top of page

Hasil pencarian

Search this site

10003 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Padel, dari Pekarangan Belakang jadi Olahraga Global

    DALAM setiap perhelatan pesta olahraga, macam-macam olahraga baru acap memulai debutnya. Dalam Asian Games Aichi-Nagoya 2026 ini, padel termasuk cabang olahraga anyar yang resmi dipertandingkan bareng lima cabang lain: BMX gaya bebas, selancar, teqball, beladiri campuran MMA, dan taekwondo virtual. Nagoya City Higashi Sports Center di pusat kota Nagoya akan jadi venue yang memperlombakan dua kategori cabangnya –ganda putra dan ganda putri– pada 28 September-3 Oktober 2026. Mengutip laman resmi Asian Games 2026, cabang padel bakal diramaikan 13 negara partisipan: Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Jepang, Lebanon, Iran, Kazakhstan, Hong Kong, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Indonesia tak mau ketinggalan. Belakangan padel memang populer di berbagai kalangan, dari rakyat biasa hingga para artis dan pejabat. Namun, meskipun padel telah memiliki induk organisasi, tim padel Indonesia berangkat dengan ongkos pribadi dari dana internal partai dan sumbangan pihak swasta. Pada akhir Agustus lalu, Pengurus Besar Padel Indonesia menargetkan medali. Timnya dipimpin pelatih Ari Moya dan penasihat teknis Denise Hoefer, yang membawa delapan atlet: Christian Alvin Edison, Anak Agung Ngurah Valentinus, Armando Charisma Soemarno, Giorgio Alessandro Soemarno, Beatrice Gumulya, Fadona Titalyana Kusumawati, Novela Rezha Millenia Putria, dan Fitriani Sabatini. Tim Padel Putri Indonesia di Asia Padel Cup 2025 yang menyabet medali perunggu (padelfip.com) Dari Acapulco ke Lintas Benua Dari perkotaan besar sampai permukiman, lapangan-lapangan padel menjamur di Indonesia. Mulanya dianggap olahraga rekreasi kalangan elite belaka, namun pada akhirnya padel masuk aneka pesta olahraga kompetitif, salah satunya Asian Games 2026. Boleh dibilang, padel adalah olahraga hibrida antara tenis dan squash. Sejumlah sumber menyebutkan padel bermuasal dari seorang pengusaha kaya asal Meksiko, Enrique Corcuera, pada 1969. Pada 2023, putranya, Enrique Corcuera Jr., menebalkan narasi sejarahnya bahwa padel sudah eksis sejak 1950-an ketika ayahnya punya hobi olahraga yang mirip squash dan tenis, Basque pelota. “Pada pertengahan 1950-an, ayah saya punya lapangan untuk bermain Basque pelota dan suatu hari ia memasang jaring tenis di tengah area permainan. Ia segera menyadari bahwa sangat menyenangkan bermain tenis dengan adanya dinding di sekitarnya,” ujar Corcuera Jr, kepada Padel Magazine, 19 Januari 2023. Pada medio 1969, Corcuera membeli sebuah properti mewah di Las Brisas, Acapulco. Di pekarangan belakang, ia berencana membangun lapangan tenis tetapi ternyata luas pekarangannya tidak cukup untuk bikin lapangan tenis. “Dia mulai bereksperimen karena lapangan tenis terlalu besar. Lapangan tenis butuh lahan 1000 m² dan ayah saya hanya punya 300 m² jadi ia bangun lapangan yang lebih kecil. Dan ketika dia membeli sebuah rumah di Acapulco pada 1969, ia juga membangun sebuah lapangan yang lebih kecil dengan dinding-dinding, 20x10 meter. Jadi olahraga itu adalah hasil 15 tahun eksperimennya,” tambah Corcuera Jr. Mulanya, dinding yang dibangun Corcuera hanya di dua ujung lapangan dan masih menggunakan raket dan bola tenis. Hal itu melahirkan dinamika baru dalam permainannya karena ketika lawan tak bisa mengembalikan pukulan, bolanya akan terpantul kembali. Karena alur permainannya begitu cepat, Corcuera kembali bereksperimen dengan raket kayu. “Karena pada awalnya Corcuera menciptakan olahraga ini untuk bisa dinikmati bersama istrinya, Viviana, di mana ia merasa permainan tenis terlalu menuntut fisik dan teknik ketimbang untuk permainan santai,” ungkap Julian Bouttier dalam Culture Padel: L’encyclopédie Illustrée. Corcuera dan istrinya pun coba menyusun aturan-aturannya. Setelah rampung, Corcuera menamakan permainannya “Paddle Corcuera”. “Dalam aturan pertama yang disusun Corcuera dan istrinya, pemain yang menerima servis bola boleh memukul balik setelah bolanya terpantul dari dinding. Corcuera meminjam bola dan aturan skor dari tenis. Raket yang digunakan bukan raket senar melainkan raket yang mirip olahraga tenis platform di Amerika Serikat,” tulis Kim Feldmann dalam All About Padel: The Complete Guide for Beginners. Enrique Corcuera (tengah) yang menciptakan olahraga padel (padelmagazine.fr) Tidak hanya bersama istrinya, Corcuera kemudian juga sering mengajak para sahabat dan koleganya untuk menjajal Paddle Corcuera ketika mereka mengunjunginya di Acapulco. Dari Penasihat Keamanan Amerika Serikat Henry Kissinger, penyanyi kondang Frank Sinatra, hingga bangsawan Spanyol Pangeran Alfonso Hohenlohe-Langenburg. Nama terakhir turut berjasa menyebarkannya ke Eropa via Spanyol. Pasalnya setelah menjajal permainannya di kediaman Corcuera di Acapulco pada musim dingin 1974, Pangeran Alfonso begitu kepincut dan membawanya ke Spanyol. “Hohenlohe sangat tertarik pada permainannya dan ia menyadari potensi olahraga santai itu untuk bersosialisasi: Anda bisa bermain sambil mengobrol, lebih eksklusif dari tenis dan bisa dimainkan semua usia. Maka ketika kembali ke Spanyol, ia membangun dua lapangan padel pertama di Eropa di propertinya, Marbella Club,” sambung Bouttier. Tak sekadar membawa olahraganya menyeberangi Samudera Atlantik, Pangeran Alfonso juga memodifikasi area permainan Corcuera itu. Ia menambahkan pagar jaring besi-baja di setiap sisinya. Mengingat Pangeran Alfonso mengenalkannya di properti mewahnya, tentu saja olahrga itu cukup cepat booming di kalangan elite di Spanyol. Demam padel pertamakali di kalangan kelas menengah dan bawah baru terjadi pada 1980-an ketika padel “dikembalikan” menyeberangi Samudera Atlantik, yakni ke Argentina. Adalah Julio Menditenguy, salah satu kolega Pangeran Alfonso, yang membawanya. “Ketika padel tetap jadi permainan eksklusif dan kegiatan kalangan atas di Spanyol, padel mengalami perubahan arah radikal di Argentina. Dibawa oleh para kolega Hohenloge (salah satunya Julio Menditenguy), olahraga ini menyeberangi Atlantik lagi dan berkembang begitu pesat. Selama 1980-an dan awal 1990-an, Argentina mengalami ‘Padelmania’,” lanjutnya. Tidak hanya di klub-klub mewah kalangan elite, padel menjamur di banyak tempat sampai ke bangunan-bangunan bekas gudang. Bouttier mencatat, itu jadi era keemasan pertama padel hingga melahirkan para legendanya seperti Alejandro Lasaigues dan Roby Gattiker. Federasi-federasinya pun mulai lahir karena padel mulai menjamah sampai ke Brasil, Uruguay, dan Chile, Amerika Serikat dan Kanada di Benua Amerika, serta Swiss dan Prancis di Eropa. Meski baru pada 1997 Federasi Padel Internasional, FIP, menyepakati penyebutan resmi olahraganya dengan lema “Padel” dan tidak lagi dengan kata “Paddle”. “Dahulu juga ada dua federasi padel, satu di Argentina dan satu lagi di Spanyol. Ayah saya dan temannya Ignacio Soto Borja menyatukan keduanya dan menciptakan Federasi Padel Internasional. Sudah sejak 1980-an juga ayah saya mengajukan patennya untuk diakui sebagai pencipta permainannya,” sambung Corcuera Jr. Perkembangannya kembali sempat tersendat gegara krisis ekonomi 1998 dan baru pulih pada awal 2000-an, di mana pusat gravitasi padel kembali berada di Spanyol. Kemitraan strategis FIP dengan Qatar Sports Investments pada 2022 juga jadi milestone penting dalam viralnya padel saat ini, di mana sampai sekarang FIP punya 81 negara anggota di lima benua, termasuk Indonesia. “Jika ayah saya melihat perkembangan pade sekarang, pasti ia takkan mempercayainya, ia akan sangat bahagia. Saat ia wafat (tahun 1999), padel sudah dimainkan di dua negara besar dan sudah ada sirkuit profesionalnya namun jika soal booming-nya saat ini ia takkan menduganya. Ia akan sangat bangga dan itu karenanya kami ingin menghormati warisannya,” tandas Corcuera Jr.

