top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Eks KNIL Menyerang Markas APRIS

    DALAM sejarah, peristiwa penyerangan terhadap markas aparat bersenjata pernah terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Kala itu, markas Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) dihujani tembakan senjata berat oleh eks anggota KNIL. Penyerangan terhadap markas APRIS terjadi pada 5 Agustus 1950. Saat penyerangan terjadi, para pembesar militer Indonesia dan Belanda di Makassar sedang melakukan pertemuan. Mereka membahas soal insiden-insiden yang melibatkan bekas tentara Belanda sejak permulaan 1950 yang menimbulkan keresahan, serta menyulut kemarahan rakyat Makassar. Dijelaskan dalam Republik Indonesia: Provinsi Sulawesi, terbitan Kementerian Penerangan RI, selama Mei hingga Juli anggota KNIL terus-menerus memberikan kesulitan bagi rakyat dengan berbagai tindakan kejamnya.

  • Kampung Londo Ireng

    KERAMAIAN sama-sama terlihat di kampung Pangenjurutengah maupun Sindurejan siang 15 Maret 2024 itu. Kedua kampung sama-sama berada di pusat kota Purworejo, Jawa Tengah. Jarak titik terdekat keduanya, yang dibatasi SMAN 7 Purworejo, tak sampai 500 meter. Jarak tersebut tidaklah jauh untuk berjalan kaki. Anak-anak awal abad 20 tentu kuat berjalan kaki menjelajahi kedua kampung tersebut. Suatu hari, seorang anak sekolah dasar memimpin kawan-kawannya dari Sindurejan di dekat alun-alun kota. Daerah yang mereka tuju adalah Pangenjurutengah, sebuah kampung yang berisikan anak-anak keturunan Afrika.

  • Bioskop Garuda, Dulu Primadona kini Tinggal Nama

    BICARA tentang film tak akan bisa lepas dari bioskop. Film menjadi salah satu kesenian yang memikat banyak orang hingga masa kini, sedangkan bioskop menjadi tempat untuk menikmati film. Sejarah penyebaran film berhubungan erat dengan pendirian bioskop di berbagai tempat. Film masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20. Bersama itu bioskop pertama muncul di Batavia dan menarik perhatian banyak orang. Waktu itu bioskopnya masih berupa rumah. Tapi apa yang dipertunjukan sungguh suatu keajaiban. Gambar idoep, itulah sebutan film saat itu. Maka, orang berbondong-bondong ke bioskop. Orang-orang bermodal tebal mendirikan bioskop di berbagai tempat di luar Batavia. Makin hari, makin bagus bentuknya. Tapi seperti bisnis lainnya, bisnis bioskop juga merasakan masanya bangun dan jatuh, naik dan turun, manis dan pahit, hidup dan mati. Di Kediri, Jawa Timur, masa-masa itu terekam jelas dalam bioskop Garuda.

  • Cerita dari Gedung Bioskop Elite Metropole

    BANYAK bioskop tua di kota besar. Tak terkecuali di Jakarta. Salah satunya bioskop Metropole yang berada di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Gedung berkapasitas 1.000 penonton ini dirancang oleh Liauw Goan Sing dan mulai dibangun pada 1932. Peresmiannya berlangsung pada 1949 dan dihadiri oleh Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta. Nama awalnya Metropool.

  • Fragmen DI/TII dalam Film Darah dan Doa

    KH Said Aqil Siraj ikut berkomentar soal polemik penayangan kembali film Pengkhianatan G30S/PKI. Saat mengumumkan persiapan pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2017, Jumat (22/9/2017), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menyatakan setuju dengan penayangan kembali film itu sebagai bahan refleksi sejarah. Dia juga sepakat pada ide pembuatan ulang film tersebut. Hanya saja, Said Aqil menambahkan, kini sudah saatnya dibuat pula film-film lain yang juga menggambarkan peristiwa kelam yang penting dalam sejarah Indonesia. Dia menyebut perlunya dibuat film sejarah tentang pemberontakan yang dilakukan oleh DI/TII pimpinan SM Kartosoewiro, PRRI-Permesta, dan pemberontakan PKI di Madiun 1948, serta sejumlah peristiwa-peristiwa terorisme seperti bom Bali. Film-film tentang peristiwa sejarah kelam yang dialami Indonesia bukannya belum pernah dibuat. Setidaknya peristiwa pemberontakan DI/TII menjadi bagian cerita dalam film Darah dan Doa (1950). Film besutan Usmar Ismail itu merekam peristiwa long march Divisi Siliwangi dari Jawa Tengah kembali ke pos-pos mereka di Jawa Barat pada Desember 1948.

