top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10070 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Dilikuidasi Komite Pemberesan

    MENYUSUL Maklumat No. X yang mendorong pembentukan partai-partai politik, Mr. Mohammad Joesoef menghidupkan kembali PKI pada 21 Oktober 1945 dan diakui pemerintah pada 7 November 1945. PKI menjadi partai pertama yang didirikan setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam maklumatnya, sebagaimana dilansir Soeara Rakjat, 7 November 1945, Joesoef merasa sudah waktunya, “Komunis bangun kembali dan tampil ke muka guna memimpin rakyat jelata untuk mempertahankan kemerdekaan kita dan menyempurnakan Republik Indonesia menurut dasar sosialisme yang sejati.” Pada 12 November 1945, dua hari sebelum Sutan Sjahrir dilantik sebagai perdana menteri, PKI mengeluarkan programnya, yang dalam berbagai segi tak jauh berbeda dari program Partai Sosialis. Ia menuntut hak-hak demokrasi yang luas, jaminan upah layak, dan jam kerja yang pantas. Ia menjanjikan nasionalisasi semua perusahaan penting dalam bidang-bidang produksi, distribusi, dan keuangan.

  • Terjerat Keabsahan Mandat

    SETELAH menerima kabar kekalahan Jepang, anggota PKI Ilegal di bawah kepemimpinan Widarta berkumpul di Pemalang. Mereka mengadakan rapat di pos kehutanan Sukawati. Hadir antara lain Widarta, Soekardiman (Cilik), Wikana, Mulyadi (Djono Bungkuk), Marto, K. Midjaja, dan seorang kader lokal dari Pekalongan. Rapat mendiskusikan perkembangan partai. Posisi Uni Soviet tak menentu setelah kemenangan Sekutu. Amir Sjarifuddin masih di penjara. Nasib kader lainnya tak jelas. Partai juga kekurangan pimpinan, anggota, uang, dan senjata. Organ partai Menara Merah tak terbit lagi dan belum ada penggantinya. Sementara tentara Jepang masih kuat dan Kempetai masih memburu orang-orang komunis. Rapat memutuskan untuk sementara PKI tetap bergerak di bawah tanah. Mereka juga menerbitkan selebaran-selebaran, tanpa cap dan nama PKI, yang berisi ajakan melawan Jepang. “Dengan demikian, akan menjadi milik siapapun dan mereka dapat melancarkan aksi atas nama revolusi dan bukan atas nama PKI,” tulis Anton Lucas dalam Radikalisme Lokal.

  • Melawan Fasis Jepang

    PASCA pendudukan Jerman atas Belanda pada Mei 1940, pemerintahan Hindia Belanda melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang dituduh komunis dan simpatisan Jerman atau Jepang. Amir Sjarifoeddin bersama sebagian besar pemimpin Gerakan Rakjat Indonesia (Gerindo) ditangkap dan diinterogasi pada Juni 1940 atas tuduhan komunisme. “Tampaknya satu kopi surat kabar PKI bawah tanah, Menara Merah, ditemukan di rumah Amir. Polisi mencurigai kemungkinan hubungan yang dimiliki Amir, Wikana, Adam Malik, dan lainnya dengan PKI yang telah diperbarui sejak 1936, namun polisi tidak memiliki cukup bukti untuk membuat tuntutan,” tulis Gerry van Klinken dalam 5 Penggerak Bangsa yang Terlupa. Amir mendirikan Gerindo pada 1937. Sebagai organisasi legal, Gerindo mengusung strategi taktis yang memungkinkan kerjasama dengan Belanda dalam menghadapi fasisme yang sedang bangkit di Eropa. Amir bergabung dengan PKI Ilegal melalui Widarta pada Kongres Gerindo II, Juli 1939.

  • Jalan Terjal PKI Ilegal

    KOMUNIS Internasional (Komintern) mengirimkan agen yang tak disebutkan namanya ke Hindia Belanda pada akhir 1934. Agen itu ditugaskan menjalin kontak dengan kaum komunis untuk membangun kembali PKI yang dilarang akibat pemberontakan gagal tahun 1926-1927. Misi agen itu berakhir dengan kegagalan; dia ditangkap aparat pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun yang sama, Komintern mendirikan Biro Luar Negeri PKI yang berpusat di Amsterdam, Belanda. Biro ini terdiri dari Roestam Effendi, Moh. Ilderem (Achmed), dan Abdoelmadjid, dengan dukungan kaum komunis Belanda. “Dengan dibukanya Biro itu, PKI hidup kembali dalam bentuk organisasi. Tugasnya adalah menyebarkan bacaan, melakukan propaganda di kalangan penganggur, pemuda, dan pelaut, menyusun program, dsb.,” tulis sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah.

