top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sekolah Tertua di Depok

    SEDARI usia 18 tahun, Johanna Laurentia Laurens sudah menjadi guru. Mula-mula dia mengajar di Bogor, lalu Batavia, Solo, Pontianak, Makassar, Batavia, Tangerang, dan terakhir Sukabumi. Dia pensiun pada 1923 di Sukabumi lalu kemudian tinggal di Depok. Pada 1948, Johanna sudah berusia 80 tahun. Diperkirakan dia lahir sekitar 1868 di Depok. Johanna dari keluarga guru. Kakeknya seorang guru terpandang. Tuan Laurens yang dikenal sebagai Masteeer Toea alias Tjang Mètèng, demikian orang-orang menyapanya. Tjang Mètèng, disebut Jan-Karel Kwisthout dalam Drie eeuwen Depok, guru pertama pada Depoksche School yang dirintis misionaris Kristen di Depok. Koran Het Nieuws van den dag voor Ned. Indie tanggal 1 Juli 1939 menyebut Tjang Mètèng pernah sekolah di Jakarta dan diajar pendeta Inggris EW King, yang melayani Gereja Rehoboth di Jatinegara.

  • Buku Sejarah Indonesia, Highlight Akar Peradaban hingga Menjadi Indonesia

    PENULISAN kembali sejarah Indonesia yang jadi bagian dari perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, akhirnya tiba pada peluncurannya. Kendati sempat menimbulkan polemik, buku sebanyak 11 jilid itu diluncurkan pada Minggu (14/12/2025) petang di Plaza Intan Berprestasi, Kementerian Kebudayaan RI, Jakarta. Buku itu berjudul Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Ditulis oleh 123 penulis dari 34 perguruan tinggi dan 11 penulis dari lembaga non-perguruan tinggi se-Indonesia. Tak lupa diampu 20 editor jilid dan tiga editor umum: Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Jajat Burhanudin (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Prof. Dr. Singgih Sulistiyono (Universitas Diponegoro). “Kita memfasilitasi para sejarawan menulis sejarah. Kalau sejarawan tidak menulis sejarah, lantas bagaimana kita merawat memori kolektif bangsa kita?” ujar Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam agenda peluncuran buku tersebut.

  • Ziarah Sejarah ke Petamburan (2)

    BERANJAK ke bagian belakang TPU Petamburan, kita akan menemukan salah satu makam yang cukup megah. Meski tak semegah mausoleum Oen Giok Khouw, makam ini tampak bersepuh marmer berwarna hitam sepenuhnya. Nisannya juga besar sehingga memuat banyak keterangan tentang siapa sosok yang dimakamkan. Sayang, bingkai kaca tempat memuat foto di sudut atas kanan nisan retak. Sehingga, potretnya pun tak terlihat jelas. “Di sini beristirahat dengan tenang Dr. J.K. Panggabean. Usia: 84 tahun. Lahir: 21-8-1898 di Loboe Hole Tarutung. Meninggal 17-5-1982 di Jakarta,” demikian keterangan yang tertulis pada nisan. Masih pada nisan yang sama, terukir gelar dan kedudukan J.K. Panggabean. Secara berderet disebutkan demikian: Gelar Sutan Mahopung Ompu Raja Pasang Batu ke-II (gelar adat, red); Dr. Honoris Causa; MPRS di Negara RI 1960—1968; Perwakilan HKPB; GR. (guru, red.) Huria Menteng Lama HKBP; PT Piola Building. Bagian akhir menerangkan keluarga besar J.K. Panggabean dengan anak-menantu berjumlah 16 orang, cucu 60, dan buyut 12. Keterangan pada nisan ditutup dengan ayat Alkitab yang diambil dari buku Perjanjian Lama, Mazmur 23:1.

  • Kisah Prajurit Doyan Kawin

    DI usia 18 tahun, Tjo Peng An sudah berani mengawini Kho Misin Nio. Perkawinan pemuda-pemudi Tionghoa satu kampung itu terjadi atas perjodohan orangtua si gadis. Pesta pernikahan pun dihelat pada tahun 1918 itu juga. Hadir dalam pernikahan di Karanganyar itu para pemuka Tionghoa setempat. Namun, setelah kawin dengan Kho Misin Nio, Tjo Peng An masuk ke dalam dunia pengangguran sehingga dia sulit membiayai hidup istrinya. Kondisi itulah yang membualatkan tekadnya untuk meninggalkan istrinya dengan orang tuanya, sementara Tjo Peng An pergi merantau ke Karangjambu. Kemungkinan, Karangjambu –juga Karanganyar–itu berada di Kabupaten Purbalingga.