  • Kepoin Muspusal, Paham Sejarah Maritim dengan Teknologi Mutakhir

    MUSEUM tak melulu outdated atau ketinggalan zaman, garing, membosankan, lebih-lebih angker. Kesan-kesan itulah yang ingin ditinggalkan oleh Museum Pusat TNI Angkatan Laut Jalesveva Jayamahe (Muspusal) di Surabaya. Dengan menggunakan teknologi kekinian, Muspusal menyajikan serba-serbi sejarah maritim lewat beragam cara yang vibe-nya asyik dan seru. Hal itu tampak nyata kala Historia beranjangsana ke Muspusal Kamis (23/11/2023) siang. Berada tak jauh dari Pangkalan Utama TNI AL V (Lantamal V), Muspusal yang berada di sudut Jalan Sarjawala dan Jalan Pati Unus, Ujung, kota Surabaya itu bernaung di bawah Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarhal). Saat mendampingi Historia, Kepala Muspusal Letkol Laut (KH) Drs. I Putu Sara Partama, M.A.P. berkisah bahwa beberapa bangunan tahap pertamanya baru didirikan di atas lahan 1,6 hektare dari total lahan 3,2 hektare. Kelak, sesuai rencana, Muspusal jadi museum militer terbesar di Asia Tenggara.

  • Satu Gugur Dua Senyap

    PASUKANNYA kocar-kacir digempur oleh tentara Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL). Ditemani beberapa rekannya, Bardan Nadi bersembunyi di sebuah pondok bersama keempat anaknya. Namun persembunyiannya diketahui tentara KNIL karena informasi dua mata-mata yang menyamar sebagai pencari damar. Seruan agar menyerah tak dihiraukannya. Begitu pondokan dihujani tembakan, Bardan mencoba kabur dengan tangan kanan memegang senapan lantak dan tangan kiri menggendong Paini Trisnowati, putrinya yang berusia dua tahun. Nahas, tiga butir peluru menembus tubuh Paini. Bardan seketika membeku dan memilih menyerah. Setelah menguburkan anaknya atas seizin tentara Belanda, ia digelandang ke tangsi KNIL di Ngabang, Kalimantan Barat. Di sana ia disiksa saat interogasi sampai harus dirawat di klinik tentara. Setelah itu ia dipindahkan ke Penjara Sungai Jawi –kini menjadi bagian kompleks Rumah Sakit Umum Santo Antonius– di Pontianak.

  • Tiga Negara Berbagi Sejarah lewat Dokumenter Kunjungan Nehru

    SAKING tak sabarannya, hari itu, 7 Juni 1950, Perdana Menteri (PM) India Pandit Jawaharlal Nehru mendekat ke pagar pembatas dek kapal penjelajah ringan INS Delhi (C74) yang membawanya ke Jakarta. Ia melambaikan tangan kepada ribuan penyambutnya begitu kapalnya bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok. Narator dalam bahasa Inggris menerangkan bahwa PM Nehru datang ke Jakarta untuk memenuhi undangan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) Sukarno dan Wakil Presiden cm PM Mohammad Hatta. Saat turun dari kapal, Nehru langsung disambut Gubernur Militer Jakarta Kolonel Daan Jahja. Dalam anjangsananya selama 10 hari, PM Nehru melakoni segudang agenda. Selama di Jakarta saja ia menjalani agenda penyambutan Presiden Sukarno di Istana Negara dan Ketua DPR Mr. RM Sartono di Pejambon, tur keliling kota Jakarta ditemani Presiden Sukarno, mengunjungi Museum Jakarta (kini Museum Nasional), hingga gala dinner yang turut diramaikan kalangan pejabat diplomatik negara-negara asing di Istana Negara.

