top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mengasah Sejarah Pisau Cap Garpu

    NAMA Johny Sembiring punya reputasi mentereng dalam sejarah kriminalitas. Di era Orde Lama, Johny dikenal sebagai bandit kelas kakap yang disegani kawan dan lawan. Pada 1980-an, setelah meninggalkan dunia premanisme, Johny menjadi pelopor jasa penagihan utang (debt collector). Ketika mendekam di penjara Glodok pada awal 1970, Johny terlibat pertarungan sengit dengan sesama napi dari kelompok Banten. Johny dituakan dalam kelompok Batak dan diangkat sebagai pemimpin. Tapi, kelompok Batak kalah jumlah dan kalah persediaan senjata dari kelompok Banten. Johny tak habis akal. Seorang napi dari kelompok Batak bermarga Simanjuntak, menjalani rawat jalan dua kali semiggu di RSPAD Gatot Subroto karena luka tembak setelah melarikan diri dari Rutan Guntur. Johny meminta kepada Simanjuntak untuk membawa senjata sekembalinya ke penjara Glodok.

  • Cerita di Balik Kumis

    KUMIS bukan sekadar hiasan di wajah. Keberadaannya memiliki cerita yang berkaitan dengan sejarah peradaban manusia. Di Eropa, pada beberapa periode kumis melambangkan kejantanan, modernitas, kekuatan, dan keberanian. Tapi, di periode lain, rambut wajah ini dipandang sebelah mata dan dianggap tidak sesuai bagi kalangan bangsawan atau orang kaya. Kumis juga dipengaruhi oleh kebijakan maupun kebiasaan seorang pemimpin. Pada abad ke-15, di awal Perang Italia, Raja Prancis Charles VIII dan Louis XII memelihara rambut panjang dan bercukur bersih. Sementara itu, Francis I dan Charles V yang menjadi penguasa Eropa di abad ke-16 kerap dilukis dengan janggut dan kumis serta rambut pendek. Penampilan tersebut menjadi tren yang menyebar ke seluruh Eropa. Reginald Reynolds mencatat dalam Beards, popularitas kumis dan jenggot menurun di kalangan pria Eropa pada paruh awal abad ke-17. Tren di kalangan pria pada periode itu adalah memelihara rambut kepala hingga panjang, dengan ikal kecil di sisi, dikepang atau diikat.

  • Jurus Roem Menolak Sukarno

    PADA 1967, upaya Mohamad Roem menghilangkan kenangan pahitnya bersama Sukarno terancam gagal. Pembicaraan dengan calon besannya (Mas Suryo) tentang tamu undangan di acara pernikahan putrinya malah membuka luka lama bagi Roem. Belum juga genap setahun terbebas dari tahanan, dia harus kembali berurusan dengan sosok si pemberi trauma. Peristiwa penangkapan beberapa tokoh oleh Sukarno, termasuk Roem, pada 1962 akibat perbedaan pandangan politik masih begitu membekas di ingatan Roem. Diceritakan di dalam bukunya Bunga Rampai dari Sejarah, dia hampir mendekam di penjara selama empat tahun sebelum akhirnya bebas pada 1966. Meski sudah berusaha memaafkan perbuatan Sukarno di masa lalu, Roem tetap menyimpan sedikit rasa tidak suka. Pembicaraan tentang siapa saja yang akan diundang di acara sakral itu awalnya berjalan menyenangkan bagi Roem. Dia dan Mas Suryo saling memberi rekomendasi tamu undangan yang sama-sama dikehendaki. Sampai kemudian mantan Menteri Luar Negeri Kabinet Natsir ini dihadapkan dengan satu nama: “Mas Karno”.

  • Harry Truman Simanjuntak: Buku Sejarah Indonesia Sebuah Kemunduran yang Nyata

    PARA ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Griffith University Australia memperkirakan lukisan cap tangan gua purba di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, berusia setidaknya 67.800 tahun. “Ini bukan sekadar kabar baik bagi sains, tetapi juga kabar besar bagi kebudayaan Indonesia dan kontribusi kita bagi dunia. Penemuan ini memperluas peta peradaban manusia, dan menegaskan bahwa Nusantara adalah salah satu pusat paling awal kreativitas simbolik manusia, sebagai salah satu peradaban tertua di dunia,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam penyampaian informasi bertajuk “Jejak Peradaban Nusantara di Lukisan Purba Tertua Dunia” di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta pada Kamis, 22 Januari 2026. Anggapan bahwa lukisan dinding gua berusia 67.800 tahun sebagai peradaban tertua dunia bisa saja runtuh jika muncul penemuan-penemuan baru yang terbukti berusia lebih tua lagi. Sudah berkali-kali di banyak kesempatan, di media massa dan media sosial, Fadli Zon mendengungkan bahwa Nusantara salah satu peradaban tertua dunia.

