top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Drummer Pertama God Bless

    SAMA-sama punya wajah Arab, nama pria ini mirip dekan Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia yang kemudian jadi menteri di Kabinet Pembangunan V Soeharto: Fuad Hassan. Namun, usia keduanya bertaut jauh, juga profesinya. Fuad yang akademisi kelahiran Semarang, 26 Juni 1929, sementara Fuad yang ini kelahiran Yogyakarta, 24 Agustus 1942. Fuad “senior” berprofesi akademisi kemudian politisi, sedangkan Fuad “junior” tukang gebuk drum. Fuad “drummer” menjadi yatim ketika masih kecil. Fuad kecil lalu ikut keluarganya pindah dari Yogyakarta ke Bogor. Menurut Camelia Malik, Fuad terakhir bersekolah di STM 1. Sekolah teknik menengah tempat Fuad belajar itu kemungkinan dulunya STM Negeri 1 Jakarta yang kini berada di Jalan Budi Utomo, dikenal sebagai STM Boedoet. Fuad suka sepakbola dan tinju, namun dia lebih dikenal jago drum. Sebagai pemain drum, dirinya berpindah-pindah band sejak muda. Majalah Aktuil nomor 149 tahun 1974 mencatat: pada 1962 Fuad ikut band Pandawa, lalu pindah ke Zaenal Combo setahun kemudian, pada 1964 ke Medenazz, dan pada 1965 ke Dieselina. Sedari 1966 hingga 1968, Fuad memperkuat The Pro’s. The Pros kependekan dari The Profesional, dengan Dimas Wahab sebagai pendiri sekaligus pemain bass-nya. Dimas Wahab adalah ayah dari tiga personil band Bragi yang sohor di era 1990-an.

  • Brigitte Bardot yang Kontroversial

    JIKA di industri film Hollywood ada Marylin Monroe –Norma Jeane Mortenson– yang jadi ikon sex symbol dunia, perfilman Prancis punya Brigitte Bardot. Keduanya sama-sama kondang pada era yang sama: 1950-an dan 1960-an. Bedanya, Monroe mati muda di usia 36 tahun pada 1962, sedangkan Bardot wafat di usia senja pada usia 91 tahun tak lama setelah Hari Natal, Minggu (28/12/2025). Bardot, ikon perfilman dan penyanyi itu, menghembuskan nafas terakhir di kediamannya, La Mandrague di Saint-Tropez, Prancis di pangkuan suami keempatnya, Bernard d’Ormale. Terlepas dari kontroversi haluan politiknya di barisan sayap kanan yang anti-imigran, pemilik nama lengkap Brigitte Anne-Marie Bardot itu tetap dihormati, bahkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebutnya sebagai legenda.

  • Para Raja Luar Jawa dalam Perang Jawa

    BERDAMAI dengan penguasa Hindia Belanda di masa kolonialisme Belanda biasa dilakukan beberapa bangsawan atau pemuka masyarakat dengan tidak menjadi musuh bagi pemerintah kolonial. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti menjadi sekutu dalam perang. Hal itu bisa dilihat antara lain dalam Perang Jawa (1825-1830), ketika militer Belanda membutuhkan pasukan tambahan untuk menghadapi Pangeran Diponegoro. Ketika pecah Perang Jawa, kepala swapraja empat keraton Mataram di Surakarta dan Yogyakarta tak bisa terang-terangan berpihak kepada Diponegoro. Permintaan menyediakan pasukan untuk melawan pengikut-pengikut Diponegoro oleh Belanda mesti mereka turuti. Legiun Pakualam dari Yogyakarta dan Legiun Mangkunegaran dari Surakarta menjadi bagian dari pasukan bantuan (Hulptroepen) asal Jawa itu, yang jelas memerangi orang Jawa pula. Maka ketika menyergap pengikut Diponegoro yang dipimpin Djojo-Mongolo (Joyo Menggolo) di sebuah perbukitan di timur Yogyakarta, dalam pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Roeps terdapat Legiun Mangkunegaran dan Barian Sumenep.

