Hasil pencarian
9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Persaingan Inggris-Amerika di Tepian Rhine
HARI sudah beranjak petang saat pesawat Dakota yang membawa Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill mendarat di pangkalan udara Venlo, Belanda, 23 Maret 1945. Dengan ditemani sekretaris pribadinya, Sir John ‘Jock’ Colville, dan penasihat Angkatan Laut Letnan C.R. ‘Tommy’ Thompson, Churchill langsung diantar unit pengawalan Grup Angkatan Darat (AD) Inggris ke-21 menuju markas Marsekal Bernard Montgomery di Straelen, Jerman Utara. “Saya berkehendak mendampingi pasukan dalam penyeberangan (Sungai Rhine) dan Montgomery menyambut saya. Saya hanya membawa sekretaris Jock Colville dan Tommy. Saya terbang saat petang dari Norholt ke Venlo,” kenang Churchill dikutip sejarawan militer Inggris, Kapten (Purn.) Patrick Delaforce dalam Onslaught on Hitler’s Rhine. Churchill bersikeras untuk memantau langsung menjelang operasi besar-besaran Inggris mendesak Jerman ke tapal batasnya sendiri. Larangan dari banyak perwiranya, termasuk Montgomery sendiri, tak dia hiraukan.
- Darah Turki Perdana Menteri Inggris Boris Johnson
DI TENGAH kecamuk perang dan kelabunya langit Kyiv pada Sabtu, 9 April 2022, dua sosok pria berjalan keluar dari sebuah gedung pemerintahan ke jalan-jalan menuju pusat ibukota sambil menyunggingkan senyum. Yang satu mengenakan jas dengan dasi biru dan satunya lagi mengenakan jaket militer hijau polos. Pria berambut pirang yang mengenakan jas itu tak lain adalah Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson. Di sisi kirinya, sosok pria berjaket militer hijau, adalah tuan rumah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Sebagian dunia internasional terhenyak. Itu adalah kunjungan rahasia PM Johnson yang ngotot ingin melihat langsung situasi Ukraina. Setelah menyapa beberapa warga sipil, PM Johnson berdiskusi serius dengan Zelenskyy di ruangan tertutup. Menukil laman resmi pemerintah Inggris, Sabtu 9 April 2022, PM Johnson mengaku terkesan dengan kepemimpinan Presiden Zelenskyy yang tetap bertahan bersama rakyatnya menangkal invasi dan mengecam tindakan Presiden Rusia Vladimir Putin.
- Sebelum Charles Menjadi Raja Inggris
MASIH mengenakan jubah penobatan dan Mahkota St. Edward, Raja Charles III melangkah keluar balkon Istana Buckingham, London, Sabtu (6/5/2023) petang. Dengan ditemani istri keduanya, Permaisuri Camilla, Charles III melambaikan tangan menyapa ribuan masyarakat di luar pagar yang menyambut hangat sang raja baru. Charles resmi menyandang status sebagai penguasa monarki Inggris Raya kelima dari Dinasti Windsor usai dinobatkan di Gereja Westminster Abbey pada paginya. Ia sudah memilih untuk tetap menggunakan nama “Charles III” sejak ibunya, Ratu Elizabeth II, wafat pada 8 September 2022. Kendati mendapat sambutan hangat, tak sedikit elemen masyarakat yang masih terus menyuarakan pembubaran monarki atau setidaknya menolak Charles menjadi raja. Mereka lebih menginginkan putra sulungnya, Pangeran William, yang melanjutkan takhta. Toh sejak lama ia jadi “media darling” media-media Inggris dalam konteks negatif.
- Bromo dalam Catatan Penjelajah Inggris
PEMANDANGAN alam Gunung Bromo yang memukau membuat kawasan ini menjadi salah satu objek wisata terpopuler di Jawa Timur. Wisatawan dari dalam maupun luar negeri datang silih berganti untuk melihat langsung keindahannya. Salah satunya adalah John Whitehead, penjelajah Inggris yang mendaki Gunung Bromo tahun 1880-an. Selama melakukan penjelajahan di kawasan Bromo, ahli ornitologi itu turut meneliti sejumlah burung. Kisah pendakian dan penjelajahan Whitehead di kawasan Gunung Bromo menjadi salah satu bagian dalam bukunya, Exploration of Mount Kina Balu, North Borneo yang dipublikasikan tahun 1893. Whitehead tak hanya menceritakan pengalamannya mendaki Gunung Bromo. Pria kelahiran 30 Juni 1860 itu juga menulis kesan-kesannya mengenai kebiasaan orang-orang Belanda. “Orang-orang Belanda memiliki beberapa kebiasaan aneh yang, secara keseluruhan, lebih cocok dengan iklim di wilayah koloni daripada kerapian penampilan pribadi mereka. Di pagi hari, para pria berkeliaran di sekitar rumah mereka dan kadang-kadang di jalan umum dengan piyama, yang terdiri dari luaran berbahan linen putih longgar dan celana panjang linen longgar yang berwarna mencolok dan bermotif mewah; sepasang sandal mandi melengkapi kostum tersebut,” tulis Whitehead.
