top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10062 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Otak vs Otot

    BAGI anak muda, bisa jadi sejarah memang membosankan. Apalagi jika diajarkan dalam bentuk hafalan: soal angka tahun dan nama-nama. Jadi neraka ketika ujian. Hasilnya tak sesuai tujuan. Padahal esensi belajar sejarah adalah pemahaman yang mendalam dan menyeluruh atas sebuah peristiwa: tentang latar belakang peristiwa, aktor di baliknya, sebab-musabab dan akhir peristiwa, serta apa pengaruhnya bagi hidup kita di masa kini. Pelajaran sejarah, khususnya tentang peristiwa-peristiwa kontroversial yang masih sensitif, diajarkan secara sepihak. Didesain sebisa mungkin supaya siswa menerima satu versi resmi yang telah disusun oleh para pembuat kebijakan kurikulum pelajaran sekolah. “Versi resmi” jauh lebih punya muatan politis ketimbang akademis.

  • Ketika Presiden Soeharto Memperkenalkan Ibu Negara

    SEWAKTU baru menjabat sebagai presiden RI ke-2, Soeharto selalu memperkenalkan menteri-menteri, pejabat tinggi, hingga istrinya sekaligus ibu negara, Tien Soeharto, yang turut dalam rombongan. Kebiasaan ini lazim pula ditemui sekarang dalam sambutan pejabat tinggi negara. Begitulah yang terjadi ketika Soeharto berkunjung ke beberapa kota di Sumatra pada September 1968.

  • Penjaga Kebun Belanda Membantu Republik

    PERANG Kemerdekaan membuat keamanan di berbagai daerah terganggu. Perkebunan teh Goalpara di Sukabumi pun didatangi sekelompok orang bersenjata yang oleh orang Belanda disebut extrimist atau terrorist. Jumlahnya sekitar 30 orang anggota. Mereka anggota Laskar Bambu Runcing dengan Soetisna sebagai komandannya. Perkebunan itu sebenarnya punya tenaga keamanan yang juga bersenjata api yang disebut Onderneming Wacht (OW). Namun yang terjadi di Goalpara malam itu berbeda. “Situasi telah berbalik, Tuan, kami harus mengambil semua senjata kami,” kata salah satu anggota OW kepada atasan Belanda mereka, Maarseveen dan Offerbeek, diberitakan Nieuw Courant, 26 Juli 1948. Jadi, alih-alih mendapat perlawanan dari OW, 30 anggota Laskar Bambu Runcing itu justru mendapat bantuan dari OW di sana. Si OW yang berbalik pihak itu juga bilang ada 300 orang kombatan anti-Belanda yang mengepung kawasan perkebunan itu. “Cepat keluar dan serahkan senjata kalian!”

  • Wong Jowo Main di Piala Dunia

    DI ANTARA penumpang kapal SS Baloeran yang berlayar pada Mei 1938 terdapat tim sepakbola Hindia Belanda. Mereka berasal dari berbagai klub sepakbola di beberapa kota penting di Jawa, seperti Batavia, Malang, dan Surabaya. Setelah tiba di Pelabuhan Rotterdam, Belanda, mereka sempat berlatih di Den Haag sebelum ke Perancis pada akhir Mei 1938 untuk mengikuti Piala Dunia 1938. Timnas Hindia Belanda itu lalu latih-tanding melawan tim setempat, HBS. “Loro-loro,” terang salah satu pemain yang orang Jawa ketika melaporkan hasil pertandingan tersebut adalah 2-2, seperti dicatat De Indisch Courant tanggal 31 Mei 1938. Kedatangan mereka di Belanda mendapat perhatian dari suratkabar setempat. Koran Utrect Volksblad tanggal 19 Mei 1938 memberitakan, tim Hindia-Belanda terdiri dari empat orang Ambon, tiga orang Tionghoa, satu orang Jawa dan sisanya anak-anak Indo.