  • “Kabur Aja Dulu” Ala George de Fretes

    KAPAL motor Johan van Oldebarnevelt angkat jangkar dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 17 Mei 1958. Kapal itu hendak bertolak ke Negeri Belanda. Dalam perjalanan, ternyata ada 27 penumpang gelap di dalamnya. Salah satu di antaranya seorang pria Ambon. Dia memilih “jalan belakang” lantaran enam kali upaya pengajuan visanya semua ditolak. “Jalan belakang” diupayakan oleh kawan-kawannya yang polisi. Mereka mengaturnya naik Johan van Oldebarnevelt dengan modal boarding pass untuk izin naik kapal saja seperti penumpang gelap lain. Namun ada satu syarat yang harus dipenuhi untuk bisa begitu. Yakni si calon penumpang harus bekerja di kapal dengan imbalan minum dan makan gratis. Demi bisa menaiki kapal, pekerjaan itu pun dilakoni George de Fretes, pria Ambon yang jadi penumpang gelap tadi. George bernama lengkap Frits George Karel de Fretes. Dia lahir di Bandung, 23 Desember 1921. Koran Deventer Dagblad tanggal 15 November 1958 menyebut dia anak seorang pegawai negeri. Dari Bandung, keluarganya kemudian pindah ke Jakarta.

  • Bung Karno dan Revolusi Teknologi Antariksa (Bagian II)  

    KETIKA berkuasa, Presiden Sukarno berusaha mengikis mistik dan takhayul yang sudah mendarah daging di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan memajukan sains dan teknologi yang terus diperhatikan pemerintahannya. Dengan sains-tek, ia berharap masyarakat bisa memperdalam dan mengembangkan keilmuan antariksa yang mulai marak. Ia ingin bangsanya menyaingi bangsa-bangsa Barat. Kaum elite Belanda sudah lebih dulu mempelajari benda-benda di antariksa beserta fenomena-fenomenanya. Di masa kolonial, mereka sudah punya wahana untuk mempelajarinya, yakni teropong bintang yang berada di Observatorium Bosscha di Lembang. Bangunan yang berdiri sejak 1923 itu dirancang arsitek yang juga dosen Bung Karno semasa kuliah di Technische Hoogeschool Bandoeng (kini Institut Teknologi Bandung/ITB), yakni Charles Prosper Wolff Schoemaker. Maka di masa pasca-kemerdekaan ketika Bung Karno sudah punya kekuasaan, ia ingin membangun wahana yang lebih besar dan bermanfaat berupa planetarium.

  • Bung Karno dan Revolusi Teknologi Antariksa (Bagian I)

    TIDAK hanya bersaing dalam perlombaan senjata nuklir, Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai pentolan dua kutub geopolitik di masa Perang Dingin juga saling berlomba mencapai antariksa. Dalam persaingan teknologi antariksa pun Presiden Sukarno tak ingin tertinggal dari Amerika ataupun Soviet. Teknologi roket jadi kunci persaingan eksplorasi antariksa. Pada dasarnya, roket adalah sebuah proyektil berbentuk silinder yang dilontarkan berkat dorongan sumber energi di dalamnya. Mirip misil, namun roket bergantung pada pembidikan yang akurat karena tak memiliki sistem pemandu tersendiri seperti misil.

  • Dara Intelijen Indonesia

    PADA 1 April 1994, Brigjen TNI Slamet Singgih dilantik menjadi Dansat Intel BIA (Komandan Kesatuan Intel Badan Intelijen ABRI) menggantikan Brigjen TNI Farid Zainudin. Dia kemudian ditelepon Pak Catim dari Dara yang menyampaikan bahwa Jenderal TNI (Purn.) Benny Moerdani ingin berkenalan dengan Dansat BIA yang baru. Slamet agak kaget dan mempertanyakan apakah benar Benny ingin berkenalan dengannya. Dalam karier militernya, dia tiga kali melihat Benny, yaitu ketika masih menjadi taruna AMN (Akademi Militer Nasional) di magelang, ketika menjabat Komandan Kodim di Bangka yang menerima pengarahan di markas Kodam IV/Sriwijaya, dan waktu mengikuti kursus reguler Lemhanas tahun 1992.

  • Wacana Wapres RI Ada Dua

    UNTUK pemilu 2024 mendatang, tiga orang kandidat telah dideklarasikan oleh partai pengusung masing-masing. Anies Baswedan oleh Partai Nasdem, Ganjar Pranowo oleh PDIP, dan Prabowo Subianto oleh Partai Gerindra. Namun, masing-masing belum menentukan siapa calon wakil presiden yang akan mendampingi. Peran wakil presiden di era demokrasi ini memang bisa jadi menentukan gerak laju pasangan capres dalam gelaran pilpres. Apakah itu karena popularitas sang wapres mampu mendongkrak suara ataupun kekuatan logistik yang disandangnya. Sepanjang berjalannya republik ini, tercatat sebanyak 8 presiden dan 13 wakil presiden dengan komposisi tiap periode satu orang presiden didampingi satu orang wakil. Tetapi, beberapakali pula muncul wacana presiden didampingi dua orang wakil. Pucuk pimpinan eksekutif dengan dua wakil presiden memang dianut beberapa negara. “(Negara) yang dua wapres tuh Costa Rica sama Uni Emirat Arab,” sebut Insan Praditya Anugrah, dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Terbuka, kepada Historia.id. “Biasanya yang terjadi di negara-negara tersebut lebih sebagai akomodasi posisi buat orang-orang berpengaruh.”

