Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Macan Ketawa Beraksi di Tapal Kuda
SETELAH melalui kengerian Perang Dunia II pada 1945 dengan bertempur melawan tentara pendudukan Jerman, Letnan Dua Donald Willem Poetiray (1922–2005) kembali harus menghadapi perang. Pada 1946, dia ikut Batalyon Mitraliur Divisi D Koninklijk Landmacht (KL/Angkatan Darat Kerajaan Belanda) ke Indonesia yang sedang berjuang untuk kemerdekaannya. Di Indonesia, dia kemudian ditempatkan ke Batalyon Infanteri ke-23 tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL), yang beroperasi di Jawa Timur. “Waktu Aksi Polisonil Kedua di Batalyon Tjakra I,” catat Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900–1950. Batalyon Tjakra yang dimaksud adalah Korps Tjakra Madoera, penerus Korps Barisan dari Madura era Hindia Belanda. Menurut De Vrije Pers edisi 8 April 1949, Tjakra Madoera dibentuk pada 1947 di Surabaya. Ketika itu Pulau Madura dianggap masih dikuasai oleh pendukung Republik Indonesia. Jadi para sukarelawan untuk pasukan Tjakra itu harus menyeberang laut dari Bangkalan ke Surabaya dalam rangka pembentukan pasukan itu.
- Marga Eropa di Ambon
PENIKMAT musik pop era 1970-an mengenal band bernama D’Lloyd yang sohor karena lagu “Titik Noda”, “Apa Salah dan Dosaku”, “Keaguangan Tuhan”, “Tak Mungkin” dan tentu saja “Hidup di Bui”. Dedengkot band itu sering bermain gitar dan pandai menulis lagu hingga jadi salah satu penggubah lagu yang sohor di Indonesia, namanya Bartje van Houten (1950-2017). “Bartje van Houten berasal dari Banda ini,” terang Sekretaris Wakil Presiden Mayor Jenderal Josef Muskita, seperti dicatat Rosihan Anwar dalam Perkisahan Nusa Masa 1973-1986. Rosihan sendiri penasaran tentang orang kaya Eropa di Banda yang dulu disebut perkenier. Hingga dia menanyakannya pada Muskita.
- Suara Horor dari Sebelah Museum Gajah
SEBUAH Fakultas Sastra, tanpa universitas, dibentuk di kompleks gedung Recht Hogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) Batavia, sebelah barat Koningsplein (kini Lapangan Monas) setelah Perang Dunia II mulai di Eropa. Beberapa doktor di Batavia pun dijadikan guru besar di dalamnya. Pada 4 Desember 1940, Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra dan Humaniora) itu dibuka. Recht Hogeschool lebih dulu ada di kompleks gedung itu. Recht Hogeschool, yang kadang disingkat RH atau RHS, adalah pengembangan dari Recht School yang setara SMK, tapi mencetak pegawai kehakiman yang di antaranya menjadi hakim. Recht School sebelumnya berada di Merdeka Selatan. Sekolah tinggi hukum ini tak hanya mencetak pengacara atau ahli hukum, beberapa bekas mahasiswa di sini, baik yang lulus maupun berhenti di tengah jalan, terlibat dalam pergerakan nasional Indonesia. Uang kuliahnya 300 gulden setahun dan boleh dicicil empat kali. Sekitar 40 orang pun menjadi mahasiswa pertama dari fakultas itu. Mahasiswanya oleh Profesor August Johan Bernet Kempers (1906-1992) pun “dimanjakan” dengan banyak bacaan. Sebuah ruang perpustakaan sederhana berdinding gedek (bambu) dibangun di sana. Buku-buku koleksi museum di gedung sebelah kampus hukum itu pun dipindah sebagian. Selain juga membeli buku-buku baru. Perpustakaan itu buka sampai malam.
- Pangku Memanusiakan Mereka yang Terjebak Fenomena Kopi Pangku
AKTOR kawakan Reza Rahadian mulai beralih ke belakang layar. Bersama rumah produksi Gambar Gerak, ia menggebrak perfilman Indonesia lewat film Pangku yang jadi debutnya sebagai sutradara. Film drama ini meramu tentang kegetiran dan rumitnya bertahan hidup dalam dunia remang-remang di jalur Pantai Utara Jawa alias Pantura. Dibintangi Fedi Nuril, Claresta Taufan, Christine Hakim, hingga aktor cilik Shakeel Fauzi, Pangku merekam aneka dimensi manusia-manusia yang terjebak fenomena warung kopi pangku di kawasan Pantura Indramayu, Jawa Barat. Reza mengaku sudah memendam premis tenatang isu sosial dan ekonomi itu sejak tujuh tahun terakhir. Dalam pemutaran khusus dan diskusi filmnya di Kemang, Jakarta Selatan pada Kamis (16/10/2025) kemarin, Reza berkisah bahwa Pangku berawal dari pengalamannya melihat sendiri fenomena itu setelah selesai syuting sebuah film pada 2018.
