Hasil pencarian
Cari di situs ini
10066 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Meminta Kembali Harta Karun Lombok Jarahan Belanda
SEBUAH berlian 75 karat itu jadi primadona tersendiri. Mirip buah aprikot, berlian berukuran 21 x 19,3 milimeter itu berbentuk bros bingkai artistik berlapis emas selebar dua meter. Kini bros bernilai tinggi itu tak lagi milik Museum Volkenkunde di Belanda tapi sudah resmi kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Bros berlian Lombok itu termasuk ke dalam 335 harta karun Lombok hasil jarahan Belanda pada Ekspedisi Lombok 1894 yang direpatriasi dari Belanda ke Indonesia. Peresmian serah terimanya sudah dilakukan Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda Gunay Uslu dengan Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid di Leiden pada 10 Juli 2023. Selain bros berlian, benda-benda lain yang sudah dikembalikan itu antara lain kotak tembakau, cincin, selop, kalung/jimat, patung dewa, lukisan cat minyak, dan sebuah deder keris berlapis emas dan bertabur batu permata. Benda-benda itu sudah bisa dilihat dalam pameran“Repatriasi: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara” di Galeri Nasional Jakarta, 28 November-10 Desember 2023.
- Menuntut Repatriasi Jarahan Belanda Usai Bertikai
SEJAK Indonesia merdeka, penjajakan untuk merepatriasi benda-benda budaya dan bersejarah dari Belanda sudah dilakukan seiring penyelesaian pertikaian di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada pengujung 1949. Kesadaran akan pentingnya benda budaya untuk dipulangkan bahkan sudah bergaung jauh sebelum itu. Pada 10 Juli 2023, Belanda resmi menyerahkan kembali 472 benda bersejarah Indonesia setelah upaya repatriasinya dilakukan dengan cara berbeda, yakni melalui penelitian bersama tim ahli Belanda dan Indonesia terlebih dulu. Meski begitu, pulangnya ke-472 benda bersejarah tersebut tetap merupakan kelanjutan cita-cita yang sudah ada sejak era pergerakan hingga KMB. “Kalau kita flashback ke belakang, sudah dari zaman Boedi Oetomo 1908 ketika terjadi apa yang disebut sebagai politik identitas dan warisan budaya. Kemudian di tahun 1930-an ada politik kebudayaan mempertanyakan, apakah patut benda-benda tersebut berada di luar negara asalnya?” ujar I Gusti Agung Wesaka Puja, ketua Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda dalam program “Dialog Sejarah: Ada yang Mau Pulang” di kanal Youtube Historia.ID, 28 Juli 2023.
- Belanda Siap Kembalikan 472 Jarahan Kolonial ke Indonesia
UNTUK yang kesekian kalinya, pemerintah Belanda ancang-ancang untuk mengembalikan ratusan benda bersejarah yang dirampas dari masa kolonial. Tak hanya ke Indonesia, Belanda juga bakal merepatriasi sejumlah artefak ke Sri Lanka. Total akan ada 472 benda bersejarah yang akan dikembalikan ke Indonesia. Saat ini, ratusan benda itu masih tersimpan di Rijksmuseum dan Nationaal Museum van Wereldculturen. Mengutip rilis di laman resmi pemerintah Kerajaan Belanda, Kamis (6/7/2023), total 472 artefak yang akan dipulangkan ke Indonesia itu berupa 335 benda rampasan dari Lombok, 132 benda seni koleksi Pita Maha dari Bali, empat patung era Kerajaan Singhasari, dan satu keris Klungkung.
- Wacana Pengembalian Benda Jarahan Inggris
PADA 1812, pecah perang Sepehi atau Sepoy antara Kesultanan Yogyakarta melawan Inggris. Dinamakan perang Sepehi atau Sepoy karena kala itu Inggris membawa bala tentara Sepoy dari India. Gabungan pasukan Inggris, Sepoy, dan Mangkunegaran itu berhasil menaklukkan benteng Keraton Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono II pun jatuh. Usai geger Sepehi, Inggris menjarah keraton di selatan Jawa itu. Selama empat hari hilir mudik, peti-peti berisi harta benda dari keraton diangkut dengan gerobak. Nilainya melebihi 120 juta dolar AS di masa kini. Hasil jarahan itu diangkut ke kepatihan. Dari manuskrip hingga barang berharga lainnya dibawa ke Rustenburg (keresidenan) lalu dibagikan ke perwira dan serdadu Inggris-India. "Di dalam keresidenan [jarahan] disortir semua," kata Peter Carey dalam Tur Sejarah "Jejak Inggris di Jawa 1811-1812”, di Yogyakarta, Rabu, 30 Agustus 2017.
