarian
9756 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Nasib Dading Kalbuadi Setelah Berangkat ke Timor Timur
SEBELUM Operasi Seroja di Timor Leste pada 1975, nama Dading Kalbuadi tak begitu menonjol di kalangan perwira TNI. Padahal, dia punya peran cukup penting dalam keberhasilan operasi tersebut. Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah pada 14 April 1931 ini merupakan kawan L.B. Moerdani, panglima ABRI dan menteri pertahanan di masa pemerintahan Soeharto. Keduanya bareng ketika belajar di Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat (P3AD), Bandung pada era 1950-an. Seperti Benny, sapaan akrab Moerdani, ketika belum berusia 17 tahun Dading sudah ikut melawan tentara Belanda. Operasi keduanya sama-sama di Jawa Tengah tapi di daerah berbeda. Benny di sekitar Solo dan pernah ikut kelompoknya Letnan Kolonel Slamet Rijadi. Sementara Dading menjadi anggota pasukan Indonesia Merdeka Atau Mati (IMAM) di daerah Banyumas. Iwa Sumarmo dalam Indonesia Merdeka atau Mati menyebut Dading pernah terlibat dalam sebuah misi sulit, yakni penyusupan ke daerah pendudukan tentara Belanda.
- Gouw Ji Lu Luput dari Pembantaian Tangerang
BANJIR darah melanda Tangerang pada 3 Juni 1946. Orang-orang Tionghoa yang disebut Cina Benteng jadi sasaran amuk warga pribumi. Mereka dibantai tanpa pandang bulu, entah itu laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Rumah-rumah milik orang Tionghoa dijarah lalu dibakar. Orang-orang Tionghoa Tangerang mengenangnya sebagai “Peristiwa Dunia Kiamat”. “Warga Indonesia membunuh sekitar 1.000 pria, wanita, dan anak-anak Tionghoa yang meninggalkan distrik Tangerang, sekitar 30 kilometer sebelah barat Batavia,” lansir Algemen Handelsblad , 5 Juni 1946. Menurut laporan Palang Merah Tionghoa Jang Seng Ie di Jakarta, sebanyak 653 orang Tionghoa dibunuh di Tangerang dan sekitarnya, termasuk 136 wanita dan 36 anak-anak. Sebanyak 1.268 rumah dibakar dan 236 lainnya rusak. Akibatnya, ribuan orang Tionghoa mengungsi ke Jakarta yang saat itu dikuasai tentara NICA-Belanda. Diperkirakan 25.000 orang pengungsi Tionghoa melarikan diri dari Tangerang. Demi mencari selamat, mereka nekat menyeberangi Sungai Cisadane yang berarus deras. Koran-koran berbahasa Belanda memberitakan peristiwa pembantaian Tangerang dilakukan oleh ektremis Indonesia. Pembunuhan disebut telah direncanakan sebagai balasan atas sejumlah orang Tionghoa, yang disebut "CINA-NICA", bekerja sebagai mata-mata bagi Belanda. Pembantaian juga meliputi berbagai tindakan kekerasan, pembunuhan, dibakar hidup-hidup, mutilasi, hingga pemerkosaan. Dalam waktu beberapa hari sejak peristiwa terjadi, media-media Belanda mengumumkan sebanyak 3000 orang Tionghoa kehilangan nyawaya dalam pembantaian di Tangerang. “Pemimpin yang bertanggung jawan adalah Haji Sjafei, seorang fanatik agama yang menurut geng-geng Banten memiliki kekuatan magis. Haji Sjafei berada di bawah kekuasaan yang disebut pemerintahan rakyat, yang memegang kendali penuh di wilayah Banten dan praktis tidak dikendalikan oleh pemerintahan Sjahrir. Para bandit telah menghancurkan jembatan dan jalan, sehingga mustahil bagi warga Tionghoa yang ketakutan untuk mencapai daerah yang aman,” demikian diwartakan harian Graafschapper, 7 Juni 1946. Namun, menurut sejarawan Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik , ada perkiraan bahwa peristiwa Tangerang telah direncanakan NICA untuk memperluas daerah kekuasaannya. Beberapa