Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Perjuangan Kapten Harun Kabir
NAMA Harun Kabir menjadi nama jalan di tiga kota Jawa Barat: Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Di Sukabumi, Jl. Kapten Harun Kabir bahkan terkenal sebagai langganan macet karena sejalur menuju pasar induk. Nama itu bahkan sempat dijadikan nama band “Mahaka Band” atau Mayor Harun Kabir Band pada 1990-an, lantaran personelnya berdomisili di Jl. Mayor Harun Kabir, Cianjur. “Khalayak (warga setempat) pasti mengerti kalau Beliau itu seorang pahlawan. Tetapi, mereka tidak tahu siapa sebenarnya sosok Harun Kabir,” kata jurnalis sejarah Hendi Johari dalam diskusi bukunya, Demi Republik: Perjuangan Kapten Harun Kabir 1942—1947, di Komunitas Temu Sejarah (5/7). Sejatinya, menurut Hendi, Harun Kabir bukanlah sembarang orang yang namanya ditabalkan jadi nama jalan. Hendi yang lahir dan besar di Cianjur semula juga terbatas pengetahuannya terhadap sosok Harun Kabir. Dari ayahnya, dia hanya mendapat keterangan bahwa Harun Kabir adalah seorang pahlawan tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Keterbatasan informasi itu membuatnya penasaran dan ingin mencari tahu. Barulah ketika menjadi jurnalis, Hendi tertarik untuk menelusuri riwayat perjuangan Harun Kabir.
- Menolak Melupakan Munir
HARI masih pagi. Orang-orang tumpah ruah di jalan Sudirman-Thamrin Jakarta Pusat yang bebas kendaraan (car free day). Mereka berolahraga, bersantai, dan sejenak melupakan masalahnya. Namun, tidak bagi sekelompok orang. Mereka tidak ingin masyarakat melupakan peristiwa terbunuhnya pahlawan kemanusiaan, Munir Said Thalib dan ketidakjelasan penanganan kasusnya. Dalam rangka memperingati 10 tahun pembunuhan Munir, mereka yang tergabung dalam Komite Aksi Solidaritas Munir (Kasum) dan Sahabat Munir mengadakan acara artwork di ruang publik, tepatnya di dekat Halte Tosari selama car free day pada 7 September 2014. Acara diisi dengan pertunjukkan seni, pembuatan mural, orasi, sampai permainan untuk mengedukasi publik tentang sosok Munir dan kasus pembunuhannya. Mereka mengajak masyarakat menolak lupa terhadap sosok Munir.
- Dua Dekade Kematian Munir dan Jejaknya Sebagai Pejuang HAM
NAMA Munir Said Thalib selalu lekat dalam ingatan banyak orang. Aktivis HAM kelahiran Malang, 8 Desember 1965, itu tewas diracun saat melakukan perjalanan udara menuju Belanda, di mana ia berencana menempuh pendidikan meraih gelar Ph.D, pada 7 September 2004. Dua puluh tahun berlalu sejak kasus pembunuhannya menjadi sorotan masyarakat Indonesia, sejumlah pihak masih terus bersuara untuk medesak pemerintah agar dapat segera bertanggungjawab dan menyelesaikan kasus pembunuhan Munir. Munir dikenal sebagai pejuang kemanusiaan yang tak pernah lelah menyuarakan keadilan bagi para korban kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia, khususnya di zaman Orde Baru. Berdiri sebagai pembela bagi kaum yang terpinggirkan, aktivitas Munir bukan tanpa tantangan.
- Novi “Sukatani” Dipecat Seperti Para Pejuang Kemerdekaan
BANYAK yang menduga bahwa dua personel band punk new wave asal Purbalingga, Sukatani, telah diintimidasi ketika tiba-tiba muncul video keduanya tanpa mengenakan topeng andalan meminta maaf kepada Kepolisian dan menarik lagu mereka yang berjudul “Bayar Bayar Bayar” dari berbagai platform digital. Lagu “Bayar Bayar Bayar” memang dianggap sebagai kritik terhadap Kepolisian Indonesia yang korup dalam pelayanannya kepada masyarakat. Kendati telah ditarik, popularitas “Bayar Bayar Bayar” justru meroket. Lagu tersebut malah lebih banyak dinyanyikan di jalanan oleh anak muda yang mayoritas tidak lagi percaya pada kinerja Kepolisian Indonesia. Tak hanya diduga telah diintimidasi, vokalis Sukatani Twister Angel alias Novi Chitra Indriyati, yang di dalam kehidupan sehari-harinya adalah guru SD swasta, beberapa hari sebelumnya juga dipecat dari sekolah tempatnya mengajar. Pihak sekolah beralasan Novi membuka aurat, tindakan yang melanggar standar etika sekolah tersebut.