  • Hatta yang Sentimentil

    APAKAH yang selalu dikenang oleh Mohammad Hatta dari masa kecilnya? Tentunya banyak. Namun menurut Meutia Hatta, ada satu peristiwa yang pernah dilihat Hatta saat bocah dan berpengaruh terhadap sikapnya ketika dewasa kelak, terutama soal sikap anti kolonialismenya. “Yakni saat dia melihat sahabat kakeknya bernama Rais ditangkap karena mengkritik kebijakan seorang pejabat Hindia Belanda,” ungkap Meutia kepada Historia. Dalam Memoirs , Hatta melukiskan peristiwa itu dalam nada yang sentimentil. Dia yang saat itu masih kanak-kanak (6 tahun), sangat meyakini kata-kata Idris, sang paman, yang meyebut Rais tak lebih sebagai korban kelicikan Belanda. Jauh sebelumnya, lewat surat pembaca di koran Utusan Malayu , Idris mengkritik ulah licik Tuan Westenenk (Asisten Residen untuk wilayah Agam) kepada rakyat Agam. Masih tersamar, bagaimana prilaku licik Tuan Westenenk tersebut. Yang jelas dengan memitnah Rais terlibat dalam pemberontakan Kamang (penentangan rakyat Agam terhadap pajak tinggi yang dikenakan pemerintah Hindia Belanda), lelaki Minang itu akhirnya ditangkap. Hatta sangat terkesan dengan sikap Rais yang terlihat sangat yakin bahwa dirinya tak bersalah. Dia menulis sosok itu sebagai lelaki yang melambaikan tangannya yang terbelenggu, kala kereta api yang membawanya ke Padang, melewati rumah keluarga besar Hatta di wilayah Aur Tajungkang, Bukittinggi. Sikap sentimentil juga pernah diperlihatkan  oleh Hatta saat dirinya menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Alkisah pada suatu hari di tahun 1947, serombongan anggota Komisi Jasa-jasa Baik PBB dari Australia, Belgia dan Amerika Serikat datang ke Bukittinggi. Menurut Rosihan Anwar dalam Sang Pelopor: Tokoh-Tokoh Sepanjang Perjalanan Bangsa , rombongan tersebut lantas disambut oleh Hatta, diiringi rakyat banyak yang membawa bambu runcing. Dalam sambutannya, Buya Hamka meneriakan pidato yang sarat emosi dan memunculkan rasa haru. “Pernahkah tuan-tuan melihat negeri seindah ini? Gunung-gunungnya, sawah-sawahnya, hutannya yang hijau, dan kampung-kampunngnya? Selama 350 tahun, negeri yang kami cintai ini telah dirampas dari tangan kami, walaupun kami memilikinya! Kami hidup di dalamnya, tapi kami tak memilikinya. Kami dianggap budak-budak di negeri kami sendiri! Tuan-tuan, lihatlah bambu runcing-bambu runcing kami! Sekalipun hanya ini satu-satunya senjata yang kami punya untuk membela diri kami, kami tidak akan pernah membiarkan tanah air kami dijarah kembali!” Semua terdiam mendengar pidato itu. Saat Hamka menoleh ke arah Hatta yang tengah berada di sampingnya, terkejutlah sang buya ketika menyaksikan wakil presiden RI pertama itu tengah berurai air mata. 27 tahun kemudian. Tepatnya 5 Oktober 1974, Yuke (panggilan akrab Rachmi Hatta) melihat suaminya sudah bersiap-siap sejak pagi. Kepada sang istri, Hatta menyatakan akan hadir dalam upacara peringatan hari ulang tahun angkatan bersenjata Republik Indonesia ke-29 di Lapangan Parkir Senayan, Jakarta. Tahu kondisi Hatta sedang sakit-sakitan, Yuke berusaha untuk mencegah kepergian Hatta. “Ah, buat apa ayah datang ke sana? Ayah sekarang harus menjaga kesehatan. Ayah toh tidak akan dipedulikan orang. Sekarang kan, banyak orang telah lupa kepada Bung Hatta,” ujar Rachmi. Hatta sejenak terdiam. Namun dengan tenang dia kemudian berkata: “Yuke tidak perlu bilang begitu. Saya kan dulu ikut juga membangun tentara nasional kita. Karena itu saya mau pergi. Biar saja orang lupa kepada saya, Bagi Kak Hatta, itu tidak penting. Cukup hati saya saja yang tahu bahwa dulu saya juga pernah ikut mendirikan angkatan perang Republik Indonesia.” Demi mendengar kata-kata sang suaminya itu, diam-diam Rachmi Hatta merasa terharu.*