  • Menengok Remaja Lewat Film Sezaman

    DENGAN baju seragam tak dimasukkan ke celana, Dilan (Iqbaal Ramadhan) masuk ke kelas Milea (Vanesha Prescilla) saat jam pelajaran. Dia memberi Milea bungkusan plastik sebagai kado ulang tahun. Saat dibuka Milea di rumah, bungkusan itu berisi buku Teka-Teki Silang (TTS) yang sudah diisi. Aneh! Tapi Milea tertawa terbahak ketika membaca surat Dilan yang mengatakan bahwa dia tak ingin Milea pusing mengisi TTS itu, maka Dilan melakukannya. Itulah cuplikan film Dilan 1990 yang rilis 25 Januari 2018. Diangkat dari novel Pidi Baiq dengan judul sama, Dilan 1990 menambah deretan film bertema remaja yang diangkat dari novel. Seperti Ali Topan Anak Jalanan (1977), Gita Cinta dari SMA (1979), dan Lupus, Tangkaplah Daku Kau Kujitak (1986), Dilan 1990 juga menjadi gambaran kehidupan remaja di eranya.

  • Serba-serbi Menonton Bioskop pada Zaman Belanda

    MENONTON film tak hanya menjadi hiburan favorit orang-orang masa kini. Pada zaman kolonial Belanda menonton film juga salah satu hiburan yang diminati penduduk di Batavia. Menonton gambar hidup, begitu kata penduduk Batavia saat hendak menonton film di bioskop. Kala itu film-film yang ditayangkan masih diputar di bioskop keliling. Baru pada awal abad ke-20, bioskop permanen didirikan di Jalan Tanah Abang Barat. Pada 1920-an, tulis Tanu Trh dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe, di zaman pra film bersuara (soundfilm), jumlah bioskop di Batavia tak sebanyak seperti hari ini. Di daerah kota, yang biasa disebut benedenstad oleh masyarakat Belanda, hanya ada dua bioskop, yakni Gloaria Bioscoop di Pancoran dan Cinema Orion di Glodok. Sementara di bagian selatan kota, yang dinamakan bovenstad atau Weltevreden, terdapat Cinema Palace di Krekot, Globe Bioscoop di Pasar Baru, Deca Park di Gambir (sekarang Lapangan Monas), dan Dierentuin di Cikini (di kompleks TIM sekarang). Penonton bioskop di kawasan bovenstad atau Weltevreden umumnya dari kalangan masyarakat atas, seperti orang-orang Belanda dan Eropa, para tuan toko (pemimpin perusahaan-perusahaan besar Belanda dan pegawai-pegawai stafnya), dan golongan berduit. Sementara penonton di bioskop-bioskop daerah kota umumnya dari kelas menengah ke bawah.

  • Popcorn dari Jalanan ke Bioskop

    BIOSKOP masih menjadi tempat favorit menonton film. Selain menayangkan film, bioskop juga menjual popcornsebagai teman nonton. Rasanya gurih dan manis serta aromanya menggoda. Tak heran popcorn melekat dengan nonton film di bioskop.Ternyata, dulu popcorn justru tidak dijual di bioskop. Andrew F. Smith, penulis dan akademisi yang fokus dalam sejarah kuliner, menyebut pada 1930-an pemilik bioskop menolak untuk menjual popcorn karena dianggap tidak perlu dan dapat “merusak martabat” bioskop. “Penjual popcorn sering kali berpakaian jorok dan tidak selalu mengikuti praktik higienis yang disukai oleh kelas menengah yang sering mengunjungi bioskop,” tulis Smith dalam Popped Culture. Pemilik bioskop juga beranggapan menjual makanan ringan, seperti popcorn maupun soda, lebih banyak memberikan kesulitan daripada keuntungan. Terlebih banyak bioskop telah melapisi lobinya dengan karpet bernilai tinggi meniru lobi bioskop besar. Sehingga para operator bioskop tidak ingin karpet mahal mereka kotor dan rusak oleh tumpahan biji popcorn, soda, maupun permen.