  • Membidik Wapres Usia Muda

    MAHKAMAH Konstitusi (MK) menetapkan batas umur bagi calon presiden dan wakil presiden minimal 40 tahun. Namun, syarat usia tersebut tidak mutlak mengikat. Bagi warga negara yang telah berpengalaman menjabat kepala daerah hasil pilkada, boleh maju untuk pemilihan presiden dan wakil presiden meskipun belum genap berusia 40. Ini berarti peluang kaum muda semakin terbuka lebar mengikuti kontestasi pemilihan umum RI-1 dan RI-2. Nama Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo, sempat masuk bursa calon wakil presiden (cawapres). Namun, pencalonan Gibran masih tarik-ulur karena usianya belum memenuhi syarat. Saat ini, Gibran berusia 36 tahun dan menjabat sebagai wali kota Solo. Gibran santer diberitakan menjadi cawapres kubu Prabowo Subianto. Jika Gibran maju dan menang, dia akan menjadi wakil presiden termuda sepanjang sejarah Indonesia.

  • Jalan Try Sutrisno ke Kursi RI 2

    MAKIN mendekati “tahun politik” Pemilu 2024, makin bertebaran pula nama-nama yang bakal dicalonkan terutama untuk bertarung di pemilihan presiden (pilpres) pada 14 Februari 2024. Tiga nama bakal calon presiden (capres) sudah muncul, menyisakan jatah kursi wakil presiden (wapres). Hingga detik ini, para bakal capres yang sudah mendeklarasikan keikutsertaan di pilpres adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 Anies Baswedan, dan Menhan Letjen (Purn.) Prabowo Subianto. Kendati begitu, Ganjar, Anies, maupun Prabowo semua belum menentukan siapa calon yang bakal mendampingi mereka. Saat ini sudah banyak nama yang mencuat di bursa bakal cawapres. Di antaranya Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menko Polhukam merangkap Plt. Menkominfo Mahfud MD, Menparekraf Sandiaga Uno, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar, dan Menteri BUMN cum Ketum PSSI Erick Thohir.

  • Mukidjan Bukan Tjakrabirawa

    DALAM Gerakan 30 September (G30S), terdapat satu komando pasukan penculik para jenderal yang disebut Pasopati. Pasukan yang dipimpin Letnan Satu Dul Arief itu diisi oleh pasukan dari Batalyon I Tjakrabirawa, Batalyon 530 dari Jawa Timur, dan Brigade Infanteri I (Brigif I) Jayasakti KODAM Jaya. Para pemimpin kelompok penculik para jenderal itu umumnya dari Resimen Tjakrabirawa, kecuali pemimpin penculikan Letnan Jenderal Ahmad Yani dan Donald Izacus Pandjaitan. Penculikan Ahmad Yani dipimpin Pembantu Letnan Satu (Peltu) Mukidjan. Sementara penculik Pandjaitan di bawah komando Sersan Dua Soekardjo. Para komandan kelompok penculik umumnya bintara, kecuali Peltu Djahurup dan Mukidjan.

  • Membebaskan Tjakrabirawa di Aljazair

    KONFERENSI Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung, Jawa Barat, pada 18–24 April 1955 menjadi pendorong yang kuat bagi kemerdekaan negara-negara Asia dan Afrika. Setelah berjuang sejak 1954, Front Pembebasan Nasional (FLN) Aljazair dapat merebut kemerdekaannya dari Prancis pada 5 Juli 1962. Ahmed Ben Bella diangkat menjadi presiden Aljazair pada 1963. Peringatan dasawarsa KAA di Jakarta pada April 1965 memutuskan Aljir, ibukota Aljazair sebagai tuan rumah KAA II, yang rencananya akan digelar pada 25 Juni 1965. Setelah berkoordinasi dengan badan keamanan Aljazair, dikirim satu kompi advanced team (tim pendahulu) berjumlah 200 personel Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Sukarno. Tim ini datang dengan berpakaian preman dan berperalatan lengkap.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page