  • Seperti Trumbo, Jim, dan Rakim

    SEORANG narapidana berkulit hitam melepas topinya dan berdiri. Matanya menatap penuh tanya kepada Trumbo, narapidana lain yang belum lama masuk penjara. “Kudengar kau seorang penulis, juga seorang komunis. Apa yang salah dengan kalian?” kata narapidana itu kepada Trumbo. Tak ada jawaban. Adegan itu terdapat di film Trumbo (2015), sebuah film yang berkisah tentang James Dalton Trumbo, penulis terkemuka dari Amerika Serikat yang harus melewati masa-masa sulit karena namanya termasuk di dalam daftar hitam orang komunis yang patut dicurigai sebagai pengkhianat dan mata-mata. Dia merasa tak pernah berbuat tindakan kriminal apapun sehingga tak perlu mengaku sebagai orang yang patut dihukum hanya karena menjadi seorang komunis. Akan tetapi dalam situasi di mana tafsir atas benar atau salah hanyalah milik penguasa, tak banyak yang bisa diperbuat oleh jelata seperti Trumbo kecuali masuk penjara karena dianggap melawan kekuasaan. Nasib Jim alias James B. Donovan seorang pengacara asuransi yang diperankan oleh Tom Hanks dalam film Brigde of Spies (2015) nyaris mirip Trumbo. Walau tak seapes Trumbo yang masuk penjara, Jim jadi bahan ejekan massal ketika membela Rudolf Ivanovich Abel, agen spion Soviet yang tertangkap di New York, Amerika Serikat. Jim bersikeras membelanya bahkan berhasil membuat Abel tak dijatuhi hukuman mati sebagaimana yang diinginkan kebanyakan orang saat itu. Jim makin dibenci, sebagaimana orang yang sedang dibelanya. Tanpa bisa dihindari, dia pun bak mendapatkan vonis sosial sebagai penjahat yang turut dalam kejahatan yang tak pernah diperbuatnya. Kisah Trumbo dan Jim yang digambarkan di dalam kedua film tersebut, sebagaimana biasanya film-film Hollywood lainnya, selalu berakhir bahagia. Trumbo, kendati sempat selama beberapa tahun menyembunyikan identitasnya sebagai penulis skenario film, membuka jatidirinya bahwa dia adalah penulis dari film-film box office kala itu. Namanya menjulang setinggi langit. Orang-orang mulai mafhum bahwa Trumbo tak lebih dari seorang penulis berbakat dengan karya gemilang. Label buruk sebagai komunis luruh dengan sendirinya. Dia pun diganjar Oscar dua kali dan beragam penghargan untuk penulisan naskah film lainnya. Sedang Jim, yang sempat mendapat cercaan dan makian karena menjadi pengacara seorang komunis, juga berakhir bahagia. Abel yang dibelanya dari hukuman mati ternyata berguna untuk menukar dua warga Amerika yang masing-masing ditahan oleh Uni Soviet dan Jerman Timur. Presiden John F. Kennedy pun mengangkatnya sebagai negosiator pembebasan tawanan dalam peristiwa Teluk Babi di Kuba. Tapi kisah Rakim nun di Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah sana tak seindah kisah Trumbo dan Jim sebagaimana tergambar dalam filmnya. Sebelum 1 Oktober 1965 Rakim pegawai negeri di rumah sakit Purwodadi. Dia juga anggota Sentra Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang kerap diasosiasi dengan PKI. Pada zaman itu menjadi anggota serikat buruh hal yang lumrah. Bahkan senapas dengan zaman di saat politik sangat dinamis. Seminggu setelah 1 Otkober 1965, Rakim diharuskan lapor ke kantor polisi. Sebagai warganegara yang taat hukum, dia pergi ke kantor polisi Purwodadi. Tanpa pernah diduga, kedatangan itu tak berakhir pada kepulangan selama hampir 14 tahun. Dia dituduh ikut dalam persekutuan jahat membunuh jenderal-jenderal Angkatan Darat di Jakarta. Tak pernah ada kesempatan membela diri, apalagi peluang membebaskan diri dari segala macam tuduhan yang tak pernah dilakukannya. Bebas dari 14 tahun pemenjaraan tak berarti happy ending seperti yang dialami Trumbo atau Jim. Harta bendanya hilang, anak-istri terlantar. Kehilangan pekerjaan dan harus bertahan hidup sebagai penggarap sawah di atas lahan milik orang lain. Derita masih bertambah: dia dan ratusan ribu penyintas serta keluarganya harus mengalami diskriminasi: label bekas anggota organisasi terlarang pada KTP, tak punya hak untuk dipilih dan tujuh turunannya tak boleh menjadi pegawai negeri. Kisah Rakim dan generasinya menjadi kisah yang dihitamkan sekaligus disembunyikan oleh kekuasaan. Lantas pada hari-hari belakangan ini, sontak mendadak simbol palu-arit bertebaran di mana-mana, seakan-akan sedang ada perayaan bahwa yang telah ditumpas akan kembali hadir. Yang telah (di)kalah(kan) dan dihilangkan tiba-tiba saja menjadi momok menakutkan. Bersamaan dengan itu, Soeharto sang pemenang, yang telah terjerembab jatuh dari kursi kekuasaan yang didudukinya selama 32 tahun, digadang-gadang sebagai pahlawan. Dan entah dari mana datangnya, ada orang-orang yang beringas dan marah memekik, “perang... perang... perang!”. Mereka kalap: membubarkan diskusi, pemutaran film dan menyita buku-buku kiri. Mereka semua siap bertempur, mungkin juga siap untuk membunuh sebagaimana sebuah pertempuran. Tapi pertanyaannya: apakah orang seperti Rakim yang kian renta itu musuh negara yang harus ditaklukkan? Apakah anak-anak muda yang hendak melepas beban kelam masa lalu yang penuh ketakutan dan penindasan juga sebuah ancaman? Hidup memang tak seindah film Hollywood, semakin tak lagi bisa dibuat indah karena orang-orang marah tak pernah bisa mau berdamai dengan sejarah.* Majalah Historia Nomor 30, Tahun III, 2016

  • Cerita di Balik Kemunculan Mesin Karaoke

    ADA beragam kegiatan untuk mengisi waktu luang atau melepas penat dari rutinitas, salah satunya dengan karaoke. Hiburan ini digemari karena seseorang bisa menyanyi dengan diiringi alat musik tanpa harus menjadi penyanyi profesional. Tidak perlu takut tak hafal lirik lagu, sebab lirik akan ditampilkan di layar. Tak heran bila kini karaoke menjadi hiburan populer di dunia.