  • Nyanyi Sumbang Desa Kingkang

    TAK peduli apapun risikonya, pada Maret 1964, Kartonodimedjo mendatangi Pantosuhardjo yang menyewa tanahnya. Dia menuntut Pantosuhardjo menyerahkan separuh lahan sewaannya yang seluas 3.235 m2 untuk digarapnya sendiri. Menurut arsip Laporan DPP Petani Surakarta, aksi Kartonodimedjo, penduduk Desa Kingkang, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah itu dipicu pidato Ketua CC PKI D.N. Aidit pada Februari 1964. Aidit kecewa terhadap pelaksanaan land reform dan memutuskan mengadakan aksi sepihak. Pernyataan Aidit itu mendorong Barisan Tani Indonesia (BTI) Klaten, di mana Kartonodimedjo jadi simpatisannya, memulai aksi. Pantosuhardjo menolak tuntutan Kartonodimedjo. Sesuai kesepakatan, dia masih punya waktu dua tahun untuk mengolah lahan yang disewanya itu. Dia mengadukan persoalan ini ke lurah Kingkang.

  • Tradisi Intelektual PKI

    SEBELUM menjadi organisasi terlarang, Partai Komunis Indonesia (PKI) pernah menjadi salah satu kekuatan politik terbesar yang memperolah jutaan suara dalam Pemilu pertama tahun 1955. Pencapaian ini terjadi ketika Indonesia tengah membangun dengan persolaan kemiskinan struktural serta kesejahteraan buruh dan petani yang belum teratasi. Di tengah kondisi sosial tersebut, PKI mampu menjangkau masyarakat luas, termasuk kelompok yang memiliki keterbatasan dalam membaca dan mengakses pendidikan. Perolehan suara PKI dalam Pemilu 1955 menggambarkan keberhasilan membangun basis politik di tengah masyarakat. Bahkan, dalam pemilihan daerah tahun 1957, PKI kembali menunjukkan kekuatan politiknya. Saat itu, Presiden Sukarno mengusung gagasan “politik adalah panglima”. Politik tidak semata-mata perebutan kekuasaan, tetapi jalan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Salah satunya adalah persoalan buta huruf.

  • Melawan Lekra Menghalalkan Seni

    TATKALA mengikuti Konferensi Asia-Afrika di Bandung, H. Abdullah Aidid, kepala Jawatan Penerangan Agama dari Kementerian Agama, mendengarkan siaran musik tradisional RRI Jakarta. Terbersitlah ide menggunakan seni dan budaya sebagai saluran dakwah. Dia memerintahkan M. Nur Alian, kepala Seksi Kebudayaan pada Jawatan Penerangan Agama, memikirkan kelembagaannya. Pada 24 September 1956, dengan dukungan Menteri Agama KH Mohamad Iljas dari NU, berdirilah Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI). Nur Alian jadi ketuanya. Abdullah Aidid sendiri, ketika HSBI lahir, menjadi kuasa usaha di Yordania. Sejak awal, HSBI bertujuan melawan pengaruh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan PKI. HSBI memusatkan kegiatan pada seni sastra, terutama drama, dengan pentas terbuka maupun siaran radio.

  • Semaoen di Negeri Tirai Besi

    WARSA 1950, orang Indonesia masih sangat jarang bermukim di Uni Soviet. Pemandangan ganjil itulah yang disaksikan Adam Malik dan Sudjatmoko, ketika mewakili Indonesia dari kelompok pers, dalam konferensi ekonomi di Moskow. Mereka menjadi bagian dari 13 delegasi Indonesia yang diundang pemerintah Uni Soviet. Hari itu, 4 April 1952, Adam Malik dan Sudjatmoko melihat seseorang sedang berbincang dengan Poerbodiningrat dan Tahertajeb, delegasi Indonesia dari kalangan teknokrat, di hotel tempat mereka menginap di sela-sela jam makam siang. Bentuk badannya pendek tak begitu gemuk, kulitnya sawo matang. Persis seperti orang Indonesia kebanyakan. Adam Malik yakin orang itu dari Indonesia, tapi entah siapa. Tak berselang lama, Poerbodiningrat dan Tahertajeb memperkenalkan sosok misterius itu kepada Adam Malik dan Sudjatmoko.

