Hasil pencarian
Cari di situs ini
10071 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Yasuke Si Samurai Hitam
PADA 1581, massa di Kyoto melabrak rumah misionaris Jesuit, Alessandro Valignano, karena ingin melihat budak yang dibawanya dari Mozambik, Afrika Selatan. Beberapa orang terluka, bahkan ada yang tewas, saking antusias melihat budak itu. Kejadian itu sampai ke telinga Oda Nobunaga (1534-1582), seorang daimyo (tuan tanah-pendekar) Provinsi Owari sekitar Nagoya, yang tengah berdiam di Kyoto. Dia dan pengikutnya menaklukkan sepertiga wilayah Jepang dari kekuasaan para tuan tanah feodal untuk mempersatukan Jepang di bawah panji satu pemerintahan. “Karena merasa dipermalukan oleh insiden tersebut, Oda Nobunaga sendiri yang memanggil si budak Afrika, memeriksanya dengan saksama untuk memastikan bahwa warna kulitnya asli, menghadiahkannya uang, dan menjadikannya pelayan,” tulis Gary P. Leupp dalam Interracial Intimacy in Japan: Western Men and Japanese Women, 1543-1900.
- The Works of Indonesia's First Female Minister
A black-and-white documentary set to the song Bangun Pemudi Pemuda (Rise Up, Young People!) was uploaded to YouTube. The documentary, which runs just over three minutes, features the faces of the ministers of the newly inaugurated Sjahrir II Cabinet. Among them was the only female minister: Maria Ullfah. At the age of 35, she was entrusted with the position of Minister of Social Affairs. Before being offered the position of Minister of Social Affairs, Maria was offered the role of Minister Without Portfolio, a non-departmental ministerial position. Sjahrir needed a female minister to prove to the Allies that the government of the Republic of Indonesia was not a puppet of Japanese fascism, but rather was built on democracy grounded in equality. Sjahrir saw Maria as the right person to join the cabinet. However, Sjahrir changed his mind and asked Maria to serve as Minister of Social Affairs instead of a minister without portfolio. “I was a bit hesitant to accept the offer. After all, it was originally just to be a Minister Without Portfolio,” said Maria. Maria also noted that there were other female figures more senior than her, namely S.K. Trimurti. “A tenacious nationalist who was imprisoned many times during the Dutch colonial period,” said Maria. Feeling she wasn’t ready to be a minister, Maria declined Sjahrir’s offer, citing her lack of experience. Upon hearing her refusal, Sjahrir replied, “I never studied to become Prime Minister either.”
- Mengenang Jenderal Gatot Soebroto di Ungaran
ASRI, rapi, dan kokoh. Begitulah “tampang” sebuah rumah bergaya Prairie House dengan pengaruh art-deco kental di Jalan Brigjen Sudiarto, Ungaran, Semarang itu. Terletak sekitar 100 meter sebelah selatan Benteng Fort Willem II, rumah itu pernah dihuni seorang tokoh besar: Jenderal (Anm.) Gatot Soebroto. Sejak 2017 rumah itu diurus Lawrence Locsin Sardjono. Ia cucu Gatot Soebroto dari anak ketiganya, Nanang Bambang Sardjono. Sembari mengurus rumah peninggalan kakek yang baru lima tahun dijadikan museum pribadi itu, Lawrence membuka restoran Off-Grid Smokehouse & Grill. Itu alasannya mengapa rumah-Museum Gatot Soebroto tersebut tak terbuka untuk umum. Maka tak ada papan petunjuk museumnya. Meski Lawrence menyatakan museum itu terbuka untuk dikunjungi siapa saja, calon pengunjung mesti lebih dulu mengontak pihaknya. Tak bisa dadakan datang.
- Ketika Pangreh Praja Bersumpah Setia
RUMAH kediaman Presiden Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 tampak ramai dipenuhi para pemuka negeri. Mereka yang hadir antara lain Menteri Dalam Negeri Wiranatakusumah V dan wakilnya Mr. Hermani, juga Ketua KNIP Mr. Kasman Singodimedjo. Residen Jakarta Soetardjo Kartohadikusumo turut serta mewakili eksponen pangreh praja. Pangreh praja adalah penguasa lokal pada masa pemerintahan kolonial Belanda untuk menangani daerah jajahannya. Kebanyakan dari pangreh praja berasal dari kaum priayi atau bangsawan. “Pembicaraan berlangsung tidak berketentuan arah, orang berbicara bersimpang siur,” kenang Soetardjo dalam memoar Soetardjo: “Petisi Soetardjo” dan Perjuangannya yang ditulis ulang oleh anaknya Setiadi Kartohadikusumo.
