Hasil pencarian
Cari di situs ini
10077 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kisah Seniman Yahudi Pura-pura Mati demi Menghindari Nazi
DI MASA pemerintahan Adolf Hitler, tak hanya orang-orang Yahudi yang menjadi target Nazi, tetapi juga para penyuka sesama jenis. Nazi memandang mereka sebagai orang-orang dekaden yang dapat merusak kehidupan masyarakat ideal yakni kemurnian ras Arya. Naiknya Hitler ke tampuk kekuasaan diikuti dengan kampanye antihomoseksual. Menteri Dalam Negeri Hermann Goering memberlakukan tiga dekrit untuk memerangi ketidaksenonohan publik. Pertama terkait prostitusi dan penyakit kelamin; kedua menutup bar yang digunakan untuk tujuan tidak senonoh; dan ketiga melarang kios, toko buku, dan perpustakaan menjual maupun meminjamkan buku-buku atau apapun yang, “baik karena mengandung ilustrasi telanjang, atau karena judul atau isinya, dapat menimbulkan efek erotis bagi yang membacanya.” Mereka yang tertangkap akan dikenai denda, atau kehilangan lisensi maupun izin peminjaman. Penggerebekan sejumlah bar yang menjadi tempat berkumpulnya para penyuka sesama jenis berlangsung secara besar-besaran tahun 1934 setelah kematian Ernst Röhm, mantan stabschef (setara kolonel jenderal) pasukan Sturmabteilung (SA, sayap militer Partai Nazi), yang ramai dilaporkan berbagai media khususnya corong Partai Nazi, sebagai penyuka sesama jenis.
- Kisah Musisi Belanda Menyamar Jadi Laki-laki Ketika Melawan Nazi
KARIER Frieda Belinfante dalam dunia orkestra tengah merangkak naik ketika Nazi Jerman menduduki Belanda tahun 1940. Musisi berbakat kelahiran Amsterdam tahun 1904 itu dikenal sebagai pemain selo dan seorang konduktor. Belinfante mulai bermain selo pada usia sepuluh tahun dan tahun 1937 dia diundang untuk memimpin Concertgebouw Amsterdam. Tak butuh waktu lama hingga namanya dikenang sebagai wanita pertama di Eropa yang menjadi konduktor orkestra profesional. Belinfante aktif memimpin orkestra profesional di Belanda hingga tahun 1941. Hidupnya berubah ketika Belanda dikuasai Nazi Jerman di masa Perang Dunia II. Sebabnya, dia memiliki darah Yahudi dari ayahnya. Selain itu, Belinfante yang mengetahui bahwa Nazi memiliki sentimen negatif terhadap kelompok homoseksual, memilih untuk merahasiakan orientasi seksualnya selama perang. Beberapa saat setelah menguasai Belanda, Nazi Jerman mulai memberlakukan sejumlah aturan yang tak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga para pekerja di berbagai bidang industri, termasuk musik dan orkestra. Peraturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh para seniman inilah yang menyulitkan karier Belinfante. Terdorong oleh diskriminasi yang diberlakukan Nazi, Belinfante pun aktif dalam gerakan parlawanan melawan partai pimpinan Adolf Hitler itu di Amsterdam.
- Dari Kamp Nazi ke TNI
SETELAH tentara Belanda memasuki Jawa Timur, sebuah pasukan ditempatkan di daerah Kraksaan, Probolinggo. Komandannya seorang perwira Koninklijk Landmacht (KL) atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda. Perwira itu seorang berdarah Indonesia, Letnan Donald Willem Poetiray (1922–2005). Umurnya belum menginjak 30 tahun ketika bertugas di sana. Suatu kali, bagian intelijen keamanan menyampaikan pesan untuk Donald. Isinya seorang kerabat ingin bertemu. Kerabat itu tidak berada di pihak Belanda, tapi di pihak Republik Indonesia bernama Letnan TNI Kotis Anakotta. “Dia memeluk saya, tidak ada pembicaraan tentang nasionalisme, hanya ada banyak orang Ambon di sisinya, juga Poetiray lainnya. Jadi saya diingatkan oleh lawan saya tentang hubungan keluarga saya dengan Maluku,” kata Donald seperti dicatat Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950.
- Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Pertama Nazi
PADA 22 Maret 1933 Kamp Konsentrasi Dachau dibuka. Inilah kamp konsentrasi pertama yang dibangun Nazi-Jerman. Kamp ini juga beroperasi terlama sampai 29 April 1945. Jumlah tahanan diperkirakan mencapai 188.000 orang. Korban meninggal yang tercatat sebanyak 32.000, namun ribuan lainnya tak tercatat. Sekitar 10.000 dari 30.000 tahanan dalam keadaan sakit pada saat pembebasan. Salah satu korban meninggal berasal dari Indonesia: R.M. Sidartawan. Sidartawan, mahasiswa hukum di Universitas Leiden sejak 1929. Dia menjabat sekretaris Perhimpunan Indonesia, organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Dia juga menjadi anggota Bond van Sociaal-Democratische Studieclubs (Perserikatan Klub-klub Studi Sosial Demokrat). Menurut sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah, banyak orang Indonesia terutama di Leiden menjadi anggota perserikatan itu. Perserikatan itu dekat sekali hubungannya dengan SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij atau Partai Buruh Sosial-Demokrat), tapi tidak ada hubungan organisatoris.
