top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Koloni Kusta di Teluk Jakarta

    TAK ada yang lebih menakutkan bagi penduduk Batavia di paruh kedua abad ke-17 selain terinfeksi penyakit kusta. Wabah penyakit kusta memicu kepanikan masyarakat, khususnya orang-orang Eropa. Seiring bertambahnya jumlah penderita kusta, Lazarus Huis yang didirikan di Angke pada 1666 sebagai tempat perawatan pasien kusta menjadi semakin padat. Oleh karena itu, pada 1667 diputuskan bahwa mereka yang terinfeksi penyakit kusta harus mendaftarkan diri ke rumah sakit Batavia untuk menjalani pemeriksaan. Sayangnya, upaya ini tak sepenuhnya berhasil mengatasi wabah penyakit kusta. Menurut sejarawan Leo van Bergen dalam Uncertainty, Anxiety, Frugality: Dealing with Leprosy in the Dutch East Indies, pada 1678 masih ada 70 orang penderita kusta, tetapi tak menjalani perawatan di Lazarus Huis. Willem ten Rhijne, seorang dokter Belanda, yang telah meneliti penyakit kusta menawarkan solusi untuk mengatasi wabah penyakit kusta yang melanda Batavia. Menurutnya, kusta dapat menular melalui kontak fisik antara penderita dengan orang sehat. Oleh karena itu, isolasi menjadi cara yang paling tepat untuk menghentikan laju penyebaran penyakit kusta. Berdasarkan hal tersebut, pembangunan rumah sakit kusta di sebuah pulau yang terpisah dari Batavia mulai dilakukan pada 1679. Pulau itu dikenal dengan nama Purmerend yang berarti Pulau Sakit atau pulau untuk orang-orang sakit.

  • Bau Kolonial Istana Kepresidenan Jakarta

    ISTANA Kepresidenan Jakarta dan Bogor menjadi sorotan setelah Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa dia merasakan bau-bau kolonial di kedua istana tersebut. Sebelum menjadi tempat tinggal resmi presiden Indonesia dan tempat berlangsung berbagai kegiatan kenegaraan, bangunan yang didirikan pada zaman kolonial Belanda itu telah lebih dulu dimanfaatkan sebagai kediaman gubernur jenderal. Gedung Istana Negara, yang didirikan tahun 1796 mulanya digunakan sebagai rumah peristirahatan Jacob Andries van Braam, seorang pejabat yang dikenal dekat dengan Herman Willem Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808–1811) dan pernah menjadi residen di Solo. Puluhan tahun berselang, bangunan tersebut dibeli pemerintah kolonial pada 1821 untuk dijadikan tempat kediaman gubernur jenderal ketika tengah melakukan perjalanan ke Batavia untuk menyelesaikan urusan bisnis, menghadiri audiensi maupun perayaan-perayaan penting. Menurut sejarawan Adolf Heuken SJ dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, kala itu kediaman resmi gubernur jenderal adalah Istana Bogor. “Rumah van Braam atau Istana Rijswijk dipilih untuk kepala koloni, karena istana Daendels di Lapangan Banteng belum selesai. Setelah gedung itu diselesaikan, digunakan bagi kantor-kantor pemerintah saja,” tulis Heuken.

  • Hotel Semua Bangsa

    MURIEL Stuart Walker alias K’tut Tantri dikenal sebagai salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia. Perempuan asal Amerika Serikat ini pindah ke Bali dan diangkat sebagai anak oleh seorang raja di Bali. Ketika revolusi kemerdekaan, K’tut Tantri turut dalam perjuangan di Surabaya melalui Radio Pemberontakan dan dikenal sebagai Surabaya Sue. Pada 1930-an, K’tut Tantri di Bali memilih tinggal di antara penduduk desa ketimbang tinggal di puri ayah angkatnya. Suatu hari, ketika berkeliling desa, K’tut Tantri terkesan dengan pemandangan sebuah pantai yang memanjang dengan pasir putihnya. Pantai itu masih sepi dan tak berpenghuni. “Pantai di situ indah sekali, tanpa ada sebuah rumah pun. Bahkan gubuk saja tidak ada! Yang ada hanya beberapa pura, serta perahu nelayan yang banyak sekali jumlahnya. Kalau aku membangun rumah di situ, alangkah nyamannya!” tulis K’tut Tantri dalam Revolusi di Nusa Damai.

  • K’tut Tantri Penyintas Kamp Interniran Jepang

    PENGHUNI kamp interniran Jepang tak hanya orang-orang Belanda. Warga negara lain yang dicurigai Jepang juga ikut dicokok masuk kamp interniran. Hal inilah yang terjadi kepada Muriel Stuart Walker, seorang jurnalis kebangsaan Skotlandia. “Dia orang Amerika kemudian ditahan di Kediri dan sempat ditelanjangi. Dalam keadaan telanjang bulat, ia disuruh jalan,” kata pakar cagar budaya Nunus Sapardi dalam diskusi bukunya beberapa waktu silam. Nunus merupakan penulis dua buku tentang kamp interniran Jepang, Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran. Meski berdarah Skotlandia-Viking, Muriel memiliki kewarganegaraan Amerika setelah ikut ibunya pindah ke Amerika di usia remaja. Ia kemudian menikah dengan Karl Jenning Pierson, warga Amerika keturunan Swedia. Pada 1932, Muriel meninggalkan suaminya dan pindah ke Bali. Ia terpikat dengan lansekap dan budaya Bali setelah menyaksikan film Bali, The Last Paradise ketika berjalan-jalan di Hollywood Boulevard.

