Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
Karya-karya ikonik dari Brontë bersaudara sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Namun, ketika awal diterbitkan di Inggris, mereka menggunakan nama pena laki-laki demi menghindari prasangka.
Banyak kampung Betawi di Jakarta yang hilang, bersalin rupa menjadi bangunan-bangunan modern simbol kota metropolitan. Sinetron Si Doel Anak Sekolahan mengkritiknya meski nyaris gagal lulus sensor.
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
Trubus melukis orang-orang terdekatnya. Pelukis kesayangan Sukarno ini menghilang setelah Peristiwa 1965. Lukisan istri dan kedua anaknya jatuh ke tangan Adam Malik.
Gula menjadi penanda status sosial dan melambangkan kekayaan karena hanya dikonsumsi para bangsawan. Keinginan akan gula yang terjangkau memicu perbudakan.
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
Semasa hidupnya pejabat Tionghoa ini membuat kebijakan yang memberatkan penduduk Batavia. Ketika mati pengusung peti matinya tidak sampai ke tempat pemakaman.
Anak-anak yatim piatu dan terlantar ditampung di panti asuhan. Namun, pengelolaan yang tidak maksimal membuat nasib anak-anak malang itu memprihatinkan.
The scandal of Governor-General Jan Pieterszoon Coen's adopted daughter destroyed the careers of several VOC officials in Batavia. However, instead of losing his position, Anthony van Diemen triumphed as the later governor-general.
Setelah ikut Belanda, serdadu-serdadu Württemburg berontak juga. Setelah pemberontakan ini, perlahan jumlah orang pribumi dalam ketentaraan kolonial makin banyak.
Jan Allertsz membeli saham VOC kala perusahaan itu melakukan IPO. Namun, ia kemudian menjual sahamnya karena tak memiliki uang untuk membayar angsuran pembelian saham.
VOC menjadi perusahaan pertama yang menawarkan saham perusahaan kepada publik. Tak hanya pedagang kaya, dua asisten rumah tangga juga tercatat dalam buku pemegang saham.
Gubernur Jenderal Valckenier menangkap van Imhoff karena dianggap bertanggung jawab atas pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia. Van Imhoff yang ditunjuk menjadi gubernur jenderal membalas dengan menjatuhi Valckenier hukuman mati.