  • Banjir Besar di Jakarta

    MENJELANG akhir tahun, sejumlah daerah di Indonesia rawan banjir, termasuk Jakarta yang berstatus ibu kota negara. Siklus banjir di Jakarta sudah seperti bencana berkala. Selain macet, banjir menjadi momok yang ditakuti warga Jakarta, namun sialnya masih belum teratasi hingga kini. Banjir yang melanda Jakarta pada 1977 barangkali termasuk banjir paling besar sepanjang sejarah. Pada hari Rabu, 19 Januari 1977, hujan deras mengguyur sepanjang hari. Akibatnya, sejumlah kawasan terendam air. Banjir ini disebut-sebut yang terbesar di Jakarta sejak 1892. “Sedikitnya 100.000 jiwa terungsikan,” lansir Kompas, 20 Januari 1977. Daerah paling parah terdampak banjir adalah tiga kecamatan di Jakarta Pusat, antara lain Senen, Cempaka Putih, dan Gambir. Hujan yang turun sedari pagi menyebabkan sejumlah kantor meliburkan pegawainya. Menjelang sore, sepanjang Jl. Thamrin dari bundaran air mancur ditutup untuk lalu-lintas karena ketinggian air mencapai satu meter. Kendaraan-kendaraan yang melintasi jalanan tersebut tak dapat bergerak sehingga terpaksa ditinggalkan pemiliknya.

  • Pengusaha Hiburan Malam Naik Haji

    DI suatu malam, datanglah seorang perempuan yang disebut-sebut istri muda walikota Ambon ke klub malam bernama Latin Quarter. Tanpa ada walikota Ambon yang menjadi suaminya, perempuan itu datang ditemani beberapa laki-laki. Salah satu laki-laki itu bertanya ke kasir tempat Gito Rollies dan Gaga Abulhayat melayani pelanggan dan menanyakan bill yang harus dibayar. Rp14.950 jumlah tagihan yang harus dibayar rombongan istri muda pejabat itu untuk makan-minum di klub tersebut. Rombongan tersebut tak mau membayar tunai. Keributan pun terjadi antara laki-laki dalam rombongan istri muda itu dengan pekerja klub. Dalam peristiwa itu, Paul Houbert Endoh Fuhrer, pekerja klub yang juga vokalis band Cockpit, luka berat dan harus dirawat di rumahsakit. Selang beberapa waktu, suami dari istri muda tadi pun tak jadi walikota Ambon lagi.

  • Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

    DARI basis kekuasannya di Bakkara, Sisingamangaraja suatu kali melawat ke daerah Simalungun. Turut mendampinginya beberapa pengikut orang dari Aceh dan Toba. Namun, mendekati Pematang Raya, Tuan Rondahaim Saragih, penguasa Kerajaan Raya, enggan menyambut rombongan Sisingamangaraja. Tuan Rondahaim hanya bersedia menerima Sisingamangaraja di Dalig Raya, berjarak 5 km dari Pematang Raya, sebagai gerbang depan kerajaannya. “Dalig Raya adalah juga kampung saya, kesana saja Oppung (Kakek), biar nanti saya yang menghadap kesana,” kata Rondahaim, sebagaimana dituturkan Pdt. Wismar Saragih dalam Barita Ni Tuan Rondahaim atau Riwayat Hidup Tuan Rondahaim. Dinasti Sisingamangaraja kesohor sebagai raja-imam yang berkuasa di Tanah Batak. Pengaruhnya cukup diakui sampai ke wilayah kerajaan tetangga seperti Simalungun maupun Aceh. Tuan Rondahaim sendiri, dalam catatan Wismar Saragih, menaruh hormat pada Sisingamangaraja yang dipanggilnya “Oppung”.

  • Teqball, dari Mana Asalnya?

    TUAN rumah Thailand menyapu bersih lima medali emas dari cabang teqball, cabang olahraga debutan yang dipertandingkan di SEA Games 2025. Apa itu teqball? Sejak kapan mulai eksis dan bagaimana permainan itu bisa menjadi olahraga tercepat yang diakui secara internasional sejak kemunculannnya? Arham Syahban dalam Olahraga Teqball mencatat, teqball pertamakali dikembangkan pada 2012 oleh trio asal Hungaria: Gábor Borsányi, Viktor Huszár, dan György Gattyán. Nama teqball sendiri singkatan dari technique ball dan permainannya ibarat perpaduan antara sepakbola dan tenis meja atau ping-pong. “Olahraga berbasis sepakbola yang dimainkan dengan peralatan unik, namun sangat sederhana dengan ukuran bola sepak nomor 5 biasa. Karena permukaan meja yang melengkung, bola selalu memantul ke luar, menuju ke arah pemain. Meja unik yang melengkuk dikenal sebagai ‘teq table’,” jelas Arham.