  • Melihat Lebih Dekat Lukisan Kehidupan Margaret Keane

    MARGARET (Amy Adams) akhirnya mengambil keputusan berat dalam hidupnya pada suatu hari itu di tahun 1958. Sejumlah lukisan di dinding rumahnya ia copoti. Setelah koper-koper pakaian dan peralatan lukisnya selesai dikemas, ia nyalakan mesin mobil. Tancap gas. Ia tak mau lagi menengok ke belakang, ke rumahnya di California Utara. Perceraian dengan suaminya, Frank Ulbrich, menjadi pil pahit yang tak perlu dimasukkan dalam “laci” ingatannya. Margaret membawa Jane kecil (diperankan Delaney Raye) untuk memulai kehidupan baru di San Francisco. Berbekal bakat melukis, Margaret lalu melamar pekerjaan sebagai ilustrator di sebuah pabrik furnitur. Ia juga mendapat kenalan baru, Walter Keane (Christoph Waltz), seorang makelar properti yang mengaku jadi pelukis amatir. Walter terkesan dengan hasil karya Margaret berupa karakter-karakter anak kecil dengan ekspresi buram. Yang menjadikan lukisan cat akrilik di atas kanvas itu unik adalah semua karakter punya proporsi mata besar. Kebanyakan lukisan anak kecil itu menggunakan Jane sebagai modelnya, yang dikreasikan menjadi anak perempuan atau bahkan bocah laki-laki.

  • Bidan Ujung Tombak Penyehatan Generasi Baru

    SETELAH Belanda hengkang, Indonesia berusaha membenahi sistem tata kesehatan masyarakat. Dengan kembalinya dokter Eropa ke negeri masing-masing, jumlah dokter di negara baru ini pun amat minim, pun layanan kesehatan ibu dan anak. Untuk mengatasi minimnya jumlah dokter, pemerintah meminta bidan, mantri, bahkan perawat bertindak sebagai pemimpin layanan kesehatan di pedalaman. Mereka harus memberi layanan kesehatan umum, layanan persalinan dan postpartum, cek kesehatan, Keluarga Berencana, vaksinasi, dan konsultasi kesehatan warga. Sebagai ujung tombak dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak khususnya di pedalaman, para bidan lulusan RS Budi Kemulyaan berkumpul pada 15 September 1950 untuk merumuskan tujuan bersama. Mereka sepakat membentuk perkumpulan yang bertujuan menghidupkan rasa persaudaraan sesama bidan dan perempuan pada umumnya dan menyokong kerjasama dengan pemerintah dalam menjaga kesehatan rakyat.

  • Swastika, Lambang Mulia yang Dicemari Nazi

    SWASTIKA. Simbol yang sejatinya eksis sejak ribuan tahun lampau itu tak dimungkiri sudah ternoda maknanya gegara Adolf Hitler cs. menggunakannya ketika menguasai Jerman lewat Partai Nazi. Pasca-Perang Dunia II, simbol itupun jadi hal yang haram dipergunakan lagi, kecuali oleh Ilmavoimat alias Angkatan Udara Finlandia. Unit Komando AU Finlandia menggunakan logo swastika sejak 1918 walau akhirnya ditanggalkan. Logonya berupa simbol swastika dihiasi sayap keemasan diganti menjadi elang berwarna emas di dalam perisai bulat berwarna biru yang dikelilingi enam sayap putih. Perubahan itu tak menimbulkan kegaduhan apapun lantaran Ilmavoimat mengubahnya tanpa pengumuman publik pada 2017. Publik baru aware ketika sejarawan dan pengamat politik internasional Universitas Helsinki Profesor Teivo Teivainen mengunggah sebuah utas di akun Twitter-nya, @TeivoTeivainen, 30 Juni 2020.

  • Pahitnya Hidup Cornelia

    CORNELIA tak menyangka, pernikahan keduanya dengan Johan Bitter berujung nestapa. Tak hanya kehilangan harta yang digelapkan suaminya, Cornelia juga jadi buah bibir kalangan elite Belanda. Kisruh rumah tangga Cornelia dengan Bitter menjadi skandal di Batavia pada paruh kedua abad ke-17. Cornelia van Nijenroode, putri Cornelis van Nijenroode, kepala cabang VOC di Jepang, dengan wanita Jepang bernama Surishia, salah satu selirnya. Sejarawan Leonard Blussé dalam Persekutuan Aneh: Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC menulis, beberapa tahun setelah kematian ayahnya di pengujung Januari 1633, Cornelia dikirim ke Batavia. Nicolaes Couckebacker van Delft, kepala perwakilan setempat, memberitahukan kepada gubernur jenderal bahwa pada 20 November 1637 Cornelia bersama saudara tirinya, Hester, telah berlayar ke Batavia dengan menumpang kapal pemburu Kompeni, Galjas.