  • Misteri K’tut Tantri

    K’TUT Tantri tutup usia tanggal 27 Juli 1997, di sebuah kamar sempit tanpa jendela, dalam sebuah panti jompo milik pemerintah di pinggiran Sydney, New South Wales, Australia. Beberapa bulan sebelumnya dia terpeleset di kamar mandi, sehingga tulang pinggulnya retak. Dengan demikian, perempuan tua kelahiran Glasgow, Skotlandia tanggal 18 Februari 1899 dengan nama asli Mureil Stuart Walker tersebut menutup hari-hari akhirnya penuh kesengsaraan. Terbaring di tempat tidur, praktis tanpa ada keluarga datang mendampingi. Ayahnya, seorang arkeolog, meninggal di Afrika beberapa saat sebelum dirinya dilahirkan. Akhir tahun 1920, dia ikut ibunya pindah ke Amerika Serikat. Di negara barunya, dia bertemu Karl Henning Pearsen, seorang pengusaha asal Swedia. Mereka menikah dan tinggal di San Fransisco sampai tahun 1927. Pada suatu hari, dalam senja yang sedang disapu gerimis, ketika sedang menyusuri Hollywood Boulevard, dia tiba-tiba membaca poster film Bali, the Last Paradise, di depan sebuah gedung bioskop kecil. Dia tertarik, menonton, dan seperti diakuinya dalam otobiografinya Revolt in Paradise, langsung terpesona. Bali menumbuhkan harapan hidup baru bagi dirinya. Akhir November 1932 dia meninggalkan New York, naik sebuah kapal barang kecil menuju Tanjung Priok. “Saya berusaha membekali diri dengan lengkap. Seluruh uang tabungan telah saya cairkan. Saya mengangkut kanvas, cat, dan aneka macam kuas untukk mencukupi kebutuhan selama dua tahun. Saya tertantang sebuah kehidupan baru, untukk menjadi pelukis.”

  • Gambir Berdarah dan Kudatuli sebagai Tonggak Awal Reformasi

    UNTUK pertamakalinya dalam 28 tahun, aktivis Wilson “Obrigados” kembali memijakkan kakinya di kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Masih lekat di ingatan Wilson betapa Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) jadi gerbang pembuka gebrakan Reformasi meski memakan banyak korban. “Berdiri bulu roma saya, bergetar ketika masuk gedung untuk pertamakalinya lagi setelah 28 tahun karena saya seperti menyaksikan banyak korban dan kawan-kawan lain. Biasanya lewat di depan saja,” terang Wilson dalam diskusi peringatan 28 tahun Kudatuli, “Kudatuli: Perlawanan terhadap Rezim Otoriter”, di DPP PDIP, Sabtu (20/7/2024) pagi. Wilson merupakan aktivis pergerakan dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) sebelum Peristiwa Kudatuli. Bersama rekan-rekannya, Wilson sudah erat menjalin kerjasama dengan para aktivis PDI Pro-Megawati Soekarnoputri (PDI Pro-Meg). Salah satunya Herman Hendrawan yang dinyatakan hilang pada 12 Maret 1998 menjelang kejatuhan rezim Soeharto.

  • Menggugat Peristiwa 27 Juli sebagai Pelanggaran HAM Berat

    MARWAH dan spirit “bapak bangsa” Ir. Sukarno yang dibangkitkan putrinya, Megawati Soekarnoputri, saat masuk ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI) ternyata jadi ancaman buat rezim Orde Baru (Orba). Klimaks dinamika politiknya lantas terjadi pada Peristiwa 27 Juli 1996 alias Kudatuli untuk menyingkirkan Megawati dari partai berlambang banteng berperisai segilima itu. “Megawati muncul di tengah situasi di mana desukarnoisasi berlangsung begitu kuat. Magnetnya Bung Karno yang menitis pada Ibu (Megawati) itu menarik banyak anak muda. Nah di situ mulai tuh. Terus alarmnya rezim nih alert, mulai bunyi. Awas nih ada apa?” ujar sejarawan Bonnie Triyana dalam diskusi mengenang 28 tahun Kudatuli bertajuk “Kudatuli: Arus Bawah vs Hukum Alat Kekuasaan” di DPP PDIP Jakarta, Sabtu (20/7/2024). Rezim Orba, lanjut Bonnie, lantas bermanuver untuk mendongkel kepemimpinan Megawati usai terpilih sebagai ketua umum PDI di Kongres Luar Biasa (KLB) Surabaya, medio Desember 1993. Salah satunya dengan membekingi Kongres PDI di Medan pada 1996 yang mengangkat Suryadi kembali ke kursi ketum PDI.

