Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Dalam Jangkauan Radar Bung Kecil
GEDUNG bioskop di Hogewoerd, Leiden itu kini tak tampak lagi. Namun, ancar-ancar bekas lokasinya masih bisa dijangkau. Ia terletak di bagian kiri toko daging Bolle Jalan Hogewoerd Nomor 37, tepat di sudut perempatan Jalan Hogewoerd dengan Jalan Sint Jorissteeg. Pada lokasi toko daging itulah pernah berdiri gedung bioskop, di mana kaum sosialis kerap berkumpul, menyelenggarakan pertemuan. Sjahrir belum lama mengenal Maria ketika dia mengajaknya ke gedung bioskop itu untuk sebuah pertemuan kaum sosialis. Ajakan itu datang pada pertemuan kedua di Leiden. Pertemuan pertama terjadi di Amsterdam, di mana Sjahrir tinggal bersama keluarga dr. Djoehana. Nuning, kakak perempuan Sjahrir, istri Djoehana. “Waktu saya belajar di negeri Belanda saya mulai kenal Bung Sjahrir. Sjahrir belajar pada Fakultas Hukum di Amsterdam. Saya diundang oleh keluarga Djoehana ke Amsterdam di mana mereka tinggal. Istrinya adalah kakak kandung Sjahrir,” kata Maria. Kedatangan Maria ke Belanda hanya terpaut beberapa bulan saja dengan Sjahrir. Maria tiba bulan Maret 1929 sementara Sjahrir baru tiba pada akhir musim panas 1929. Namun, Sjahrir aktif lebih cepat. Tak lama setelah diterima kuliah di Fakultas Hukum Universiteit van Amsterdam, Sjahrir kirim surat kepada Salomon Tas, Ketua Amsterdam Sociaal Democratische Studenten Club, onderbouw SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij atau Partai Sosial Demokrat Belanda). Sejak itu, Sjahrir jadi anggota De Socialist, julukan perkumpulan mahasiswa sosdem itu.
- Tarian Penanda Singgasana Sultan
WAYANG Wong Menak diciptakan sebagai salah satu penanda pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dramatari istana Jawa ini memberikan identitas budaya pada masa dia menjadi sultan di Keraton Yogyakarta. Dosen seni tari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, Bambang Pudjasworo mengatakan, ketika naik takhta pada 1941, Sri Sultan HB IX merasa perlu adanya sebuah pembeda. "Karena [tari] bedaya, serimpi setiap sultan pasti bikin," ujar Bambang dalam acara “Golek Menak dalam Belantara Modernitas, Sarasehan dan Pentas Tari Pastha Anglari Pasthi,” di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (19/10). Tidak sama halnya dengan penciptaan dramatari. Wayang Wong misalnya, diproses sangat lama, dari Sultan HB I sampai HB III. Mereka masih memanggil kelompok penari dari desa untuk menunjukkan gerakan tari Wayang Wong. Naskah cerita Wayang Wong ditulis dalam bentuk Serat Kandha pada pemerintahan HB V. Bentuk Wayang Wong diselesaikan pada masa Sultan HB VII. Namun, kostum dan karakternya masih belum berkembang dan disempurnakan pada masa Sultan HB VIII.
- Empat Orang Pemberi Informasi Navigasi ke Nusantara
AKHIR abad 16, tepatnya setelah tahun 1592, pasokan lada dari Asia ke Eropa yang terpusat di Lisbon, Portugis, menurun drastis dan harganya mahal. Penyebabnya armada dagang Portugis diganggu armada Inggris di wilayah selatan Atlantik. Hal itu justru jadi peluang pedagang Belanda untuk mengambil lada langsung dari sumbernya, Nusantara. Mereka pun mengumpulkan segala informasi dunia pelayaran ke timur dengan mengontak beberapa ahli kartografi dan pelaut berpengalaman. Petrus Plancius (1552-1622) Kartografer ini membuat peta dunia pada 1592, berjudul Nova et exacta Terrarum Tabula geographica et hydrographica. Dia mengembangkan metode baru untuk menentukan garis bujur serta memperkenalkan proyeksi Mercator untuk peta navigasi.
- Menelusuri Gagasan LRT di Indonesia
KERETA Lintas Rel Terpadu atau Light Rail Transit (LRT) mulai beroperasi secara terbatas di Jakarta sejak Selasa, 11 Juni 2019. Warga boleh naik moda transportasi publik baru berbasis rel ini selama program uji coba gratis. Seluruh rutenya melayang, melintang sejauh 5,8 kilometer dari Kelapa Gading (Utara)—Velodrome Rawamangun (Timur). Satu rangkaian LRT Jakarta terdiri atas dua kereta. Tiap kereta hanya mampu mengangkut 135 penumpang sekali jalan. Lebih kecil dari kapasitas angkut kereta Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT) yang mencapai 350 orang per kereta. Sebab bobot LRT lebih ringan ketimbang kereta MRT. Kesamaan keduanya terletak pada kecepatan, ketepatan waktu, kenyamanan, dan teknologi kiwari. Pembangunan fisik LRT Jakarta mewujud pada Juni 2016. Tetapi gagasan seputar LRT di Jakarta telah mengemuka sejak 1987. Masa inilah gagasan LRT di Indonesia mulai bertumbuh.