  • Ketika Cornel Simanjuntak Menodong Ibu Sud

    PADA akhir 1944, di bawah tekanan Jepang kehidupan rakyat Indonesia semakin terpuruk. Banyak orang kelaparan hingga meninggal karena beras susah didapat. Kesulitan itu juga dialami komponis Cornel Simanjuntak dan kawan-kawannya di Jakarta. Meski Cornel bekerja di Keimin Bunka Shidosho, namun uang yang diperolehnya hampir tak lagi bernilai. Penjual beras lebih memilih menukar berasnya dengan barang berharga daripada uang. Karena itu, Cornel memilih menggunakan gajinya untuk membeli buku bekas dan pakaian bekas. Karena tidak ada beras, Cornel dan temannya, Binsar Sitompul dan Gayus Siagian, makan singkong dengan sayur kangkung yang hanya dibumbui garam.

  • Cornel Simanjuntak, Komponis yang Bertempur

    MERANTAU dari Pematang Siantar ke Magelang, Cornel Simanjuntak awalnya mengambil pendidikan guru. Tapi di sekolah, ia justru memperdalam kemampuan bermusiknya. Ia kemudian menjadi komponis andal sekaligus pejuang. Pemuda kelahiran tahun 1921 ini belajar musik ketika menempuh pendidikan di Holandsche Indische Kweekschool (HIK) St. Xaverius College, Magelang. Melalui ekstrakulikuler musik, ia bergabung dengan paduan suara, memimpin orkes, dan mulai menciptakan lagu. Ia belajar dari Pastor J. Schouten. Kemampuan di bidang musik di kemudian hari menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dari Cornel. Ia terus mencipta lagu dan bermusik ketika Jepang masuk ke Indonesia hingga tahun-tahun tak menentu pasca Proklamasi kemerdekaan.

  • Abdullah Mengayuh Becak dan Sejarah Bangsa

    LAUT tak jauh dari hidupnya. Dia pernah menyeberangi lautan untuk mengadu nasib ke Jawa sewaktu muda. Ayah angkatnya pun seorang pelaut meski barangkali hanya pelaut kapal kayu. Pelaut dari Madura itulah yang menjadikannya anak, memungutnya dari Gorontalo, daerah asalnya. Dullah, singkatan dari Abdullah, itulah nama panggilannya. Dia masih belia sewaktu tentara Jepang menduduki Kepulauan Nusantara. Dullah kala itu berada di Surabaya. Dia sering keluar-masuk pelabuhan mengantar penumpang. “Menjelang kekalahan Jepang, Pemuda Abdullah adalah seorang tukang becak yang buta-huruf. Pada saat-saat itulah dia menerima latihan kemiliteran anggauta pasukan Jibakutai,” catat Soe Hok Gie dalam Kisah Penumpasan RMS: Gerakan Operasi Militer IV.

  • Sejarah Batalyon 700

    KOLAM Makale di Tana Toraja merupakan tempat ikonik yang menawarkan keindahan pemandangan alam sekitar. Lokasi di mana Monumen Patung Lakipadada berada itu menjadi tempat favorit masyarakat setempat berolahraga di hari libur ataupun bersantai sambil menikmati aneka makanan yang dijajakan para pedagang. Damai suasananya. Namun, siapa sangka di tempat damai dengan toleransi tinggi dari penduduknya itu pernah terjadi keributan yang sampai melibatkan penggunaan senjata api. Keributan yang terjadi ketika Indonesia baru seumur jagung itu justru datang dari orang-orang “bersaudara”. Setelah tahun 1952, wilayah Tana Toraja “diamankan” oleh Kompi II Batalyon 720. Kala itu, Toraja sangat rentan dari gangguan gerombolan Kahar Muzakkar. Komandan Batalyon Infanteri 720 itu awalnya Kapten Andi Sose, sementara komandan kompi adalah Letnan Satu Frans Karangan. Batalyon ini sejarahnya terkait dengan Harimau Indonesia yang dipimpin Wolter Mongisidi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page