top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Baku Pukul di Penjara Digoel

    DUA narapidana yang kasusnya pernah bikin geger publik berduel di Lapas Gunung Sindur. Mereka adalah Very Idham Henyansyah alias Ryan Jombang terpidana hukuman mati kasus mutilasi berantai, dengan Habib Bahar bin Smith, ulama Front Pembela Islam terpidana kasus penganiayaan sopir taksi. Cekcok diantara keduanya dipicu perkara utang-piutang. Akibatnya, Bahar Smith menghajar Ryan Jombang sampai babak belur. Meski terjadi penganiayaan, Ryan Jombang dan Habib Bahar dikabarkan telah berdamai. Perkelahian di penjara memang acap terjadi. Kehidupan penjara yang keras kerap menyulut perselisihan di antara para penghuni penjara. Tidak hanya penjara yang menghukum pelaku kriminal, fenomena seperti itupun berlaku pula di penjara pengasingan kaum pergerakan. Tempat pembuangan yang bertempat di pedalaman Papua itu dikenal dengan nama Kamp Interniran Boven Digoel atau Tanah Merah. Inilah penjara yang dibuat pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk membungkam gerakan orang-orang bumiputra sejak akhir 1920-an hingga 1943. Di Digoel, orang-orang pergerakan yang diasingkan dibikin merana. Tidak hanya raga, jiwa para penghuni kamp ikut dipasung sebab tempat ini terisolasi dari dunia luar. Bentang alamnya yang penuh rawa dan belantara jadi sarang penyakit malaria. Jatah ransum bagi para Digoelis ini terbatas sedangkan kandungan gizinya jauh dari cukup. Mereka yang tidak kuat mental tinggal di sana akan mengalami depresi bahkan menjadi gila. Kondisi hidup yang sengsara turut mempengaruhi hubungan antar Digoelis yang menghuni kamp pengasingan.

  • Digoelis Menanti Kapal Putih

    DI BOVEN Digoel, salah satu hal yang bisa memecah kesunyian hutan belantara ialah bunyi sebuah suling kapal. Kapal itu begitu dinantikan oleh semua orang di Digoel baik kaum buangan mapun aparat militer dan sipil pemerintah kolonial. Kapal putih sang pembawa peradaban. Kapal ini sebenarnya bernama Fomalhout. Disebut kapal putih karena memang berwarna putih. Kapal ini satu-satunya penghubung Boven Digoel dengan dunia luar. Selain itu, kapal ini juga membawa tahanan baru dan membawa keluar tahanan yang dibebaskan dari Digoel. Kapal putih datang ke Digoel kira-kita delapan sampai 12 kali dalam satu tahun. Menurut Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul, jauh sebelum kapal putih tiba, kedatangannya sudah bisa diterka oleh mereka yang memiliki pendengaran tajam. “Mereka mendengar desah air sepanjang tepi sungai yang menuju ke utara. Apabila kemudian di kejauhan terdengar bunyi suling kapal, maka melonjaklah kami karena kegirangan!” ungkap Chalid Salim, adik Haji Agus Salim.

  • Menjadi Gila Akibat Isolasi di Digoel

    DI BOVEN Digoel, para tahanan politik memang tidak disiksa secara fisik oleh aparat kolonial. Mereka dibiarkan hidup dalam kamp yang terisolasi alam Papua. Serangan terhadap psikis sama bahayanya dengan malaria maupun diterkam buaya. Menurut Chalid Salim dalam Lima Belas Tahun Digul menyusuri hutan bukan menjadi piihan yang menyenangkan bagi sebagian besar tahanan. Dari Tanah Merah misalnya, jika masuk hutan ke arah utara mereka akan sampai di Kamp Tanah Tinggi yang dihuni oleh orang-orang buangan yang tidak mau berdamai dengan penguasa. Tempat ini tentunya amat lebih buruk dari Tanah Merah. “Begitupun kita boleh jalan ke arah timur melalui pos missi Ninati yang terletak di Sungai Muyu. Tapi juga perjalanan ini tidak memberi hiburan! Maka kebanyakan penghuni memilih tetap tinggal 'di rumah saja', daripada bertualang yang tidak menyenangkan,” kata Chalid Salim.

  • Maddasim Dibacok Polisi

    SOEPRAPTO seorang pendekar Setia Hati (SH) dari Tegal. Setelah Pemberontakan PKI di Banten pada November 1926, dirinya ikut dibuang ke Tanah Merah Boven Digoel, Papua. Bakatnya dipakai pemerintah kolonial dengan menjadikannya pemimpin satuan pengamanan yang disebut Rust en Orde Bewaarders (ROB) di Digoel. ROB, yang mempekerjakan orang-orang buangan itu, bekerja untuk memata-matai kaum pergerakan di Boven Digoel. Suatu hari, segerombolan orang buangan hendak menemui asisten residen. Mereka ingin membahas masalah makanan. Hanya itu yang mereka permasalahkan. Tidak lebih, apalagi sampai hendak membuat gerakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Soeprapto berupaya menemui asisten residen, namun tak berhasil. Setelah dia memberitahu asisten residen tidak ada lantaran sedang berada di Kampung D, separuh dari orang-orang itu kembali dan separuhnya lagi terus mencari asisten residen.