- Jalan Panjang Memulangkan Jarahan Belanda
SEBANYAK 1.500 benda bersejarah Indonesia yang dibawa Belanda pada masa kolonial telah direpatriasi (dikembalikan) pada akhir 2019. Repatriasi yang berlangsung sejak 2015 itu, disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah. Namun, repatriasi itu tentunya bukan yang pertama kali. Sejak era kepemimpinan Sukarno, upaya repatriasi sudah mulai dilakukan. Pada 1954, Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan saat itu, melawat ke Belanda. Dalam kunjungan tersebut, Yamin dan Soedarsono, Kepala Jawatan Kebudayaan yang menyertainya, mulai merintis usaha pengembalian benda bernilai sejarah dan budaya Indonesia yang disimpan di Belanda. Sutrisno Kutoyo dalam biografi Prof. H. Muhammad Yamin, S.H. menyebut upaya tersebut mendapat respons baik dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda. Mereka menyatakan akan segera menyerahkan benda-benda bernilai sejarah dan budaya yang diambil pada masa kolonial.
- Kekejaman Inggris di Jawa
BANYAK orang yang menganggap dijajah Inggris lebih baik daripada dijajah Belanda. Barangkali karena mereka melihat kemajuan negara-negara bekas jajahan Inggris. Bagaimana dengan Indonesia, bukankah Indonesia juga pernah dijajah Inggris meski hanya lima tahun (1811-1816)? “Generasi sekarang, khususnya orang Jawa malah menganggap Inggris sebagai bangsa pembebas. Sebelumnya, orang Jawa mendapatkan kekejaman dari Gubernur Jenderal Daendels dan penggantinya Willem Janssens. Penjajahan Inggris kesannya tidak negatif,” kata Peter Carey, sejarawan asal Inggris, dalam acara tur sejarah “Jejak Inggris di Jawa 1811-1816,” yang diselenggarakan Penerbit Buku Kompas, di Semarang, Senin, 28 Agustus 2017. Carey, penulis buku Inggris di Jawa (1811-1816), mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro ketika diminta membandingkan Inggris dengan Belanda oleh menantu Gubernur Jenderal de Kock, dia menilai Inggris dengan positif.
- Pembunuhan Keji Panglima Keraton Yogyakarta
DENGAN rasa sedih dan letih rakyat Sumodiningratan menggotong mayat Panglima Pasukan Yogyakarta ke pemakaman keluarga Sumodiningratan. Raden Tumenggung Sumodiningrat tewas dikeroyok pasukan gabungan serdadu Inggris dan Legiun Mangkunegaran pada penyerbuan Inggris ke keraton 20 Juni 1812. "Koyo kewan neng wono mboten ingkang gadah wono". Begitu perumpamaan yang dirasakan pengikut Sumodiningrat sebagaimana yang dikutip sejarawan Inggris Peter Carey dari salah satu surat yang dirampas Inggris. Mereka bingung bagaikan binatang hutan yang tak lagi memiliki hutannya. Dalam Babad Bedhah ing Ngayogyokarta karya Pangeran Panular, menjelang subuh, Pangeran Prangwedono (Mangkunegoro II) dan pasukan Legiun Mangkunegaran disertai Sekretaris Keresidenan John Deans dan pasukan Inggrisnya mendatangi kediaman Sumodiningrat. Gabungan kedua pasukan itu mengepung dan menghujani rumah Sumodiningrat dengan peluru meriam.