  • Lagu “Titik Noda” Melesatkan D’Llyod

    INDUSTRI musik Indonesia menggeliat setelah 1969. Setelah Koes Plus keluar dari kemalangannya lewat album Dheg Dheg Plus, pada 1970 band yang digawangi Koeswoyo bersaudara itu keluar-masuk studio rekaman hingga menghasilkan puluhan album di dekade 1970-an. Beragam genre, mulai dari pop, Jawa, melayu hingga rohani Kristen gigarapnya. Koes Plus punya Tonny Koeswoyo, yang tak hanya bisa memimpin tapi juga mampu membuat lagu yang laris manis. Namun, era tersebut tak hanya milik Koes Plus. Nama-nama lain bermunculan dan ikut berkibar pula. Antara lain D'Lloyd, band dari sebuah perusahaan pelayaran dengan nama mirip. Djakarta Lloyd adalah perusahaan pelayaran nasional yang didirikan beberapa pejuang kemerdekaan yang kritis seperti Kolonel Darwis Djamin dan pengacara Mr. Budhyarto Martoatmodjo. Seperti perusahaan dan lembaga negara sebelum era 1970-an, perusahaan ini pun punya band. Anggotanya lebih lebih dari empat orang.

  • Piala Afrika yang Dipandang Sebelah Mata

    JIKA di belantika sepakbola Eropa ada momen “Boxing Day” sepanjang musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), di “benua hitam” Afrika juga ada hajatan dua tahunan African Cup of Nations (Afcon) atau Piala Afrika. Pada edisi ke-35 kali ini, Maroko jadi tuan rumah turnamennya yang dihelat kurun 21 Desember 2025-18 Januari 2026. Saat ini ke-24 tim sudah berkumpul di masing-masing base camp di Maroko di enam kota penyelenggara: Rabat, Casablanca, Marrakech, Agadir, Tangier, dan Fez. Namun, tak sedikit pelatih yang jengkel. Sejak awal Desember 2025, FIFA memberi keputusan yang memberatkan mereka, utamanya terkait kewajiban klub-klub Eropa melepas para legiun Afrika mereka. FIFA memberi keputusan bahwa klub-klub Eropa diwajibkan melepas para pemain Afrika yang dipanggil masing-masing tim nasional paling lambat 15 Desember 2025. Padahal, pada edisi-edisi sebelumnya para pemain Afrika itu wajib diizinkan meninggalkan klub untuk bergabung ke pemusatan latihan masing-masing tim nasional dua pekan sebelum hari-H turnamen.

  • Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

    ORANG Aceh turut menyertai rombongan Sisingamangaraja XI ketika berkunjung ke Simalungun. Salah satu dari orang Aceh itu bergelar “Panglima Perang”, segera menarik perhatian Tuan Rondahaim Saragih, penguasa Kerajaan Raya. Konon katanya, Panglima Perang punya ilmu bertempur dan kanuragan. Tuan Rondahaim minta Panglima Perang mengajarkan cara melawan serdadu Kompeni. Untuk itu, Tuan Rondahaim rela membayar uang sebanyak $24. Namun, pengajaran yang diberikan Panglima Perang rupanya tak sesuai harapan. “Ambil cabe, lalu digiling, kemudian percikkan ke mata serdadu itu, agar mereka hanya bisa meraba-raba, katanya [Panglima Perang]. Uang pun ludes,” sebagaimana dikisahkan Pdt. Wismar Saragih dalam Barita Ni Tuan Rondahaim atau Riwayat Hidup Tuan Rondahaim. Menurut Augustin Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, pertemuan Sisingamangaraja dengan Tuan Rondahaim terjadi pada 1871. Kedatangan Sisingamangaraja ke Pematang Raya untuk bertemu Tuan Rondahaim guna membicarakan suatu perjanjian pertahanan bersama. Aliansi keduanya terkait kuat dengan penetrasi Belanda yang sudah menguasai sebagian besar wilayah Sumatra Timur. Begitu pula dengan takluknya kerajaan-kerajaan Melayu setempat yang mengakui kekuasaan Belanda, seperti Kesultanan Deli, Serdang, Asahan, dan Langkat.

  • Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

    JIKA membandingkan band rock God Bless dengan tokoh pewayangan, mungkin padanan yang pas adalah Gatot Kaca. Keduanya sama-sama sudah mampu berperang meskipun baru dilahirkan. Ya, God Bless ketika baru muncul sudah diperhitungkan meski belum punya album. God Bless, yang digawangi Ahmad Albar dkk., mula-mula dilihat karena aksi panggungnya. Berbeda dari kebanyakan band, yang baru dipandang orang setelah punya album. God Bless punya Albar yang sudah malang melintang di belantika pop Belanda bersama Clover Leaf. Begitu pula gitaris awal God Bless Ludwig Lemans. Drumer pertama God Bless, mendiang Fuad Hassan, juga dianggap drumer terbaik Indonesia sebelum kematiannya pada 9 Juni 1974. Pemain bass-nya, Donny Fatah Gagola, pun sudah terkenal. Begitu juga pemain kibornya, Deddy Dores, yang sebelumnya merilis album bersama Freedom of Rhapsodia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page