top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Empat Arca Warisan Singhasari Akhirnya Tiba di Tanah Air

    SATU per satu dari 472 benda bersejarah Nusantara yang masuk dalam upaya repatriasi dari Belanda akhirnya tiba di tanah air sebagai kado HUT RI ke-78. Untuk sementara, dalam kloter pertama yang sampai di Museum Nasional terdiri dari empat arca asal Candi Singhasari. “Masih dalam momen kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78, kita semua patut berbangga dengan kembalinya benda sejarah dan budaya milik bangsa ini ke tanah air,” kata Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (mendikbudristek) Nadiem Makarim dalam unggahan video Direktorat Jenderal (ditjen) Kebudayaan di akun Twitter-nya, @budayasaya, Rabu (23/8/2023). Sebagaimana diketahui, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mewakili pemerintah RI dalam penandatanganan peresmian penyerahan ke-472 benda bersejarah tersebut bersama Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda, Gunay Uslu, pada 10 Juli 2023 di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda. Ke-472 artefak itu meliputi empat arca Candi Singhasari, sebilah Keris Klungkung, 132 koleksi seni Pita Maha, dan 335 harta jarahan Ekspedisi Lombok 1894.

  • Di Balik Arca Prajnaparamita, Nandi dan Bhairawa

    SOSOK perempuan anggun yang diabadikan dalam arca setinggi 126 cm itu duduk bersila dengan sikap dharmachakra-mudra (sikap tangan perlambang pemutaran roda dharma). Arca indah yang berasal dari era Singhasari di abad ke-13 itu teridentifikasi sebagai arca Prajnaparamita meski masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai patung Ken Dedes. “Gambarnya juga banyak ditemukan dalam prangko, patung-patung replika di museum-museum daerah, serta reproduksi monumennya di sebuah taman di Malang. Meski bernama Prajnaparamita, seorang dewi (agama) Buddha yang melambangkan kebijsaksanaan, ia lebih dikenali masyarakat sebagai Ken Dedes, ratu pertama dari dinasti Singhasari dan nenek moyang para penguasa Singhasari dan Majapahit dua abad berikutnya,” tulis peneliti KITLV (Institut Kerajaan Belanda bidang Studi Asia Tenggara dan Karibia) Natasha Reichle dalam Violence and Serenity: Late Buddhist Sculpture from Indonesia. Meski begitu, Reichle mendapati beberapa teori dan simpulan bukti tentang arca itu. Arca Prajnaparamita sejatinya bukanlah sosok Ken Dedes yang diabadikan dalam bentuk arca.

  • Tewasnya Kapten “Sakti” Paris

    DENGAN kondisi luka parah akibat memburu Teuku Cut Ali, Marsose Kromodikoro “ketiban” tugas berat. Ia harus memimpin sisa pasukan yang komandannya tewas. Kromodikoro hanya punya pilihan melanjutkan perlawanan dalam ketidakberdayaannya, atau kalah. Kromodikoro merupakan pria kelahiran Landusari, Kedu, Jawa Tengah tahun 1883. Dia masih bayi ketika Gunung Krakatau meletus. Sebagaimana banyak pemuda Jawa di masa itu, Kromodikoro ketika dewasa memilih “jual kepala” dengan menjadi serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Dia lulus dan diberi nomor stamboek 8138. Di angkatan perang kolonial yang hanya bisa melawan pemberontak yang kurang senjata ini, Kromodikoro tergabung dalam satuan khusus anti gerilya bernama Korps Marsose Jalan Kaki. Kendati pasifikasi Belanda di koloni Hindianya bisa dianggap telah berhasil, perlawanan bersenjata di berbagai daerah belum benar-benar padam di paruh awal abad ke-20 itu. Di Aceh, yang telah “ditaklukkan” Jenderal Van Heutzch lebih dari 10 tahun, perlawanan bersenjata masih terjadi. Bahkan, dalam perlawanan di Bakongan pada 11 Agustus 1926), Letnan WAM Molenaar Jr terbunuh.

  • Kisah Kampung Jawa di Paris

    SEBUAH bangunan luas yang dikeliling pagar bambu menarik perhatian pengunjung pameran kolonial dunia yang diselenggarakan di Paris, Prancis pada 1889. Di depan pintu masuk, sebuah papan besar berwarna putih bertuliskan “Kampong (Village) Javanais” atau Kampung Jawa. Menurut Le courrier de la Meuse, 4 Juni 1889, meski kampung itu tak terlalu besar –hanya sekitar dua puluh rumah dan enam puluh penduduk–, tetapi merupakan salah satu bagian yang paling menarik dan indah dari pameran ini. “Di sini, seratus meter dari Palais-Bourbon dan Champs-Elysees, pria, wanita, dan anak-anak telah didatangkan, dan bahasa, pekerjaan, serta pola makan mereka masih sama persis dengan yang ada di kampung halamannya, sebelum mereka melakukan perjalanan sejauh tiga belas ribu dua ratus sembilan puluh lima kilometer yang memisahkan mereka dari Pameran Dunia,” tulis surat kabar berbahasa Prancis itu.