  • Surat Mandat untuk Kamerad Maring

    PADA secarik kain belacu putih yang telah menguning lapuk dimakan usia itu tertera sembilan nama penandatangan. Mereka adalah Semaoen, Boedisoetjitro, Mohamad Kasan, Hadji Boesro, Kadarisman, Soeradi, H.W. Dekker, P. Bergsma, dan Tan Malaka. Dari coretan tinta di akhir surat, masih bisa terlihat jelas siapa saja pemilik tandatangan. Kesembilan orang tersebut memberi mandat kepada Henk Sneevliet untuk menjalankan tugas dan membuat keputusan atas nama mereka selaku pengurus Perserikatan Komunis di Hindia (Partij der Kommunisten in Indie, kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia) dan Sarekat Islam. Perserikatan Komunis di Hindia berdiri pada 23 Mei 1920, setelah sebelumnya bernama ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging atau Perkumpulan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Tidak ada penjelasan kenapa surat kuasa bertitimangsa 5 September 1921 itu diketik di atas secarik kain, bukan kertas sebagaimana umumnya surat kuasa. Besar kemungkinan surat tersebut diselundupkan melalui para pelaut yang pergi berlayar ke Belanda. Sejarawan Harry A. Poeze memperkuat dugaan itu. Menurut penulis biografi Tan Malaka ini, korespondensi di kalangan tokoh-tokoh komunis dilakukan secara rahasia untuk menghindari sensor dan penyitaan pemerintah kolonial.

  • Cerita dari Kota Kelahiran

    DEBAT di arena kongres VII ISDV berlangsung seru. Dua kubu beradu argumentasi ihwal perlu tidaknya merespons tawaran Henk Sneevliet untuk bergabung dengan Komintern. Semaoen dan Pieter Bergsma setuju ISDV merapat ke Moscow. Menurut mereka, penggabungan yang disertai syarat perubahan nama organisasi perlu dilakukan untuk menarik garis demarkasi antara kelompok sosialis sejati dengan sosialis palsu. Adapun Hartogh, sang ketua, tegas menolak. Dia berpandangan, gerakan kiri di Hindia Belanda saat itu belumlah kuat. Ketimbang bergabung dengan Komintern, kata Hartogh lebih baik fokus bekerja membangunkan rakyat dengan memperbanyak pengalaman proletariat. Het Vrije Woord melaporkan, perdebatan pada 23 Mei 1920 itu terus berlanjut dan tak menghasilkan titik temu. Pemimpin sidang lalu menggelar voting. Hasilnya, mayoritas peserta kongres ingin bergabung dengan Komintern dan menyepakati perubahan nama ISDV menjadi Persarekatan Komunis di Hindia (PKH). Petrus Blumberger dalam De Communistische Beweging in Nederlandsche Indie menyebut peristiwa yang menjadi tonggak kelahiran PKI itu terjadi di Kantor Sarekat Islam (SI) Semarang. Kantor SI Semarang yang dimaksud Blumberger berada di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur. Kini, setelah 95 tahun, ia masih berdiri tegak di tengah permukiman warga. Pada 2012, bangunan yang kerap disebut Gedung SI itu, pernah hendak dibongkar oleh yayasan pengelola. Namun, niat itu berhasil digagalkan oleh para pegiat sejarah di Kota Lumpia. Medio 2014 Gedung SI ditetapkan sebagai cagar budaya dan dipugar dengan anggaran Rp600 juta dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Namun, sayang hingga kini, bangunan itu tak kunjung difungsikan.

  • Berawal dari Kelompok Diskusi

    HENK Sneevliet baru setahun tinggal di Hindia Belanda ketika ide untuk menyatukan kaum sosialis muncul di kepalanya. Saat itu, beberapa gelintir sosialis biasa menggelar diskusi selepas kerja: tentang perkembangan situasi politik baik di Hindia maupun di Belanda dan juga ide-ide Marxisme yang sedang mewujud dalam berbagai gerakan politik di Eropa. Mulanya tak semua orang bersetuju kalau kelak organisasi yang bakal dibentuk itu mengambil peran terlalu jauh dalam urusan politik di Hindia Belanda. Sebagian yang tak setuju itu meyakini bahwa masyarakat Hindia Belanda hanya dapat berubah melalui tahapan evolusi. Karena, “sosialisme hanya akan berarti dalam konteks negara dengan industri berkembang yang melahirkan proletariat,” demikian tulis Ruth McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia. Gagasan tak seragam. Di lain pihak, ada usulan kalau organisasi itu kelak harus berada di dalam arus gerakan politik di Hindia Belanda, bukan sekadar cabang dari partai politik tertentu di negeri induk, Belanda. Sehingga berbagai analisis tentang tahapan perkembangan masyarakat di Hindia Belanda tak jadi pertimbangan utama bagi penyebaran gagasan sosialisme.

  • Menuju Kepunahan Mamalia Terbesar

    DI perahu pertama yang berlayar mencari ikan paus, para pemburu berteriak: “Baleo..! Baleo..! Baleo..!” Teriakan itu pertanda kawanan koteklema atau paus sperma (catodon macrocephalus) menampakkan diri. Yang lainnya pun siap beraksi. Perburuan paus dilakukan masyarakat Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur sejak lama. Dokumen Portugis pernah mencatatnya pada 1624 –dan empat abad kemudian masih berlangsung. Tradisi serupa juga dilakukan masyarakat adat di belahan bumi lainnya. Dan mereka melakukannya secara arif, tak berlebihan dan paus yang diburunya pun bukan jenis langka. Ancaman sebenarnya justru datang dari industri yang memanfaatkan tubuh dan bagian ikan paus. Mereka tak henti memburu mamalia terbesar sejagat ini. Beberapa jenis ikan paus pun terancam punah. Padahal, paus berperan dalam menjaga ekosistem laut.