- Jenderal Belanda Tewas di Aceh
BELANDA khawatir Aceh jatuh ke tangan negara Barat lain setelah melihat Aceh mengadakan hubungan dengan konsul-konsul Amerika dan Italia. Sultan Aceh juga mengirim utusan ke luar negeri untuk mencari bantuan senjata dan dukungan politik sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan Belanda. Pada 18 Februari 1873, Menteri Jajahan Van de Putte atas nama pemerintah Belanda menginstruksikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda James Loudon di Batavia agar penyerangan ke Aceh dapat segera dimulai. Loudon mengadakan sidang khusus Dewan Hindia Belanda membahas teknis pelaksanaan penyerangan. Ditetapkan Wakil Ketua Dewan Hindia Belanda, Frederik Nicolaas Nieuwenhuyzen sebagai Komisaris Pemerintah untuk Aceh, dan Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler, komandan teritorial Sumatra Barat, sebagai panglima ekspedisi militer pertama ke Aceh.
- Malaka: Imperium Negeri Jiran
KRI Dewaruci mampu memacu lajunya hingga 9-10 knot sehingga berhasil tiba di perairan Malaka sehari lebih awal dari jadwal. Namun meski tiba pada 29 Juni 2024 dinihari, Dewaruci tak bisa langsung merapat. Baru pada 30 Juni 2024 pagi kapal antik di bawah komando Angkatan Laut Indonesia itu merapat di Fort Tanjung Bruas dengan sambutan hangat. Setelahnya, para peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) yang dibawa Dewaruci bergerak menuju bekas pusat dari Melaka atau Malaka. Kerajaan Malaka cukup penting di jalur rempah. Wilayah Malaka kini menjadi bagian dari Kerajaan Federasi Malaysia. Letak daratannya berada di Semenanjung Malaya, tepat berada sisi timur di Selat Malaka. Kapal-kapal dagang dari berbagai negeri melewati wilayahnya. Malaka menarik banyak pedagang. Tome Pires dalam Suma Oriental mencatat, komoditas dagang utama yang diangkut dari Malaka antara lain: cengkeh, bunga pala, biji pala, kayu cendana, mutiara, kemenyan, dan tanaman obat lignaloes. Selain rempah-rempah dari timur, barang yang masuk ke Malaka juga terdapat timah, emas, kain sutra dan lain-lain. Perdagangan membuat Malaka ramai oleh pedagang.
- Persaudaraan Setia Hati pada Masa Pendudukan Jepang
PADA masa kolonial Belanda, kegiatan pencak silat mendapat kekangan. Hal ini karena perguruan pencak silat terlibat dalam perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Pada 1930, misalnya, Perguruan Pencak Silat Sekar Pakuan yang didirikan di Bandung memiliki motto “berlatihlah hingga berani melawan Belanda”. Motto tersebut kemungkinan terinspirasi oleh perlawanan Haji Hasan Arif, pemimpin pesantren dan perguruan silat, terhadap Belanda di Cimareme, Garut. “Pada 1918, Perguruan Pencak Silat Siwarame, yang dipimpin oleh Haji Hasan Arif, sempat memimpin perlawanan singkat terhadap Belanda di Cimareme, Garut. Setelah menolak menyerahkan sebagian hasil panen padinya kepada pejabat setempat, Haji Hasan dan dua anggota keluarganya terbunuh dalam bentrok senjata,” tulis Ian Douglas Wilson dalam Politik Tenaga Dalam: Praktik Pencak Silat di Jawa Barat.
- Ketika Timnas Indonesia Mengajari Jepang Main Bola
TIMNAS sepakbola Jepang boleh jemawa sebagai kesebelasan paling tangguh se-Asia saat ini. Setidaknya, dalam 20 tahun terakhir, Timnas Jepang terlihat dominan baik dalam turnamen Piala Asia maupun langganan keikutsertaan di Piala Dunia. Merujuk ranking FIFA, Jepang kini menempati posisi 15 –tertinggi dari semua negara Asia, terpaut jauh mengungguli Indonesia yang bertengger di posisi 113. Jepang juga sudah memastikan tempat dalam putaran final Piala Dunia 2026, sementara Timnas Indonesia mesti berjuang lagi di babak kualifikasi ronde ke-4. Namun, di masa lalu, Timnas Indonesia pernah eksis sebagai “macan Asia”. Timnas Jepang –yang kini merajai sepakbola Asia– bahkan turut jadi korban “keganasan” Timnas Indonesia pada masa jayanya. Dalam turnamen Merdeka Games Cup 1968 di Malaysia, Indonesia dan Jepang bertemu dalam satu grup, Grup A. Laga antara kedua tim berlangsung pada hari ketiga turnamen, 11 Agustus 1968, di Stadion Perak, Ipoh.