- Musannif Ryacudu Jenderal Sukarnois yang Dituduh Kiri (Bagian 2)
DALAM sebuah rapat Komando Mandala Siaga (Kolaga), para panglima daerah Kalimantan dikumpulkan di Banjarmasin. Panglima Kolaga merangkap Menteri Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dani memberikan pengarahan terkait situasi politik serta strategi konfrontasi militer Ganyang Malaysia. Setelah rapat usai, Brigadir Jenderal TNI Soemitro, panglima Kodam IX/Mulawarman mencemooh Omar Dani. Sejak bertugas sebagai panglima di Kalimantan Timur, Soemitro memang sudah tidak menyukai Omar Dani. Menurutnya, Omar Dani hanyalah anak kemarin sore yang belum memiliki pengalaman perang. Tapi, Presiden Sukarno malah menunjuknya untuk memimpin para jenderal senior seperti dirinya. Tak hanya merundung Omar Dani, Soemitro juga merendahkan indoktrinasi ajaran Sukarno. “Menteri kok hanya bicara masalah Nasakom. Apa itu Nasakom,” ledek Soemitro. Komodor Udara Leo Wattimena, bawahan langsung Omar Dani, naik pitam mendengar ocehan Soemitro yang menghina pimpinannya. Hampir saja dia mendatangi Soemitro untuk memberi perhitungan, tiba-tiba dari sudut lain terdengar suara kursi terpelanting. Seorang jenderal Angkatan Darat bangkit dari tempat duduknya. Orang itu adalah Brigadir Jenderal TNI Musannif Ryacudu, panglima Kodam XII/Tanjung Pura di Kalimantan Barat. “Siapa yang berani menentang Nasakom, akan berhadapan dengan saya, Ryacudu,” seru Musannif sembari menepuk dada, seperti dituturkan dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku, yang ditulis Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno. Mendengar koleganya itu berang, Soemitro kicep tak berkutik. Pendukung Bung Karno Insiden Ryacudu menghardik Soemitro sampai ke telinga Sukarno. Untuk mengonfirmasi kejadian itu, Sukarno menanyakan kepada pengawalnya, Kolonel Maulwi Saelan, wakil komandan Resimen Tjakrabirawa. “Saelan, ken je een zekere (apakah kamu mengenal seorang bernama) Brigjen Ryacudu?” tanya Sukarno. “Kenal Pak. Brigjen Ryacudu adalah Panglima Kalimantan Barat. Kalau tidak salah, beliau putera seorang kaya dan terhormat dari Palembang, sedangkan ibunya adalah putri dari Bayumi, seorang pengusaha paling kaya dan terkenal di Palembang,” jelas Saelan dalam Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Musannif Ryacudu bertugas sebagai Pangdam Tanjung Pura sejak tahun 1963. Saat itu, Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia terkait pembentukan Federasi Malaysia yang didukung Inggris. Malaysia ingin menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak, dengan provinsi-provinsi milik Indonesia di Kalimantan. “Presiden Sukarno menolak, lalu memutuskan perang, Ryacudu turun pada Operasi Dwi Komando Rakyat 1963–1966. Di sini Ryacudu mulai disukai Presiden Sukarno,” sebut buku 100 Tokoh Lampung Terkemuka suntingan Heri Wardoyo. Ketika dana untuk Operasi Dwikora dari pusat macet, Ryacudu mendanai sendiri biaya operasi. Menurut Omar Dani, Ryacudu dan istri diam-diam menyediakan dana untuk Operasi Dwikora. Mereka tidak pernah gembar-gembor dan tak ingin mempublikasikan bahwa pasangan ini telah mendanai operasi tersebut. Mereka tahu betul pentingnya Operasi Dwikora dan karena loyalitas pada Sukarno, sehingga Ryacudu dan istri melakukan pengorbanan secara diam-diam. Sebagai pemegang teguh gagasan Sukarno, Omar Dani menyebut Ryacudu sebagai pendukung Nasakom sejati. “Brigjen Ryacudu yang perwira Angkatan Darat itu adalah pendukung Nasakom sejati. Dia mengetahui betul pentingnya Nasakom sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, sehingga harus dibelanya,” kata Omar Dani. Menumpas PKI Dituding Kiri Karena kedekatannya dengan Sukarno, nama Musannif Ryacudu dicatut dalam Dewan Revolusi bentukan Letkol Untung yang memimpin Gerakan 30 September (G30S) 1965. G30S yang menurut Angkatan Darat didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) mempengaruhi citra Ryacudu. Namanya santer disebut-sebut punya hubungan dengan PKI, tapi Ryacudu membantah terlibat dalam G30S. Dia membuktikan diri sebagai perwira Saptamargais dengan memimpin operasi penumpasan PKI di Kalimantan Barat. “Sebagai