  • Penyu Menopang Bumi

    BAGI suku Indian Iroquis, penyu adalah penopang bumi. Ketika anak perempuan Sang Roh Maha Tinggi dibuang dari langit karena hamil akibat hubungan terlarang, ia mendarat di atas seekor penyu. Dengan lumpur yang melekat di punggung penyu, ia pun membentuk bumi. Mayor John Norton yang berdarah Indian Cherokee, Skotlandia (dan kemudian diangkat sebagai Indian Mohawk) mendokumentasikan kepercayaan ini dalam The Journal of Major Norton (1816). Mitologi Hindu di Bali juga meninggikan penyu. Mereka meyakini bahwa Dewa Wisnu menjelma menjadi Badawangnala (penyu) dan menyangga Gunung Mandara sehingga bumi tak tenggelam serta menemukan kembali tirta amerta (air kehidupan). Peran penting penyu dalam kosmologi penciptaan ini didokumentasikan Jose Miguel Covarrubias, seniman Meksiko yang awalnya berada di Bali untuk berbulan madu bersama istrinya, Rosa Rolando, pada 1930. Terpesona oleh daya tarik alam dan filosofi masyarakat Bali, suami-istri ini memutuskan kembali pada 1933. Covarrubias melatih keterampilan berbahasa Bali dengan menerjemahkan manuskrip mitologi penciptaan, Catur Yoga. Dalam The Island of Bali, dia mencatat “Pada awalnya adalah ketiadaan, semuanya hampa, hanya ada ruang kosong. Dengan bermeditasi, Sang Dewa Ular Antaboga menciptakan penyu Bedawang, di atasnya melingkar dua ekor ular, sebagai penopang dunia.”

  • Bisnis Penyu Tempo Dulu

    PENYU menjadi satu dari ribuan spesies hewan yang menghiasi wilayah laut Indonesia. Tetapi hewan yang mampu hidup puluhan tahun, bahkan konon ratusan tahun ini selalu menjadi target perburuan liar. Setiap tahun pemerintah berusaha mengagalkan penyelundupan penyu-penyu ke luar negeri. Dilansir dari laman kkp.go.id, hanya tersisa tujuh spesies penyu di dunia, dan Indonesia menjadi rumah bagi enam spesies di antaranya. Pemerintah pun telah mengatur pelarangan perburuan hewan laut ini dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem, serta UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Namun, siapa sangka, hewan yang masuk dalam kategori terancam punah dan dilindungi itu pernah diperjualbelikan secara legal di Indonesia.

  • Permainan Monopoli dan Mimpi Kaya di Tengah Krisis Ekonomi

    SETIAP orang ingin kaya apalagi orang miskin yang sudah lelah dengan kemiskinan. Keinginan menjadi kaya mendorong orang untuk bekerja, menabung, hingga berinvestasi. Sayangnya, impian itu sulit terwujud bila masyarakat harus menghadapi krisis ekonomi. Alih-alih menjadi kaya, masyarakat justru terancam PHK dan inflasi membuat hidup semakin berat. Dalam situasi krisis ekonomi banyak orang hidup dalam kondisi bertahan atau survival mode. Ketika upah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka memangkas pengeluaran yang tidak perlu. Mereka tak bisa menabung atau berinvestasi, sehingga impian hidup mapan semakin sukar untuk digapai. Di tengah ketidakpastian dan ketakutan akan nasib di masa depan, sebuah permainan memberikan kesempatan bagi para pemainnya untuk merasakan sensasi menjadi orang kaya. Permainan itu adalah monopoli yang digandrungi masyarakat Amerika Serikat ketika menghadapi Depresi Besar tahun 1929 hingga 1930-an.

  • Dramatis Tanpa Adegan Sadis

    UNTUK kali kedua, peristiwa evakuasi sekira 400 ribu pasukan Sekutu dari Dunkerque (Dunkirk), sebuah kota kecil di pantai utara Prancis, pada 1940 naik ke layar lebar. Kali ini tanpa adegan berdarah-darah. Tak ada duel tangan kosong atau adu rentetan senjata. Bahkan sosok serdadu Nazi-Jerman nyaris tak dihadirkan. Film dengan tema dan judul yang sama pernah dibuat sutradara Leslie Norman pada 1958. Tapi, berbeda dari pendahulunya, sutradara Christopher Nolan ingin menggambarkan bagaimana pasukan Sekutu, terlebih Pasukan Ekspedisi Inggris (BEF), tengah berada di ujung tanduk dan nyaris dihancurkan Nazi-Jerman. Dia mengedepankan drama. Film ini punya tiga plot yang terkait satu sama lain. Pertama, plot “The Mole” atau tanggul di pantai Dunkirk yang jadi tujuan pasukan Sekutu melarikan diri dari kejaran Jerman.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page