- Kucing-kucingan Orang Ambon dengan Tentara Jepang
AUGUST Isaac Tanasale alias Nono Tanasale tak tinggal diam di zaman Jepang. Dia memilih ambil risiko daripada menderita apalagi mati konyol meskipun risikonya bisa kehilangan nyawa. Bukan tanpa alasan Nono mengambil sikap. Sebab, kehidupan orang Ambon sangat sulit di zaman pendudukan Jepang. Mereka dicap dekat pemerintah Hindia Belanda. Padahal, di kalangan orang Ambon sendiri jelas ada perbedaan. Ada yang di zaman Hindia Belanda ikut pergerakan nasional seperti Mr. Johannes Latuharhary, AM Sangadji, Alexander Jacob Patty atau Johannes Leimena; ada pula yang setia kepada Belanda meski di zaman pendudukan Jepang. Akibat sikapnya itu, Nono suatu kali tertangkap oleh tentara Jepang dan dibawa ke markas polisi militer Jepang (Kempeitai) di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Terdapat markas Kempeitai Kaigun (polisi militer angkatan laut Kekaisaran Jepang) di sana.
- Skandal Sesama Jenis Pejabat VOC
PADA suatu hari di bulan Juni 1644. Gubernur Jenderal VOC, Antonio van Diemen (menjabat 1636–1645), belum lama menyelesaikan makan malamnya. Seorang halberdier, prajurit penjaga yang membawa tombak, datang menghadapnya untuk membicarakan hal penting. Prajurit muda yang berasal dari Champagne, Prancis itu melaporkan Joost Schouten, anggota Dewan Hindia, yang telah merayunya agar bersedia menjadi pasangannya. Van Diemen terkejut mendengar laporan itu. Sadar aduan halberdier itu bisa menjadi fitnah karena tidak didukung bukti, terlebih orang yang diadukan adalah pejabat tinggi VOC dan tokoh berpengaruh di Batavia, sang gubernur jenderal menyuruhnya untuk mengatur pertemuan dengan Schouten.
- Kiprah VOC di Pulau Dejima
PADA 2 Juli 1609, dua kapal dagang Maskapai Perdagangan Hindia Timur (VOC) –De Rode Leeuw met Pijlen dan De Griffioen– berlabuh di Hirado, sebuah pulau di pantai barat Kyushu. Itu menjadi kali pertama kapal dagang Belanda masuk ke wilayah Jepang, setelah tahun 1600 kapal ekspedisi mereka secara tidak sengaja terdampar di Teluk Usuki, Kyushu, saat sedang mencari tempat berdagang di Asia Timur. Dua awak kapal, sekaligus saudagar besar Belanda, Abraham van den Broek dan Nicolaas Puyck, diperkenankan bertemu penguasa Jepang Shogun Tokugawa Ieyasu. Dalam kesempatan itu mereka meminta izin mendirikan kantor dagang Belanda di Hirado. Pada Agustus, izin tersebut disetujui. Belanda juga boleh memasuki semua pelabuhan Jepang. Jacques Speck ditunjuk sebagai kepala perwakilan VOC di Jepang.
- Belanda Menghalangi Salat Id di Jakarta
LEBARAN 1 Syawal 1367 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 6 Agustus 1948. Saat itu, Jakarta diduduki tentara Belanda. Pemerintah Republik Indonesia telah hijrah ke Yogyakarta. Bertepatan dengan bulan kemerdekaan, penduduk Jakarta bertekad mengadakan salat Id di halaman rumah Pegangsaan Timur 56, tempat Sukarno membacakan Proklamasi kemerdekaan. Bekas rumah Sukarno dijadikan gedung perwakilan pemerintah Indonesia. Pada 4 Agustus 1948, PID (Politiek Inlichtingen Dienst atau Dinas Intelijen Politik) mendatangi panitia salat Id menyampaikan bahwa HTB (Hoofd Tijdelijk Bestuur atau Kepala Pemerintahan Sementara) melarang salat Id di lapangan Pegangsaan Timur 56. Keesokan harinya, panitia menemui Pokrol Jenderal (Procureur Generaal atau Jaksa Agung) Belanda melaporkan soal larangan itu. Ternyata, pendirian Pokrol Jenderal juga sama dengan PID, keberatan salat Id dilaksanakan di Pegangsaan Timur 56.





















