Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pelajar Makassar Bernyali Besar
MAULWI Saelan jengkel menyaksikan tingkah tentara Sekutu dan Belanda di Makassar. Serdadu asing yang baru saja memenangkan Perang Dunia II ini menduduki objek vital dalam kota. Mereka bukan saja menguasai Hotel Empres tapi juga menduduki tangsi dan kantor polisi. Namun yang paling menohok, para tentara Sekutu itu membiarkan bendera Belanda berkibar di mana-mana. “Pemandangan ini tentu sangat tidak menyenangkan karena terasa suasana Indonesia merdeka yang mendominasi Kota Makassar dan seluruh Sulawesi Selatan, terancam berganti,” kenang Maulwi dalam memoar Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa.
- Lobi Israel Menyandera Amerika?
NASIB 1,5 juta warga sipil Palestina di Rafah, Jalur Gaza berada di titik nadir. Mesin-mesin perang Israel terus menggelar kampanye brutalnya sampai ke perbatasan Gaza-Mesir meski ada peringatan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden. Alhasil warga Palestina tak lagi punya tempat aman. Mereka kelimpungan mesti ke mana lagi berlindung. Mengutip kantor berita Turki, Anadolu Ajansı, sudah lebih dari 35 ribu jiwa warga sipil Palestina jadi korban kampanye genosida Israel sejak Oktober 2023. Operasi militer Israel terus mendesak ratusan ribu warga Palestina mengungsi dari Gaza Utara hingga Rafah di ujung selatan Jalur Gaza yang berbatasan dengan Mesir. Sejak 6 Mei 2024 pula pasukan pendudukan Israel, IDF, sudah melancarkan serangan udara membabi-buta dan melancarkan serangan darat terbatas ke wilayah timur Rafah. Mereka juga memblokade pos perlintasan perbatasan Rafah-Mesir hingga membuat pengiriman bantuan kemanusiaan mandek. Presiden Biden pun memberi peringatan kepada Israel untuk tidak menggelar invasi darat berskala besar ke Rafah.
- Di Balik Kelanggengan Pemerintahan Shinzo Abe
MATA Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe berkaca-kaca. Selepas merampungkan pidato terakhirnya, Jumat (28/8/2020), ia membungkuk dengan khusyuk ke hadapan kamera di depannya untuk pamit kepada 126 juta rakyatnya. Sebagai PM dengan masa pemerintahan terlama, Abe mundur dengan alasan kesehatan. “Kesehatan yang buruk tak semestinya memengaruhi keputusan-keputusan politik dan karena saya tak bisa memenuhi ekspektasi rakyat Jepang, saya memutuskan bahwa saya tak bisa terus menjadi perdana menteri dan akan mundur. Selama tujuh tahun saya sudah berusaha yang terbaik, namun saya menderita penyakit dan saya butuh perawatan,” ungkapnya, dikutip The Guardian, Jumat (28/8/2020). Masa pemerintahan Abe sejatinya baru akan kedaluarsa pada 2021. Namun sejak delapan tahun silam Abe mengidap penyakit radang usus besar kronis. Penyakit ini juga sempat jadi penyebab Abe mundur pada 2007. Petinggi Partai LDP (Partai Liberal Demokratik) itu total menakhodai negeri “Matahari Terbit” selama tujuh tahun 247 hari.
- Senjakala Semaoen
RIBUAN orang memadati tepi landasan pacu Bandara Kemayoran, Jakarta pada 4 Desember 1956. Tokoh komunis Alimin dan D.N. Aidit, tokoh Partai Murba (Musyawarah Rakjat Banjak) Adam Malik, Chairul Saleh, dan Dr. Prijono berada di antara mereka. Mereka menanti kepulangan tokoh komunis tua, Semaoen –mungkin satu-satunya tokoh kiri yang kepulangannya disambut paling semarak. Maka begitu pesawat mendarat, mereka langsung mengerumuni Semaoen setelah ia turun pesawat. Sudah 33 tahun lamanya Semaoen “terasing” di negeri orang. Butuh lebih dari setahun pula Partai Murba mengupayakan kepulangan anak didik Henk Sneevliet, pelopor komunisme di Indonesia, tersebut. “Bekas pemimpin komunis Indonesia, Semaoen yang berusia 60 tahun, kembali ke negeri asalnya kemarin setelah 30 tahun menghabiskan pengasingan di Rusia. Semaoen sebelumnya diasingkan oleh bekas pemerintahan Hindia Belanda [pada 1923]. Semaoen disambut ribuan orang di bandara Jakarta, meninggalkan istri Rusianya, dua anak, dan dua cucu di Moskow. Seiring kepulangannya di Jakarta, ia menyatakan akan menahan diri dari aktivitas-aktivitas politik untuk sementara waktu,” tulis suratkabar Leeuwarder Courant edisi 5 Desember 1956, “Semaoen Terug in Indonesië”.