  • Komnas HAM: Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Pelanggaran HAM

    PERINGATAN 20 tahun peristiwa 27 Juli 1996 diisi dengan diskusi tertutup, tabur bunga, dan doa bersama di kantor DPP PDI Perjuangan Jalan Diponegoro 58 Jakarta, 27 Juli 2016. Acara ini dihadiri kader-kader DPP PDI Perjuangan, Komnas HAM, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dan korban kerusuhan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Keluarga (FKK) 124. PDI Perjuangan melaksanakan diskusi itu sebagai langkah untuk menyelesaikan peristiwa yang banyak memakan korban. Peristiwa 27 Juli 1996 atau disebut Kudatuli merupakan penyerangan kantor DPP PDI pro-Megawati oleh kelompok DPP PDI pro-Soerjadi yang didukung pemerintah Orde Baru. “FKK 124 dulu dipenjara oleh rezim yang sangat otoriter yang menggunakan seluruh kekuasaan politiknya untuk mengambil alih kantor ini. kantor sebagai simbol kedaulatan partai diambil secara sepihak,” kata Hasto Kristiyanto, sekretaris jenderal PDI Perjuangan.

  • Hutan Selamatkan Majuli dari Kepunahan

    JADAV Payeng Molai terhenyak ketika sedang berjalan menyusuri bukit-pantai dekat rumahnya. Ular-ular tergeletak mati. Banjir besar di musim panas 1979 yang baru melanda tempat tinggalnya, Pulau Majuli, ternyata tak hanya menyapu rumah penduduk berikut para penghuninya tapi juga hewan-hewan. Payeng, pria lokal berusia 16 tahun, termangu menangisi ular-ular itu. Sambil duduk di dekat tumpukan bangkai ular itu, otaknya terus berputar mencari tahu penyebab kematian ular-ular itu. Pulau Majuli tempat tinggal Payeng sebenarnya telah akrab dengan banjir. Eksistensi pulau sungai terbesar di India yang terletak di Provinsi Assam itu sendiri bermula dari banjir aliran Sungai Brahmaputra di utara dan Sungai Burhiding di selatan.

  • Taktik Belanda Berantas Amok dan Perlawanan Pribumi

    SEORANG lelaki Tionghoa mengamuk pada malam 6 Juli 1938. Selain memecahkan cangkir dan piring, ia hampir membunuh anak perempuan dan pembantunya. Di tempat lain, di Losari, seorang lelaki Jawa keliling desa sambil membawa golok. Dengan seenaknya dia masuk ke rumah orang seraya mengancam akan menebas siapa saja yang menghalangi jalan. Warga desa dibuatnya lari tunggang langgang kendati tak ada korban jiwa dalam keributan ini. Kedua lelaki itu terserang amok. Si lelaki Tionghoa kemudian dikirim keluarganya ke rumahsakit jiwa (RSJ). Sementara, si lelaki Jawa mesti ditangkap petugas keamanan terlebih dulu sebelum dilarikan ke RSJ.

  • Bohl Tuan Tanah Senayan dan Matraman

    SENAYAN hari ini dikenal sebagai kompleks olahraga terbesar tanah air dan juga gedung DPR/MPR. Kawasan di Jakarta Selatan nan terkenal ini namanya sudah disebut lebih dari 140 tahun kendati tak dieja sebagai Senayan, tapi Senajan. Di era Hindia Belanda daerah ini merupakan tanah partikelir. “Senajan dan Petjandran Wangsanja, bagian tanah seluas 1474 bau di Keresidenan Batavia, Bagian Meester Cornelis, distrik Kebayoran, 1,5 pal dari Kebayoran. Pemilik dan pengelola JML Bohl. Nilai sewa 36.000 gulden populasi 1.224 jiwa pada 1 Januari 1894. Penghasil kepala dan padi,” catat buku Handboek voor cultuur- en handels-ondernemingen in Nederlandsch-Indië. Bohl adalah orang Belanda totok yang –lahir pada 1848– datang ke Hindia Belanda sejak usia sekitar 16 atau 17 tahun. Koran Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 19 Juni 1920, menyebut dia pernah bekerja di firma Pitcairn Syme & Co. Dari tabungan yang dikumpulkannya hasil bekerja, dia akhirnya menjadi pengelola tanah, lalu jadi tuan tanah ketika masih sangat muda.

  • Hukuman Sultan Agung bagi Panglima yang Gagal

    PANGLIMA pasukan Mataram yang baru, Tumenggung Sura Agul-Agul tiba di Batavia untuk menggantikan Tumenggung Baureksa yang mati bersama dua putranya dalam pertempuran pada 21 Oktober 1628. Tumenggung Sura Agul-Agul didampingi dua bersaudara panglima lapangan, Kiai Adipati Mandurareja dan Kiai Adipati Upa Santa. Mereka datang dengan harapan besar Batavia telah ditaklukan sehingga tinggal mengumpulkan harta rampasan. Mereka tercengang melihat keadaan yang sebenarnya. "Apa yang akan saya bawa untuk raja saya, raja Mataram," kata Mandurareja.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page