- Al-Shifa, dari Barak Inggris hingga Rumah Sakit Terbesar di Gaza
SITUASI di Jalur Gaza, Palestina makin memilukan setelah lebih dari 40 hari digempur militer Israel. Dua rumahsakit di kota Gaza sudah terpaksa berhenti beroperasi. Lima hari lalu, PRCS atau Bulan Sabit Merah Palestina, dikutip Anadolu Ajansı, Minggu (12/11/2023), menyatakan Rumah Sakit Al-Quds yang berlokasi di Tel al-Hawa, Gaza, terpaksa berhenti beroperasi setelah padamnya listrik karena kekurangan bahan bakar. Pasien-pasiennya dan staf medisnya baru bisa dievakuasi tiga hari berselang. Hal serupa kemudian dialami Rumah Sakit Indonesia (RSI) yang berlokasi di Beit Lahiya, Gaza Utara. Tidak hanya kekurangan pasokan listrik, RSI –yang pasiennya sudah membludak lima kali lipat dari kapasitas maksimalnya– sudah tak lagi punya stok obat-obatan dan fasilitas medis lainnya hingga tak lagi bisa beroperasi sejak Kamis (16/11/2023).
- Ketika Pangeran Inggris Jadi Korban Pencurian
PENCURIAN tak hanya menyasar masyarakat biasa. Bila ada kesempatan orang penting seperti keluarga kerajaan pun dapat menjadi target perampokan. Kejadian tak menyenangkan ini pernah dialami Pangeran George dari Inggris ketika mengunjungi Argentina. Perjalanan ke salah satu negara di Amerika Selatan itu pun menjadi pengalaman tak terlupakan. Mulanya kunjungan berlangsung lancar. Surat kabar The New York Times, 5 Maret 1931, melaporkan kedatangan Pangeran Edward yang bergelar Prince of Wales (kelak menjadi raja Britania Raya, Edward VIII) dan Pangeran George di Mar del Plata, Argentina disambut meriah oleh masyarakat. Kerumunan orang berdiri di tengah hujan selama berjam-jam demi menyambut kedua pangeran Inggris itu. Kemeriahan juga terlihat di berbagai sudut kota Mar del Plata yang dihiasi dengan bendera Argentina dan Inggris. Hotel-hotel di tepi pantai pun penuh sesak karena warga antusias untuk berpartisipasi dalam acara makan malam dan tarian yang akan disuguhkan kepada Pangeran Edward dan Pangeran George.
- Meminta Kembali Harta Karun Lombok Jarahan Belanda
SEBUAH berlian 75 karat itu jadi primadona tersendiri. Mirip buah aprikot, berlian berukuran 21 x 19,3 milimeter itu berbentuk bros bingkai artistik berlapis emas selebar dua meter. Kini bros bernilai tinggi itu tak lagi milik Museum Volkenkunde di Belanda tapi sudah resmi kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Bros berlian Lombok itu termasuk ke dalam 335 harta karun Lombok hasil jarahan Belanda pada Ekspedisi Lombok 1894 yang direpatriasi dari Belanda ke Indonesia. Peresmian serah terimanya sudah dilakukan Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda Gunay Uslu dengan Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid di Leiden pada 10 Juli 2023. Selain bros berlian, benda-benda lain yang sudah dikembalikan itu antara lain kotak tembakau, cincin, selop, kalung/jimat, patung dewa, lukisan cat minyak, dan sebuah deder keris berlapis emas dan bertabur batu permata. Benda-benda itu sudah bisa dilihat dalam pameran“Repatriasi: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara” di Galeri Nasional Jakarta, 28 November-10 Desember 2023.
- Menuntut Repatriasi Jarahan Belanda Usai Bertikai
SEJAK Indonesia merdeka, penjajakan untuk merepatriasi benda-benda budaya dan bersejarah dari Belanda sudah dilakukan seiring penyelesaian pertikaian di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada pengujung 1949. Kesadaran akan pentingnya benda budaya untuk dipulangkan bahkan sudah bergaung jauh sebelum itu. Pada 10 Juli 2023, Belanda resmi menyerahkan kembali 472 benda bersejarah Indonesia setelah upaya repatriasinya dilakukan dengan cara berbeda, yakni melalui penelitian bersama tim ahli Belanda dan Indonesia terlebih dulu. Meski begitu, pulangnya ke-472 benda bersejarah tersebut tetap merupakan kelanjutan cita-cita yang sudah ada sejak era pergerakan hingga KMB. “Kalau kita flashback ke belakang, sudah dari zaman Boedi Oetomo 1908 ketika terjadi apa yang disebut sebagai politik identitas dan warisan budaya. Kemudian di tahun 1930-an ada politik kebudayaan mempertanyakan, apakah patut benda-benda tersebut berada di luar negara asalnya?” ujar I Gusti Agung Wesaka Puja, ketua Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda dalam program “Dialog Sejarah: Ada yang Mau Pulang” di kanal Youtube Historia.ID, 28 Juli 2023.