  • Moesirin, Serdadu KNIL Jadi Digoelis

    GEMPITA kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 disambut rakyat dengan pendirian berbagai organisasi maupun badan perjuangan. Pada 15 September 1945, berdirilah Partai Buruh Indonesia (PBI). Beberapa bekas pekerja di Dinas Tenaga Kerja zaman pendudukan Jepang ada di dalam partai ini. PBI kemudian dipimpin oleh Setiadjit yang baru pulang dari Belanda dan Moesirin yang belum lama pulang dari Australia. Ketika masih di Australia, Moesirin sudah bergerak melawan Kerajaan Belanda yang hendak menduduki kembali Indonesia. Koran De Waarheid tanggal 10 April 1947 menyebut Moesirin telah mengorganisir pemogokan buruh dermaga di Australia dalam rangka mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Moesirin yang lahir di Madiun, 14 April 1901, ini memang terlibat dalam pergerakan buruh sedari muda. Berita De Locomotief edisi 9 Agustus 1927 menyebutkan Moesirin alias Soekarata sebelum 1927 adalah pegawai perusahaan kereta api negara, Staat Spoorwagen (SS). Di sana, Moesirin terus aktif berorganisasi dengan menjadi bagian dari serikat buruh perusahaan tersebut.

  • Kisah Budisucitro, Buangan Digoel Nomor 1

    PADA Januari 1926, tiga orang pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) diburu pemerintah kolonial Belanda. Mereka menghilang dan kemudian diketahui melarikan diri ke Singapura. Ketiga pemimpin itu adalah Musso, Soegono, dan Budisucitro. Nama terakhir kemudian ditangkap pasca gagalnya pemberontakan PKI. Dia dibuang ke Boven Digoel dengan nomor deportasi 1. Di kamp Tanah Merah, selain terkenal sebagai buangan nomor 1, Budisucitro juga cukup terhormat. Bersama Aliarcham, ia seringkali menjadi perwakilan para tahanan dalam berbagai persoalan. Misalnya ketika tunjangan 30 sen perhari hendak dicabut, Budisucitro, Aliarcham, dan Said Ali, dikirim untuk menanyakan keputusan itu. Adu debat dengan kontrolir membuahkan hasil, tunjangan tidak jadi dicabut. Peran Budisucitro berlanjut. Pada 24 hingga 27 Januari 1928, diadakan kongres untuk membentuk Centrale Raad Digoel (CRD) atau Dewan Pusat Digoel. CRD berisi 21 anggota yang mendapat suara terbanyak dalam pemilihan langsung. Pemilihan tersebut baru rampung pada 27 Februari 1928. Budisucitro berada di urutan kedua dengan mendapat 462 suara, sedangkan urutan pertama dipegang oleh Aliarcham dengan 515 suara.

  • Digoelis Jadi Artis

    UNTUK menyingkirkan para pemberontak, Belanda menyiapkan Boven Digoel. Lokasinya yang kelilingi hutan di tengah-tengah Pulau Papua dan sungai-sungai penuh buaya membuat para tahanan hampir mustahil untuk kabur. Selain itu malaria dan isolasi dari peradaban manapun diharapkan membuat para pembangkang kapok. Banyak dari orang-orang buangan tetap pada pendiriannya. Banyak pula yang menyerah atau pura-pura jinak agar dipulangkan ke kampung halaman. Mereka yang berhasil bebas dari Digoel ada yang tetap melawan kolonialisme, ada pula yang pensiun karena kapok dibui. Salah satunya adalah Mustajab Budrasa, Digoelis yang jadi artis. Mustajab Budrasa lahir di Tegal pada 13 April 1901. Menginjak remaja, ia masuk ke Sekolah Guru Normal dan kemudian lulus pada 1918. Ia lalu menjadi guru sekolah dasar di Pekalongan hingga 1925.