- Kapten Satta dan Minimnya Uang Pensiunan Perwira Pribumi
KEDATANGAN Herman Daendels di Jawa pada awal 1808 menjadi “berkah” buat Sersan Satta. Di tahun itu, pangkatnya naik jadi perwira. Satta merupakan tentara Belanda dari kalangan pribumi. Dia dilahirkan pada 1781 di Baukalang, kemungkinan ini kesalahan penyebutan terhadap Bangkalan. Menurut arsip Stamboeken Bronbeek, Den Haag, Archive 2.10.50, nomor inventaris 59, folio 96, Satta merupakan anak pasangan Sengakarsa dan perempuan bernama Semenit. Nama kedua orang tuanya lebih dekat dengan nama-nama Jawa atau Madura. François Vincent Henri Antoine Stuers dalam Gedenkschrift van den oorlog op Java menyebutkan Satta ketika sudah menjadi tentara sebagai letnan Ambon. Begitu remaja, Satta mendaftar jadi serdadu pada 1793 dan diterima dengan pangkat fuselier (prajurit infanteri rendahan) di Surabaya, ketika VOC masih ada. Pada 1800, pangkatnya naik menjadi kopral dan dua tahun kemudian naik lagi menjadi sersan. Pada 1805, Satta pernah bertugas di Cirebon.
- Asal-Usul Takalar Basis Perjuangan RI di Sulawesi
SUATU kali, raja yang bertakhta di Kerajaan Sawitto, sekitar Kabupaten Pinrang sekarang, menyuruh putranya untuk pergi ke selatan. Untuk menuju daerah yang dimaksud, putra raja Sawitto yang bernama La Patiroi Petta Sompe terlebih dulu menghadap raja Gowa. Kala itu Gowa adalah kerajaan besar di Sulawesi Selatan bagian selatan. Letaknya agak jauh dari Sawitto. Raja Gowa pun lalu memberi restu kepada Petta Sompe untuk mencari tempat tinggal di selatan kerajaannya. “Berangkatlah anak raja beserta pengikutnya ke selatan, menelusuri Sungai Sanrobone. Setelah sampai di perkampungan Bontonompo, dekat Kampung Bontoramba, anak raja yang diusung oleh pengawalnya ini istirahat dan bermalam,” catat Hanabi Rizal dkk. dalam Profil Raja Dan Pejuang Sulawesi Selatan. Belakangan, tempat mereka menginap dinamai Bulekang.
- Haji Hilal dan Para Pejuang Sulawesi Selatan
REVOLUSI kemerdekaan Indonesia membuat makin banyak pemuda dari Sulawesi Selatan (Sulsel) yang berada di Yogyakarta. Andi Mo’mang salah satu yang ikut hijrah. Namun, tak seperti kawan-kawannya yang antusias menjaga revolusi, Andi Mo’mang kurang bergairah. Baru bebas dari tahanan tentara Sekutu salah satu penyebabnya. Kendati begitu, kawan-kawan sedaerahnya yang sedang dimabuk patriotisme tak mengacuhkannya. Kepedulian justru selalu mereka berikan padanya. “Kita kawinkan saja dengan salah satu putri terbaik yang ada di Yogyakarta ini. Putri itu anak dari Ibu Hilal. Ibu ini dianggap sakti dan sebagai penasehat Bapak Presiden Sukarno,” ucap Letnan Kolonel Kahar Muzakkar, panglima Divisi Seberang.
- Mata Uang dari Cangkang Kerang
ADA masa di mana selembar uang kertas seratus ribuan rupiah bewarna pink tak lagi bisa dipakai untuk membayar belanjaan. Tak laku ia dipasaran karena yang berlaku waktu itu adalah uang dari kulit kerang yang kini dengan mudah bisa didapat di antara serakan kerang-kerang di pantai-pantai Indonesia. Ingrid Van Damme dari Museum Bank Nasional Belgia dalam laman Citéco menulis, kulit kerang pada masa lalu pernah digunakan sebagai alat pembayaran dan dianggap sebagai simbol kekayaan dan kekuasaan. "Penggunaan sistem moneter ini berlanjut hingga abad ke-20," tulisnya. Dua varietas kerang yang paling utama adalah Cypreae moneta dan Cypraea annulus, atau apa yang sering disebut kerang cowrie. Keduanya punya semua fitur yang dapat diharapkan dari mata uang, yaitu daya tahan, kenyamanan, dapat dibagi, serta mudah diidentifikasi.