- Ketika Inggris Membumihanguskan Keraton Yogyakarta
PUKUL tiga dini hari Sabtu, 20 Juni 1812, keheningan mencekam menyelimuti Keraton Yogyakarta. Meriam di Benteng Vredeburg tak lagi memuntahkan api. Ini bukan situasi yang disyukuri, karena sejam setelahnya, dua jam sebelum fajar menyingsing, perintah serangan dikeluarkan ke berbagai komandan kolom di pihak Inggris. Kedatangan Inggris pada 1812 yang menempatkan Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal membawa pengaruh besar terhadap kedudukan Sultan Hamengkubuwono II (Sultan Sepuh). Ia ingin memulihkan hak Raja Jawa yang dulunya tak didapatkan ketika Daendels berkuasa. Namun, rupanya Raffles tak jauh berbeda dari Daendels. Permintaan Hamengkubuwono II mengganti kedudukan Putra Mahkota dari Raden Mas Surojo (Hamengkubuwono III) menjadi Mangkudiningrat pun ditolak. Inggris lebih memilih Raden Mas Surojo untuk naik takhta karena ia dinilai lebih ramah dan penurut dibanding ayahnya. Inggris tak ingin mengambil risiko terjadi konflik di kemudian hari yang merepotkan pihaknya. Hal itulah yang kemudian berujung penyerbuan Inggris ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
- Tuan Tanah Kemayoran Eks KNIL
SUATU pagi, sebuah kelapa jatuh dari pohonnya dan menimpa kepala seorang serdadu yang melintasi kampung di Kemayoran bernama Tanah Melayu. Serdadu yang berasal dari Kompi 1, Batalyon Infanteri ke-20 Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) itu pun pingsan. Mengetahui kejadian itu, komandan kompinya yang –kelahiran 12 Januari 1886– bernama Kapten Infanteri Aart Merkelbach (1886-1932) langsung berusaha menolong dengan mencari pinjaman telepon untuk memanggil tenaga medis dari rumah orang Belanda terdekat. Namun, Kapten Merkelbach gagal mendapat pinjaman telepon dari tuan tanah kulit putih Belanda bernama Marinus Franciscus Lichtendahl (1888-1974). Kapten Merkelbach hanya bisa bicara dengan tukang kebunnya saja.
- Bola-bola Piala Dunia (Bagian I)
KHUSUS Piala Dunia 2018, FIFA menggunakan bola resmi yang kembali menyandang nama Telstar, tepatnya Telstar 18. Nama Telstar, bola buatan produsen alat olahraga asal Jerman Adidas, pertama kali eksis sebagai bola resmi Piala Dunia di Meksiko 1970. Seperti Telstar 1970, Telstar 18 juga dibuat di Pakistan. Sebelum Piala Dunia 1970, penetapan bola resmi dari FIFA belum ada. Lazimnya, bola dipilih tuan rumah. Desain panel bola zaman old umumnya mirip bola voli. Warna dasar bola juga bukan putih tapi beragam, dari kecoklatan hingga kekuningan. Merek bola zaman baheula bermacam-macam. Berikut aneka bola Piala Dunia sebelum 1970 dengan beraneka kisah di baliknya.
- Bola-bola Piala Dunia (Bagian II)
PIALA Dunia selalu menghadirkan bola dengan desain dan teknologi berbeda. Khusus untuk Piala Dunia 2018 Rusia, Adidas selaku pemegang hak merilis bola Telstar 18. Angka 18 dicantumkan untuk menandai tahun Piala Dunia ini dihelat. Dibuat oleh Forward Sports asal Sialkot, Pakistan yang berlisensi Adidas, bola Telstar 18 memiliki enam panel bertekstur yang tidak dijahit, melainkan dilem satu sama lain. Dengan warna putih-hitam, Telstar 18 berpola vintage dengan motif piksel untuk mendekripsikan era digital. Dalam tiap bola Telstar 18 terdapat sebuah chip NFC (Near-Field Communication) yang menampilkan konten dan informasi mengenai bola tersebut dan bisa diakses via ponsel pintar. Teknologi ini menjadikan Telstar 18 bola pertama yang memiliki chip.
- Piala Dunia yang Tak Diakui
ENAM dekade silam, Swedia menggoreskan tinta prestasi tertinggi, sebagai finalis Piala Dunia (1958). Kini jalan untuk menyamainya atau bahkan melewatinya (baca: juara) cukup terbuka mengingat di Piala Dunia 2018 ini Andreas Granqvist dkk. sudah memijak babak perempatfinal. Inggris jadi lawan Swedia dalam laga yang akan dimainkan Sabtu (7/6/2018). Bukan mustahil Swedia bisa merebut tiket semifinal. Terlebih, di Rusia keunggulan di atas kertas bukan segalanya. Tengok saja nasib Spanyol, Portugal, Argentina, atau Jerman. Swedia bahkan bisa “juara” seperti ketika tahun 1942. Tapi, adakah Piala Dunia 1942? Perang Dunia II masih panas-panasnya tahun itu.





