- Tersambar Petir di Depok
SELAIN tenar dengan istilah “Bule Depok”-nya dan tempat beradanya Universitas Indonesia, Depok ternyata menyimpan keunikan alam tersendiri, yakni sebagai daerah kaya petir. Selain intensitas petirnya termasuk tertinggi di dunia, petir Depok juga menjadi petir dengan arus listrik terbesar di dunia. Keganasan petir Depok telah diteliti ahli petir Institut Teknologi Bandung, Reynaldo Zoro pada 2002. Dari penelitian itu didapatkan, petir Depok mengandung arus petir negatif 379,2 Kilo Ampere dan petir positif 441,1 Kilo Ampere. “Bicara soal petir, Indonesia ternyata masuk sebagai negara yang memiliki petir terganas. Bahkan Anda boleh percaya atau tidak, petir yang terjadi di Kota Depok, Jawa Barat, memiliki arus listrik terbesar di dunia,” kata Zoro, dikutip kumparan.com, 16 Maret 2022.
- Dokter Soebandrio Digebuk Jepang
DI MASA pendudukan Jepang, para siswa negeri jajahan di tiap institusi pendidikan wajib digunduli kepalanya. Cukur gundul ini berlaku untuk semua jenjang, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dalam tradisi Jepang, kepala gundul bagi murid laki-laki mencerminkan kedisiplinan, kerapian, dan kekuatan ala prajurit militer. Untuk itu, tentara Jepang kerap dilibatkan untuk menertibkan para murid supaya dicukur gundul tanpa perlawanan. Namun, bagi kebanyakan orang Indonesia, kepala adalah bagian tubuh yang sakral. Pantang untuk disentuh sembarangan apalagi secara paksa. Selain itu, praktik cukur gundul –dan latihan kemiliteran– di sekolah-sekolah dianggap sebagai bentuk upaya Jepang menanamkan benih fasisme di wilayah jajahannya, termasuk Indonesia. Tak ayal kebijakan cukur gundul ini kerap diprotes murid-murid sekolah, khususnya mereka yang berpikiran maju dan anti-fasisme. Itulah yang terjadi di Ikkai Dai Gakku (Sekolah Tinggi Kedokteran) Jakarta pada 1942.
- Anak Jakarta Jadi Komandan Andjing NICA
LELUHUR keluarga Lapré datang ke Nusantara di zaman Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Seabad setelah kebangkrutan VOC, masih ada keluarga Lapré di Jawa. Biasanya orang Eropa seperti mereka kawin dengan sesama orang Eropa. Seperti Dietert Brugma Lapré, yang –kelahiran Bogor, 3 April 1891– mengawini Sara Henriette van der Zeep –kelahiran Jakarta, 11 November 1891. Pasangan Dietert Brugma Lapré-SaraHenriette punya tiga anak: Fernande Lapré, Paul Dietert dan Sjoerd Albert. Mereka sekeluarga tinggal di Batavia (kini Jakarta). “Saya dibesarkan sebagai orang Belanda. Di sekolah di Batavia, kami belajar tentang semua tempat di Belanda; hingga Roodeschool,” terang Sjoerd Albert Lapré, yang lahir di Batavia pada 1 Maret 1920. Setelah lulus SMA, Sjoerd mencoba untuk jadi pegawai perusahaan. Itu kenapa dia ikut sebuah kursus di perusahaan komunikasi milik negara, Post Telegraaf en Telefoondienst (PTT) –belakangan, asetnya terpecah menjadi Pos Indonesia dan Telkom. Namun, jalannya menjadi pegawai tidaklah lancar karena Perang Dunia II (1939-1945) meletus.
- Pangku yang Memotret Kehidupan Kaum Pinggiran
INDRAMAYU menjelang tengah malam. Sartika Puspita (diperankan Claresta Taufan) mengayunkan langkah dengan hati-hati untuk menjaga janin dalam kandungannya kala memasuki sebuah perkampungan. Semakin dalam ia menyusuri jalannya, alunan karaoke dangdut koplo di deretan kafe kian terdengar riuh menandai kehidupan malam. Sartika sesekali menyeka peluh tapi ia tak pernah mengeluh meski sebelumnya diturunkan paksa di tengah dari truk yang ditumpanginya. Keadaannya yang tengah hamil tua membuatnya cepat lelah hingga memutuskan mengaso di sebuah warung kopi sepi pengunjung milik Ibu Maya (Christine Hakim). Paham akan beratnya hidup yang “dipangku” perempuan asing di warungnya, Maya membuka tangan lebar-lebar untuk menolongnya. Sartika diajaknya hidup bareng di rumahnya yang sempit dengan aneka sampah daur ulang yang dikumpulkan Jaya (Jose Rizal Manua), suami Maya. Sartika “membayarnya” dengan membantu Maya di warung setelah ia melahirkan putranya, Bayu (Shakeel Fauzi). Menyeduh kopi, bahkan hingga memijit pengunjung yang memangkunya.