  • Sontani, Pelopor Pelarian dari Kamp Boven Digoel

    “Son! Tok! tok! tok! Sontani…!” “Hai, siapakah itu?" “Ssst! Lupakah kau? Aku Saleh.” “O, ya…! Silahkan masuk! Tunggulah sebentar!” “Mengapa, tadi tidak bersedia lebih dulu?” “Mana boleh, tidak bersedia lebih dulu. Lihatlah ini, sudah mulai tadi aku berpakaian, waktu tidur masih juga bersepatu.” Semua perlengkapan telah disiapkan. Parang panjang dan botol minum di pinggang. Bekal telah terbungkus karung. Topi dikenakan dan kapak besar dipanggul. “Mari!” kata Sontani kepada Saleh. Mereka pun bergegas menuju ke belakang rumah dan masuk ke dalam hutan rimba. Maka dimulailah perjalanan Sontani dan Saleh, kabur dari Boven Digoel!

  • Melihat Lebih Dekat Keris Diponegoro

    SEPANJANG dua minggu terakhir jagat sejarah Indonesia tengah ramai. Keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro kembali ke Indonesia setelah hampir 189 tahun berada di Belanda. Sebelum pengembalian, keris itu melalui berbagai tahap verifikasi yang melibatkan para sejarawan antara lain Sri Margana. Kesimpulannya, benar bahwa keris itu milik Pangeran Diponegoro.

  • Pulangnya Keris Pusaka Warisan Puputan Klungkung

    BAGIAN hulu atau gagangnya berlapis emas dengan taburan bebatuan permata. Ukirannya menggambarkan sosok Batara Bayu atau Dewa Bayu sang penguasa angin penangkal kejahatan. Sementara, bilah bergelombangnya berbahan nikel, sedangkan warangka atau sarung kerisnya berbahan kayu berlapis ukiran keemasan. Ciri-cirinya begitu khas menggambarkan keris pusaka asal Klungkung, Bali. “Kris buitgemaakt bij Klungkung” (keris yang diambil di Klungkung), begitu tajuk laporan provenance research atau penelitian asal-usul atas konfirmasi artefak tersebut dari Comissie Koloniale Collecties dengan nomor advies I-2023-2 yang diterima Historia. Keris pusaka Klungkung itu jadi satu dari 472 objek bersejarah yang direpatriasi dari Belanda. Serah terimanya sudah diresmikan Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda Gunay Uslu dan Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, pada 10 Juli 2023. Provenance research-nya dilakukan bersama antara para pakar yang mewakili pemerintah Belanda dan Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda di bawah naungan Ditjen Kebudayaan, Kemendikbudristek RI. Seiring pemulangan satu persatu artefak itu, beberapa di antaranya diperlihatkan kepada publik dalam pameran “Repatriasi: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara” di Galeri Nasional, Jakarta, kurun 28 November-10 Desember 2023. Keris Klungkung termasuk yang dipamerkan.

  • Selayang Pandang Keris Kiai Nogo Siluman

    BERBAHAN dasar besi warna hitam, keris itu berhias ukiran berlapis emas. Ukirannya menggambarkan naga yang tubuhnya memanjang di sekujur bilah keris. Sesosok naga lainnya juga terlihat di bagian bawah bilah keris yang berdekatan dengan gagang keris. Deskripsi itu memastikan keris yang dipajang dalam pameran “Repatriasi: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara” di Galeri Nasional, Jakarta, sepanjang 28 November-10 Desember 2023 itu merupakan salah satu peninggalan Pangeran Diponegoro, yakni Keris Kiai Nogo Siluman. Keris pusaka itu direpatriasi pemerintah Indonesia pada tahun 2020. Keris keramat itu turut jadi saksi bisu perlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Meski begitu masih samar asal-usulnya dan bagaimana Pangeran Diponegoro mendapatkan keris itu. Peter Carey dalam biografi Diponegoro The Power of Prophecy memperkirakan, keris itu didapatkan sang pangeran dari semedinya di Gua Siluman di Pantai Selatan pada 1805.

  • Bergerilya di Filipina

    AKU masuk tentara sebagai operator radio pada 22 Desember 1940. Setelah mendapatkan pelatihan di Cimahi, aku bergabung dengan Skuadron Kavaleri 2 di Bandung ketika perang pecah. Setelah kejatuhan Jawa, aku ditawan bersama ribuan orang lainnya di Bandung. Setelah enam bulan, aku mendaftar sebagai tentara pembantu Jepang (Heiho) agar bisa keluar dari kamp tawanan dan bisa bertemu kerabat. Jepang telah menyatakan jika kami mau bekerja di luar memperbaiki jembatan dekat Bandung, kami akan dibayar 30 sen per hari. Tapi kami malah dibawa dengan pengawalan ke Cirebon dan kemudian Tanjung Priok. Kami dikirim ke luar negeri tanpa tahu tujuan. Akhirnya kami tiba di Rabaul, New Britain, sekira September 1942. Selama di sana aku ditugaskan sebagai penerjemah. Kami tinggal selama hampir tujuh bulan dan kemudian dibawa lagi ke Filipina.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page