  • Anak-anak Nonton Film di Zaman Kolonial Belanda

    DI AWAL kemunculannya di Hindia Belanda pada penghujung abad ke-19, film telah menarik perhatian banyak orang,tak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak. Kala itu, film yangdisebut gambar idoep ditayangkan di bioskop yang lokasinya berpindah-pindah. Tak jarang pemutaran film dilakukan di ruang terbuka hingga melahirkan istilah bioskop misbar (gerimis bubar). Sementara bioskop permanen mulai muncul di beberapa kota pada periode awal abad ke-20. Menurut M. Sarief Arief dalam Politik Film di Hindia Belanda, ketika itu film telah menjadi sarana hiburan yang diminati oleh penduduk lokal. Salah satu pemicunya yakni meningkatnya kebutuhan akan tempat hiburan saat malam hari. “Pada setiap malam Minggu pertemuan remaja pria dan wanita sering diadakan yang dilanjutkan dengan acara menonton pertunjukan film di bioskop,” tulis Arief. Guna menjaring lebih banyak penonton dari berbagai kalangan dan kelompok umur, sejumlah bioskop mengadakan pertunjukan khusus untuk anak-anak. Biasanya pertunjukan itu diselenggarakan seminggu sekali dengan harga tiket masuk lebih murah dan sudah termasuk tiket pendampingnya. Bahkan, sebuah bioskop di Sidoarjo pernah memberikan hadiah hiburan gratis menonton film bagi murid-murid sekolah. Murid yang berhasil meraih peringkat tertinggi mendapat tempat duduk kelas VIP.

  • Adam Malik Hilangkan Sketsa-sketsa Karya Sudjojono

    PADA masa revolusi kemerdekaa, pelukis S. Sudjojono turut bergerilya di tengah pertempuran-petempuran melawan Belanda. Meski tak bisa menembak, ia memiliki senjata untuk berjaga-jaga. Namun, perannya yang lebih penting pada masa ini adalah menggambar sketsa-sketsa yang menjadi sumber sejarah dalam bentuk visual. Dosen FSRD ITB, Aminudin TH Siregar dalam dialog sejarah “Seni dan Politik: Riwayat Sudjojono dan Karya-karyanya” di saluran Facebook dan Youtube Historia.id, Selasa, 21 Juli 2020, menyebut bahwa banyak sketsa yang dibuat Sudjojono merekam berbagai peristiwa di sekitar revolusi. Aminudin mencontohkan, kala itu Sudjojono sering mengisi ilustrasi dalam majalah Suluh Tentara. Tema-tema revolusi seperti situasi gerilya dan keadaan para prajurit banyak ia abadikan dalam sketsa. Sketsa-sketsa itu kemudian ia buat versi lukisannya setelah revolusi fisik usai. Sayangnya, sketsa-sketsa penting periode 1946-1949 itu kini telah tiada.

  • Ulah Adam Malik Bikin Bapak Brimob M. Jasin Bergidik

    SELAIN memiliki kepercayaan diri besar, mantan Wakil Presiden Adam Malik dikenal sebagai pejabat yang tak peduli protokoler. “Semua bisa diatur,” demikian kalimatnya yang terkenal. Almarhum Joesoef Isak, mantan pemred Merdeka dan sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika yang bersahabat dengan Adam, ingat betul sifat Adam itu. Joesoef sendiri pernah datang ke sebuah acara formal di mana Adam menjamu tamu-tamunya. Meski keduanya lama tak bertemu, Adam tak melupakannya. “Dia sedang bincang dengan tamu-tamu. Begitu lihat saya, dia langsung panggil dan datangi saya,” kata Joesoef tangannya menirukan gerakan Adam, kepada Historia. Ketidakpedulian Adam pada protokoler itu pernah mengakibatkan “Bapak Brimob” M. Jasin menjadi repot. Kisahnya terjadi saat Jasin menjalani pendidikan di Jerman Barat (Jerbar) sekitar 1962. Suatu hari, Jasin diajak Dubes RI untuk Jerbar Lukman Hakim SH ke Wina, Austria untuk mencari informasi keadaan tanah air kepada rombongan Presiden Sukarno yang sedang singgah di kota tersebut.

  • Konflik Sukarno dengan Adam Malik

    DI tengah kisruh konfontasi Indonesia-Malaysia, Menteri Luar Negeri Adam Malik bikin kejutan. Ia secara rahasia menjalin kontak dengan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri merangkap Kepala Intelijen Malaysia Ghazali Shafie. Mereka membicarakan penyelesaian konflik Konfrontasi di Bangkok, Thailand, pada 30 April 1966. Sekembalinya ke Jakarta, Adam Malik pun kena damprat Presiden Sukarno. Kemarahan Sukarno itu jadi santapan media Malaysia. Sukarno dikabarkan menuding Adam Malik sebagai “bachul” (pengecut) soal konfrontasi dengan Malaysia. Suratkabar Malaysia Berita Harian edisi 6 Mei 1966 menuliskan berita utama, “Sukarno dan Malik Bergadoh.” “Kita mahu melancarkan peperangan ke atas Malaysia. Tetapi saudara (Adam Malik) mahu menamatkannya,” kata Sukarno seperti dikutip Berita Harian.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page