  • Menyelundupkan Seniman Bali

    KAMAJAYA dan Anjar Asmara, dua seniman Indonesia pra-kemerdekaan mengunjungi Bung Karno di Jakarta pada suatu hari di tahun 1942. Keduanya meminta bantuan Bung Karno untuk mendirikan sebuah organisasi yang menghimpun para seniman. Pasalnya, saat itu pemerintah Jepang melarang segala bentuk perkumpulan, baik politik, ekonomi maupun sosial budaya. Bung Karno ternyata setuju dengan upaya pembentukan Pusat Kesenian Indonesia. Ia bahkan bersedia memprakarsai pembentukannya. Badan Pusat Kesenian Indonesia (BPKI) pun segera berdiri. “Prakarsa tersebut dicetuskan dalam pertemuan kaum seniman-seniwati, budayawan dan cendekiawan pada tanggal 6 Oktober 1942 di rumah Bung Karno, Oranye Boulevard No. 11 (sekarang Jalan Diponegoro), Jakarta. Acara tunggal ialah pembentukan ‘Pusat Kesenian Indonesia’,” tulis Kamajaya dalam Sejarah “Bagimu Neg’ri”.

  • Addio Paolo Rossi!

    BELUM habis pemberitaan tentang kepergian Diego Maradona, dunia sepakbola kembali ditinggal satu bintangnya, yakni Paolo Rossi. Pahlawan Timnas Italia di Piala Dunia 1982 itu mengembuskan nafas terakhirnya di usia 64 tahun pada Rabu (9/12/2020) di Roma, Italia. Pihak keluarga menyebutkan, Rossi wafat setelah lama berjuang melawan kanker paru-paru. Sejumlah rekannya di skuad Gli Azzurri (julukan Timnas Italia) 1982 pun meluapkan kepedihannya. “Saya tak tahu mesti berkata apa, seperti petir di siang bolong. Kami selalu punya hubungan baik dengan Paolo. Sosok yang ramah dan pintar. Kabar ini sesuatu hal yang sulit saya cerna,” kata kiper sekaligus kapten Italia Dino Zoff, dikutip La Gazzetta dello Sport, Kamis (10/12/2020).

  • PSI Ibarat Mobil Antik

    PADA 23 September 2006, warga sosialis menggelar pertemuan di Jalan Guntur 49 Jakarta. Di hadapan 17 warga sosialis yang hadir, tiga anggota Dewan Partai PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang tersisa yaitu Listio, Kuswari, dan Rachmanullah (tidak hadir dalam pertemuan tersebut), menerbitkan surat penugasan kepada Agustanzil Sjahroezah untuk mengaktifkan kembali PSI. Ibong, demikian Agustanzil biasa disapa, adalah putra Djohan Sjahroezah, salah satu pendiri dan sekretaris jenderal PSI, serta cucu Pahlawan Nasional Haji Agus Salim. Setelah menerima surat penugasan itu, Ibong membuat pertemuan di Jalan Cilandak Tengah 17 Jakarta pada 30 September 2006. Dalam pertemuan itu Ibong mengumumkan Badan Pekerja Pengaktifan Kembali Partai Sosialis Indonesia (BPSI) dan menargetkan pembentukan kelompok-kelompok kerja (pokja).

  • Taktik Cerdik Misi Diplomatik

    MAYOR Benny Moerdani dan Kolonel Sugeng Djarot (atase militer RI di Bangkok) tegang pagi itu. Pesawat Hercules Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang mereka tunggu di Bandara Internasional Subang (kini Bandara Sultan Abdul Aziz Shah), Kuala Lumpur belum juga tampak. Hilangnya hubungan radio makin membuat keduanya panik. Komunikasi bandara-pesawat jadi hilang, militer Malaysia atau Inggris bisa saja menembak pesawat tersebut. Pada 25 Mei 1966 itu, konfrontasi Indonesia-Malaysia masih hangat. Moerdani dan Djarot ke bandara untuk menjemput rombongan perwira militer Indonesia dalam Hercules itu. Mereka akan menemui Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak dan Perdana Menteri (PM) Tunku Abdul Rahman Putera, guna membicarakan upaya normalisasi hubungan kedua negara. Misi sangat rahasia itu membuat hanya segelintir orang Indonesia maupun Malaysia yang tahu. Keamanan Hercules beserta isinya jadi taruhan. Moerdani, sang kreator, bertanggungjawab penuh atasnya. Termasuk tanggung jawab atas nyawa Letnan Kolonel Ali Moertopo, Asisten Intelijen I Kostrad, atasan Moerdani yang ikut dalam rombongan. Ali menugaskan Moerdani menjembatani komunikasi Indonesia-Malaysia dalam konflik tersebut.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page