- Guru Besar Itu Bernama Mamdani
IBARAT butterfly effect, kemenangan Zohran Kwame Mamdani di Pemilihan Walikota New York 2025 berimbas lintas benua dari Amerika Serikat ke Asia. Indonesia bahkan masyarakatnya via aneka platform media sosial mensyukuri kemenangannya di tengah gencarnya Islamofobia, diskriminasi, dan rasisme yang kembali terjadi. Zohran sebagai calon walikota dengan latar belakang minoritas bisa unggul dari dua lawannya yang di-endorse penguasa dan oligarki. Dengan program-programnya yang “sosialis” dan merakyat dan cara-caranya yang unik ketika menghadapi black campaign yang berbau Islamofobia dari lawan-lawannya, Zohran menuai suksesnya. Pada pemilihan walikota di kota keuangan di Amerika pada Rabu (4/11/2025), hasilnya Zohran mendapatkan 1.036.051 suara (50,4 persen), membawahkan Andrew Cuomo sebagai calon independen (dengan 854.995 suara atau 41,6 persen) dan Curtis Sliwa dari Partai Republik (146.137 suara atau 7,1 persen). Maka jadilah Zohran walikota New York terpilih. Ia akan dilantik pada 1 Januari 2026. Zohran menjadi walikota New York pertama keturunan India dan beragama Islam. Di usia 34 tahun, ia juga tercatat jadi walikota New York termuda kedua setelah Hugh John Grant –juga dari Partai Demokrat– pada 1889-1892 yang kala itu berusia 30 tahun.
- Lelucon Jojon Tepi Jurang
KOMIKA Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya karena pertunjukan komedi tunggalnya bertajuk “Mens Rea” dianggap menghasut dan menodai agama. Dalam penampilan itu, Pandji tak sekadar berkomedi, tapi juga melempar kritik sosial kepada penyelenggara negara seperti Polri dan TNI, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan secara umum pemerintahan Prabowo Subianto. Salah satu sentilannya yang menuai sorotan menyebut Wapres Gibran mengantuk karena matanya sayu. Cara Pandji dalam berkomedi pun menuai pro dan kontra. Ada yang mengatakan komedi Pandji mengarah ke penghinaan secara fisik, pencemaran nama baik, dan sebagainya. Bagi yang membelanya, materi itu sebagai ekspresi kritik sosial dengan bumbu komedi. Komedi bertujuan untuk menghibur penonton. Ia bisa juga menjadi alat kritik sosial. Namun, komedi terkadang menimbulkan masalah bagi komedian. Entah karena silap lidah atau memang blunder yang disengaja. Hal ini pernah terjadi kepada pelawak Jojon di masa Orde Baru.
- SI School, Sekolah Alternatif
BERDIRINYA SI School merupakan cara untuk mengimbangi keberadaaan Hollandsch-Indische School (HIS), sekolah menengah yang hanya ditujukan bagi segelintir kalangan pribumi. “Sekolah ini menjadi pesaing HIS, sekolah sekunder, terbuka dan terbatas untuk orang Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan dasar mereka di Sekolah Kelas II (Tweede Klasse),” kata sejarawan Harry Poeze, penulis biografi Tan Malaka, dalam pengantar brosur Sarekat Islam Semarang dan Onderwijs.
- Masa Kecil “Si Harimau” Tan Malaka
BAK seekor harimau, "Bapak bangsa" Tan Malaka teguh berjalan seorang diri di hampir tiap jengkal jalan perjuangannya. Dia tak gentar meski harus menghadapi lawan yang jauh lebih besar ataupun lebih banyak. Seperti harimau, dia lebih banyak bersembunyi dalam penyamarannya sebelum melancarkan “serangan” mematikan. Julukan harimau itulah yang diterima Tan ketika masih studi di Belanda. Julukan itu diberikan kakak-beradik indo yang satu kos dengan Tan di Bussum. Penjulukan itu diawali dengan perkelahian di antara keduanya. OS dan HS, kakak-beradik itu, kerap berbuat seenaknya. Pada malam kedua Tan di kos itu, OS tiba-tiba mencekiknya dengan tanpa sebab. Tak ada yang tahu apa tujuan OS melakukan hal itu selain dugaan ingin menunjukkan kuasa pada penghuni baru. Tan ingat, sambil mencekik, OS berkata sesumbar bahwa gerakannya itu merupakan silat kepiting Iep.





