waktu sebelumnya, sekelompok pasukan Republik yang membawa rombongan tawanan dan interniran Sekutu, disergap oleh satu kompi serdadu NICA. Intelijen NICA kemudian menyebarkan kecurigaan dan hasutan bahwa orang Tionghoa yang berkhianat atas terjadinya penyergapan tersebut. “Memang orang Tionghoa yang pada waktu itu menjadi sasaran untuk melemparkan perasaan tidak senang, sekali ini tepat ditempatkan di titik sasaran provokasi Belanda. Pembunuhan besar-besaran pun terjadi,” ulas Benny. Dari sekian banyak orang Tionghoa yang jadi korban, seorang jago bela diri asal Hokkian bernama Gouw Ji Lu luput dari pembantaian. Selain ahli bela diri, Gouw Ji Lu juga seorang praktisi Taoisme. Namun, Gouw Ji Lu selamat bukan karena keahlian bela diri, melainkan oleh pribadinya yang dikenal dermawan. “Ketika tahun 1946 pecah kerusuhan rasialis di daerah Tangerang di mana banyak warga Tionghoa yang menjadi korban, Gouw Ji Lu dan keluarganya justru dikawal oleh orang-orang yang pernah dibantunya hingga ia dan keluarganya terselamatkan,” catat Alex Cheung, Charly Huang, dan Erwin Tan dalam Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia . Dalam kesehariannya Gouw Ji Lu dikenal suka membantu orang. Ia sering membawa orang kelaparan yang ditemuinya ke rumahnya untuk diberi makanan. Setelah orang-orang yang diajak ke rumahnya itu cukup kuat kondisinya, Gouw Ji Lu menanyakan apakah mereka berminat bekerja di sawah garapannya. Hal ini sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang tersebut. Gouw Ji Lu memiliki lima orang anak, tiga perempuan dan dua laki-laki. Salah satu anak laki-lakinya bernama Gouw Pit Soen adalah ayah dari pendekar wanita Gouw The Moi. Menurut Gouw The Moi, kakeknya memang memiliki kesaktian di luar akal sehat. Meski sederhana, pada dekade 1950-an, Gouw Ji Lu tetap dikenal sebagai Tionghoa dermawan di Tangerang. Di masa tuanya, Gouw Ji Lu disebut wafat dengan wajah cerah berseri-seri, tidak tampak seperti orang yang meninggal.*
- Jejak Samar di Kota Merah
MEI 1913, kesempatan itu datang. Hanya tiga bulan setelah tiba di Hindia Belanda, dan sempat bekerja di Surabaya sebagai staf editor Soerabajaasch Handelsblad , Henk Sneevliet hijrah ke Semarang. Ia menyambut tawaran yang lebih menarik, menggantikan DMG Koch sebagai sekretaris Semarang Handelsvereeniging. Bagi Sneevliet, kepindahan ini punya arti penting. Bukan soal gaji besar, lebih dari itu, keinginan menemukan suasana yang cocok bagi aktivitas pergerakan. Merujuk Ruth T. McVey, Semarang pada masa itu tumbuh menjadi pusat kepentingan komersial orang-orang Eropa yang hendak membangun pasar di Jawa. Kota ini tengah membentuk dirinya menjadi enclave industri besar yang menyerap banyak tenaga kerja dari wilayah hinterland . Keberadaan kelas buruh menciptakan suasana revolusioner lebih kental dari kota-kota besar lain di Hindia Belanda. Sejarah mencatat, selama berada di Semarang, anggota Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda (SDAP) itu aktif melakukan kerja-kerja revolusioner: menyokong aktivitas Serikat Pekerja Kereta Api dan Trem (VSTP), mendirikan Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda (ISDV), memerahkan Angkatan Laut dan tentara Belanda, serta menyusupkan paham marxisme di kalangan aktivis pergerakan nasional. Ikhtiar Sneevliet melahirkan manusia-manusia radikal seperti Semaoen, Darsono, dan Mas Marco Kartodikromo yang gencar melakukan perlawanan politik terhadap pemerintah kolonial.