  • Ketika Orang Jawa Mogok Kerja di Belanda

    KESUKSESAN Kampung Jawa dalam pameran kolonial dunia di Paris, Prancis, pada 1889 membuka kesempatan bagi pengusaha M. Bernard untuk mengadakan tur keliling Eropa bersama rombongannya dari Hindia Belanda. Kala itu “memamerkan orang-orang lokal” dari negara di luar Eropa tengah populer. Orang-orang lokal, seperti penduduk Kampung Jawa, dipandang orang Eropa sebagai sesuatu yang eksotis sehingga menjadi tontonan menarik. Sedangkan pengusaha mendapatkan keuntungan dari memamerkan orang-orang lokal. “Dengan dalih ‘menyebarkan pengetahuan’ orang-orang lokal tersebut dibawa keliling ke berbagai pusat pameran dunia yang besar-besar, atau digabungkan dengan rombongan lain,” tulis sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950.

  • Peta dan Cara Manusia Memandang Dunia

    ADA suatu masa di mana sebuah pulau bernama Lixus tergambar di peta dunia. Konon, di sana pohon-pohonnya berbuah emas. Lalu ada Pulau Susu, di mana susu mengucur dari buah-buah anggur. Kini jika ingin mencari letak pulau-pulau itu mungkin akan ditertawai banyak orang. Namun, si pembuat peta pada masa itu bukannya sengaja ingin terlihat bodoh. “Mereka hanya ingin menampilkan dunia sebagaimana yang mereka tahu. Pengetahuan orang-orang dulu lahir dari kisah, kepercayaan, dan imajinasi,” tulis Yvette La Pierre dalam Mapping a Changing World. Sudah ribuan tahun manusia menggambar peta. Wujud dunia dalam peta terus berubah seiring mereka mempelajarinya, baik lewat penjelajahan dan penemuan ilmiah maupun petualangan mencari dunia baru.

  • Sukarno-Hatta Gagalkan Kudeta Pengikut Tan Malaka

    PADA 1 Juni 1946, Sutan Sjahrir dibebaskan dan dikembalikan ke Yogyakarta. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk terjadi kepadanya, Sjahrir segera diterbangkan ke Jakarta. Tak lama kemudian, terjadi pembersihan di seluruh Yogyakarta. Tokoh-tokoh politik pengikut Tan Malaka yang diduga terlibat dalam penculikan Sjahrir ditangkap. Mereka antara lain Abikusno Tjokrosujoso, Iwa Kusumasumantri, Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin, Maroeto Nitimihardjo, Budiarto, Buntaran Martoatmodjo, Pandu Kartawiguna, Sayuti Melik, Mohamad Saleh, Sumantoro, Djojopranoto, dan lainnya. Sejak awal, orang-orang tersebut merupakan penentang Kabinet Sjahrir yang tergabung dalam Persatuan Perjuangan. “Suasana menjadi tegang. Untuk mencairkan suasana, para politisi senior yang ditahan, dikeluarkan. Ketika dikeluarkan Maroeto langsung pulang ke rumah, sementara tokoh-tokoh yang lain dengan dipimpin oleh Mohammad Yamin melanjutkan pembicaraan di salah satu Markas Tentara Divisi III bersama Jenderal Mayor Soedarsono,” tutur Hadidjojo Nitimihardjo dalam Ayahku Maroeto Nitimihardjo: Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan.

  • ABRI Masuk Desa Demi Golkar di Bali

    BERBEDA dari di Jawa, setelah tahun 1965, orang-orang Partai Nasional Indonesia (PNI) di Bali ikut pula membersihkan partai Komunis Indonesia (PKI). Banyak orang Bali kena “garis” alias dihabisi dengan dalih terlibat G30S atau dicap PKI pada 1966. Bahkan, Gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja (1923-1966) juga hilang tak tentu rimbanya meski sang gubernur sendiri bukan anggota PKI. Habisnya PKI di Bali berarti Orde Baru tegak di sana. Beberapa tahun setelah kaum komunis Bali dihabisi, PNI ternyata tidak menjadi kolega yang baik bagi rezim militer Orde Baru. Bagi para jenderal Orde Baru, PNI tentu tetaplah bagian dari Sukarno, yang mungkin bisa membahayakan mereka. Oleh karenanya, para jenderal itu membuat kendaraan politik baru yang bisa menguasai Pemilu. Kendaraan itu adalah Golongan Karya (Golkar). Buleleng yang berpusat di Singaraja dipilih oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sebagai basis untuk bekerja keras membangun Golkar. Upaya ini dilakukan sebelum Pemilu 1971.