- Dapur Umum Lasmidjah Hardi
LASMIDJAH Hardi dan rekan-rekan perempuan pejuang yang mengurus dapur umum bingung. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan masih berjalan, Jakarta kehabisan cadangan beras. Mereka segera berkumpul untuk memecahkan masalah. Berbagai kenalan pun dihubungi untuk dimintai bantuan. Upaya mereka membuahkan hasil. Seorang jago pro-republik datang untuk menyumbangkan berasnya untuk keperluan dapur umum. Haji Darip namanya, tinggal di Klender, Jakarta Timur. Namun, beras Haji Darip tidak di Jakarta, melainkan ada di gudang Tambun, Bekasi. Lasmidjah pun langsung mengajak Sujatin Kartowijono dan Erna Djajadiningrat dari dapur umum Wani (Wanita Negara Indonesia) menyusun rencana bersama. Keputusannya, Lasmidjah yang ditugaskan mengambil beras itu.
- Lasmidjah Hardi, Perempuan Pejuang yang Menggemari Sejarah
BERSAMA rekan-rekannya sesama perempuan pejuang di masa revolusi, Lasmidjah Hardi mendirikan Yayasan Wanita Pejuang pada 24 Februari 1977. Selain Lasmidjah, anggotanya antara lain SK Trimurti, Sujatin Kartowidjono, Siti Djauhari Sudiro, Soekanti Soerjotjondro, Utami Soerjadharma, dan Amini Sutari Abdulgani. Yayasan ini mereka maksudkan sebagai wadah untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus. Langkah tersebut diwujudkan lewat upaya penghimpunan dan pembukuan kisah-kisah perjuangan para para wanita. Yayasan ini megeluarkan lima jilid buku berjudul Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi. Diungkapkan dalam prawicara Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi I, ide pembuatan bukunya bermula dari obrolan dalam reuni Wanita Pejuang pada Mei 1981. Akhirnya dibuatlah lima jilid buku yang memuat 54 cerita para perempuan pejuang. Tokoh yang mengisahkan perjuangannya di buku tersebut diambil dari beragam latar belakang, daerah, budaya, agama, dan organisasi agar mencerminkan kebhinekaan Indonesia. “Sejak bangkitnya pergerakan nasional, wanita merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan untuk kemerdekaan tanah air,” kata Lasmidjah dalam prawicara Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi IV. Ia juga mengajak para perempuan untuk menyadari hak-haknya yang sudah diperjuangkan di masa sebelumnya.
- Aksi-aksi Zionis Israel Menodai Masjid Al-Aqsa
SEKIRA 250 ribu jamaah yang menyesaki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina, mendirikan shalat tarawih berjamaah dengan khusyuk di malam Lailatul Qadar, Rabu (27/4/2022) waktu setempat. Pelaksanaan ritual itu berjalan lancar walau di luar kompleks masjid, di jalan-jalan Kota Tua Yerusalem, maupun di pos jaga Qalandia tetap diawasi pasukan Israel dengan ketat. Pun ketika selesai, 250 ribu jamaah itu keluar dari kompleks Al-Aqsa dengan tertib. Pengawalan pasukan itu merupakan realisasi dari pernyataan pemerintah Israel yang mengklaim akan tetap mempertahankan status quo kompleks Masjid Al-Aqsa yang steril dari non-muslim. Kompleks Masjid Al-Aqsa sendiri berlokasi di kawasan Har Bayit (Bukit Kuil, sebutan Yahudi) atau Al-Haram ash-Sarif (Tempat Suci, sebutan Arab) yang merupakan kawasan suci bagi tiga agama samawi: Islam, Yahudi, dan Kristen. Selain kompleks Al-Aqsa, di sana juga terdapat Tembok Ratapan yang jadi tempat suci Yahudi. Suasana tarawih Rabu itu berbeda dengan suasana dua pekan lalu, yang penuh teriakan dan jeritan muslim Palestina maupun letupan senjata pasukan Zionis Israel. Pada Jumat pagi, 15 April 2022, kompleks Al-Aqsa diserbu pasukan Israel. Dengan arogan pasukan Israel menggeruduk masjid, menahan 400 orang, dan melukai 150 lainnya dengan granat kejut dan peluru karet.
- Pengaruh Tionghoa pada Masjid Demak dan Masjid Angke
Masjid Demak Prototipe Masjid Nusantara SETELAH mengalahkan Majapahit pada abad ke-15, Raden Patah atau Panembahan Jinbun yang seorang Muslim ingin adanya sebuah masjid untuk memperindah ibukota Demak sekaligus melengkapi identitas sebagai kerajaan Islam. Pembangunan sudah dimulai tapi tak pernah selesai karena kesulitan mendirikan tiang penyangga (sokoguru) berupa empat tiang raksasa yang menjadi konstruksi utamanya. Salah satu tiang terbuat dari potongan-potongan kayu (sokotatal). Tukang-tukang setempat tak punya pengalaman. “Tiga tahun setelah penundukan Majapahit, kapten Cina Gan Si Cang di Semarang menyampaikan permohonan kepada bupati Kin San untuk ikutserta menyelesaikan pembangunan masjid agung Demak,” tulis Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara.