- Semaoen Anak Didik Sneevliet
PADA siang hari 16 Juli 1917, untuk sebuah pekerjaan propaganda buruh serikat kereta api, Semaoen dan Henk Sneevliet pergi mengunjungi Probolinggo. Atas anjuran seorang kusir, mereka menuju sebuah hotel di tengah kota Probolinggo. Ketika pesuruh hotel membawa koper masuk dan Sneevliet tengah duduk di kursi goyang, pemilik hotel datang menyambangi Sneevliet dan bertanya, “siapakah inlander yang datang bersamamu itu? Apa pekerjaanya?” “Dia kolega saya, tuan,” kata Sneevliet sopan. “Apakah dia seorang guru?” tanya pemilik hotel berkulit putih itu. Sneevliet kembali mengatakan bahwa lelaki yang pergi bersamanya itu kawannya tak lebih tak kurang. Mendengar jawaban tersebut, pemilik hotel mengatakan bahwa hotelnya tidak biasa menerima seorang tamu bumiputra untuk menginap. Dia berkilah merasa tak enak dengan tamu-tamunya yang lain. “Ada hotel lain di sini, milik seorang Tionghoa, di mana orang seperti kawanmu itu bisa menyewa kamar,” kata pemilik hotel, sontak membuat Sneevliet marah.
- Kisah Semaoen dan Suratnya untuk Komintern
PADA 8 Mei 1923 pemerintah kolonial menangkap Semaun, tokoh PKI, karena dituduh membuat onar Hindia Belanda. Ia memimpin pemogokan buruh kereta api di Semarang yang juga dilakukan oleh buruh kereta api di Surabaya. Pemogokan tersebut jadi alasan kuat bagi pemerintah kolonial untuk mengasingkan Semaun keluar dari Hindia Belanda. Dengan menggunakan hak untuk mengusir orang yang dianggap berbahaya ( exorbitante rechten ), gubernur jenderal Hindia Belanda memerintahkan Semaun meninggalkan Hindia Belanda dan tiba di Belanda pada 23 September 1923. Menurut sejarawan Harry Poeze, tiga hari setelah kedatangannya di Amsterdam, sejumlah orang menyelenggarakan rapat penyambutan yang diadakan untuknya di gedung konser ( concertgebouw ) Amsterdam. Selama dia berada di Eropa, Semaoen “memperlihatkan kegiatan yang luar biasa dan kegiatan itu diarahkan ke berbagai jurusan,” tulis Harry Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 .
- Angan-Angan “Kemenangan”
PAGI itu, pukul 10, Selasa, 20 November 1917, ratusan orang berkumpul di ruang sidang gedung Pengadilan Tinggi (Raad van Justitie) Semarang. Mereka hendak menyaksikan persidangan yang tidak biasa: seorang Belanda totok dimejahijaukan. Henk Sneevliet, nama pesakitan itu, diadili atas tuduhan persdelict (menghasut rakyat lewat tulisan untuk melawan pemerintah kolonial) melalui artikelnya yang berjudul Zegepraal (Kemenangan) yang dimuat De Indiers , 19 Maret 1917. Kisah pengadilan Sneevliet bermula dari kabar revolusi di Rusia. Pada 8 dan 9 Maret 1917 kaum buruh di Petrograd turun ke jalan, demonstrasi besar-besaran sambil menyanyikan Mareseillese . Tentara dikirim untuk membubarkan demonstrasi. Alih-alih menembaki demonstran, mereka malah berbalik mendukung. Revolusi Rusia meletus hari itu. Lewat secarik telegram pada 18 Maret 1917, Sneevliet menerima kabar revolusi di Rusia itu. Terinspirasi revolusi di Rusia, dia bergegas menulis artikel yang diberi judul Zegepraal (Kemenangan). Melalui artikelnya, Sneevliet mengajak kaum buruh di Hindia Belanda bangkit melawan kolonialisme dan imperialisme.
- Kerja Revolusioner di Tanah Jajahan
PERSETERUAN Henk Sneevliet dengan kaum sosialis moderat di Belanda membuatnya kehilangan pekerjaan. Dia dicopot sebagai ketua Serikat Buruh Kereta Api Belanda (NVSTP) yang berada di bawah kendali SDAP (Partai Buruh Sosial Demokrat) karena bergabung dengan pecahannya, SDP (Partai Sosial Demokrat) –kemudian menjadi Partai Komunis Belanda. Sneevliet meninggalkan SDAP karena kaum sosialis moderat itu menolak mendukung demonstrasi kaum buruh pelabuhan di Amsterdam. Tak ada lagi pekerjaan sejenis yang ditemukannya di Belanda. Kebanyakan swasta enggan mempekerjakan seorang penyulut api tersohor seperti dirinya. Dia memutuskan mencari peruntungan ke Hindia Belanda. “Sneevliet datang ke Indonesia hanya sekadar mencari pekerjaan, tetapi rasa panggilan revolusionernya membuatnya tak terhindarkan bahwa kegiatan utamanya ialah memberikan khotbah akan keyakinan politiknya,” tulis sejarawan Ruth T. McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia .
- Langkah Pemuda dari Rotterdam
HENK Sneevliet baru menginjak usia tiga tahun ketika ibunya, Hendrika Johanna Mackelenbergh meninggal dunia karena sakit paru-paru kronis. Suaminya, Antonie Sneevliet, pembuat cerutu di Rotterdam yang berpenghasilan minim tak mampu membiayai perawatan terbaik bagi istrinya. Nyawa Hendrika tak tertolong lagi. Dia meninggalkan dua anak: Henk dan adiknya yang masih kecil, Christina. Henk sebenarnya anak kedua. Lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Dia punya abang yang meninggal saat masih kecil, juga karena penyakit paru-paru. Ellen Santen, cucu tiri Henk dari istri keempatnya, Mien Draaijer, mengisahkan keluarga Antonie hidup serba kekurangan di tengah merebaknya wabah TBC. “Warga Belanda kelas bawah waktu itu banyak menderita TBC. Mereka hidup miskin dan Henk dibesarkan dalam keadaan demikian,” ujar Ellen kepada Historia saat ditemui di rumahnya di bilangan Nieuwe Prinsengracht, Amsterdam, pertengahan April yang lalu. Sepeninggal istrinya, Antonie membawa Henk dan Christina dari Rotterdam ke rumah ibunya di s-Hertogenbosch, sebuah kota kecil di sebelah selatan Belanda. Sementara kedua anaknya dititipkan di rumah ibunya, dia bekerja sebagai penjaga penjara di Roermond, 90 kilometer ke selatan s-Hertogenbosch. Ketika menikah lagi, Henk dan Christina diboyong ke Roermond. Namun Henk tak betah tinggal dengan ibu tirinya dan memilih pulang ke rumah neneknya di s-Hertogenbosch. Dari pernikahan keduanya, Antonie punya dua anak.
- Tarumanagara Through Wangsakerta and Chinese Records
The origins of Tarumanagara as the first kingdom on the island of Java are still debated by experts and historians. The consensus is that Tarumanagara existed for no more than three centuries. However, there are still differing accounts of its collapse. Various historical sources mention that Tarumanagara existed from the 4th to the 7th century AD. From archaeological findings in the form of seven inscriptions, only one ruler's name can be proven with certainty: King Purnawarman. One popular manuscript that tells the story of the origins and collapse of Tarumanagara is Wangsakerta. The Wangsakerta manuscript is a collection of manuscripts compiled by a committee led by Prince Wangsakerta on the orders of Panembahan Girilaya, Sultan of Cirebon.
- Panggung Sejarah Henk Sneevliet
PADA buku-buku sejarah di Indonesia, nama Henk Sneevliet selalu disebut dalam sederet kalimat saja: Henk Sneevliet adalah orang pertama yang membawa ajaran komunisme ke Hindia Belanda (Indonesia). Selebihnya sudah bisa ditebak: komunisme adalah momok yang menakutkan sehingga upaya untuk menguak perannya berhenti seketika. Versi resmi kerap menyebut sosok inilah yang merusak negeri ini; seorang kiri dan … asing pula, dengan menggunakan cara-cara kotor: menyusup dan memecah-belah Sarekat Islam demi menarik massa ke organisasi komunis. Padahal saat itu bukan hal aneh keanggotaan ganda dalam organisasi. Situasi sosial-politik juga menentukan pertarungan ide dan gagasan. Sneevliet, orang Belanda –bukan Soviet atau China– yang memperkenalkan komunisme di Indonesia, ternyata memang punya peran penting dalam sejarah di Indonesia. Dia memang berkulit putih, orang Belanda totok kelahiran Rotterdam, tapi ketika berada di Hindia Belanda sejak 1913 sampai 1918, dia justru menjadi advokat terdepan dalam membela rakyat. Sepak terjang Sneevliet mencuat setelah ikut mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV) di