komandan kesatuan yang bertanggung jawab atas seluruh potensi kerusakan tatanan negara akibat rongrongan dari organisasi makar, dia turun langsung ke lapangan. Dengan ketegasan dan keberaniannya yang tak bisa dibendung, dia kerap memimpin pasukan untuk operasi penumpasan dan pengamanan objek kecil sekalipun,” sebut Sudarmono dalam biografi Mayjen M. Ryacudu: Prajurit Perang dari Mesir Ilir. Sebelum pembunuhan massal orang-orang komunis terjadi di daerah lain, militer di Kalimantan Barat sudah membekukan PKI sejak 16 Oktober 1965. Disebut dalam buku Tandjungpura Berdjuang: Sedjarah Kodam XII/Tandjungpura Kalimantan Barat, pada 1967, Ryacudu dalam usaha menumpas gerombolan Cina Komunis PGRS/Paraku telah melancarkan Operasi Tertib I dan Operasi Tertib II serta pelaksanaan Operasi Sapu Bersih I yang kemudian dilanjutkan oleh Pangdam Brigjen TNI A.J. Witono. Namun, Ryacudu disebut-sebut menyediakan tempat perlindungan bagi ketua PKI cabang Kalimantan Barat, Said Achmad Sofyan ketika diburu massa anti-PKI. Sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas penangkapan Sofyan, keputusan Ryacudu untuk melindunginya jadi sorotan sampai ke Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta. Menurut Jamie S. Davidson, pakar politik National University Singapore, dalam From Rebellion to Riots: Collective Violence on Indonesian Borneo, Ryacudu tidak bersekongkol dengan PKI, meskipun dia adalah seorang Sukarnois yang teguh. Demonstrasi mahasiswa yang terjadi di Kalimantan Barat memprotes jaringan patronase Ryacudu dan campur tangannya dalam ekonomi lokal, yang menurut mahasiswa, telah menyebabkan kenaikan harga bahan pokok. “Tapi tidak ada seorang pun yang menuduh Ryacudu sebagai antek PKI. Jawabannya ditemukan pada hubungan persahabatan antara Ryacudu dan Sofyan, sebuah hubungan yang sudah dikenal luas secara lokal,” catat Davidson. Seperti Ryacudu, J.C. Oevaang Oeray, gubernur pertama Kalimantan Barat dan tokoh besar Dayak, juga pendukung Sukarno. Keduanya dianggap lunak dalam menghadapi pembersihan orang-orang komunis. “Contohnya, dua tokoh HSI (Himpunan Sarjana Indonesia), Tanting Ngo dan W.S. Silitonga, yang divonis pada 19 Oktober 1965, direhabilitasi kembali oleh Ryacudu sebulan kemudian setelah ada jaminan tertulis pribadi dari Gubernur Oeray,” tulis Taufik Tanasaldy dalam Regime Change and Ethnic Politics in Indonesia. Letnan Jenderal TNI Alamsyah Ratu Perwiranegara, yang menjabat Menteri Sekretaris Negara (1968–1972), berkali-kali meyakinkan Departemen Hankam bahwa Ryacudu bukan PKI. Alamsyah dan Ryacudu sama-sama perwira Angkatan Darat putra daerah Lampung. Namun, lobi-lobi Alamsyah tak menyelamatkan karier militer Ryacudu. Usai menjabat Pangdam Tanjung Pura pada 1967, Ryacudu ditugaskan sebagai Kepala Staf Komando Antar Daerah (Koanda) Indonesia Timur. Namun, tak lama kemudian Ryacudu dipensiundinikan. Ryacudu tak menjadi pilihan bagi Jenderal TNI Soeharto, pemimpin Angkatan Darat yang kemudian menjadi presiden. “Sebagai Panglima Tanjung Barat (Kalimantan Barat) dia terlalu dekat dengan ketua PKI Kalimantan Barat,” kata Alamsyah dalam otobiografinya, Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu. “Sangat saya sesalkan saya tidak dapat menyelamatkan Mayjen Ryacudu.” Riwayat Akhir Ryacudu Faktor kesehatan menjadi alasan non-politis di balik berakhirnya karier militer Ryacudu. Semasa perang kemerdekaan, dia tertembak saat menghadapi Belanda di Ogan Komering Ilir. Sisa-sisa luka tembakan itu masih kambuh ketika Ryacudu bertugas sebagai Pangdam Tanjung Pura. Kadang-kadang dia merasakan sakit di dada. “Rupanya bekas tembakan peluru membuat paru-parunya mengecil. Khawatir makin fatal, akhirnya dia mengundurkan diri pada April 1975. Dia pensiun dini dengan pangkat mayor jenderal (purnawirawan),” sebut buku 100 Tokoh Lampung Terkemuka. Pada paruh kedua 1970, ketika rekan-rekan seangkatannya telah mencapai pangkat jenderal, Ryacudu memilih hidup tenang dengan kembali ke kampung halaman di Mesir Ilir, Bahuga, Way Kanan, Lampung. Sempat membangun usaha, Ryacudu akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah. Di masa