- Kisah Manis Gula Aren
JAUH sebelum mengenal gula tebu, masyarakat Nusantara, terutama Jawa, sudah memproduksi dan mengkonsumsi gula aren. Beragam makanan dan minuman khas Nusantara menggunakan gula aren, termasuk kecap manis, pelengkap dan penyedap makanan khas negeri ini. Tak diketahui pasti kapan kali pertama masyarakat Nusantara mengolah nira dari pohon aren untuk membuat gula aren. Namun, diyakini teknik pengolahan gula aren sudah dikenal lama dan bertahan secara turun-temurun. Catatan tertua yang tersedia mengenai sentra pembuatan gula aren tersua dalam prasasti Biluluk (1366-1395), yang dikeluarkan penguasa Jawa pada akhir abad ke-14. Prasasti ini berisi titah raja kepada keluarga kerajaan yang memerintah di Biluluk dan Tanggulunan, keduanya berada di wilayah otonom Lamongan yang sangat berarti bagi kerajaan Majapahit. Isinya antara lain memberi kebebasan kepada rakyat untuk bergiat di berbagai kegiatan, termasuk membuat gula aren, tanpa dipungut pajak.
- Hitam Manis Kecap Indonesia
KECAP merupakan pelengkap dan penyedap makanan khas dari negeri Timur. Sejak awal ditemukan, kecap terus berevolusi hingga kini. Kecap berkembang dan menjadi khas di masing-masing daerah, tergantung ketersediaan bahan dan selera masyarakat setempat. Sekira 2.500 SM, orang Tiongkok telah mengenal kecap. Kala itu kecap mulanya identik dengan kuah dari kaldu ikan. Menurut kitab Chau Lai, ritus seremonial Dinasti Chau yang ditulis sebelum tahun 1.000 SM, kaisar menggunakan 120 botol kecap untuk pelengkap dan penyedap makanan. Kwangtung dikenal sebagai penghasil kecap di sana, sehingga Canton sebagai ibukota secara alamiah menjadi pusat industri dan perdagangan kecap. Penggunaan kecap menyebar ke Jepang seiring penyebaran agama Buddha. Di sana, saus serupa disebut shoyu, yaitu hasil fermentasi kedelai yang ditambah air garam. Di Nusantara, masyarakat mengkonsumsi kecap khas yakni kecap manis. Ia terbuat dari kedelai dan gula merah atau gula aren, yang telah lama dikenal di Nusantara bahkan sebelum gula tebu.
- Mengecap Lezatnya Kecap
KEPULAN asap membias di langit-langit atap sebuah rumah tua di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Banten. Beberapa karyawan sibuk mengaduk adonan kental nan pekat. Peluh mengucur di sekujur tubuh. Di depan rumah, Setyadi alias Teng Tek Yan mengawasi anak buahnya. Sesekali dia ringan tangan membantu pekerjaan. “Ini usaha keluarga, jadi saya bukan pemiliknya. Saya hanya dipercaya oleh keluarga untuk mengurusi usaha ini,” kata Setyadi, pemilik pabrik kecap Teng Giok Seng. Pabriknya memproduksi kecap cap Burung dan Istana. Setyadi adalah generasi keempat dalam garis keturunan Teng Hay Soey, pengusaha yang membangun pabrik kecap ini pada 1882.
- Jalan Sunyi Kecap Zaman Revolusi
KABAR Proklamasi akhirnya sampai ke Bogor. Masyarakat menyambut gembira. Bendera merah putih berkibar. Pasar menjadi lebih ramai. Di tengah euforia kemerdekaan, Soedjono datang mengadu nasib ke Bogor, meninggalkan tanah kelahirannya di Juwana, Pati, Jawa Tengah. Modalnya cuma satu: keahlian membuat kecap manis. Soedjono (Cheng Tjong Tian) lahir dari keluarga pengusaha tahu dan kecap di daerah Juwana, Pati, Jawa Tengah, sekira tahun 1907. Dari orang tuanya, Soedjono mewarisi keahlian membuat kecap. “Dengan bakat membuat kecap dari engkong (kakek) dari Juwana, ayah saya membuka usaha di Bogor,” ujar Soenardi, 82 tahun, putra sulung Soedjono. Di Bogor, Soedjono tinggal di Purbasari, kawasan Gunung Batu –sekarang masuk wilayah administrasi kecamatan Bogor Barat. Di sana dia membeli rumah dengan lahan seluas sekira 1.500 meter persegi. Dibantu empat pekerja, mulailah dia membuat kecap manis, yang mendapat label kecap cap Badak. Awalnya dia hanya memenuhi kebutuhan kecap masyarakat setempat. Usahanya laris manis. Setelah usahanya mapan, Soedjono memboyong istri, anak, dan orang tuanya ke Bogor.





