  • Pengawal Raja Charles Dilumpuhkan Orang Bali

    SEORANG muda masuk ke sebuah kamar perwira tentara kolonial yang belakangan dikenal sebagai Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) di Batavia. Tak lupa orang muda itu memberi hormat kepada perwira yang ada di dalamnya. “Aku ini di bawah perintahmu, Kapten. Apa yang bisa saya bantu?” kata laki-laki itu. “Pertama-tama saya ingin tahu nama Anda dan dari daerah Prancis mana Anda dilahirkan?” tanya Kapten Just Jean Étienne Roy (1794-1871). “Nama saya Marcellin Roger; saya tidak lahir di provinsi, tetapi di Paris, Rue de la Roquette, Faubourg Saint-Antoine,” jawab laki-laki tersebut.

  • Di Balik Rekor Eropa Real Madrid

    BORUSSIA Dortmund jadi tim asal Jerman ketiga yang menantang Real Madrid di final Liga Champions. Sepanjang sejarahnya, termasuk ketika kompetisi teratas sepakbola Eropa itu masih bernama European Cup, El Real selalu punya catatan positif, termasuk kala tim ibukota Spanyol itu masih diperkuat pemain legendaris Ferenc Puskás pada 1960. Real Madrid mesti meladeni Dortmund demi memetik mahkota Eropa ke-15 pada partai final musim 2023-2024 ini di Stadion Wembley di Inggris, Sabtu (1/6/2024) malam waktu setempat. Bila berhasil, catatan rekor yang dimiliki bakal makin jauh meninggalkan tim-tim raksasa lain, di mana yang terdekat hanya AC Milan dengan tujuh gelar European Cup/Liga Champions. Sejak di fase grup, Real Madrid sama sekali belum pernah keok. Tim yang diarsiteki Carlo Ancelotti itu melaju sampai partai puncak usai di semifinal melewati laga home-away sengit kontra raksasa Jerman Bayern Munich dengan kemenangan agregat 4-3. Sementara, Dortmund sempat dua kali kalah di fase grup dan laga tandang di perempatfinal meski masih sanggup mencapai final usai menang agregat 2-0 dari Paris Saint-Germain.

  • Aroma Pemberontakan di Balik Hidangan Pasta

    TIDAK seperti Adolf Hitler atau Josef Stalin, Il Duce Benito Mussolini tak pernah punya kuliner khas yang jadi favoritnya. Diktator fasis Italia itu justru membenci pasta yang kondang di dunia sebagai gastronomi khas negerinya. Mussolini sejak lama mengaku harus pilih-pilih makanan. Toh ia juga memiliki riwayat darah rendah dan penyakit maag. Belum lagi Mussolini tak ingin jadi obesitas seperti yang terjadi pada adik perempuannya, Edvige Mussolini. Obesitas juga bisa berujung fatal karena meningkatkan risiko terkena penyakit jantung. “Saya melihat foto-foto terakhirmu. Kamu semakin gemuk saja. Kamu harus mengurangi berat badan seperti saya karena obesitas tidak hanya buruk buat kesehatan tapi juga berisiko kematian,” tulis Mussolini dalam suratnya kepada adiknya medio 1925, dikutip David Kertzer dalam The Pope and Mussolini: The Secret History of Pius XI and the Rise of Fascism in Europe.

  • Kapitan Melayu dan Kisah di Balik Nama Cawang

    JAKARTA baru saja merayakan ulang tahun ke-497 pada Sabtu, 22 Juni 2024. Di usia yang nyaris mencapai lima abad, kota yang tak lagi berstatus ibukota ini menyimpan banyak kisah menarik terkait sejarah kemunculan kota maupun orang-orang yang bermukim di dalamnya. Kota ini direbut Jan Pieterszoon Coen dan pasukannya pada 30 Mei 1619. Coen yang kemudian menjabat Gubernur Jenderal VOC segera membangun kota berbenteng yang dikenal dengan nama Batavia. Tak butuh waktu lama, Batavia menjelma menjadi kota yang dihuni oleh berbagai etnis, salah satunya orang-orang Melayu. Menurut sejarawan Anthony Reid dalam Imperial Alchemy: Nationalism and Political Identity in Southeast Asia, orang-orang Melayu menyebar hampir ke seluruh Asia Tenggara untuk kepentingan berdagang. Diaspora mereka membantu memberikan kehidupan baru ke berbagai pusat pelabuhan, tak terkecuali Batavia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page