Hasil pencarian
Cari di situs ini
10072 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bongkar Pasang Kurikulum Sepanjang Zaman
PENDIDIKAN yang inklusif, berkualitas dan berkelanjutan jadi seruan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada Jumat (2/5/2025) dengan mengusung tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Pendidikan yang berkualitas tentu butuh seperangkat rencana hingga bahan pelajaran yang jadi pedoman bernama kurikulum. Menariknya, sejak Republik berdiri sudah 12 kali bongkar-pasang kurikulum.
- Sejak Kapan Asap Menjadi Penanda dalam Pemilihan Paus?
PROSES pemilihan paus baru yang populer disebut konklaf telah selesai diselenggarakan di Kapel Sistina, Vatikan, pada Kamis (8/5/2025) waktu setempat. Mulai digelar sejak Rabu (7/5), prosesi tertutup itu dihadiri 133 kardinal dari seluruh dunia. Hasilnya, Robert Francis Prevost dari Amerika Serikat terpilih sebagai paus ke-267. Ia akan menggunakan nama Paus Leo XIV dan menjadi paus pertama dari Negeri Paman Sam.
- Sebelum Alcatraz jadi Penjara Terkejam
PERNYATAAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump seringkali bikin heboh. Setelah ingin mengubah Jalur Gaza di Palestina menjadi resort layaknya French Riviera hingga ingin mencaplok Greenland dan Kanada, kini Presiden Trump ingin menghidupkan kembali Pulau Alcatraz untuk penjara federal. Padahal, sudah lebih dari setengah abad pulau itu jadi lokasi wisata.
- Perempuan Korban Kerusuhan Mei 1998
LEBIH dari dua dekade telah berlalu, namun ingatan tentang kerusuhan Mei 1998 masih membekas dalam memori orang Indonesia. Serangan terhadap kelompok minoritas Tionghoa hingga kelompok miskin kota, tak hanya menghancurkan berbagai bangunan, tetapi juga menyebabkan kematian ribuan orang. Sementara beberapa orang lainnya terluka dan menjadi sasaran kejahatan seksual. Dimulai pada akhir 1997 dan awal 1998, ketika krisis ekonomi mulai berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, tuntutan gerakan pro-demokrasi semakin kencang. Gerakan perubahan ini mencapai puncaknya pada pertengahan Mei 1998. Sejarawan Katharine E. McGregor mencatat dalam Systemic Silencing: Activism, Memory, and Sexual Violence in Indonesia, dari tanggal 12 hingga 14 Mei, serangkaian penembakan oleh aparat keamanan yang menyasar para demonstran mahasiswa, kerusuhan di kota-kota besar yang menghancurkan toko-toko dan berakibat tewasnya banyak orang, serta pemerkosaan terhadap sejumlah wanita keturunan Tionghoa mengubah Indonesia secara menyeluruh. “Sifat dari kekerasan tersebut menyebabkan sorotan yang begitu besar terhadap polisi dan militer yang dianggap tak berbuat banyak selama kerusuhan, dan yang paling buruk, memainkan peran kunci dalam kekerasan itu sendiri. Terungkapnya kekerasan seksual terhadap perempuan keturunan Tionghoa mendorong para aktivis hak-hak perempuan utnuk menyuarakan protes keras terhadap kekerasan seksual secara umum dan menuntut pertanggungjawaban atas pemerkosaan pada Mei 1998,” tulis McGregor.
- Kematian Ita Martadinata dan Advokasi Korban Pemerkosaan Mei 1998
MARTADINATA Haryono yang lebih dikenal dengan nama Ita Martadinata tewas di rumahnya pada 9 Oktober 1998, beberapa hari sebelum terbang ke Amerika Serikat untuk memberikan kesaksian di hadapan kelompok pembela hak asasi manusia internasional. Gadis berusia 18 tahun itu dibunuh karena aktif sebagai relawan yang membantu korban pemerkosaan dan kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998. Tempo, 19 Oktober 1998, melaporkan, siswi sekolah menengah atas itu tewas akibat tebasan senjata tajam. Beberapa tusukan ditemukan di bagian dada, perut, dan ulu hati. Sedangkan tangannya, yang memegang kabel, lecet-lecet. Sementara itu, kamar Ita, tempat korban ditemukan tewas bersimbah darah, tak terlihat berantakan. Berita kematian Ita tersebar luas. Kepala Direktorat Reserse Polda Metro Jaya, Kolonel Gories Mere, datang ke tempat pengambilan visum korban di bagian forensik Universitas Indonesia. Puluhan polisi termasuk anjing pelacak dikerahkan ke lokasi kejadian untuk menyelidiki pembunuhan tersebut.
- Bertaruh Nyawa Merekam Peristiwa Gwangju
MAYAT-mayat dan para korban luka tembak bergelimpangan di jalan-jalan pusat kota Gwangju, Korea Selatan (Korsel) siang (21 Mei 1980) itu. Jürgen Hinzpeter (diperankan Thomas Kretschmann), juru kamera asal Jerman Barat, tak percaya dengan kengerian yang dilihatnya. Ia terduduk lemas di balik sebuah mobil taksi setelah merekam barisan tentara berseragam loreng dan bersenjata lengkap menembaki massa pengunjuk rasa dengan membabi-buta.