Surabaya, yang setelah mengalami perpecahan internal berubah menjadi PKI, organisasi komunis pertama di Asia. Komunisme, seperti ideologi lainnya, memberi warna dalam perjalanan sejarah Indonesia. Tak mungkin dihapuskan. Begitu juga Sneevliet. Mas Marco Kartodikromo, jurnalis bumiputra terkemuka saat itu, menulis bahwa rakyat jajahan seharusnya malu kepada Sneevliet. “Berapa orang bangsa kita yang berani membela kepada bangsa kita seperti Sneevliet yang dibuang lantaran membela kita orang itu? Apakah pemimpin pergerakan kita juga berani dibuang?” kata Marco dalam tulisannya di Sinar Hindia , 10 Desember 1918, menggugat pembuangan Sneevliet keluar Hindia Belanda. Sneevliet akhirnya memang dibuang pada 1918. Dia dianggap menghasut rakyat Hindia Belanda untuk melawan pemerintah kolonial. Tapi pembuangan tak menghentikan langkahnya. Dia tercatat sebagai orang yang menggagas kongres pertama Partai Komunis Tiongkok yang dihadiri Mao Zedong sekaligus berperan memperkuat pondasi awal partai itu. Usai tugas dari Tiongkok, dia tak pernah berhenti melawan. Sampai akhirnya senjata serdadu Nazi menuntaskan riwayat hidupnya pada 13 April 1942.* Berikut ini laporan khusus Henk Sneevliet: Langkah Pemuda dari Rotterdam Kerja Revolusioner di Tanah Jajahan Angan-Angan “Kemenangan” Semaoen Anak Didik Sneevliet Jejak Samar di Kota Merah Aksi Ma Lin di Negeri Tiongkok Dari Dalam Rumah Sang Revolusioner “Saya Terperdaya oleh Henk Sneevliet” “Cerita Rumah Tangga dalam Empat Babak” Atas Nama Rakyat Indonesia Perjalanan Terakhir Henk Sneevliet
- PKI Tak Sempat Tua
SEBUAH kado ulang tahun Partai Komunis Indonesia (PKI) ke-45 dipersiapkan Lembaga Sejarah PKI. Bentuknya berupa sebuah buku yang merangkum perjalanan partai tersebut. Konsep penulisannya sudah selesai. Judulnya Sejarah 45 Tahun PKI . Pada 4 Mei 1965, Busjarie Latif, sekretaris Lembaga Sejarah PKI, berkirim surat kepada “kawan-kawan”-nya menyampaikan manuskrip tersebut. Isinya bersumber dari dokumen-dokumen partai, hasil riset kepustakaan, dan bahan-bahan kuliah Akademi Politik Aliarcham. Kepada “kawan-kawan” itu, yang konon berjumlah 35 orang, dia menyampaikan “penentuan diskusi selanjutnya akan kami beritakan lebih lanjut.” Namun diskusi tersebut tak pernah terjadi. Sialnya lagi, lima bulan kemudian pecah peristiwa Gerakan 30 September 1965, yang disusul pembantaian massal orang komunis, termasuk Busjarie Latif. Sejak itu, segala hal yang berbau komunis dirampas dan dihancurkan, tak terkecuali manuskrip ini.
- Tradisi Pengetahuan yang Digerus Zaman
MASHADI, petani asal Desa Pandansari, Brebes, Jawa Tengah, pusing dan gelisah. Dia mengeluhkan perubahan iklim dan gejala-gejala cuaca ekstrem yang membuatnya kesulitan menentukan waktu menanam bibit. Sejak dulu dia mempraktikkan pranata mangsa, ajaran orangtua dalam hal bercocok-tanam yang tak sebangun dengan penanggalan Masehi. “Tapi sekarang, susah juga ditebak, kapan musim hujan datang,” ujar Mashadi. Mashadi hanya contoh kecil dari banyak petani tradisional yang nasibnya kian sulit akibat perubahan iklim. Perhitungan berdasar pranata mangsa kerap meleset. Sebelumnya, eksistensi pengetahuan tradisional ini juga terpinggirkan oleh kemajuan teknologi pertanian. Rekayasa genetika yang mampu melahirkan bibit-bibit jenis baru, beragam pupuk, serta peralatan modern membuat sistem pranata mangsa seperti tak punya masa depan. Hitung-hitungannya melulu soal produktivitas.





