- Drama Tiga Nama
JALAN hidupnya unik sekaligus kontroversial. Namanya tercatat dalam sejarah tiga negara: Korea, Jepang, dan Indonesia; sebagai Huh Young, Hinatsu Eitaro, dan Huyung. Dia melakukannya demi cita-citanya sebagai sutradara film; yang bisa membuatnya dicap sebagai seorang kolaborator, pembelot, pahlawan, atau semata orang yang naif dan pragmatis. Huh Young (ada juga yang menulis Hae Young, Heo Yeong, atau Ho Yong), nama aslinya, lahir di Hamgyong, Korea, pada 21 September 1908. Tak ada catatan tentang keluarga dan masa kecilnya. Ketika beranjak dewasa, dia ingin jadi sutradara, dan mewujudkannya jadi soal sulit jika dia tetap berada di tanah airnya. Sejak 1910, dua tahun setelah dia lahir, Korea menjadi bagian dari wilayah Kekaisaran Jepang. Huh Young memutuskan pergi ke Jepang untuk belajar film. Usianya masih 17 tahun. Di Tokyo, dia bekerja di studio film Makino Shozo, Bapak Perfilman Jepang, dengan menggunakan nama Hinatsu Eitaro. Masalah keuangan memaksa studio itu tutup pada 1931. Hinatsu lalu bekerja sebagai asisten sutradara di perusahaan film Shochiku. Pada periode ini pula Hinatsu bertemu lalu menikah dengan Hanako, gadis cantik kelahiran Shimane, sebuah provinsi yang juga dikenal sebagai Kyoto kecil, Jepang.
- Di Balik Skandal Putri Angkat Gubernur Jenderal VOC
KEMARAHAN Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen tak dapat dibendung. Putri angkatnya, Sara Specx, tertangkap basah melakukan perbuatan tak senonoh dengan Pieter Cortenhoeff, seorang pemuda berusia enam belas tahun, di kediamannya pada 1629. Sara yang berusia 12 tahun merupakan anak dari Jacques Specx, seorang anggota Raad van Indie (Dewan Hindia), dengan perempuan Jepang. Sementara Pieter merupakan putra dari saudagar senior Jacob Cortenhoeff dengan perempuan Burma. Pada 1627, ketika Sara berusia 10 tahun dititipkan kepada Coen karena ayahnya harus kembali ke Belanda. Specx dipanggil para pemimpin VOC untuk memberikan informasi lengkap terkait perdagangan di Jepang. Bersama istrinya, Eva Ment, Coen yang puritan dan memegang teguh ajaran Calvinis, mendidik dan menanamkan pandangan moralnya kepada Sara. Coen dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan keras, terlebih dalam menyoroti moral orang-orang Eropa di wilayah koloni. Pendiri kota Batavia ini tak ragu menunjukkan ketidaksenangannya terhadap pergundikan, perzinaan, dan pelacuran. Tak heran, ketika mengetahui putri angkatnya melakukan perbuatan asusila, Coen langsung menuntut agar Sara dan Pieter dijatuhi hukuman mati.
- Ambisi Jan Pieterszoon Coen Membangun Koloni di Batavia
SELAIN mendirikan berbagai bangunan dan infrastruktur, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen menyadari bahwa Batavia yang ia bangun usai menghancurkan kota Jayakarta, juga memerlukan warga yang akan menghuni kota. Oleh karena itu, Coen mengajukan ide kolonisasi Eropa untuk Batavia. Peneliti dan akademisi Susan Blackburn menulis dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun, menurut Coen hal itu merupakan cara terbaik mendapatkan penduduk yang setia dan terampil serta dapat melakukan pekerjaan penting seperti akuntansi dan pembangunan kapal untuk VOC. Tak hanya itu, para penduduk Eropa di Batavia nantinya juga dapat bertindak sebagai garnisun lokal sehingga VOC dapat menghemat pengeluaran untuk pertahanan. Namun, gagasan Coen terkait koloni Eropa di Batavia tak menarik minat penduduk di Eropa. “Sedikit sekali orang Eropa yang ingin datang ke Batavia, sedangkan yang sudah ada di sana, mayoritas adalah ‘sampah masyarakat’ dalam pandangannya,” tulis Susan.
- Benarkah Jan Pieterszoon Coen Tewas di Tangan Intel Mataram?