tuanya, dia menjadi pengurus Masjid Istiqlal. “Umur memang tidak bisa diundur. Dia sakit akut ketika menikahkan si sulung Ryamizard Ryacudu yang mendapatkan jodoh bernama Nora Trisyana. Gadis pujaan hati anaknya itu adalah puteri dari Wakil Presiden Try Sutrisno. Presiden Soeharto hadir pada perhelatan resepsi saat itu, tetapi Musannif Ryacudu tak bisa mendampingi karena harus dalam perawatan dokter,” terang Sudarmono. Ryacudu tutup usia pada 6 Maret 1987 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Nama Musannif Ryacudu kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Lampung dan Palembang, serta rumah sakit di Kota Bumi, Lampung Utara; sementara tugunya berdiri kokoh di Way Kanan. Meski Musannif tak mencapai pangkat jenderal, putranya berhasil mencapai pangkat jenderal. Ryamizard melampaui ayahnya ketika menjadi Kepala Staf Angkatan Darat pada 2000 di masa Presiden Megawati Soekarnoputri, putri dari Presiden Sukarno. Ryamizard yang wafat pada 31 Mei 2026 adalah kawan seangkatan Prabowo Subianto semasa menempuh pendidikan Akademi Militer. Mantan menantu Presiden Soeharto itu kini menjadi presiden Indonesia.*
- Pilot Berhati Lembut
DALAM otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno menirukannya: “Namaku Bob Freeberg. Aku orang Amerika. Aku seorang pilot dan menaruh simpati pada perjuangan Anda. Bantuan apa yang dapat kuberikan?” Bobby Earl Freeberg, anak petani yang berasal dari Parsons, Kansas, menjadi salah seorang penerbang asing yang melakukan penerbangan ke Indonesia di masa awal kemerdekaan. Dia adalah mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat yang setelah Perang Dunia II bekerja sebagai pilot komersial di CALI (Commercial Air Lines Incorporated) Filipina. “Dia jatuh cinta pada negara-negara dan budaya di Pasifik dan memutuskan untuk tak kembali ke Kansas,” tulis Jiya Sarma dalam “The Day the Air Force Vanished,” di gather.com.
- Penggalan Akhir Kiprah PPPI
HAARI ini, 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda dilahirkan oleh Kongres Pemuda II yang dihelat di Jalan Kramat, Jakarta 92 tahun lalu. Selain meneguhkan sikap para pemuda akan cita-cita kemerdekaan, dalam kongres itu juga diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman yang kelak menjadi lagu kebangsaan. Kongres tersebut diprakarsai Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Organisasi yang didirikan mahasiswa-mahasiswa Recht Hooge School (RHS/Sekolah Tinggi Hukum), School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), dan Technische Hooge School (TH/Sekolah Tinggi Teknik) Bandung pada tahun 1926 itu menjadi wadah untuk menyatukan gerakan perjuangan kemerdekaan di kalangan pemuda-pelajar. “Di dalam perkumpulan mahasiswa ini masalah nasionalisme, kolonialisme dan perjuangan kebangsaan dengan perkembangannya yang terakhir dibicarakan secara serius dan tidak ada waktu dan kesempatan bagi para anggota perhimpunan ini untuk berfoya-foya atau mengadakan pesta-pesta,” kata Ide Anak Agung Gde Agung, salah satu anggota PPPI yang kelak menjadi menjadi menteri luar negeri (1955-1956), dalam Kenangan Masa Lampau: Zaman Kolonial Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali.
- Biola W.R. Supratman Punya Cerita
DARI sebuah ruangan bertuliskan “Gudang Koleksi”, kurator Museum Sumpah Pemuda (Muspada) Eko Septian membawa sebuah benda berselubung beludru hitam ke atas meja kerja di ruangan lain. Dengan cermat dan hati-hati, Eko yang mengenakan sarung tangan menyingkap sebuah biola tua lengkap dengan bow (stik penggesek) dari balik selubungnya. Segenap bagian biola –dawai, upper bout dan lower bout (badan biola), chinrest (sandaran pipi), neck dan pegbox– berukuran standar 4/4 dengan panjang 36 centimeter dan lebar 20 cm itu masih sangat apik. Dari sela-sela salah satu f-holes (lubang badan depan) masih terlihat jelas sebuah marking di sisi dalamnya bertuliskan “Nicolaus Amatus fecit”. “Memang uniknya ini biola model Nicolaus Amatus tapi bukan berarti buatan Nicolaus Amatus. Di zamannya ini biola murah. Banyak ada di pasaran. Yang bikin mahal biola ini tentunya nilai sejarahnya,” terang Eko kepada Historia.