- Belanda Siap Kembalikan 472 Jarahan Kolonial ke Indonesia
UNTUK yang kesekian kalinya, pemerintah Belanda ancang-ancang untuk mengembalikan ratusan benda bersejarah yang dirampas dari masa kolonial. Tak hanya ke Indonesia, Belanda juga bakal merepatriasi sejumlah artefak ke Sri Lanka. Total akan ada 472 benda bersejarah yang akan dikembalikan ke Indonesia. Saat ini, ratusan benda itu masih tersimpan di Rijksmuseum dan Nationaal Museum van Wereldculturen. Mengutip rilis di laman resmi pemerintah Kerajaan Belanda, Kamis (6/7/2023), total 472 artefak yang akan dipulangkan ke Indonesia itu berupa 335 benda rampasan dari Lombok, 132 benda seni koleksi Pita Maha dari Bali, empat patung era Kerajaan Singhasari, dan satu keris Klungkung.
- Wacana Pengembalian Benda Jarahan Inggris
PADA 1812, pecah perang Sepehi atau Sepoy antara Kesultanan Yogyakarta melawan Inggris. Dinamakan perang Sepehi atau Sepoy karena kala itu Inggris membawa bala tentara Sepoy dari India. Gabungan pasukan Inggris, Sepoy, dan Mangkunegaran itu berhasil menaklukkan benteng Keraton Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono II pun jatuh. Usai geger Sepehi, Inggris menjarah keraton di selatan Jawa itu. Selama empat hari hilir mudik, peti-peti berisi harta benda dari keraton diangkut dengan gerobak. Nilainya melebihi 120 juta dolar AS di masa kini. Hasil jarahan itu diangkut ke kepatihan. Dari manuskrip hingga barang berharga lainnya dibawa ke Rustenburg (keresidenan) lalu dibagikan ke perwira dan serdadu Inggris-India. "Di dalam keresidenan [jarahan] disortir semua," kata Peter Carey dalam Tur Sejarah "Jejak Inggris di Jawa 1811-1812”, di Yogyakarta, Rabu, 30 Agustus 2017.
- Jalan Panjang Memulangkan Jarahan Belanda
SEBANYAK 1.500 benda bersejarah Indonesia yang dibawa Belanda pada masa kolonial telah direpatriasi (dikembalikan) pada akhir 2019. Repatriasi yang berlangsung sejak 2015 itu, disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah. Namun, repatriasi itu tentunya bukan yang pertama kali. Sejak era kepemimpinan Sukarno, upaya repatriasi sudah mulai dilakukan. Pada 1954, Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan saat itu, melawat ke Belanda. Dalam kunjungan tersebut, Yamin dan Soedarsono, Kepala Jawatan Kebudayaan yang menyertainya, mulai merintis usaha pengembalian benda bernilai sejarah dan budaya Indonesia yang disimpan di Belanda. Sutrisno Kutoyo dalam biografi Prof. H. Muhammad Yamin, S.H. menyebut upaya tersebut mendapat respons baik dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda. Mereka menyatakan akan segera menyerahkan benda-benda bernilai sejarah dan budaya yang diambil pada masa kolonial.
- Kekejaman Inggris di Jawa
BANYAK orang yang menganggap dijajah Inggris lebih baik daripada dijajah Belanda. Barangkali karena mereka melihat kemajuan negara-negara bekas jajahan Inggris. Bagaimana dengan Indonesia, bukankah Indonesia juga pernah dijajah Inggris meski hanya lima tahun (1811-1816)? “Generasi sekarang, khususnya orang Jawa malah menganggap Inggris sebagai bangsa pembebas. Sebelumnya, orang Jawa mendapatkan kekejaman dari Gubernur Jenderal Daendels dan penggantinya Willem Janssens. Penjajahan Inggris kesannya tidak negatif,” kata Peter Carey, sejarawan asal Inggris, dalam acara tur sejarah “Jejak Inggris di Jawa 1811-1816,” yang diselenggarakan Penerbit Buku Kompas, di Semarang, Senin, 28 Agustus 2017. Carey, penulis buku Inggris di Jawa (1811-1816), mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro ketika diminta membandingkan Inggris dengan Belanda oleh menantu Gubernur Jenderal de Kock, dia menilai Inggris dengan positif.





