MAKAM bermarmer merah muda terpuruk di tengah makam-makam kecil. Beringin raksasa melindunginya dari matahari dan hujan. Helaian daun kering dan batu-batu hitam memenuhi bagian tengah tempat peristirahatan terakhir itu. Warga Desa Keramat, Tapos, perbatasan Bogor-Depok, mengenalnya sebagai makam Nyimas Utari Sanjaya Ningrum. “Sebenarnya nama beliau adalah Nyimas Utari Sandijayaningsih,” ujar Ustad Sukandi (42 tahun), tokoh masyarakat Desa Keramat. Sukandi mendengar kisah dari orang-orang tua di Desa Keramat bahwa Nyimas Utari merupakan agen intelijen Kerajaan Mataram. Sultan Agung Hanyokrokusumo menugaskan dia untuk membunuh Gubernur Jenderal VOC pertama, Jan Pieterszoon Coen dalam penyerangan kedua Mataram ke Batavia.
- Hari-hari Terakhir Jan Pieterszoon Coen
PENYAKIT tropis seperti disentri, kolera, dan malaria telah lama menjadi momok bagi orang-orang Eropa di Batavia. Fasilitas kesehatan yang terbatas, diperparah oleh sanitasi yang buruk, membuat penyakit tersebut membawa kematian bagi penderitanya. Inilah yang menimpa Jan Gubernur Jenderal VOC Pieterszoon Coen. Tak ada yang mengira, Coen yang tegas dan bertangan besi, tengah menderita sakit parah. Ketika itu, dia berupaya sekuat tenaga mempertahankan Batavia dari pengepungan kedua pasukan Mataram pada Agustus hingga September 1629. “Dalam sejarah Batavia, pengepungan kedua ini menjadi titik balik yang begitu penting hingga merenggut nyawa pendirinya,” tulis Frederik De Haan, arsiparis Belanda, dalam Oud Batavia Volume 1.
- Kisah Polwan yang Tak Selalu Menawan
PADA 1960-an, masyarakat ibukota resah. Puluhan “tante girang”, sebutan untuk perempuan bersuami dengan hasrat birahi tinggi, beroperasi di Jakarta. Tak hanya menjadi masalah sosial, fenomena tante girang memasuki ranah tindak kejahatan susila. Kepolisian pun bertindak. Pengusutannya diserahkan kepada aparat polisi wanita (polwan). “Para tante girang dapat dikatakan lebih berbahaya, karena mereka menjadikan anak-anak muda yang belum dewasa dalam soal-soal seksuilnya sebagai mangsa,” ujar Komandan Polwan AKBP Djasmaniar Hoesein, dikutip Kompas, 4 Oktober 1968. Operasi penyuluhan pun digelar. Polwan turun ke lapangan untuk melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Target penyuluhan adalah murid-murid sekolah menengah pertama yang beranjak remaja. Meski langkah yang ditempuh bersifat preventif, polwan mulai dikenal sebagai mitra masyarakat. Padahal dua dekade sebelum kasus tante girang, polwan telah mengabdi negara untuk membantu kinerja polisi umum atau polisi laki-laki.
- Boom Cengkeh Bikin Suzuki Laris
KABAR duka datang dari dunia otomotif tanah air. Dedengkot Grup Indomobil Soebronto Laras meninggal dunia pada Rabu, 20 September 2023 dalam usia 80 tahun. Pria kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1943 itu merupakan orang penting Indomobil, pemegang merk Suzuki di Indonesia. Dunia otomotif dicintainya sejak dini sebab ayahnya merupakan pebisnis mobil. Waktu zaman Hindia Belanda, Raden Moerdono (ayah Soebronto) pernah bekerja di Velodrome, sebuah perusahaan otomotif yang menjual mobil di kota Betawi. Di sana juga bekerja Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang kelak dijuluki Raja Mobil Indonesia, dan Ma’rifatul.
- Balada Menteri Goblok
KATA goblok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti bodoh sekali. Presiden Sukarno pernah prihatin ketika unjuk rasa mahasiswa menghujat menterinya dengan sebutan goblok. Aksi mahasiswa itu dilakukan menjelang sidang paripurna kabinet pada 15 Januari 1966. Menurut Cosmas Batubara, yang saat itu menjadi ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI), mahasiswa begitu muak dengan pemerintahan orde lama. Mereka menutut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta ormas-ormasnya, perombakan Kabinet Dwikora, dan turunkan harga pangan. Tiga tuntutan ini kemudian dikenal sebagai Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). “Karena itu, ketika mobil para menteri yang akan menghadiri sidang kabinet lewat di depan mahasiswa, anak-anak muda itu meneriaki menteri yang lewat dengan kata-kata ‘menteri goblok’,” tutur Cosmas dalam Cosmas Batubara: Sebuah Biografi Politik.





