- Pemain Biola Legendaris Berpulang
IDRIS Sardi wafat pagi tadi sekira pukul 07.30 WIB di rumah sakit Meilia Cibubur, Depok. Pemain biola terbaik Indonesia itu menderita sakit lambung sejak Desember 2013. Almarhum dimakamkan di TPU Menteng Pulo, Jakarta. Kalangan musisi menyebutnya maestro, meski yang bersangkutan enggan kata “maestro” itu dialamatkan padanya. Perlambang kerendahan hati. “Dia termasuk orang pertama di Indonesia yang menggarap musik orkestra,” kata pengamat musik Bens Leo kepada Historia.ID. Dan ternyata, Idris Sardi-lah yang menularkan semangat bermusik kepada Addie MS, pemimpin Twilite Orchestra.
- Pemuda di Balik Senjata Berat dalam Pertempuran Surabaya
LETNAN Kolonel (Purn.) Moekajat tak pernah melupakan kejadian di hari kedua Pertempuran Surabaya. Suasana di garis depan mendadak heboh. Sejumlah mantan anggota PETA (Pembela Tanah Air) dan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang melayani senjata penangkis serangan udara, Bofors 40, menembak jatuh tiga pesawat Mosquito milik RAF (Angkatan Udara Inggris). “Termasuk satu pesawat yang berisi seorang jenderal Inggris yang ikut mati di dalamnya,” ujar mantan anggota BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia) itu. Namun, pihak Inggris menampik jika kematian itu disebabkan tembakan pihak Indonesia. “Mereka menyebut Brigjen Robert Guy Loder Symonds tewas akibat pesawatnya mengalami kecelakaan di Lapangan Morokembangan,” kata sejarawan Batara Hutagalung, penulis 10 November 45: Mengapa Inggris Membom Surabaya?
- Perempuan dalam Kongres Pemuda
NONA POERNOMOWULAN naik ke atas mimbar sebagai pembicara pertama dalam Kongres Pemuda II. Sebagai guru yang aktif dalam pendidikan dan pembinaan pemuda, dia membacakan prasarannya bahwa usaha mencerdaskan bangsa haruslah disertai usaha menciptakan suasana tertib dan disiplin dalam pendidikan. Setelah Poernomowulan, Sarmidi Mangunsarkoro, tokoh pendidikan, juga membacakan prasarannya tentang pendidikan. Dari kesaksian Wage Rudolf Supratman, Poernomowulan dan Sarmidi hadir sebagai pembicara utama dalam kongres tersebut. Ketika acara memasuki pandangan umum, cukup banyak hadirin yang menyambut dengan semangat juga menanggapi prasaran dari para pembicara. Tak hanya Nona Poernomowulan, perempuan yang hadir dalam kongres yang melahirkan Sumpah Pemuda itu antara lain Siti Sundari, Emma Poeradiredja, Suwarni Pringgodigdo, Johanna Masdani Tumbuan, Dien Pantouw, dan Nona Tumbel. Dari 10 perempuan yang hadir, tujuh di antaranya bisa ditelusuri. Total hadirin 750 orang dan hanya 75 orang yang namanya tercatat. “Para pemudi yang hadir lebih banyak dibanding ketika kongres pemuda Indonesia pertama 1926,” tulis Bambang Sularto dalam Wage Rudolf Supratman.
- Heboh Pemuda Peuyeumbol
HAWA Bandung yang dingin berubah menjadi panas. Pasalnya, di tengah-tengah Pertempuran Surabaya, seorang yang menamakan dirinya sebagai Bung Tomo beteriak keras di depan mikrofon Radio Pemberontak Surabaya . Dalam bahasa Sunda, dia menyebut pemuda-pemuda Bandung bermental peuyeumbol (singkong yang diragi hingga lembek dan merupakan makanan khas Bandung), karena tidak jua berani menggempur tentara Inggris. "Mereka (pemuda-pemuda Bandung) menjadi terbakar," tulis John R.W. Smail dalam Bandung Awal Revolusi 1945-1946.





