  • Sangadji Wafat Dibunuh Gali

    UNTUK ukuran orang kebanyakan di masanya, hidup Abdul Muthalib Sangadji terbilang baik, bahkan amat baik bila dibandingkan umumnya pemuda yang membaca pun belum bisa. Pemuda Sangadji sudah empat tahun bekerja sebagai klerk di Kantor Kontrolir di Saparua, daerah tempat dulu Kapitan Pattimura dan orang-orang Ambon melawan Belanda. Dari kantor Kontrolir, pemuda lulusan SMP kolonial, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Ambon itu kemudian pindah ke kantor residen. Ijazah MULO yang dimilikinya, yang masih merupakan “barang” elite buat mayoritas orang Indonesia di awal abad ke-20, membuatnya cukup dihormati di Saparua. Sebagai orang terpelajar, Sangadji mengamati perkembangan politik Hindia Belanda. Dia tertarik dengan pergerakan Sarekat Islam dan kemudian bergabung di dalamnya.

  • Kasus Prank yang Menghebohkan Penduduk London

    PADA suatu hari di bulan November 1810, suara ketukan menarik perhatian penghuni rumah mewah No. 54 di Berner Street, London. Penghuni rumah kebingungan karena hari masih terlalu pagi untuk kedatangan tamu. Nyonya rumah juga tak memiliki janji temu dengan siapa pun.

  • Langkat Kembali Bergeliat

    IRING-iringan kecil itu mulai bergerak dari Museum Langkat sekira pukul 9.30. Sri Paduka Duli Yang Mulia Tuanku Azwar Abdul Djalil Rahmatshah Al Hajj berjalan paling depan. Di belakangnya, sejumlah pria berpakaian teluk belanga dan perempuan berbaju kurung mengikuti. Mereka menuju Masjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara.

  • 200 Tahun Perang Jawa: Nama Diponegoro Bakal Terus Hidup

    DUA abad telah berlalu dari saat penghinaan para pejabat Belanda terhadap Pangeran Diponegoro (1785-1855). Ketika itu, Asisten Residen Henri Chevalier (1795-1825) yang telah meniduri selir Diponegoro, memaksa Pangeran Diponegoro untuk menerima kembali selir yang telah dinodainya. Setelah Pangeran Diponegoro mengatakan tidak memelihara selir untuk asisten residen, maka Chevalier yang veteran Perang Waterloo dan ksatria Militaire Willemsorde itu memukul kepala sang pangeran. Diponegoro yang terinjak-injak martabatnya itu, kata Peter Carey dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1795-1855, berusaha menegakkan martabatnya dengan jalan yang tak diduga orang-orang Belanda yang menghinanya. Dia memimpin pasukan untuk melawan Belanda hingga mengobarkan Perang Jawa pada 1825 yang berlangsung sekitar lima tahun dan amat memusingkan Belanda. Guna memperingati Perang Jawa yang dimulai tepat pada hari ini, 20 Juli, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menghelat Pameran “200 Tahun Perang Jawa” di Jakarta yang dibuka pada malam 20 Juli 2025. Martabat menjadi kata kunci dalam pameran tersebut, sebagaimana menjadi esensi dari perang yang dikobarkan Pangeran Diponegoro 200 tahun silam.

  • Warisan Nakhoda Pertama

    DULU Inggris dikenal sebagai “Raja Laut”. Armadanya begitu superior. Saking luas wilayah kekuasaannya, tak heran bila muncul semboyan “Inggris, negara di mana matahari tidak pernah terbit dan tenggelam.” Mereka sadar bahwa hanya dengan memanfaatkan kondisi geografis (laut) semaksimal mungkin plus kerja keras, kejayaan bisa diraih. Berabad-abad silam kerajaan-kerajaan di Nusantara juga menyadari pentingnya laut sebagai penghubung dengan wilayah-wilayah lain. Laut juga membuka cakrawala pemikiran mereka. Informasi dan ilmu pengetahuan dari dunia luar, atau sebaliknya, masuk melalui laut. Kejayaan Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Makassar, Ternate, Tidore, Samudera Pasai, atau Demak, misalnya, tak lepas dari pemahaman mereka akan laut.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page