- Merentang Sejarah Uang
MASIHKAH Anda membawa uang di dompet? Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan uang kartal (kertas dan logam) mengalami penurunan. Perkembangan teknologi mendorong masyarakat untuk memilih uang elektronik. Evolusi uang tengah berlangsung. Jauh sebelum mengenal uang, manusia melakukan barter atau pertukaran barang atau jasa untuk barang dan jasa yang diinginkan. Praktik barter telah dimulai sejak puluhan ribu tahun lalu. Namun, tak mudah untuk meraih kesepakatan mengenai nilai pertukarannya. Timbullah kebutuhan akan adanya suatu alat penukar. Selama berabad-abad berbagai benda dipakai sebagai alat pertukaran atau alat pembayaran seperti kulit kerang, batu permata, gading, telur, garam, beras, binatang ternak, atau benda-benda lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya masyarakat menggunakan benda-benda seperti logam dan kertas sebagai uang.
- Gamelan Rantang dari Pengasingan
KAMP Tanah Merah terletak di pedalaman hutan kawasan atas aliran Sungai Digul yang penuh buaya. Jaraknya kira-kira 160 km dari Merauke, empat malam jika naik sampan. Pada Maret 1927, kapal dari Surabaya berlayar menuju tempat itu membawa rombongan besar pertama tahanan politik Belanda. Mereka yang dikirim ke kamp adalah orang-orang yang membangkang terhadap pemerintah kolonial Belanda. Salah satu dari para tahanan rombongan pertama itu adalah Pontjopangrawit. Seorang seniman sekaligus pejuang kemerdekaan dari Surakarta. Di Tanah Merah, Pontjopangrawit membuat seperangkat gamelan yang di kemudian hari dikenal sebagai Gamelan Digul.
- Gas Pol Balapan F1 di Tengah Pandemi Virus
AJANG Formula One (F1) Grand Prix Australia di Melbourne akhir pekan ini akhirnya dibatalkan. Dalam laman resminya, formula1.com, Jumat (13/3/2020), otoritas F1 meluluskan keputusan pembatalan itu setelah menggelar rapat terbatas bersama sembilan pimpinan tim peserta dan mayoritas menyatakan balapan lebih baik urung digelar gara-gara merebaknya COVID-19 atau virus corona. “Formula 1 dan FIA, dengan dukungan penuh Australian Grand Prix Corporation (AGPC) telah mengambil keputusan bahwa semua kegiatan Grand Prix Australia dibatalkan. Kami memahami ini kabar yang mengecewakan buat ribuan fans dan semua pemegang tiket akan menerima pengembalian pembayaran secara penuh,” demikian pernyataan otoritas FI. Sebelumnya, beberapa pembalap mengeluh dan khawatir mengingat wabah virus corona kian hari kian memuncak. Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) pun sudah menyatakan COVID-19 bukan lagi wabah atau endemi, melainkan pandemi yang artinya sudah menyebar secara global dan di luar kendali.
- Tionghoa dalam Api dan Bara
TIAP zaman, golongan Tionghoa selalu “serba salah” dalam bersikap, ibarat buah simalakama. Seperti dilukiskan dengan bagus oleh Charles Coppel dalam Tionghoa Indonesia dalam Krisis: “Jika mereka terlibat dalam kalangan oposisi, mereka dicap subversif. Apabila mereka mendukung penguasa waktu itu, mereka dicap oportunis. Dan jika mereka menjauhi diri dari politik, mereka juga oportunis sebab mereka itu dikatakan hanya berminat mencari untung Pemuda Tionghoa dalam perang kemerdekaan.” Itulah yang membuat orientasi orang Tionghoa terbelah selama masa pendudukan Jepang dan revolusi, yang disebut Tjamboek Berdoeri alias Kwee Thiam Tjing sebagai masa “Indonesia dalem Api dan Bara” karena penuh pergolakan, kekerasan, dan ketakutan. Dalam makalah berjudul “Bystanders, Participants, Victims: The Chinese in Java and West Kalimantan, 1945-46”, Mary Somers-Heidhues menyebut tiga sikap yang diambil etnis Tionghoa selama masa revolusi tak berpihak atau netral, bersimpati dan berjuang di pihak Republik, serta berharap perlindungan dari Republik Tiongkok.





