- Dari Buaya Keroncong hingga Buaya Darat
BAGI penikmat dunia hiburan tanah di zaman baheula, namanya tentu tak asing lagi. Dia tergolong artis serba-bisa. Menyanyi. Berakting. Tampil di atas panggung. Padahal kariernya dimulai dari seorang kacung dalam sebuah rombongan sandiwara di Bandung, melakukan pekerjaan menyapu hingga membersihkan alat musik. Tan Tjeng Bok masih berumur 13 tahun kala itu. Di rombongan sandiwara De Goudvissen ini, dia tak mendapat gaji. Hanya makannya ditanggung. Imbalan paling berarti baginya adalah alunan suara dari sang penyanyi pujaan Ben Oeng (Beng). Tjeng Bok memendam hasrat pada dunia tarik suara. Tak dinyana, keberuntungan datang padanya. Beng berhalangan tampil, dia pun didapuk untuk menggantikannya. Walau cuma dibekali latihan kilat, penampilan perdananya tergolong sukses. Modal ini membuatnya percaya diri untuk bergabung dengan grup keroncong Hoot Visen. Tjeng Bok juga mulai kerap mengikuti kontes nyanyi keroncong. Karena sering keluar sebagai juara, dia pun dikenal sebagai “buaya keroncong” di Bandung. Dia menapak karier di dunia hiburan, sekalipun ayahnya tak merestui.
- Penjajahan Inggris Tak Selalu Manis
PUBLIK awam Indonesia kerap membandingkan Indonesia dengan negara-negara bekas jajahan Inggris yang lebih maju, seperti Singapura, Australia, atau bahkan jiran serumpun Malaysia. Tak dapat dimungkiri, negara tersebut jauh lebih unggul ketimbang Indonesia. Dari segi indeks kesejahteraan warga negara, modernisasi, maupun pendidikan, Indonesia masih tertinggal. Ketiga negara tadi juga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Sementara kebanyakan masyarakat Indonesia tidak cukup fasih berbahasa Belanda.
- Membedah Sejarah Kesehatan dan Kedokteran Indonesia
SELAMA kurang lebih 20 tahun, Hans Pols, sejarawan kebangsaan Belanda dari University of Sydney, menggeluti riset sejarah kesehatan Indonesia. Ketertarikan Pols pada tema tersebut bermula sedari kecil. Semasa bocah, Pols suka main ke rumah sakit jiwa. Pols akrab dengan tempat itu lantaran ayahnya seorang psikiater yang buka praktik di Rumah Sakit Jiwa Assen di Belanda.
- Masa Muda Musso
HARSONO Tjokroaminoto, putra dari pendiri Sarekat Islam HOS Tjokroaminoto, semasa bocah cukup akrab dengan para pemuda yang mondok di kediaman orangtuanya di Jl. Plampitan, Surabaya. Salah satunya adalah pemuda bernama Musodo. Harsono menganggap Musodo seperti kakaknya sendiri, begitupun sebaliknya.
- Tangan Besi Daendels dalam Menjaga Ketertiban di Jawa
HERMAN Willem Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Timur pada 29 Januari 1807. Ia diberikan dua tugas penting oleh Raja Belanda Louis Napoleon, adik Napoleon Bonaparte, yakni mempertahankan wilayah Jawa agar tak jatuh ke tangan Inggris dan melakukan reformasi birokrasi, termasuk membenahi sistem administrasi, demi mewujudkan pemerintahan yang bersih di Hindia Timur. Menurut Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Djoko Marihandono, dalam disertasinya “Sentralisme Kekuasaan Pemerintahan Herman Willem Daendels di Jawa 1808-1811: Penerapan Instruksi Napoleon Bonaparte,” hingga saat kedatangan Daendels di Pulau Jawa, sistem administrasi pemerintahan di wilayah tersebut sangat lemah. Karena kelemahan itu, kehormatan dan kepentingan negara seringkali dikorbankan. Hal ini terlihat dari kondisi moral pegawai di berbagai dinas yang rusak akibat sistem administrasi yang ada. Kelemahan lain para pejabat tinggi adalah sifat mudah menyetujui dan mudah mengalah. Sifat ini dianggap sebagai penghambat bagi pengawasan yang seharusnya dijalankan oleh para pejabat berwenang.
- Ketika Jenderal Purnawirawan Bersuara
WAKIL Presiden Gibran Rakabuming Raka kini tengah digoyang. Tuntutan datang dari Forum Purnawirawan TNI yang menghendaki Gibran dimakzulkan dari jabatannya. Mereka menganggap Gibran tidak layak untuk menempati posisi itu, apalagi harus menggantikan Presiden Prabowo ketika berhalangan atau pada saat-saat tertentu.





















